Sampai Kau Ingat Aku - Redezilzie

Sampai Kau Ingat Aku - Redezilzie


0

Arkan dihadapkan pada dua kenyataan yang sama-sama menyesakkan. Naya adalah rumah yang aman, pelabuhan yang tenang, kepastian yang bisa ia genggam. Tapi Zea… adalah getaran. Adalah hidup. Adalah bagian dari dirinya yang selama ini bahkan tidak ia sadari hilang.

Masalahnya, ia tidak bisa memiliki keduanya.

Jika ia memilih Zea, ia akan menghancurkan seseorang yang telah mengorbankan segalanya untuknya. Jika ia melepaskan Zea, ia tahu… ia akan kehilangan sesuatu dari dirinya sendiri.

Dan di sanalah Arkan berdiri—di antara kewajiban dan kejujuran, di antara keamanan dan keinginan, di antara menjadi pria baik… atau menjadi pria yang jujur.

BAB 17 bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang pilihan. Tentang bagaimana satu keputusan yang tidak diambil hari ini, akan tetap menuntut bayaran esok hari.

Beberapa perasaan datang bukan untuk dimiliki.
Tapi untuk menguji… apakah kita cukup berani jujur pada diri sendiri.

Cuplikan

...kenangan lama berdesakan di kepalanya. Namun, Arkan segera melepaskan tangan, lalu melangkah pergi.

Zea memandangi punggung tegap itu hingga menghilang di balik pintu kafe. Enam tahun harusnya cukup untuk sembuh, bukan? Namun nyatanya, luka lama masih terasa perih, sementara Arkan tampak hidup baik-baik saja.

"Tampan ya, Ze," bisik Riyanti sambil terkikik mendekatkan wajahnya. "Kelihatan mapan lagi."

Zea mengedip, kembali ke realitas. "Tapi sayang," lanjut Riyanti dengan nada menggoda.

"Sayang kenapa, Kak?" tanya Zea pelan.

Riyanti tersenyum miring. "Sayang, sudah ada yang punya."

*****

Nama pena: Redezilzie

Genre: Chicklit, Romance

Platform: GoodNovel 
 

Editorial:

Membaca naskah karya Redezilzie yang dipublikasikan di platform GoodNovel ini seperti menyaksikan sebuah sketsa kehidupan modern yang akrab sekaligus getir. Berdiri di atas koridor genre chicklit dan romance, cerita ini menawarkan kedewasaan tema melalui situasi sehari-hari yang kerap kita lalui. Penulis memilih untuk tidak mengumbar drama yang meledak-ledak, melainkan berfokus pada ketegangan halus yang lahir dari pertemuan tidak terduga di sebuah kedai kopi. Ruang publik tersebut seketika berubah menjadi panggung bagi permainan represi emosi yang sangat memikat untuk diamati.

Melalui detail sensorik yang dihadirkan dengan takaran pas, kita diperkenalkan pada sosok Azalea Rosela Adhyasa, atau Zea. Perkembangan karakter Zea terlihat nyata dari bagaimana ia bertransformasi dari seorang perempuan yang hancur enam tahun lalu menjadi eksekutif pemasaran yang sangat fokus. Kita bisa merasakan kegugupannya yang manusiawi melalui pashmina yang tak lagi rapi dan jemari yang sibuk menyembunyikan getar di atas kibor laptop. Zea mewakili potret manusia dewasa yang mencoba tegar di bawah tekanan profesionalisme, meski batinnya mendadak runtuh saat dihadapkan pada realitas baru.

Di seberang meja, duduk Arkan Elvano Akmal, sosok dari masa lalu yang kini kembali dengan pembawaan yang jauh berbeda. Karakter Arkan berkembang menjadi figur yang matang, tegas, sekaligus dingin. Tatapan matanya yang datar dan sikapnya yang sangat formal memicu ketegangan psikologis yang kuat di sepanjang narasi. Kontras antara kerapuhan Zea yang disembunyikan dan ketenangan Arkan yang mutlak menciptakan dinamika hubungan yang sangat menarik. Ditambah lagi dengan kehadiran Riyanti, sang senior dengan komentar-komentar ringannya yang khas, yang berfungsi memecah kekakuan sekaligus menjadi pengingat yang kejam akan realitas yang harus dihadapi Zea.

Dialog yang terjalin di antara mereka mengalir dengan sangat alami, membawa fungsi emosional yang berlapis. Ketika mereka berdiskusi mengenai konsep warm minimal untuk kafe atau keunggulan sistem furnitur modular, pembaca dewasa akan menangkap bahwa percakapan itu bukan sekadar urusan bisnis. Kata-kata formal tersebut adalah tameng. Setiap pertanyaan teknis yang diajukan Arkan dan jawaban cepat yang meluncur dari bibir Zea adalah cara mereka menegaskan batas, membuat urusan profesional menjadi tirai tebal untuk menutupi luka lama yang ternyata belum sepenuhnya mengering.

Sedikit masukan kecil, narasi ini akan terasa jauh lebih kuat jika beberapa bagian deskripsi internal Zea diberikan ruang untuk bernapas lebih lambat, sehingga transisi dari rasa terkejut menuju sikap profesionalnya memiliki jeda yang lebih ritmis. Meski demikian, Redezilzie patut mendapatkan apresiasi atas ketelitiannya merajut emosi yang subtel ini. Penulis berhasil membuktikan bahwa genre romance tidak selalu tentang romantisasi yang manis, melainkan tentang bagaimana manusia-manusia dewasa mengelola kehilangan dan ketidaksengajaan takdir dengan kepala tegak, menjadikan karya ini sebuah bacaan yang sangat berharga karena kualitas rasa yang ditawarkannya.

By Caberawit.



7 Komentar

Ulasan buku

  1. hellokitty hello17118 Februari 2026 pukul 15.56

    Cerita ini bikin baper banget! Alurnya yg kuat membawa kita mrasakan emosi Zea saat bertemu Arkan setelah enam tahun, luka lama masih perih sementara dia tampak bahagia. Dialog Riyanti, ditambah humor dan kejutan yang bikin penasaran banget! Ini wajib Wajib Wajib banget buat di baca! Hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udh mampir kaka 🙏🏻

      Hapus
  2. Aih... sakit lah itu di tinggal pas sayang-sayangnya 😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah mampir ka 🙏🏾

      Hapus
  3. Untung bukan aku di sana, kalau iya udah aku tonjok laki modelan begitu, apa itu diem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udh mampir kaka 🙏🏻
      Hehe...

      Hapus
  4. Makasih udh mampir kaka 🙏🏻
    hehe...

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama