Travelling with Stranger
Bab 63 Bayu Diculik
Ruangan itu gelap, lembab dan pengap. Dinding dan lantainya pun mengeluarkan hawa dingin. Terdengar suara air mengalir, entah di sudut mana aliran itu berada.
Suara tetesan air itu lama-lama membuat Bayu terbangun. Kepalanya begitu sakit. Hidungnya pun sangat sakit dan susah membaui sekitarnya. Entah apa yang terjadi pada dirinya.
“Dimana ini?” gumamnya sambil terus memegangi kepalanya.
Matanya mulai fokus, hanya saja tempat itu sangat gelap. Sama sekali tidak ada pencahayaan.
Bayu pun duduk. Dia mencoba mundur dengan pantatnya, untuk mencari sandaran. Ah, langsung ketemu.
“Astaga, dingin sekali,” serunya saat merasakan punggungnya seperti diberi bongkahan es batu.
Pria itu meraba dengan telapak tangannya. Dia merasa seperti orang buta saja sekarang. Jangan-jangan, apa memang dia buta beneran?
Tiba-tiba terdengar suara berisik dari arah atas. Lama-lama terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin jelas.
Mata Bayu menangkap pancaran cahaya. Desah lega terdengar, karena dirinya ternyata tidak buta. Akan tetapi, saat ada cahaya itu, dia jadi tahu kalau dia berada disebuah ruangan sempit dengan jeruji besi.
“Penjara?”
Bayu tahu dia dibuat pingsan dan diculik. Akan tetapi, dia tidak menyangka jika dia sedang berada dipenjara. Pertanyaannya, penjara ini berada di dunianya atau di Bhumi Sauandarya?
Jawabannya langsung ada. Cahaya tadi berasal dari lentera yang dibawa oleh dua anggota militer Kota Konkordja. Satu macan tutul, dan satu manusia bertubuh raksasa.
“Ternyata dia sudah sadar. Bangun! Siap-siap mati kau!” seru macan itu.
Bayu bergeming, dia berteriak, “Siapa kalian?”
“Untuk apa kau tahu?” Ucap raksasa itu dengan suaranya yang sangat berat.
“Hanya sebuah formalitas saja. Seperti di film-film itu,” jawab Bayu asal. Dia masih saja duduk selonjoran di lantai.
“Diamlah kau manusia! Lebih baik cepat keluar!” gertak sang macan.
“Gimana mau keluar? Gembok saja tidak kalian buka,”
Gembok pun terbuka. Pintu jeruji itu ditendang keras oleh raksasa.
“Cepat keluar!”
“Memangnya mau kemana? Aku masih ngantuk,”
Bayu sengaja membangkang. Dia ingin mengulur waktu untuk mencari celah kabur.
“Cerewet sekali jadi tahanan!”
Macan itu mengikat kedua tangan Bayu dengan rantai emas. Dia mencoba menyeret Bayu.
Tangan Bayu ditariknya kuat. Dia terlihat pasrah saja.
Akhirnya, Bayu diajak naik tangga. Dia sekarang tahu kalau tadi dia berada di penjara bawah tanah sebuah istana. Bayu menebak jika dia ditangkap oleh Jack.
Bayu memasuki sebuah aula besar yang sangat megah. Dia terus berdecak kagum melihat ornamen yang menghiasi ruangan yang bisa menampung ribuan orang tersebut.
Suara tubrukan tubuh Bayu dengan lantai marmer terdengar keras di ruangan itu saat Bayu didorong kasar oleh sang raksasa. Kerasnya diaterjatuh, rasanya tulang-tulang itu seperti remuk. Sakit sekali.
Kepalanya menunduk, saking pusingnya. Dia melihat kaki berlapis sepatu kulit buaya, mendekatinya.
“Kau?” seru Bayu saat melihat siapa yang mendekat.
Sebenarnya dia sudah menebaknya, tetapi dia tetap saja terkejut dan tidak percaya jika dia diculik oleh Jack.
Pria tua berjenggot itu membungkuk. Dia mencengkram rahang Bayu dengan keras, hingga terdengar desis dari mulut Bayu.
“Siapa kau? Berani-beraninya kau menghancurkan semua rencanaku!” gertak Jack terlihat murka.
Bayu tidak bisa menjawab dengan rahang yang terus ditekan. Jujur saja, dia juga tidak mau menjawabnya. Memangnya siapa dia?
“JAWAB!”
Tangan Jack mengayun penuh tenaha ke samping hingga membuat tubuh dan kepala Bayu kembali terbentur lantai.
Gila, gegar otak dia setelah ini.
“Jawab, manusia bodoh! Sebelum malaikat maut mengambil nyawamu,” cibir sang macan tutul yang terus menjaga di sana.
Bayu menatap Jack dengan tatapan remeh. Dia pun berkata, “Memangnya siapa aku?”
Bayu memang sedang menantang maut. Bayangkan saja, bukannya menjawab, Bayu malah balik bertanya. Hal itu membuat Jack marah kembali.
Satu tamparan mendarat di salah satu sisi pipi Bayu. Tamparan itu membuat kepala Bayu berputar. Meskipun sudah tua, tenaga Jack tidak main-main.
“JAWAB YANG BENAR!” bentaknya pada Bayu.
Bayu hanya meringis ketika menanggapi. Dia masih saja berusaha bangkit, dan sekarang berdiri tegap menantang lawannya. Dia tidak mau dianggap lemah.
“Aku? Kamu mau tahu siapa aku? Untuk apa?” gertak Bayu. Dia melangkah untuk menepis jarak antara dia dan Jack.
“Kau-”
“Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya pemuda kampung biasa. Apa yang kamu harapkan?”
Jack terdiam sambil terus medengarkan ocehan Bayu. Meski begitu, dia tidak peruli. Seseorang yang memiliki obsesi besar seperti dia, tidak ada kata memahami sebuah logika. Semua dia anggap sebagai kosong.
Jack tidak suka omelan. Tangan berurat itu kini bertengger di leher lawan. Jack mencoba mencekik Bayu. Dia mulai mengerang, menggeram dan menggertak.
“Kau sudah mencampuri urusan kota ini terlalu dalam. Tidak seharusnya kau di dunia ini dan mengacaukan semua rencanaku,” desis Jack dengan jarak wajah terlalu dekat. Cekikannya semakin kuat.
Dalam hatinya, Bayu mengumpati pria tua itu. Siapa yang ikut campur? Dia hanya menolong mereka yang lah, ucapnya dalam hati.
Sayang sekali, Bayu tidak bisa melantangkan kalimat protesnya itu. Leher Bayu sakit sekali. Nafasnya jadi berat. Dia terbatuk-batuk. Wajahnya pun mulai memucat.
Bayu tidak tinggal diam. Dia ayunkan tangannya yang terikat rantai. Dia ayunkan tangan itu sekuat sisa tenaganya dan bagian rantai itu tepat mengenai ulu hati lawan.
“AWW-”
Jack merintih kesakitan. Tangannya menahan bagian tubuhnya yang sakit itu.
Melihat hal itu, sang raksasa langsung memegangi Bayu. Menahan agar pria itu tidak bisa bergerak sama sekali. Frustasi, Bayu meludahi ke depan dan tepat mengenai bagian tubuh Jack.
“Kurang ajar kamu! Gantung dia di Gunung Kartara!”
*****
Nama pena: Kujomonku
Genre: Fantasi, Misteri
Platform: Max Novel
Editorial:
--
