ZURA & ZEHAN: Cinta Tak Direstui
Bab 62 Bayangan di Jalan Gelap
Beberapa hari telah berlalu sejak debut siaran perdana Zura yang sukses besar. Rutinitas baru sebagai penyiar radio kampus mulai menyatu dalam hidupnya. Namun, sore itu berbeda. Zayn harus absen karena ada urusan keluarga yang mendadak. Alhasil, Zura harus siaran didampingi Bang Sunar dan Kak Fatwa saja.
Selesai siaran dan berbuka puasa ala kadarnya di studio, Zura bersiap-siap pulang, karena merasa ada sesuatu yang tidak nyaman di pakaian dalamnya. Sepertinya tamu bulanannya datang.
"Kak, punya persediaan pembalut nggak?" bisik Zura pada Kak Fatwa.
Kak Fatwa menggeleng. "Enggak, Ra. Kamu datang bulan?"
Zura mengangguk ragu. "Kayaknya iya. Tapi belum ngecek. Ya sudah aku pulang duluan deh, Kak."
"Zayn nggak masuk, kamu pulang sama siapa, Ra?" tanya Kak Fatwa sambil merapikan sisa takjil di atas meja.
"Jalan kaki aja, Kak. Deket kok, paling sepuluh menit lewat jalan pintas belakang fakultas hukum," jawab Zura sambil menyampirkan tasnya.
Kak Fatwa menatap ke arah luar jendela yang sudah gelap. "Mau Kakak antar? Kakak bawa motor kok."
Zura menggeleng sopan. "Enggak usah, Kak. Kalau antar aku, Kak Fatwa harus mutar jauh banget. Aku lewat jalan tikus aja, lebih cepet. Duluan ya, Kak, Bang Sun!"
Zura melangkah keluar dari gedung UKM lantai dua dan menuruni tangga besi yang berkelok. Udara malam terasa lebih lembab dan sunyi dari biasanya. Begitu memasuki area jalan di samping gedung hukum yang minim penerangan, keberanian Zura mulai menciut. Lampu-lampu jalan di sini sering mati-nyala, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang aneh dari pepohonan besar di sekitarnya.
Tuk ... tuk ... tuk ...
Srek-srek-srek!
Zura mempercepat langkahnya. Namun, di tengah kesunyian itu, ia merasa mendengar suara langkah kaki lain di belakangnya. Ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang.
Kosong.
Hanya ada jalanan aspal yang gelap gulita.
"Perasaan aku aja kali ya ...," gumamnya lirih. Ia kembali berjalan, kali ini lebih cepat.
Srek-srek-srek!
Suara itu terdengar lagi, mengikuti ketukan langkahnya. Zura menelan ludah. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ia mencoba menenangkan diri.
"Ini kan bulan puasa, Ra. Katanya setan dibelenggu ... masa iya ada yang begituan?" batinnya meyakinkan diri.
Wush!
Tiba-tiba, dari sudut matanya, ia melihat sebuah bayangan hitam melesat cepat di antara semak-semak di sisi kanannya.
"Siapa?!" teriak Zura, suaranya bergetar.
Tidak ada jawaban. Hanya suara desau angin yang menerpa dedaunan. Zura mulai panik. Ia mulai berlari kecil. Napasnya mulai memburu, ngos-ngosan tak beraturan karena rasa takut yang mencekik tenggorokannya.
"Hah ... hah ... hah ...."
Langkah kakinya yang mengenakan flatshoes berbunyi nyaring di atas aspal.
Wush!
Di sisi kirinya, sekelebat bayangan kembali terlihat lewat dengan sangat cepat. Kali ini lebih dekat, sesuatu atau seseorang seperti sedang mempermainkannya dalam kegelapan.
"Siapapun, tolong ...," isaknya pelan dalam kepanikan.
Zura merogoh tasnya dengan tangan gemetar, mencoba mencari ponselnya untuk menelepon Zehan. Namun, karena terlalu panik dan langkahnya yang terburu-buru, ia malah tersandung akar pohon yang mencuat dari trotoar.
"Aaah!" Zura terjatuh, lututnya menghantam aspal. Ponselnya terlempar jauh dari jangkauannya, layar ponsel yang menyala menjadi satu-satunya cahaya di kegelapan.
Dalam posisi terduduk dan napas yang masih tersengal-sengal karena ketakutan, Zura mendengar suara langkah kaki berat mendekat ke arahnya dari arah kegelapan di belakangnya.
Srek! Srek! Srek!
Zura berusaha menggapai ponselnya lalu bangkit dengan susah payah, telapak tangannya perih karena tergores aspal, tapi rasa takutnya jauh lebih besar. Ia merangkak sesaat sebelum akhirnya berhasil berdiri dan kembali berlari. Jantungnya berpacu gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Hawa dingin yang tidak wajar berhembus kuat, menusuk tengkuknya hingga membuat bulu kuduknya meremang.
"Hah ... hah ... hah ...."
Di saat keadaan terasa semakin genting dan bayangan hitam itu seolah hendak menyergapnya, sorot lampu motor tiba-tiba membelah kegelapan dari arah belakang.
"Zura!"
Sebuah motor berhenti tepat di sampingnya. Itu Kak Fatwa. Melihat Zura yang berkeringat dingin dengan wajah pucat pasi dan napas tersengal-sengal, Fatwa langsung turun dengan raut cemas. Tanpa banyak bicara, ia menuntun Zura naik ke motornya.
"Sudah Kakak bilang antar, kamu ngeyel," ujar Kak Fatwa dengan nada tegas namun khawatir.
Kak Fatwa menjalankan motor dengan cepat menjauh dari area gelap itu. "Dari tadi sudah ada yang nungguin kamu di lantai bawah."
Zura tertegun. Kalimat itu terdengar sangat spesifik. "J-jadi ... Kakak bisa lihat?"
Seketika Kak Fatwa terhenyak. Ia tampak tersentak karena keceplosan. Biasanya, ia sangat lihai menjaga rahasia bahwa dirinya memiliki kemampuan melihat hal-hal tak kasat mata sejak kecil.
"Maksud Kakak ... jalanan ini memang rawan," jawab Kak Fatwa gelagapan, matanya fokus ke depan, mencoba menghindari tatapan Zura dari spion.
Sesampainya di depan pagar kos, Zura turun dengan kaki yang masih lemas. Kak Fatwa menghela napas panjang. "Sudah, masuk sana. Cuci muka, tawasul, terus langsung tidur. Hati-hati ya, Ra."
Saat Kak Fatwa hendak memutar motornya, Zura dengan cepat menahan lengan wanita itu. Matanya menatap tajam, menuntut penjelasan.
"Apa yang Kakak lihat tadi?" desak Zura. "Dan kenapa dari awal kita ketemu, Kakak kayak takut atau kaget setiap lihat aku? Ada apa sebenarnya, Kak?"
Kak Fatwa terdiam. Ia menatap Zura dengan tatapan takut-takut, sebuah ekspresi yang sangat jarang terlihat dari sosoknya yang dewasa dan tenang. Ia sempat menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada telinga lain yang mendengar.
"Kamu ... kamu bawa intensitas yang nggak biasa, Zura," bisik Fatwa akhirnya dengan suara bergetar. "Ada dua sosok di belakangmu. Kembar ... eh, i-iya mungkin kembar. Cantik dan tampan, seperti pengawal kerajaan. Mereka selalu di sampingmu."
Zura membeku, tidak sepenuhnya percaya.
"Kamu nggak tau?" tanya Fatwa.
Zura menggeleng. "Aku cuma tau kalau aku darah manis. Pacarku yang bilang."
Fatwa meneguk ludahnya kasar, matanya kembali melirik gelisah ke arah bayangan pohon besar di dekat pagar kos Zura yang seolah-olah sedang ikut mendengarkan percakapan mereka.
"Pacarmu tau?"
Zura kembali mengangguk. "Dia juga bisa lihat."
"Iya," bisik Fatwa dengan suara yang hampir tertelan angin malam. "Itu hal terburuknya, Zura. Kamu darah manis. Kamu itu ibarat cahaya yang sangat terang di tengah kegelapan bagi mereka. Semuanya ingin mendekat, semuanya ingin mencicipi, atau bahkan ingin memiliki."
Zura merasakan tangannya mendingin.
"Tapi hari ini mereka berdua nggak ada, Ra. Entah ke mana ... itu kenapa kamu diganggu tadi, apalagi kamu lagi datang bulan," lanjut Fatwa dengan wajah semakin pucat.
"Zura, kamu baik-baik saja? Tadi di belakangmu ... ada sosok besar sekali yang mengikuti langkahmu tepat saat kamu jatuh."
Zura hanya bisa terpaku, hawa dingin kembali menjalari punggungnya meski ia sudah berdiri di depan gerbang kosnya sendiri. Zura menatap telapak tangannya yang lecet dan kotor oleh aspal.
"Masuk, Ra. Sekarang!" desak Fatwa, suaranya naik satu oktav.
Zura tersentak, segera menutup telapak tangannya. "Kak Fatwa juga ... hati-hati di jalan ya."
Fatwa menghidupkan mesin motornya, namun pandangannya tidak langsung ke jalan. Ia justru menatap bangunan kos Zura dengan tatapan yang sangat cemas.
"Zura," panggil Fatwa dengan nada yang sangat serius, membuat Zura yang masih gemetar kembali menoleh.
"Iya, Kak?"
"Malam ini, kalau bisa jangan sendirian di kamar. Nyalakan semua lampu, dan kalau dengar suara apa pun dari luar jendela, jangan sekali-kali kamu buka atau intip," pesan Fatwa. Matanya masih memicing, memindai area di belakang Zura. "Saran Kakak, kamu mending secepatnya pindah kos.".
Zura menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "I-iya, Kak. Makasih banyak sudah antar aku."
Fatwa mengangguk sekali, namun raut cemasnya belum hilang sepenuhnya. "Kakak pamit ya. Ingat pesan Kakak, langsung kunci pintu."
Dengan sisa keberaniannya, Zura menunggu sampai lampu belakang motor Kak Fatwa hilang di tikungan. Suasana jadi sangat hening. Zura segera masuk dan mengunci pagar dengan tangan gemetar, merasa seolah ada yang sedang mengawasinya dari balik kegelapan pohon mangga di halaman kos.
*****
Nama pena: Zee Lesta
Genre: Romance Horror
Platform: Novea
Editorial:
--
