SERI 1: DERMAGA KEBANGGAAN
Bab 1 : Darah Di atas Debu
Debu dan aroma karat menyeruak, mencekik paru-paru. Pukulan telak menghantam rahang Bara, mengirimkan rasa panas yang menjalar hingga ke pelipis. Dunia berputar sejenak, diisi kilatan lampu pelabuhan yang redup dan puluhan wajah beringas yang melingkar seperti serigala lapar. Di sebelahnya, Ucok terengah-engah. Darah mengucur dari pelipis menodai kaos singlet yang sudah dekil, namun kedua tangannya masih terkepal siaga, kokoh seperti batu karang.
"Bar, di kananmu!" teriak Ucok, suaranya parau teredam oleh benturan dan umpatan.
Pemuda itu berputar tepat waktu. Refleks yang terasah oleh kerasnya jalanan membuat Bara berhasil menepis sebilah pipa besi yang diayunkan lurus ke arah kepalanya. Denting logam yang beradu terdengar nyaring. Tanpa jeda, ia membalas menendang perut penyerangnya hingga terbungkuk, lalu menyikut tengkuk pria itu dengan kekuatan penuh. Orang tersebut ambruk tanpa suara, tersungkur di atas tanah yang dipenuhi kerikil dan tumpahan oli.
"Anjir, banyak banget tikus got ini!" Si Jago menggeram dari sisi lain. Asep bergerak seperti badai yang tak terkendali. Matanya liar, senyum bengis terukir di bibirnya yang pecah-pecah. Pria itu baru saja membenturkan kepala seorang pengeroyok ke dinding kontainer berkarat. Suara retakan tulang yang mengerikan tenggelam dalam hiruk-pikuk perkelahian yang brutal.
"Fokus, Sep! Jangan kepisah!" perintah Bara tegas meski napasnya tersengal. Keringat asin bercampur darah terasa perih saat mengalir ke matanya. Mereka bertiga terdesak, punggung saling berhadapan, membentuk segitiga pertahanan yang rapuh di tengah lautan manusia. Ini bukan lagi perkelahian biasa untuk memperebutkan wilayah, melainkan pertarungan untuk mempertahankan harga diri dan hidup.
"Formasi jangan pecah!" teriak Bara lagi. "Cok, awasi belakang! Jago, jangan terlalu maju!"
"Tenang saja, Bar! Tikus-tikus ini tidak akan bisa menyentuhmu selama aku masih berdiri!" sahut Ucok mantap. Ia baru saja meninju jatuh seorang pria yang mencoba menyerang rekannya dari belakang.
"Bacot! Aku bisa menghabisi mereka semua sendirian!" balas Si Jago, menendang seorang preman hingga terpental menabrak tong-tong kosong, menimbulkan suara gaduh yang memekakkan telinga.
Kerumunan pengeroyok itu berhenti seolah memberi ruang. Dari tengah massa, seorang pria bertubuh besar dengan codet melintang di pipi maju perlahan, membelah lautan anak buahnya. Dialah pemimpinnya, Bang Jenggot, biang keladi yang menaikkan uang keamanan lapak secara sepihak.
"Sudah selesai main-mainnya, kuli-kuli kecil?" Suara Bang Jenggot berat dan penuh ejekan. Ia memutar-mutar rantai gir di tangannya, membiarkan bunyi logam menjadi musik pengiring ancaman. "Aku akui kalian punya nyali. Tapi nyali saja tidak cukup untuk hidup di Priok!"
Anak buahnya tertawa serempak.
"Setoran kalian telat tiga hari," lanjut Bang Jenggot, matanya menatap Bara tajam. "Atau kalian lupa aturan main di sini?"
"Kami tidak lupa," sahut Bara dingin. Ia menatap lurus ke mata musuhnya tanpa gentar. "Yang kami lupa, sejak kapan aturannya berubah? Setoran naik dua kali lipat tanpa pemberitahuan. Itu bukan aturan, itu perampokan!"
"Perampokan?" Bang Jenggot tertawa terbahak-bahak. "Dengar itu? Si kuli ini bilang aku merampok. Lucu sekali. Anggap saja ini pajak baru, pajak untuk perlindungan. Perlindungan dari orang-orang sepertiku!"
"Kami bisa melindungi diri kami sendiri," desis Ucok geram.
"Oh, ya? Beneran?" Bang Jenggot menghentikan tawanya, wajahnya berubah kejam. "Tiga orang melawan tiga puluh orang. Bagaimana menurutmu hasilnya?"
"Tidak usah banyak bacot kau, anjing!" Si Jago meludah ke tanah. "Kalau kau jantan, maju sini satu lawan satu! Jangan sembunyi di belakang anak buahmu yang seperti sampah itu!"
Wajah Bang Jenggot mengeras karena hinaan itu, tapi ia hanya tersenyum sinis. "Jagoan kecil ini mau main adil, ya? Di dunia ini tidak ada yang adil, bodoh. Yang ada hanya yang kuat dan yang lemah. Dan malam ini, kalian adalah yang lemah!"
Ia memberi isyarat dengan dagunya. "Waktunya kasih pelajaran!"
Gelombang serangan kedua datang lebih brutal. Pipa besi, balok kayu, dan kepalan tangan kosong menghujani pertahanan mereka.
"Bar, mereka bawa senjata!" seru Ucok, menahan ayunan balok kayu dengan kedua lengannya. Ia meringis kesakitan, tapi tidak mundur sejengkal pun.
Bara bergerak lincah, menunduk di bawah ayunan pipa, lalu membalas dengan pukulan cepat ke ulu hati lawan. Ia menarik pipa dari tangan lawan yang terkapar.
"Gunakan apa saja yang bisa kalian pegang!" perintah Bara, sambil menangkis serangan lain.
Pertarungan berubah menjadi neraka kecil. Si Jago sudah seperti kesetanan. Ia berhasil merebut sebilah papan kayu dan mengamuk, memukul apa saja di depannya.
"Mati kalian semua, bangsat!" teriaknya kalap.
"Asep, kembali! Pertahanan kita bolong!" bentak Bara, melihat kenekatan sahabatnya yang terlalu maju, meninggalkan sisi Ucok terbuka. Tiga orang preman melihat celah itu dan langsung menyerbu Ucok bersamaan.
Ucok kewalahan. Ia berhasil menjatuhkan satu, tapi sebuah pukulan telak mendarat di rusuknya, membuat pria batak itu terhuyung. Pukulan kedua menghantam punggungnya.
"UCOK!" teriak Bara.
Melihat sahabatnya dalam bahaya, Bara melemparkan pipa besinya ke arah salah satu pengeroyok Ucok, mengenai kepalanya dengan telak. Lalu ia menerjang maju, menghantam preman kedua dengan bahu. Kini giliran dirinya yang terkepung. Bang Jenggot hanya menonton dari kejauhan dengan senyum puas.
Saat itulah Bara melihat sebuah celah sempit terbuka akibat amukan Si Jago. Sebuah jalur lurus yang mengarah langsung pada Bang Jenggot. Hanya ada dua orang yang menghalangi. Kesempatan itu hanya ada sepersekian detik.
"JAGO! BUAT KEKACAUAN DI SEBELAH KIRI!" perintah Bara dengan suara menggelegar. "UCOK, TAHAN MEREKA! BERI AKU LIMA DETIK!"
Tanpa menunggu jawaban, Bara melesat maju. Ia menerobos dua orang pengeroyok, menerima pukulan di rusuk yang terasa seperti ditusuk belati, namun ia tidak peduli. Matanya terkunci pada satu target. Bang Jenggot tampak terkejut, segera mengangkat rantai gir untuk menyambut serangan.
"Mau ke mana kau, kuli dekil?" ejeknya, mencoba menutupi keterkejutan.
"Menjemput utangmu!" Napas Bara memburu.
Tepat sebelum mencapai target, ia menunduk rendah, menghindari ayunan rantai mematikan yang berdesing di atas kepala. Dalam posisi itu, ia menghantamkan bahu sekuat tenaga ke perut Bang Jenggot.
Keduanya jatuh bergulingan di atas debu pelabuhan. Bang Jenggot yang bertubuh lebih besar dengan cepat mengambil posisi di atas. Ia menindih Bara, lalu kedua tangan kasarnya mencengkeram leher pemuda itu dengan seluruh bobot tubuhnya.
Wajah Bara mulai membiru akibat kehabisan udara. Ia meronta, memukul punggung musuhnya, namun tenaganya terkuras. Bintik hitam mulai menari di pandangannya. Tawa kemenangan yang serak terdengar dari atas.
"Sudah kubilang," desis Bang Jenggot, "Kalian itu lemah. Sekarang, mati kau!"
Cengkeraman di leher semakin erat. Kematian terasa begitu dekat. Dengan sisa kesadaran terakhir, Bara menggerakkan tangan, meraba-raba tanah berdebu di sekitarnya dengan putus asa. Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan tajam: sebuah pecahan botol bir.
Tanpa ragu, ia menggenggamnya erat, tidak peduli ujung tajam mengiris telapak tangannya sendiri. Dengan satu gerakan pamungkas yang didorong insting bertahan hidup, ia menghunjamkan pecahan botol itu ke paha Bang Jenggot dan memutarnya.
Jeritan kesakitan yang melengking memecah udara malam. Cengkeraman di leher Bara terlepas seketika. Bang Jenggot berguling ke samping, memegangi pahanya yang robek dan mengucurkan darah segar. Bara terbatuk hebat, menghirup udara malam sebanyak yang ia bisa.
Ia bangkit dengan terhuyung-huyung, tubuhnya sakit semua, tapi matanya menyala. Ia menatap lawannya yang kini tak berdaya mengerang di tanah.
Pertarungan di sekitar mereka berhenti total. Semua mata tertuju pada pemimpin mereka yang kini jatuh berlumuran darah. Wajah-wajah beringas itu kini pucat pasi dipenuhi ketakutan. Bara berdiri tegak di tengah mereka, pecahan botol yang berlumuran darah masih tergenggam erat. Tatapannya menyapu para pengeroyok dengan dingin dan tajam.
"Siapa lagi?" tantang Bara, suaranya serak namun bergema penuh wibawa.
Tidak ada yang bergerak maupun berani maju. Aura kepemimpinan Bara yang liar telah mematahkan semangat mereka. Si Jago dan Ucok yang sama-sama babak belur perlahan mendekat, berdiri di kedua sisi Bara sebagai benteng terakhir.
Keheningan yang tegang menyelimuti dermaga, sampai akhirnya sebuah suara lain memecah malam. Lolong sirine polisi yang membelah kegelapan dari kejauhan.
*****
Nama pena: Dwinda
Genre: Perkotaan, Aksi, Mafia
Platform: MaxNovel
Editorial:
Kehadiran Dermaga Kebanggaan di platform MaxNovel menawarkan sebuah alternatif fiksi aksi yang menghentak dan penuh ketegangan. Penulis tidak membuang waktu untuk membangun latar belakang yang bertele-tele, melainkan langsung melemparkan pembaca ke tengah konflik fisik yang intens. Kekuatan utamanya terletak pada eksekusi koreografi pertarungan yang dinamis dan fokus pada tindakan taktis para karakter, yang membangun atmosfer pelabuhan yang keras serta kompetitif tanpa perlu deskripsi suasana yang berkepanjangan.
Ritme narasi dibangun dengan cepat melalui interaksi yang solid di antara ketiga tokoh utama. Dialog yang dihadirkan bernada tegas dan spontan, mencerminkan latar belakang karakter sebagai pekerja keras yang terbiasa hidup di lingkungan jalanan. Keputusan untuk membedakan gaya bicara antara karakter yang disiplin menjaga formasi dengan karakter yang cenderung impulsif menciptakan dinamika kelompok yang kuat, membuat peran masing-masing tokoh terlihat jelas dalam situasi terdesak.
Penulis berhasil menyajikan konflik struktural mengenai kenaikan tarif keamanan sepihak secara langsung melalui konfrontasi antar karakter. Ketegangan tidak hanya dibangun dari adu fisik, tetapi juga dari perdebatan mengenai keadilan ekonomi di area pelabuhan. Penggambaran tokoh antagonis sebagai figur yang memanfaatkan dominasi jumlah kelompok memberikan pembenaran yang kuat bagi tokoh utama untuk mengambil tindakan ekstrem demi mempertahankan posisi mereka.
Meskipun dinamika perkelahian massal disajikan dengan intensitas tinggi, fokus narasi tetap terjaga dengan baik saat cerita bergeser ke duel satu lawan satu. Transisi dari pertempuran kelompok menuju momen penyelesaian konflik utama berjalan secara linier dan logis. Penulis memanfaatkan situasi di sekitar karakter untuk memunculkan jalan keluar taktis, yang kemudian mengubah arah dominasi kekuasaan di antara kedua pihak yang bertikai.
Struktur kalimat yang digunakan dalam cerita ini cenderung pendek dan lugas, sangat mendukung genre aksi yang menuntut pergerakan cepat. Tidak ditemukan penggunaan majas atau kiasan yang rumit, sehingga pembaca dapat langsung memahami setiap aksi, reaksi, dan dampak cedera fisik yang dialami oleh para karakter. Pilihan kosakata yang maskulin dan lugas ini efektif dalam mempertahankan konsistensi atmosfer cerita dari awal hingga akhir.
Secara keseluruhan, buku ini berhasil menjalankan fungsinya sebagai pengenal konflik utama dan pembentuk karakterisasi yang instan. Dermaga Kebanggaan membuktikan bahwa genre fiksi mafia urban dapat disampaikan dengan efektif melalui penekanan pada tindakan nyata dan penyelesaian masalah yang pragmatis. Bagi pembaca MaxNovel yang menyukai narasi taktis dengan tempo cepat serta konflik komunal yang tajam, karya Dwinda ini memberikan fondasi cerita yang solid untuk terus diikuti.
by Sweet Moon
