OJOL HEALING - Zee Lesta

OJOL HEALING - Zee Lesta


0

OJOL HEALING

Bab 12 Insiden Gigi Terbang

"Tolong! Musuh terlihat! Posisi jam dua! Siapkan meriam!"

Suara itu datang dari atas. Arshaka perlahan mendongak ke arah pohon peneduh jalan yang cukup rimbun di samping halte. Matanya membelalak. Kakek Margono sudah berada di dahan yang tingginya hampir tiga meter, berdiri dengan goyah sambil mengarahkan kompasnya ke arah gedung tinggi di seberang jalan.

"Kek! Turun, Kek! Itu bahaya!" Arshaka berteriak, suaranya naik satu oktav.

"Diam kamu, Ajudan! Saya sedang memantau pergerakan tentara Belanda di benteng itu!" Kakek Margono malah melambaikan tangannya dengan santai, membuat dahan pohon itu berderit ngeri. "Mereka punya senjata baru! Bentuknya kotak-kotak dan ada lampunya!"

"Itu videotron, Kek! Bukan senjata!" Arshaka membuang buket mawarnya ke jok motor, lalu mendekat ke bawah pohon. "Ayo turun, mawar merahnya sudah ada! Noni Belanda sudah menunggu!"

"Noni Belanda bisa tunggu! Keamanan Batavia lebih penting!" si kakek malah mencoba naik ke dahan yang lebih tinggi lagi.

Orang-orang mulai berkumpul di bawah pohon. Beberapa mulai mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian langka ini, sebagian lain menjerit.

"Mas, itu kakeknya mau diapain? Mau dipanggil pemadam kebakaran?" tanya seorang pejalan kaki dengan polosnya.

"Nggak perlu, Mas. Biar saya yang urus," sahut Arshaka dengan gigi teratup. Arshaka mulai memanjat.

"Kek, saya naik nih! Jangan gerak-gerak!"

"Waduh! Ada penyusup! Musuh memanjat pohon kita!" Kakek Margono mulai panik dan mencoba memukul tangan Arshaka dengan peta leceknya saat Arshaka hampir meraih kakinya. "Pergi kamu, Mata-mata! Saya tidak akan menyerah!"

"Kek, ini saya! Ajudan paling penurut!" Arshaka berhasil menangkap pergelangan kaki si kakek. "Turun sekarang atau saya lapor ke Jenderal Sudirman kalau Kakek bolos rapat!"

Mendengar nama Jenderal Sudirman, Kakek Margono mendadak diam. "Hah? Jenderal sudah tahu? Aduh, celaka ... bisa dihukum jemur saya."

Akhirnya, dengan susah payah dan keringat dingin yang bercucuran, Arshaka berhasil memandu si kakek turun selangkah demi selangkah. Saat kakinya menyentuh tanah, Kakek Margono langsung merapikan pecinya yang miring dan berdehem kencang, seperti baru saja melakukan aksi kepahlawanan, bukan bikin kerusuhan.

"Lain kali, Ajudan, buatkan tangga yang lebih bagus di pos pantau ini. Licin sekali," ucap si kakek tanpa rasa bersalah, lalu menyambar buket mawar di jok motor. "Ayo jalan! Kita sudah terlambat!"

Arshaka hanya bisa bersandar di batang pohon dengan napas terengah-engah. Di rambutnya bahkan tertempel beberapa dedaunan yang rontok.

Ia sudah tidak punya kata-kata lagi. Dengan napas yang masih tersengal akibat aksi panjat pohon tadi, ia membantu Kakek Margono naik ke atas motor. Peci si kakek sudah miring ke kiri, sementara buket mawar merah ia dekap erat-erat.

Arshaka memakaikan kembali helm yang tadi di lepas si kakek.

"Sudah, Kek? Siap jalan?" tanya Arshaka, tangannya sudah bersiap di gas.

"Jalan! Serbu markas Harmonie!" seru Kakek Margono dengan semangat yang menggebu-gebu.

Arshaka menarik gasnya. Karena ingin segera menyelesaikan misi darurat ini, ia memacu motor sedikit lebih cepat saat melihat lampu hijau di depan. Namun, tepat saat motor melintasi sebuah polisi tidur yang agak tinggi di jalanan aspal Sudirman yang sedang diperbaiki ....

DUG!

Motor itu berguncang hebat.

"Waduh! Meriam meledak!" teriak Kakek Margono kaget.

Pluk!

Tiba-tiba, Arshaka merasakan sesuatu menghantam punggungnya dengan suara jatuh yang aneh, lalu benda itu memantul dan jatuh ke aspal. Arshaka langsung mengerem mendadak. Ia menoleh ke belakang dengan perasaan tidak enak.

"Kek? Kakek nggak apa-apa?"

Kakek Margono tidak menjawab. Ia hanya menangkupkan kedua tangannya ke mulut dengan mata melotot lebar. Wajahnya yang tadi kemerahan karena semangat, mendadak berubah pucat pasi.

"Apwua iwu ...," gumam si kakek, suaranya terdengar sangat aneh, seolah semua huruf konsonannya hilang.

Arshaka turun dari motor dan melihat ke aspal, tepat di bawah ban belakangnya. Di sana, tergeletak benda putih bersih berbentuk melengkung dengan deretan kepingan kecil yang sangat familiar.

Gigi palsu.

Satu set gigi palsu bagian atas milik Kakek Margono tergeletak tak berdaya di atas aspal Jakarta.

"Astaga, Kek! Gigi Kakek lepas!" Arshaka berseru sambil membelalakkan mata.

Kakek Margono turun dari motor dengan gerakan lambat, matanya menatap nanar ke arah giginya yang kini terancam terlindas bus TransJakarta. 

"Gwigwi swaya! Gwigwi pwerjuwangan swaya!"

Arshaka buru-buru berlari ke tengah jalan, menghentikan sebuah mobil yang hendak lewat dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menyambar gigi palsu itu dari aspal.

"Ini, Kek. Masih utuh," Arshaka menyodorkan benda itu dengan rasa geli, namun harus ditahan demi sopan santun.

Kakek Margono menerima giginya dengan tangan gemetar. Ia mencoba memasangnya kembali dengan terburu-buru, tapi karena terburu-buru dan panik tidak terpasang dengan benar.

"Gwimana? Swudah bwenar?" tanya si kakek dengan posisi gigi yang aneh, membuat bibir atasnya menonjol keluar.

Arshaka menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Ia tidak tahu harus tertawa atau menangis.

"Terbalik, Kek. Sini, biar saya bantu bersihkan dulu," ucap Arshaka pasrah. Ia mengambil botol air mineral dari tas samping motornya, membilas gigi itu, lalu menyerahkannya kembali ke si kakek.

Setelah gigi itu terpasang dengan benar, Kakek Margono kembali berdehem kencang seolah tidak terjadi apa-apa. "Terima kasih, Ajudan. Musuh sengaja memasang ranjau supaya saya tidak bisa bicara di rapat. Licik sekali mereka!"

Arshaka hanya bisa mengangguk lemas. "Iya, Kek. Ranjau polisi tidur memang berbahaya. Sekarang, tolong ... mingkem saja selama perjalanan. Takut giginya terbang lagi."

Setelah menempuh perjalanan yang penuh drama, mulai dari memanjat pohon, membeli mawar merah, hingga aksi penyelamatan gigi palsu di tengah aspal, Arshaka akhirnya sampai di sebuah gerbang rumah megah di kawasan Menteng.

Kakek Margono turun dengan gagah, memeluk buket mawarnya sambil merapikan peci. "Akhirnya kita sampai di markas besar! Ajudan, kau tunggu di sini. Jangan biarkan mata-mata masuk!"

Baru saja Arshaka hendak menjawab, pintu gerbang otomatis itu terbuka. Seorang pria muda dengan kaos santai dan celana pendek muncul dari balik pagar. Ia tidak tampak panik, malah menyeringai lebar saat melihat pemandangan di depannya, seorang driver dengan celana kotor dan tampak sangat menderita.

"Waduh, Opa ... dari mana saja? Katanya mau ke Batavia, kok malah sampai bawa bunga?" tanya pria itu sambil geleng-geleng kepala.

"Diam kamu, Sersan! Saya habis menjalankan misi rahasia bersama ajudan andalan saya ini!" seru Kakek Margono sambil menunjuk Arshaka dengan sombongnya.

Pria muda itu, yang ternyata cucu si kakek, mendekati Arshaka. Ia melihat noda tanah di celana Arshaka dan beberapa daun menyempil di jaketnya.

"Mas, maaf banget ya. Opa saya kalau kumat emang begitu, balik ke masa muda," bisik cucu si kakek sambil terkekeh.

Arshaka hanya menghela napas panjang, membuka kaca helmnya, dan menyeka keringat di dahi. "Nggak apa-apa, Mas. Tadi ... tadi ada sedikit insiden panjat pohon dan gigi lepas. Tapi yang penting Kakek sampai dengan selamat."

"Panjat pohon? Hahaha! Gila, Opa masih kuat ya," pria itu tertawa puas sembari melirik kakeknya yang berusia 88 tahun itu.

Ia kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal yang isinya tampak menyembul. Tanpa ragu, ia menyodorkan amplop itu ke tangan Arshaka.

"Ini buat Mas. Anggap saja biaya servis motor, biaya ganti rugi karena habis manjat pohon, sama kompensasi buat telinga Mas yang pasti pengang dengerin sejarah Batavia."

Arshaka tertegun merasakan beratnya amplop itu. Ia membukanya sedikit dan matanya membelalak. Isinya uang gepokan seratus ribuan. "Mas, ini kebanyakan. Tarif di aplikasi sudah dibayar."

"Ambil saja, Mas. Saya tahu rasanya jagain dia. Saya aja yang cucunya nyerah, makanya saya sewa ojol healing biar ada yang gantian pusing," pria itu menepuk pundak Arshaka. "Anggap aja Mas menang lotre pagi ini. Terima kasih ya, Mas Ojol."

 "Jadi, dia pelakunya, yang memesan layanan ojol healing." Arshaka menggumam dalam hati dengan nada yang sangat lelah.

Ia menatap pemuda itu dengan tatapan datar, tipe tatapan yang biasa ia berikan pada bawahan yang melakukan kesalahan fatal, namun kali ini bercampur dengan rasa tak habis pikir. Di hadapannya berdiri sumber dari segala penderitaannya pagi ini, penyebab dirinya harus memanjat pohon peneduh jalan, bernegosiasi dengan intelijen imajiner, hingga memungut gigi palsu di aspal panas.

Si cucu kemudian merangkul kakeknya masuk ke dalam rumah. "Ayo Opa, Noni Belandanya sudah dandan cantik, lagi nunggu di meja makan mau bagi-bagi jatah pensiun."

"Benarkah? Jaga di depan ya, ajudan!" suara Kakek Margono perlahan menjauh masuk ke dalam rumah.

Arshaka berdiri mematung di samping motornya, memandangi amplop di tangannya. Di kantong jaketnya ada kancing kelapa dari nenek Fatimah, di tangannya ada uang gepokan dari cucu Kakek Margono, dan di perutnya ada sisa ikan gabus dari Liora.

"Dunia ojol ini ..." Arshaka menggelengkan kepala, lalu menyunggingkan senyum tipis yang tulus. "...jauh lebih jujur daripada rapat direksi."

*****

Nama pena: Zee Lesta

Genre: Urban

Platform: Novea

Editorial:

--



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama