Rahasia Nakal Sang Mahasiswi - Sweet Moon

Rahasia Nakal Sang Mahasiswi - Sweet Moon


0

Terjebak Rutinitas Baru

​[Bab Terkunci]

​Seminggu telah berlalu, dan hidup Camelia Queen Hasta benar-benar jungkir balik. Gelar mahasiswa abadi yang santai kini perlahan luntur, digantikan dengan citra mahasiswi ambisius yang setiap hari sudah terlihat di laboratorium lantai tiga sebelum dosen-dosen lain menginjakkan kaki di gedung fakultas.

​Bahkan mahasiswa paling rajin di angkatannya pun akan kalah telak jika dibandingkan dengan kedisiplinan dirinya saat ini. Mengeluh pun tidak ada gunanya. Setiap kali ia hendak protes, tatapan tajam Kenan seolah sudah membungkam suaranya lebih dulu. Yang bisa dirinya lakukan hanyalah bekerja dengan cepat dan menyelesaikannya.

​Kenan Abimanyu benar-benar seorang diktator akademis dalam wujud nyata. Pria itu tidak hanya menuntut hasil yang sempurna, tetapi juga kedisiplinan yang gila. Perempuan itu kini lebih sering memegang mikropipet dan membolak-balik buku teks serta jurnal-jurnal tebal berbahasa Inggris daripada memegang kuas rias atau palet perona mata. Draf skripsinya yang dulu berantakan dan hanya berisi teori-teori dangkal, kini mulai tersusun rapi, penuh dengan coretan tinta merah dari pena Kenan yang sangat tajam, sepedas ucapannya.

​Rutinitas Sabtu malam, yang biasanya menjadi malam keramat untuk memanen jiwa mangsa baru di Midnight Garden hingga berakhir di kamar hotel mewah, terpaksa ia relakan untuk berhenti sejenak. Ia terlalu lelah untuk sekadar mengenakan gaun satin, memasang sepatu hak tinggi, dan bermain peran sebagai Miss Jiwa yang menggoda.

​"Ini revisi metodologinya, Pak. Sudah saya sesuaikan dengan jurnal rujukan yang Bapak minta kemarin," ucap Camelia sambil menyerahkan tabletnya dengan tangan yang sedikit pegal.

​Kenan menyesap kopi hitamnya yang aromanya memenuhi ruangan. Matanya menelusuri layar dengan teliti, mengamati setiap kalimat yang disusun mahasiswinya. Keheningan di laboratorium itu selalu terasa berat dan mencekam, seolah oksigen di sana sengaja dikurangi agar perempuan itu tetap dalam kondisi waspada.

​"Lumayan," jawab Kenan singkat tanpa menoleh.

​Gadis itu hampir saja menghela napas lega sebelum sang dosen melanjutkan kalimatnya.

​"Tapi jangan senang dulu. Fase paling kritis dari penelitianmu baru akan dimulai besok."

​Camelia mengerutkan kening, rasa bingung mulai merayapi benaknya. "Maksud Bapak?"

​Kenan meletakkan gelas kopinya ke meja dengan denting pelan yang terdengar nyaring. Lelaki itu kemudian menatap lawan bicaranya dengan sorot mata dingin, namun ada sesuatu yang berkilat di sana.

​"Sampel mikroba yang sudah kamu siapkan butuh observasi setiap dua jam sekali selama dua puluh empat jam penuh. Jika terlewat satu menit saja, data akan bias, dan kamu harus mengulang semuanya dari nol."

​Darah Camelia seolah berhenti mengalir mendengar kabar horor itu. "Dua puluh empat jam? Maksud Bapak, saya tidak boleh pulang?"

​"Saya juga tidak akan pulang, Nona Camelia," jawab Kenan datar, seolah menginap di laboratorium adalah hal yang paling normal dan lazim di dunia ini. "Persiapkan dirimu. Pagi tidak perlu datang ke sini. Beristirahatlah, baru besok sore kita mulai prosedurnya. Saya tidak menerima alasan kamu sakit, kelelahan, atau drama lainnya."

​Mahasiswi itu langsung membeku di tempat. Itu bukan sekadar pengumuman atau ajakan diskusi melainkan perintah mutlak yang tidak mengenal negosiasi. Pikirannya berputar hebat. Apa yang terlewat? Ini kan penelitiannya sendiri? Apakah dia selama ini begitu ceroboh sampai lupa membaca prosedur dengan teliti? Atau ini adalah cara lain lelaki itu untuk menyiksanya?

​Sore itu, setelah jam kampus berakhir dan mahasiswa lain sudah berhamburan pulang, laboratorium semakin terasa sunyi dari biasanya. Hanya ada suara mesin pendingin yang menderu rendah. Camelia duduk di sudut meja, menatap layar ponselnya dengan tatapan lesu dan kosong. Ia merasa kebebasannya sebagai manusia semakin dirampas oleh dosen dingin yang kini sibuk di depan laptopnya sendiri.

​Pesan singkat itu dikirim Camelia tanpa sadar ke pesan pribadi, tertuju langsung pada akun Lucifer. Dan hanya butuh beberapa detik, akun tersebut segera membalasnya, seolah pria itu memang sedang menunggu di balik layar.

Miss Jiwa: Dia benar-benar gila. Besok aku diberikan hukuman untuk menginap di suatu tempat. Dia benar-benar sipir penjara yang tidak punya perasaan.

Lucifer: Menginap? Menarik sekali. Apa dia akan menjagamu sepanjang malam di suatu tempat? Tiba-tiba aku benci membayangkanmu kelelahan di bawah pengawasannya. Kamu butuh sesuatu untuk membuat suasana hatimu lebih baik, Miss?

​"Eh!" Camelia tersentak kecil saat menyadari jarinya ternyata asal mengetik pesan dan tertuju pada rekan virtualnya.

​Segera, senyum getir terbit di bibirnya. Dengan lincah, jarinya menari di atas layar untuk segera membalas.

Miss Jiwa: Aku cuma butuh dia sedikit melunak. Dia terlalu kaku, bahkan AC di ruangan ini kalah dingin dengan tatapannya.

Lucifer: (emotikon tertawa) Jadi dia pria dingin ya? Biasanya pria kaku punya titik lemah. Bagaimana kalau aku bantu kamu untuk membuat dia sedikit lebih hangat sebagai pembuka malam kalian besok? Anggap saja ini hadiah karena kamu sudah mau bercerita denganku.

​Camelia tertawa kecil, suara tawanya terdengar sumbang. Bicara apa sih orang ini? Memangnya dia punya ilmu sihir yang bisa melunakkan orang sekeras Kenan? Dia saja tidak kenal siapa dosenku, pikirnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

​Tiba-tiba, saat ia hendak memasukkan ponselnya ke dalam tas, ia merasakan sebuah bayangan besar menaunginya. Perempuan itu menoleh dan mendapati Kenan sudah berdiri tepat di sampingnya, membawa sebuah jaket hitam tebal yang diletakkan begitu saja di atas kursi kerjanya.

​"Besok pakai pakaian hangat. Bawa juga kebutuhanmu yang lain untuk menginap. AC di sini akan diatur ke suhu minimal untuk menjaga kestabilan sampel," ucap Kenan. "Dan ini, pakai saja dulu kalau kamu merasa kedinginan sore ini, karena saya lihat di luar sudah mulai turun hujan."

​Camelia terpaku, matanya tidak berkedip menatap jaket milik sang dosen yang kini berada di dekatnya. Aroma cedarwood yang maskulin dan segar langsung tercium dari serat kainnya, seolah aroma itu mencoba menyusup ke dalam paru-paru dirinya.

​Ia kembali menyalakan layar ponselnya yang masih menampilkan pesan dari akun misterius itu tentang pria kaku yang akan menjadi hangat. Gadis itu lalu menatap punggung tegap Kenan yang berjalan keluar pintu lab dengan langkah berwibawa.

​Hanya kebetulan, kan? batin Camelia.

*****

​Nama pena: Sweet Moon

Genre: Dark Romance, Psikologis, Kampus, Badgirl, 21+

Platform: Good Novel

Editorial:

Novel “Rahasia Nakal Sang Mahasiswi” karya Sweet Moon berhasil menghadirkan suasana kampus yang terasa hidup, tetapi dibalut dengan nuansa dark romance dan psikologis yang intens. Dari awal, pembaca langsung diajak melihat perubahan besar dalam hidup Camelia yang sebelumnya santai, lalu dipaksa masuk ke dunia akademik yang penuh tekanan. Cara penulis menggambarkan rutinitas laboratorium terasa detail dan membuat cerita lebih realistis.

Karakter Camelia sendiri terasa menarik karena memiliki dua sisi yang bertolak belakang. Di satu sisi ia adalah mahasiswi yang terlihat malas dan suka kehidupan malam, tetapi di sisi lain ia mulai menunjukkan usaha dan ketekunan saat menghadapi penelitian skripsinya. Perubahan ini terasa alami dan tidak dibuat terlalu mendadak, sehingga pembaca bisa memahami tekanan yang sedang ia alami.

Sementara itu, karakter Kenan Abimanyu menjadi daya tarik utama dalam cerita ini. Sosoknya dingin, tegas, dan penuh wibawa, tetapi di beberapa momen kecil justru menunjukkan perhatian yang tidak terduga. Hal sederhana seperti memberikan jaket atau mengingatkan Camelia untuk membawa pakaian hangat terasa sangat berkesan karena kontras dengan sikapnya yang keras. Dinamika hubungan mereka perlahan membangun rasa penasaran.

Penulisan Sweet Moon juga cukup rapi dan mudah diikuti. Dialog antar tokohnya terasa natural dan tidak berlebihan. Suasana laboratorium yang sunyi, dingin, dan penuh tekanan berhasil membuat pembaca ikut merasakan ketegangan yang dialami Camelia. Beberapa bagian bahkan terasa seperti menonton drama kampus dengan atmosfer misterius.

Selain romance, unsur psikologis dalam cerita ini cukup kuat. Pembaca dibuat bertanya-tanya tentang identitas Lucifer dan hubungannya dengan Kenan. Percakapan virtual antara Camelia dan Lucifer memberi warna berbeda dalam cerita, sekaligus menambah rasa penasaran terhadap rahasia yang mungkin sedang disembunyikan.

Kelebihan lain dari novel ini adalah cara penulis membangun chemistry tanpa terburu-buru. Hubungan Camelia dan Kenan tidak langsung berubah menjadi romantis, tetapi dibangun perlahan lewat interaksi kecil yang sederhana namun bermakna. Hal itu membuat cerita terasa lebih emosional dan tidak membosankan untuk diikuti.

Secara keseluruhan, “Rahasia Nakal Sang Mahasiswi” adalah novel yang cocok bagi pembaca yang menyukai kisah kampus dengan nuansa dark romance, karakter dingin dan misterius, serta konflik psikologis yang membuat penasaran. Sweet Moon berhasil menghadirkan cerita yang ringan dibaca tetapi tetap memiliki ketegangan dan emosi yang kuat di setiap babnya.

by Hayyi Ze





Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama