Angin malam membawa aroma melati yang terlalu pekat ke dalam ruang tamu. Bau itu seolah sengaja ditaburkan di setiap sudut halaman belakang. Maya menarik napas dalam. Paru-parunya terasa penuh dengan wangi yang manis sekaligus lengket. Sensasinya hampir memabukkan, mirip parfum murah yang disemprotkan berlebihan di dalam lift yang sesak.
Maya menyentuh lantai kayu jati yang dingin dengan telapak kaki telanjang. Dia sedikit bergidik. Tangannya meraih sakelar lampu gantung tua di tengah ruangan. Bohlam kuning itu berkedip dua kali sebelum menyala remang. Cahayanya menerangi ukiran burung garuda dan motif sulur pada tiang rumah yang sudah menghitam dimakan usia.
Rian muncul dari pintu belakang. Dia menyeret dua koper besar terakhir ke tengah ruangan. Keringat membasahi lehernya meski udara malam ini cukup menggigit.
“Rumah ini bau melati banget, Yang,” gumam Maya. Matanya menyapu langit-langit yang tinggi.
Rian meletakkan koper itu di dekat tangga kayu. Dia menyeka dahi dengan punggung tangan. “Kata orang sini, leluhur memang suka tanam melati di belakang. Biar harum terus katanya. Biar rumahnya tidak terasa sepi.”
Maya tersenyum tipis, tapi matanya tidak menatap Rian. “Harumnya sampai terasa seperti ada yang baru saja mandi parfum di sini.”
Rian tertawa kecil. Terdengar sedikit dipaksa. Dia mendekat lalu merangkul bahu Maya yang tegang. “Besok kita bereskan semuanya. Sekarang istirahat dulu. Aku sudah tidak sanggup lagi naik turun tangga.”
Mereka baru saja menikah dua minggu lalu. Pernikahan itu digelar sederhana di kampung, tanpa pesta mewah. Rumah warisan bergaya Jawa kolonial ini adalah hadiah dari eyang buyut Rian. Bangunan tua dengan atap joglo kecil di bagian belakang itu sudah kosong selama tiga tahun sejak pemiliknya meninggal. Pesan terakhir eyang hanya satu. Rumah ini harus dihuni pasangan baru agar semangat leluhur tetap hidup.
Bagi Maya, rumah di pinggiran Jakarta ini adalah berkah. Dia membayangkan ketenangan dan udara segar yang jauh dari polusi kota. Namun, saat berdiri di tengah ruang tamu yang luas dan sunyi ini, perasaan senang itu perlahan terkikis oleh kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Mereka melangkah naik ke lantai atas. Tangga kayu itu berderit setiap kali dipijak. Suaranya nyaring di tengah keheningan malam, seolah rumah itu sedang mengeluh karena tidurnya terganggu.
Kamar utama berada tepat di ujung koridor. Pintunya terbuka lebar.
Maya terpaku di ambang pintu. Sebuah ranjang jati berukuran besar berdiri kokoh di tengah ruangan. Kelambu putih tipis tergantung lemas di atasnya dengan warna yang sudah menguning. Di atas kasur, seprai sutra berwarna krem terpasang sangat rapi. Lipatannya tampak sempurna seolah baru saja disetrika. Di samping tempat tidur, ada meja kecil dengan vas kristal berisi serangkaian melati segar. Kelopak putih itu masih basah oleh embun.
“Siapa yang menaruh bunga itu di situ?” tanya Maya. Suaranya mengecil.
Rian mengerutkan kening sambil mendekat ke arah meja. “Mungkin Mbok Sari. Pembantu eyang dulu bilang dia masih sesekali datang untuk bersih-bersih. Mungkin dia tahu kita datang hari ini.”
Maya mendekati vas tersebut. Dia menyentuh kelopak bunga itu dengan ujung jari. Dingin dan lembap. Bau harumnya langsung menusuk ke saraf pusat, membuat kepalanya berdenyut nyeri. Dia menarik tangannya dengan cepat.
“Besok kita ganti vasnya,” kata Rian sambil mulai membuka koper. “Aku mandi dulu. Kamu mau mandi juga?”
Maya mengangguk pelan. Namun, pandangannya tidak lepas dari ranjang jati itu. Ada yang aneh dengan kelambunya. Lipatannya terlalu simetris.
Dia merasa seolah-olah seseorang baru saja bangkit dari sana beberapa detik sebelum mereka masuk.
Malam semakin larut.
Setelah membersihkan diri, mereka berbaring berdampingan di bawah selimut tebal. Kasur itu terasa sangat empuk. Namun, anehnya permukaannya tetap dingin. Maya merapatkan tubuhnya ke arah Rian untuk mencari kehangatan.
“Sangat lelah?” bisik Rian. Dia mendaratkan ciuman lembut di kening istrinya.
Maya mengangguk. “Tapi aku senang. Akhirnya kita punya tempat sendiri.”
Rian tersenyum. Tangannya menyusup ke balik piyama tipis yang dikenakan Maya. Telapak tangannya yang hangat mulai merayap di sekitar pinggang.
Maya mendesah pelan. Matanya terpejam saat merasakan sentuhan itu. Rasa panas mulai menjalar dari perut bagian bawahnya. Tubuhnya mulai bereaksi secara alami terhadap godaan suaminya. Namun, di tengah kemesraan itu, aroma melati mendadak berubah menjadi sangat tajam.
Wanginya bukan lagi berasal dari vas di meja, melainkan seolah-olah menguap dari balik kelambu dan celah kayu jati di bawah mereka. Bau itu menyesakkan, manis yang terlalu pekat hingga memicu rasa mual.
Maya membuka mata dengan napas yang mulai tidak teratur. “Sayang, baunya semakin kuat.”
Rian tidak menyahut. Dia terus menciumi leher Maya dengan gairah yang meningkat. Namun, ada yang berubah. Maya merasakan jari-jari Rian yang tadinya hangat kini berubah menjadi sedingin es. Tekanannya pun menjadi lebih keras dan kaku.
“Sayang?” Maya mencoba mendorong bahu suaminya.
Rian mengangkat kepala.
Kamar yang redup memperlihatkan sesuatu yang ganjil pada wajah suaminya. Pupil mata Rian melebar hingga menutupi hampir seluruh bagian putih matanya. Hitam pekat. Senyumnya tertarik terlalu lebar ke samping, menciptakan ekspresi yang tidak pernah Maya lihat sebelumnya.
“Kenapa berhenti, Sayang?” Suara itu terdengar berat dan serak. Ada nada asing yang bergetar di balik kata-katanya.
Jantung Maya berdegup kencang melawan tulang ribsnya. “Tanganmu dingin sekali, Yang. Kamu sakit?”
Tangan yang kaku itu justru merayap naik ke paha Maya. Cengkeramannya sangat kuat hingga meninggalkan rasa sakit. Maya mencoba berontak, tapi tenaga suaminya terasa berlipat ganda malam ini.
“Rian, lepaskan. Ini sakit!” teriak Maya.
Lampu kamar mendadak berkedip dengan suara letupan kecil. Sekali, dua kali, lalu ruangan itu terjatuh ke dalam kegelapan total.
Dalam gelap, aroma melati itu terasa semakin nyata, seolah cairan kental yang memenuhi tenggorokan. Di tengah kesunyian, sebuah bisikan lirih terdengar. Suara itu bukan berasal dari mulut Rian. Bisikan itu muncul dari arah sudut ruangan yang gelap dan dari balik dinding kayu yang sudah retak.
“Sudah sangat lama menunggu pengantin baru di sini.”
Maya menjerit. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menendang tubuh di atasnya. Sosok itu terpelanting ke samping. Namun, Maya merasa tubuh itu sempat melayang sejenak sebelum mendarat tanpa suara di atas kasur.
Lampu kamar kembali menyala remang.
Rian terbaring diam di sampingnya. Matanya tertutup rapat dan napasnya terdengar teratur.
Dia tampak seperti orang yang baru saja jatuh ke dalam tidur yang sangat lelap.
Maya duduk dengan tubuh gemetar hebat. Keringat dingin mengucur di punggungnya. Dia menoleh ke arah vas melati di atas meja.
Kelopak bunga itu masih tampak basah, namun kini ada noda merah pekat yang menetes di salah satu ujung kelopaknya. Warna itu terlalu merah untuk sekadar air bunga.
Maya menelan ludah dengan susah payah. Dia menyentuh lehernya sendiri yang terasa perih. Di sana, terdapat bekas merah yang berdenyut panas, mirip bekas gigitan yang baru saja ditancapkan.
Di luar jendela, dahan pohon melati bergoyang ditiup angin. Suara gesekan daunnya terdengar seperti tawa yang diredam di tengah kegelapan malam.
...
Judul: Tumbal Ranjang Pengantin
Penulis: Cutiepie18/Rahmat Ry
Genre: Horor, Erotika, Misteri
Platform: Victie
Editorial:
Novel ini menyuguhkan sebuah awal yang sangat mencekam dengan memadukan kehangatan malam pertama sepasang pengantin baru dan kengerian mistis yang tak terduga. Penulis berhasil membangun ketegangan secara perlahan, dimulai dari aroma melati yang awalnya dianggap biasa hingga berubah menjadi teror yang mengancam keselamatan. Deskripsi detail mengenai suasana rumah tua bergaya Jawa kolonial berhasil membuat pembaca ikut merasakan atmosfer dingin dan sesak yang dialami oleh tokoh utama.
Karya berjudul "Tumbal Ranjang Pengantin" ini merupakan buah pena dari Cutiepie18 atau yang dikenal juga dengan nama pena Rahmat RY. Sebagai seorang penulis yang aktif di platform Victie, ia menunjukkan keberanian dan kelihaiannya dalam meramu genre Horor, Erotika, dan Misteri. Gaya penulisannya yang sensual namun penuh misteri mampu menghadirkan ketakutan psikologis sekaligus ketegangan yang intens bagi pembaca dewasa.
Keunggulan utama novel ini terletak pada kemampuannya mengeksplorasi ketakutan melalui indra penciuman dan sentuhan, yang kini semakin hidup lewat rangkaian ilustrasi visual bergaya anime yang sangat pas. Penggunaan aroma bunga melati yang pekat pada vas kristal dan detail langkah kaki telanjang di atas lantai kayu tua menjadi pembuka visual yang ciamik. Kehadiran ilustrasi ini sukses mempertegas ekspresi ketakutan Maya saat menyalakan sakelar lampu kuno, serta momen intim yang mendadak berubah menjadi teror yang mencekam di atas ranjang jati berkelambu.
Mengenai kekurangan, bagian perpindahan dari momen erotis ke horor yang terjadi secara mendadak di atas ranjang mungkin akan terasa sedikit mengejutkan bagi sebagian pembaca. Namun, kekurangan tempo yang terasa buru-buru ini berhasil dieksekusi dengan sangat baik lewat kelebihan penulis dalam menciptakan visualisasi yang mengerikan melalui ilustrasi yang sangat kuat. Detail close-up wajah Rian dengan pupil mata yang menghitam pekat dan senyum yang tertarik lebar memberikan efek kejut instan yang langsung mengalihkan perhatian pembaca pada rasa ngeri yang maksimal.
Secara keseluruhan, awal cerita novel ini sangat sukses meletakkan fondasi misteri yang kuat mengenai sejarah kelam rumah warisan dan ranjang kutukan tersebut. Penulis sangat cerdik menutup bagian awal ini dengan memberikan bukti fisik yang digambarkan secara jelas di akhir ilustrasi, yaitu bekas merah yang berdenyut di leher Maya saat ia terbangun dalam ketakutan di samping suaminya yang tertidur pulas. Hal ini membuat pembaca langsung ditarik masuk ke dalam teka-teki besar tentang makhluk apa yang sebenarnya mengincar pasangan pengantin baru ini.
Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi kamu pencinta kisah horor dewasa yang mencari perpaduan sensasi menegangkan dan romansa yang berani. Jika kamu mencari bacaan misteri dengan pengalaman visual yang lengkap dan atmosfer rumah tua yang pekat akan rahasia leluhur, karya Cutiepie18 ini adalah pilihan yang tidak boleh dilewatkan. Segera buka halaman pertamanya, nikmati setiap ilustrasinya, dan bersiaplah ikut mencium aroma misteri di balik ranjang pengantin yang penuh teka-teki!
By: Lyren Kael










