Meninggalkanmu Untuknya



0

BAB 1 - Prioritas Yang Salah

“Mas…!”

Tanganku terulur lemah ke arah lelaki itu.

Namun, suamiku itu bahkan tak menoleh.

Di tengah kerumunan orang-orang yang berlarian panik, suamiku justru menggenggam erat tubuh perempuan lain di dalam pelukannya. 

Ia melindungi Keisha dengan tubuhnya sendiri, membawanya menjauh dari kekacauan, sementara aku ….

Aku terjatuh di belakang mereka.

Tubuhku menghantam aspal dengan keras. Kepalaku membentur jalan hingga suara dentuman itu terdengar jelas di telingaku sendiri.

DUUG!

Pandanganku langsung berkunang-kunang.

Sakit.

Sakit sekali.

Aku mencoba bangkit di tengah kerumunan orang yang saling dorong dan berlari menyelamatkan diri. Tapi sesuatu kembali menabrakku dari samping.

Tubuhku terpelanting lagi.

Kakiku terinjak.

Bahuku terbentur.

Dan di tengah rasa sakit yang mulai mengaburkan kesadaranku, aku masih sempat melihat suamiku berlari menjauh bersama perempuan itu.

Tetap tidak menoleh padaku.

Tetap tidak mencariku.

“Mas…” suaraku pecah lirih.

Tanganku kembali terulur, mencoba menggapai sesuatu yang bahkan mungkin sudah lama hilang.

Lalu semuanya gelap.

*****

Aku mengerjap pelan.

Cahaya lampu LED di langit-langit kamar terasa menusuk mataku. Kepalaku berdenyut hebat, seperti dipukul sesuatu berkali-kali dari dalam. Dengingan nyaring memenuhi telingaku, membuatku mual.

Aku kembali memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napas.

Butuh beberapa detik sampai kesadaranku benar-benar terkumpul. Aku menarik nafas dalam pelan-pelan.

Aroma ini terasa familiar. 

Kamarku.

Aku berada di kamarku sendiri.

Bagaimana bisa?

Bukankah tadi aku sedang berada di jalanan car free day bersama suamiku?

Dan begitu ingatan itu datang, dadaku langsung terasa sesak lagi.

Aku, Mas Alden, dan Keisha.

Seperti biasa.

Perempuan itu lagi.

Sahabat kecil suamiku yang selalu punya cara untuk ikut masuk ke setiap ruang dalam rumah tangga kami.

Hari ini seharusnya hanya olahraga pagi biasa. Tapi sejak awal aku memang sudah merasa seperti orang ketiga di antara mereka.

Aku berjalan sedikit di belakang saat Mas Alden dan Keisha berjoging santai sambil tertawa kecil membicarakan entah apa.

Aku bahkan tidak tahu kapan terakhir kali suamiku tertawa seperti itu saat bersamaku.

Lalu suara keributan mulai terdengar dari depan.

Aku melihat sekeliling dan menyadari orang-orang terlihat seperti … panik.

Tiba tiba terdengar seperti suara ledakan keras. Seperti suara petasan yang dahsyat.

DUAAR!!

Lalu seketika, segalanya berubah kacau.

Jeritan dan teriakan terdengar di mana-mana. Orang-orang mulai berlari ke sana ke mari. Beberapa ibu menarik anak-anak mereka sambil menangis ketakutan.

Dan seperti gerakan refleks, hal pertama yang dilakukan Mas Alden, suamiku itu, bukan mencariku.

Bukan memegang tanganku.

Bukan memastikan aku aman.

Tapi menarik perempuan itu, Keisha, ke dalam pelukannya.

Melindunginya.

Menjadikan tubuh tegapnya sebagai perisai untuk perempuan itu. Perempuan lain.

Sedangkan aku, istrinya, hanya bisa berdiri di belakang mereka seperti orang asing.

Rasa nyeri di hatiku terasa menyengat jauh lebih sakit daripada benturan di kepala tadi. Dengan jemariku, kuremas dadaku, berharap bisa menahan perihnya.

Aku menghela napas panjang sambil memejamkan mata sejenak.

Lalu terdengar suara pintu yang membuka perlahan.

Mbok Siti, asisten rumah tanggaku, masuk sambil membawa baki berisi makanan. Matanya sontak membelalak, wajah tuanya berubah panik begitu tatapan kami bertemu.

“Bu … Ya Gusti … ibu sudah sadar?!” serunya.

Ia buru-buru menghampiri, meletakkan baki di meja kecil samping ranjang lalu menyentuh keningku.

“Gusti, Ibu, akhirnya sadar juga, saya takut... aduh, ibu gimana keadaannya? Ini masih panas banget ..., pusing nggak Bu?" Ia memborbardirku dengan banyak pertanyaan.

Baru saat itu aku sadar ada kompres yang menempel di dahiku.

Aku mencoba untuk bangkit, untuk duduk, tapi dunia langsung berputar hebat. Tubuhku ambruk kembali.

Mbok Siti cepat-cepat menopang tubuhku dan menyusun bantal di belakang punggungku.

“Astaga … duh Gusti … pelan-pelan, Bu.”

Aku meringis.

“Pusing…” bisikku lirih.

“Pusing? Ibu makan dulu ya. Dari tadi belum makan apa-apa.”

Sebenarnya aku ingin menolak.

Aku ingin Mas Alden yang ada di sini, menyuapiku.

Aku ingin sekali ini diperlakukan seperti istri yang benar-benar dianggap penting.

Tapi bukankah harapan seperti itu, mendapatkan kembali perhatian suamiku, sudah terlalu sering mengecewakanku?

“Se-ka-rang ja-am be-ra-pa … Bi?” tanyaku lirih dan tertatih.

“Jam? Sudah jam dua siang, Bu. Dari tadi ibu nggak sadar-sadar.” Mbok Siti terlihat benar-benar khawatir. “Kata Bapak tadi kalau sampai sore belum sadar juga, disuruh dibawa ke rumah sakit.”

Aku tersenyum getir. Pahit.

‘Disuruh dibawa’, katanya.

Seolah aku ini barang rusak yang harus diperbaiki karena tidak bisa berfungsi. Seolah aku bukan istrinya.

Dadaku terasa semakin sesak.

Bahkan dalam keadaan seperti ini pun, Mas Alden tidak datang menemaniku.

Tidak duduk di sampingku.

Tidak menggenggam tanganku sambil khawatir seperti suami-suami lain.

Entah sejak kapan rumah tangga kami berubah sedingin ini.

Atau mungkin… memang hanya aku yang selama ini berpura-pura semuanya masih baik-baik saja.

“Mas Rey juga udah Mbok hubungi. Katanya lagi ke sini.” tambah mbok lagi. Seperti berusaha menenangkanku.

Aku mengangguk pelan.

Reyhan.

Sepupu Alden yang juga merupakan seorang dokter.

Lelaki itu terkenal dingin dan sulit didekati. Bahkan saat kumpul keluarga pun, jika muncul, ia lebih sering diam dibanding berbasa-basi.

Dengan lembut Mbok Siti mengganti kompres di dahiku, lalu membantuku minum air hangat sedikit demi sedikit.

Kepalaku masih terasa berat.

Mulutku pahit.

Dan hatiku, jauh lebih buruk.

“Bapak tadi pergi lagi, Bu,” ujar Mbok Siti hati-hati.

Aku terdiam.

“Mungkin … masih ngurus keadaan di luar sana.”

Aku tahu Mbok Siti sedang mencoba menjaga perasaanku.

Padahal kami sama-sama tahu ke mana Alden pergi.

Keisha.

Pasti ke perempuan itu lagi.

Mungkin sekarang suamiku sedang menenangkan perempuan itu.

Mungkin sedang memastikan Keisha tidak trauma.

Sedangkan aku yang jelas-jelas terluka malah ditinggalkan sendirian di rumah.

Lucu sekali.

Yang istrinya itu kan, Aku …!

Tapi di hidup Mas Alden saat ini, rasanya aku selalu kalah penting dibanding perempuan lain itu.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari luar kamar. Berderap cepat. Seperti tergesa.

Judul: Meninggalkanmu Untuknya

Penulis: Redezilzie

Genre: Romansa, Urban, Rumah Tangga

Platform: Novel Laris

Editorial:

Novel ini menyuguhkan sebuah awal cerita yang sangat menguras emosi dengan mengangkat konflik klasik rumah tangga yang dikemas secara modern dan menyesakkan. Penulis berhasil membangun empati pembaca sejak kalimat pertama melalui adegan kecelakaan di tengah kepanikan massal yang sangat menegangkan. Penggambaran rasa sakit fisik yang bercampur dengan remuknya hati sang istri saat melihat suaminya memilih melindungi perempuan lain, tersampaikan dengan begitu jujur dan langsung menusuk perasaan.

Karya berjudul "Meninggalkanmu Untuknya" ini merupakan buah pena dari Redezilzie. Sebagai salah satu penulis yang piawai di platform Novel Laris, ia kembali membuktikan kemampuannya dalam menukangi genre Romansa, Urban, dan Rumah Tangga. Gaya bahasanya yang sederhana namun sarat akan letupan emosi membuat dinamika hubungan beracun akibat kehadiran orang ketiga dalam pernikahan ini terasa sangat nyata dan dekat dengan realitas kehidupan perkotaan.

Keunggulan utama novel ini terletak pada kekuatannya dalam mengeksplorasi sudut pandang batin sang tokoh utama yang terzalimi. Dialog-dialog batin yang getir, rasa asing di rumah sendiri, hingga kontrasnya perhatian seorang asisten rumah tangga dibanding ketidakhadiran sang suami, digambarkan dengan porsi yang sangat pas untuk mengaduk-aduk perasaan. Ditambah lagi, kemunculan tokoh baru seperti dokter Reyhan di akhir bagian memberikan bumbu misteri dan harapan baru yang membuat cerita langsung terasa dinamis.

Mengenai kekurangan, alur penceritaan yang bergerak maju-mundur secara mendadak saat tokoh utama terbangun di kamarnya mungkin akan membuat pembaca sedikit bertanya-tanya tentang bagaimana ia bisa sampai di rumah setelah tak sadarkan diri di jalanan. Namun, kekurangan pengingat logis ini berhasil dieksekusi dengan sangat baik lewat kelebihan penulis dalam membangun monolog yang emosional. Fokus pembaca langsung dialihkan pada rasa sesak akibat pengkhianatan Alden, sehingga detail teknis kepulangan sang istri termaafkan oleh rasa penasaran pembaca yang ingin melihat tokoh utama segera bangkit.

Secara keseluruhan, awal dari novel ini sangat sukses meletakkan batu pertama untuk sebuah kisah pencarian jati diri dan ketegasan dalam sebuah pernikahan yang pincang. Penulis dengan cerdas memanfaatkan konflik "sahabat masa kecil suami" sebagai motor penggerak emosi yang selalu berhasil membuat pembaca gemas sekaligus geram. Adegan penutup yang diakhiri dengan suara langkah kaki tergesa-gesa di luar kamar menjadi umpan yang sangat manis untuk memancing rasa ingin tahu pembaca ke halaman selanjutnya.

Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi kamu pencinta drama domestik dan romansa penuh intrik yang mencari cerita dengan keterikatan emosi yang kuat. Jika kamu menyukai kisah perjuangan seorang istri dalam menghadapi ketidakadilan cinta dan ingin melihat bagaimana sebuah harga diri dipertaruhkan, karya Redezilzie ini adalah pilihan yang sangat tepat. Segera ikuti kisah lengkapnya dan saksikan sendiri bagaimana takdir akan membalas prioritas yang salah dari sang suami!

By: Rahmat Ry




Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama