Pendekar Salah Zaman



0

Bab 1. Orang Gila di Gunung

"Bajingan!" teriak Rangga, suaranya tertahan angin kencang yang menyapu lereng gunung.

Seng tua di atap pos tiga berisik, terhempas tiap kali diterpa badai. Bunyinya menyeret, memekakkan telinga. Rangga duduk di dalam bilik kecil yang sudah setengah miring, punggungnya menempel ke dinding kayu dingin. Di tangannya, ponsel menyala menampilkan sebuah foto. Dia dan seorang perempuan. Sekarang, mantan.

Sosok itulah yang membuatnya berada di sini. Naik gunung sendirian demi pemulihan diri, namun justru terjebak badai. Rangga menatap foto itu beberapa detik, lalu menarik napas pelan.

"Besok-besok, aku tidak mau pacaran dengan anak fakultas seni," gumamnya. "Apalagi jurusan seni elektro. Instalasi stop kontak penuh makna? Aku diputusin orang yang mungkin menangis melihat kabel kusut."

Jempolnya menekan tombol hapus. Foto itu hilang. Tidak ada lagi cadangan perasaan. Rangga mematikan layar, menyandarkan kepala ke dinding, mencoba tenang meski angin di luar semakin menjadi.

Tiba-tiba, pintu pos terhempas keras. Rangga menoleh dengan ekspresi datar.

"Aku mau penyembuhan diri, malah kena badai di pos tiga," katanya pelan. Dia melirik keluar yang gelap total. "Sial sekali."

Ponsel dimasukkan ke kantong. Ritsleting jaket ditarik sampai leher guna menahan dingin yang menusuk. Di luar, angin berputar aneh, seolah berkumpul di satu titik. Hujan turun semakin deras, lalu sepersekian detik semua suara seperti hilang.

Petir menyambar tak jauh dari pos. Dalam kilatan itu, bayangan pepohonan terlihat jelas. Di antaranya, ada seseorang duduk di atas batu besar. Diam. Tanpa busana.

Keadaan kembali gelap dan Rangga menyipitkan mata. "Itu apa? Jangan bilang manusia?"

Suara hujan kembali menderu. Pintu pos terhempas berkali-kali sampai kayunya berderak. Lalu, tanpa alasan masuk akal, pintu itu terbuka perlahan meski arah angin berlawanan. Kabut tipis merayap masuk, disusul suara langkah kaki yang berat dan teratur di atas tanah basah.

Sosok itu muncul di ambang pintu. Tubuhnya penuh bekas gosong tipis, namun tatapannya terlalu tenang untuk seseorang yang berdiri di tengah badai. Dia tidak masuk, hanya berdiri diguyur hujan.

"Ini wilayah siapa?" suaranya datar. "Aku melanggar batas tanpa izin."

Anehnya, air hujan seperti menghindari tubuhnya. Rangga langsung berdiri siaga.

"Woi! Monyet! Mau ngapain kamu?! Mau macam-macam ya?!"

Tas gunung ditarik ke depan sebagai perisai. Tangannya merogoh tas, menemukan tiang tenda, lalu mengarahkannya ke depan dengan gemetar. "Pergi! Pergi sana!"

Pria itu tidak bereaksi. Dia hanya memperhatikan tiang besi di tangan Rangga dengan tenang. Lalu dia melangkah masuk satu langkah.

"Jika aku berniat mencelakaimu, kamu tidak akan sempat berdiri," katanya datar.

Rangga semakin emosi. "Kamu siapa?! Setan ya?!"

Besi itu diarahkan lurus ke wajahnya. Pria itu mendekat, lalu menyentuh ujung besi tersebut. Rangga menggenggam kuat, tapi besi itu berhenti seolah menabrak dinding tak terlihat.

"Ini bukan senjata," kata pria itu sambil melepaskannya. Besi itu kembali terasa ringan. "Aku bukan setan. Aku manusia. Namaku Wira."

Angin di luar mereda sesaat.

"Aku tidak mengenali tempat ini," lanjutnya. "Dan aku tidak mengenali cara bicaramu."

Rangga masih terpaku, namun mulutnya tetap bersuara. "Kamu dari mana?! Kenapa tidak pakai baju?! Kamu gila ya?!"

Dia berhenti sejenak, bergumam pada diri sendiri. "Bodoh, aku anak psikologi. Mana mungkin orang gila bisa setenang ini."

Rangga kembali menatap tamu tak diundang itu. "Wira, kan? Mau apa kamu?"

"Kamu berubah cara bicara. Tadi mengusir, sekarang bertanya," sahut Wira. Dia masuk sepenuhnya dan pintu menutup pelan di belakangnya. "Aku bertapa di puncak. Aku hampir menembus tahap Dharmasraya, lalu petir datang. Aku tidak menghindar karena seharusnya itu ujian."

Wira melihat tangannya sendiri. "Saat sadar, aku sudah di sini. Pakaianku terbakar. Ini wilayah siapa? Aku harus meminta izin."

Rangga menatap pria itu bingung. "Izin ada di bawah, di pos pendaftaran. Kamu penduduk sini atau pendaki sasar?"

Wira diam mencerna. "Pendaftaran? Aku tidak mengenal itu." Dia menoleh ke arah bawah gunung. "Kalau begitu, penjaga wilayah ada di sana. Kamu penghuni sini atau juga tamu?"

Rangga mengernyit waspada. "Kamu tidak akan menyakitiku, kan?"

"Jika aku ingin mencelakaimu, aku tidak perlu bertanya sejak awal," jawab Wira datar. Dia bergeser memberi ruang. "Aku tidak punya urusan denganmu. Aku hanya perlu memahami tempat ini."

Rangga akhirnya menurunkan besinya. Dia mengambil kaos dan celana dari tas, lalu menyodorkannya. "Pakai baju dulu. Tidak enak dilihat."

Wira menerima pakaian itu dengan heran. "Kamu memberiku ini? Ini pakaian milikmu?"

Dia mulai memakainya meski gerakannya kaku. Setelah selesai, dia berdiri tegak. Kini dia tampak seperti manusia normal pada umumnya.

"Lebih pantas begini?" tanya Wira. Hujan di luar mulai mereda. "Sekarang kita bisa bicara. Kamu belum menjawab. Kamu penghuni wilayah ini atau hanya lewat?"

"Aku pendaki, cuma lewat," jawab Rangga. "Kamu dari mana? Jangan bilang tersambar petir. Orang tidak mungkin selamat setelah itu."

"Aku dari atas," Wira menunjuk puncak. "Aku tidak berjalan melalui jalur sepertimu. Dan aku memang tersambar petir. Kenapa menurutmu manusia tidak bisa selamat?"

Rangga ternganga. "Cara bicaramu aneh sekali. Jutaan volt itu tidak mungkin ditahan tubuh manusia. Kamu tidak pernah sekolah?"

Wira diam sejenak. "Sekolah? Tempat belajar? Aku belajar dari guruku dan dari tubuhku sendiri. Aku tidak tahu apa itu volt, tapi aku tahu batas tubuhku. Saat itu aku belum hancur, berarti aku masih hidup. Itu bukti cukup."

Rangga ikut duduk bersila. "Orang ini sepertinya mengalami gangguan jiwa ringan," gumamnya. Lalu dia berkata, "Begini saja, Wira. Setelah hujan reda, aku temani kamu turun ke pos penjaga. Kamu tanya-tanya pada petugas di sana."

"Petugas? Penjaga wilayah?" Wira mengangguk. "Baik. Jika itu caranya, aku akan ikut."

Wira berdiri dan berjalan ke arah pintu.

"Woi, mau ke mana?" tanya Rangga.

Wira tidak menjawab. Dia menatap langit, lalu menghentakkan kakinya ke tanah tiga kali. Setengah detik kemudian, angin hilang. Hujan yang tadi deras langsung berhenti seketika di sekitar mereka.

Rangga mendongak. Awan masih gelap, tapi air tidak lagi jatuh. "Hah? Apa yang kamu lakukan tadi?"

Wira berdiri santai. "Biar tidak basah. Kita bisa langsung menemui penjaga wilayah itu."

Rangga bengong cukup 

lama sebelum akhirnya mengumpat pelan. "Sialan."

...

Penulis: Sleepy Face

Genre: Urban, Komedi, Aksi, Fantasi

Platform: Novel Laris

Editorial:

Cerita ini menawarkan pembukaan yang sangat menarik karena berhasil menggabungkan suasana gunung yang mencekam dengan pertemuan dua karakter yang sangat bertolak belakang. Penulis mahir membangun ketegangan lewat deskripsi badai, namun seketika mencairkan suasana dengan komedi segar yang muncul dari pikiran jujur tokoh Rangga. Pertemuan antara mahasiswa modern yang logis dengan petapa sakti yang kaku menciptakan dinamika unik yang membuat pembaca penasaran.

Novel berjudul "Pendekar Salah Zaman" ini merupakan buah karya dari Sleepy Face. Penulis ini dikenal memiliki gaya bercerita yang lincah dan berani dalam memadukan berbagai genre sekaligus, mulai dari Urban, Komedi, Aksi, hingga Fantasi. Melalui tangan dinginnya, karakter Wira diciptakan dengan aura misterius namun tetap memiliki sisi yang bisa dinikmati secara santai.

Keunggulan utama novel ini terletak pada dialognya yang terasa sangat luwes dan tidak membosankan. Penggunaan istilah kekinian dari perspektif Rangga yang dipadukan dengan gaya bicara Wira yang kuno memberikan sentuhan humor yang cerdas. Pembaca tidak hanya diajak mengikuti petualangan fisik di medan berat, tetapi juga menyaksikan benturan budaya antara dunia modern yang serba rasional dengan dunia spiritual yang penuh keajaiban.

Mengenai kekurangan, transisi perubahan cuaca yang terjadi sangat mendadak mungkin akan terasa mengejutkan bagi logika pembaca awam. Namun, hal ini berhasil ditutup dengan sangat baik melalui kelebihan penulis dalam membangun elemen fantasi yang kuat sejak awal cerita. Kekuatan karakter Wira yang digambarkan sebagai petapa sakti membuat kejadian di luar nalar tersebut tetap terasa masuk akal dan sinkron dalam konteks dunia fantasi yang sedang dibangun.

Saya sangat merekomendasikan cerita ini bagi kalian yang menyukai kisah petualangan dengan tokoh pahlawan yang tidak biasa. Jika kamu bosan dengan cerita fantasi yang terlalu berat atau kaku, karya Sleepy Face ini menawarkan kesegaran melalui perpaduan komedi dan aksi yang sangat pas. Segera ikuti kelanjutan kisahnya untuk melihat bagaimana Rangga menghadapi keajaiban-keajaiban lain yang dibawa oleh Wira di dunia modern!

By: Rahmat Ry




Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama