Pahlawan Super Gaji UMR - Ikhwanul Halim

Pahlawan Super Gaji UMR - Ikhwanul Halim


0

BAB 12

Cahyo menendang pintu kantor sampai terbuka lebar.

Dia langsung masuk sembari ngangkat visor helmnya ke depan kayak koboi siap duel.

“Berhenti, penjahat super! Atau aku—”

Kalimatnya langsung mati. Kantornya kosong. Beneran kosong.

Nggak ada orang di dekat meja. Nggak ada sosok bayangan di balik rak. Nggak ada penjahat super misterius.

Cuma ruangan kantor modern dengan meja besar, sofa hitam, layar komputer, dan rak merchandise Wong Karet.

Komputernya masih dalam mode sleep.

Itu aja.

Cahyo berdiri diam beberapa detik, masih dalam pose siap menembak.

“…Oh.”

Tegangnya hilang. Diganti rasa malu.

Dia menurunkan tangan pelan.

“Bagus, Cahyo,” gumamnya. “Hampir nembak kursi gara-gara paranoid.”

Dia cek ruangan sekali lagi.

Tetap kosong.

“Mungkin aku memang cuma salah dengar…”

Perutnya bunyi lagi. 

Tereret tereeet!

“Ya, ya, aku tahu. Kita cari makan dulu.”

Dia berbalik menuju pintu.

Tapi sebelum sempat melangkah—

Krek.

Ada suara kecil dari atas.

Refleks Cahyo mendongak.

Dan yang dia lihat bikin darahnya langsung dingin.

Sebuah kaki meluncur turun tepat ke arah mukanya.

“Wha—”

BRAK!

Tendangan itu menghantam visor helmnya keras banget.

Pelindung itu menyelamatkan wajah Cahyo, tapi benturannya tetap kayak dipukul palu godam.

Kepalanya tersentak ke belakang. Pandangan berputar.

Tubuhnya jatuh terjengkang ke lantai.

“Ugh!”

Sebelum dia sempat bangkit, sesosok tubuh mendarat di atasnya dengan gerakan cepat dan enteng. Satu dengkul kaki menekan dadanya kuat-kuat.

Cahyo meringis dan mendongak.

Wajah bertopeng hitam. Ninja.

Atau seseorang yang pengen pake banget keliatan kayak ninja.

Bodi full tutupan kain hitam ketat. Gerakannya nyaris tanpa suara. Matanya tajam dan dingin.

Tanpa bicara, sosok itu menarik pisau panjang bergerigi dari pinggangnya. Bilahnya berkilat di bawah lampu kantor.

Dari jarak sedekat ini, pisau itu jelas cukup tajam buat menggorok leher Cahyo semudah membelah kertas.

Napas Cahyo tercekat.

“Oh,” katanya lemah. “Jadi ternyata aku nggak paranoid.”

Orang itu benar-benar kelihatan kayak ninja. Atau minimal kayak versi ninja yang sering muncul di film dan komik, yang sebenarnya kelewat keren buat jadi nyata.

Pakaian hitam ketat membungkus tubuh atletisnya. Bahu dan lengannya kelihatan jelas, kayak dia punya jadwal gym lima kali seminggu dari Senin sampe Sabtu. Jumat dan Minggu prei. 

Mukanya tertutup topeng hitam, cuma keliatan sepasang mata biru terang yang menusuk banget. Birunya mirip langit siang yang baru selesai di-edit pake Photoshop 2027.

Umur?

Entahlah. Mungkin akhir dua puluhan. Mungkin tiga puluhan awal.

Tapi Cahyo nggak peduli.

Karena fokusnya cuma satu:

Pisau besar bergerigi yang sekarang melayang tepat di depan wajahnya.

Pisau itu terlalu panjang buat disebut pisau biasa. Lebih mirip pedang pendek. Apa pun namanya, jelas-jelas itu bukan buat motong singkong atau uni cilembu.

Dan jelas-jelas itu ditujukan ke leher Cahyo.

“Wah, oke,” gumam Cahyo dengan suara tercekat. “Ini bahaya ini.”

Panik langsung takeover otaknya.

Tanpa mikir panjang, Cahyo memusatkan kekuatan ke matanya. Panas langsung menumpuk di balik visor helmnya—cepat banget, sampai rasanya kayak ada dua solder menempel di bola matanya.

Tapi dia nggak peduli.

Dia menembakkan Mata Laser dengan kekuatan penuh. Karena panik, dia nggak membidik pisau. Dia membidik … mata ninja itu.

Sayangnya, ninja itu bergerak lebih cepat dari kemampuan otak Cahyo memproses kenyataan hidup.

Dalam sekejap, ninja itu melompat mundur, keluar dari jangkauan.

Laser Cahyo melesat ke atas dan—

BRAAAK!

Langit-langit meledak.

Serpihan logam, beton, dan kabel jatuh ke helm Cahyo kayak hujan kerikil.

“Ups!”

Cahyo buru-buru bangkit. Tapi belum sempat berdiri tegak, pedang bergerigi itu sudah menyambar ke arah bahunya.

Refleks Cahyo telat.

Dia cuma sempat menoleh.

CLANG!

Bilah itu menghantam sisi helmnya.

Tidak menembus, tapi benturannya… ya Tuhan.

Kepalanya berdenging. Pandangannya goyang kayak kamera film found footage.

Dia terhuyung mundur—dan justru itu yang bikin dia lolos dari tebasan berikutnya.

Dalam kepanikan, Cahyo membanting pintu kantor ke arah ninja.

BRAK!

Tapi ninja itu menyelipkan pisaunya di antara pintu dan kusen.

Cahyo mendorong sekuat tenaga.

“Ayolah! Tutup! Tutup!”

Tapi ninja itu mendorong balik dengan kekuatan yang bikin Cahyo mempertanyakan apakah orang ini makan dumbbell buat sarapan.

Pintu terdorong terbuka. Cahyo terhuyung ke belakang.

Ninja itu melesat masuk—cepat banget, sampai Cahyo cuma lihat bayangan hitam kabur.

Gagang pisaunya menghantam helm Cahyo.

DUK!

Cahyo terlempar mundur dan membentur meja Wong Karet. Monitor bergoyang. Pena-pena jatuh.

Ninja itu kembali menerjang.

Dalam kepanikan, Cahyo meraih benda pertama yang disentuh tangannya dan melemparkannya.

Ternyata itu… figurin mini Wong Karet.

Mainan kecil itu melayang dan—

*****

Nama Pena: Ikhwanul Halim

Genre: Teenlit, Superhero

Platform: MaxNovel

Editorial:

Cerita ini terasa seru karena dibuka dengan suasana tegang, tetapi tetap dibumbui humor khas yang membuat cerita tidak terasa berat. Adegan saat Cahyo masuk ke kantor dengan gaya seperti pahlawan yang siap menangkap penjahat justru berakhir lucu karena ruangan ternyata kosong. Bagian itu berhasil memberi jeda ringan sebelum konflik utama muncul.

Ikhwanul Halim cukup pandai memainkan perubahan suasana. Awalnya pembaca dibuat tertawa dengan tingkah Cahyo yang banyak bicara sendiri, lalu tiba-tiba suasana berubah menjadi mencekam saat sosok misterius muncul dari atas. Peralihan dari komedi ke aksi terasa cepat, tetapi tetap mudah diikuti.

Karakter Cahyo juga semakin menarik di bab ini. Walaupun punya kekuatan super, dia tetap terlihat manusiawi. Dia panik, salah bidik, gugup, bahkan sempat membuat kerusakan sendiri karena laser matanya menghancurkan langit-langit. Hal itu membuat Cahyo terasa lebih dekat dengan pembaca dan tidak terkesan terlalu sempurna.

Adegan pertarungan ditulis cukup hidup. Gerakan ninja, benturan senjata, suara pukulan, sampai reaksi Cahyo digambarkan dengan detail yang membuat pembaca bisa membayangkan situasinya. Ritme aksinya cepat dan membuat rasa penasaran terus naik dari awal sampai akhir bab.

Humor yang disisipkan juga menjadi nilai tambah. Kalimat seperti soal jadwal gym ninja sampai candaan tentang pisau yang jelas bukan untuk memotong singkong membuat suasana tetap ringan. Gaya seperti ini cocok untuk genre teenlit superhero karena membuat cerita lebih santai dan menghibur.

Ikhwanul Halim berhasil menjaga identitas cerita lewat gaya bahasa yang sederhana dan akrab. Dialog terasa natural, tidak kaku, dan cocok dengan karakter Cahyo yang cenderung spontan serta agak ceroboh. Pembaca remaja kemungkinan akan lebih mudah menikmati alur seperti ini.

Secara keseluruhan, cerita ini berhasil memberikan kombinasi aksi, komedi, dan ketegangan dalam porsi yang seimbang. Ending yang terpotong tepat saat figurin Wong Karet dilempar juga menjadi penutup yang efektif karena membuat pembaca ingin segera lanjut ke bab berikutnya. Cerita ini terasa ringan dibaca, tetapi tetap meninggalkan rasa penasaran yang kuat.

by Hayyi Ze





Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama