PROYEK MASA LALU: Larasati dan Gerbang Senja


0

11. Mata-mata atau Malaikat?

Lampu di ruang kerja kecil sudut kantor BUMN itu masih menyala meski jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Bayu duduk bersandar sambil memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Di hadapan lelaki itu, papan tulis putih dipenuhi garis merah yang menghubungkan nama, tanggal, dan peristiwa. Di tengah kekacauan data tersebut, satu nama dilingkari tinta hitam tebal: Larasati Harjo.

​"Ini tidak masuk akal," gumam Bayu pada dirinya sendiri.

​Di sampingnya, dua staf muda yang paling ia percaya, Hendra dan Sari, tampak sama lelahnya. Mereka telah menghabiskan waktu empat puluh delapan jam terakhir untuk membedah setiap langkah Larasati sejak kerusuhan Mei.

​"Mas Bayu, lihat ini," Sari menyodorkan laporan analisis saham. "Tiga hari sebelum Bank Mega Sejahtera dibekukan, ada penarikan aset emas besar-besaran dari brankas pribadi keluarga Harjo. Waktunya sangat presisi, hanya selisih beberapa jam sebelum likuidasi dimulai. Jika mereka terlambat sedikit saja, emas itu akan tertahan dalam proses hukum bertahun-tahun."

​Hendra menimpali, "Bukan hanya itu. Penolakan terhadap Bima dilakukan tepat saat Bima mulai melakukan manuver politik bawah tanah yang melibatkan pendanaan ilegal. Larasati seolah tahu bahwa berasosiasi dengan Bima saat itu adalah bunuh diri reputasi. Puncaknya adalah kasus Pak Jaya. Perempuan itu mengatur acara amal di jam yang sama dengan penangkapan, memastikan ayahnya memiliki alibi dan jarak fisik dari lokasi transaksi suap."

​Bayu menatap papan tulis itu dengan pandangan kosong. "Informasi asimetris. Dia memiliki akses ke data yang bahkan BIN atau intelijen ekonomi kita belum tentu punya. Pertanyaannya adalah dari mana?"

​"Mungkin dia agen ganda, Mas?" Sari berspekulasi. "Bisa jadi dia direkrut oleh konsorsium asing yang ingin membersihkan pasar Indonesia dari pemain kotor agar mereka bisa masuk dengan mudah. Dia menggunakan wajah sosialitanya sebagai kamuflase sempurna."

​"Atau dia memang punya indra keenam," canda Hendra, namun wajahnya segera serius saat melihat tatapan tajam Bayu.

​"Tidak ada indra keenam dalam ekonomi, Hendra. Hanya ada data, akses, dan niat." Bayu berdiri, berjalan mendekati jendela yang menghadap kerlip lampu Jakarta yang lelah. "Dia terlalu pintar untuk ukuran wanita yang dulu hanya tahu cara menghabiskan uang ayahnya. Perubahan ini terlalu drastis. Dia beroperasi seperti seorang profesional yang sudah berpengalaman puluhan tahun. Dia memprediksi regulasi pemerintah seolah dia sendiri yang menulis drafnya."

​Bayu mengambil undangan mewah dari atas mejanya. Kertasnya tebal, bertekstur kasar namun elegan, dengan wangi kayu cendana yang samar. Jamuan Amal Laras Kriya Nusantara.

​"Dia ingin menjadi malaikat pelindung budaya," Bayu berbisik. "Atau dia adalah mata-mata paling berbahaya yang pernah kita hadapi. Besok malam, aku akan mencari jawabannya langsung di kandangnya."

​Malam jamuan amal tiba. Galeri seni yang disewa Larasati di kawasan Menteng telah disulap menjadi ruang pameran yang memukau. Tidak ada hiasan emas berlebihan atau lampu disko yang menyilaukan. Sebagai gantinya, ruangan itu diterangi obor minyak esensial dan lampu temaram yang menyoroti keindahan kain batik tulis dan tenun ikat yang digantung seperti karya seni agung.

​Larasati berdiri di tengah ruangan, mengenakan kebaya hitam pekat dengan kain bawahan motif Pari Kesit yang warnanya begitu dalam hingga tampak seperti samudera di malam hari. Wanita itu menyambut para duta besar, kolektor seni, dan beberapa pengusaha yang mulai melihat potensi dalam bisnis etis. Secara publik, ia adalah Wanita Baja. Ia adalah malaikat yang membawa harapan bagi para pengrajin yang hampir mati kelaparan. Namun di dalam hatinya, Larasati merasa seperti sedang berdiri di atas lapisan es yang sangat tipis. Setiap pujian yang ia terima terasa seperti beban tambahan.

​"Nona Larasati, benar-benar luar biasa," puji Duta Besar Prancis. "Anda membawa narasi baru bagi Indonesia. Bukan lagi soal korupsi, tapi soal integritas budaya."

​"Terma kasih, Yang Mulia," Larasati menjawab dengan senyum yang ia latih selama bertahun-tahun sebagai Ibu Pejabat. "Integritas adalah satu-satunya mata uang yang tidak akan terdevaluasi oleh krisis."

​Saat ia sedang berbincang, matanya menangkap sosok yang masuk melalui pintu besar. Bayu. Pria itu tidak mengenakan setelan jas formal yang kaku. Ia memakai kemeja tenun ikat berwarna marun, terlihat gagah namun tetap bersahaja. Matanya langsung menemukan Larasati, dan untuk sesaat, waktu seolah berhenti bagi wanita itu. Jantungnya berdenyut nyeri. Di kehidupan masa depan, Bayu pernah menatapnya dengan cinta yang begitu besar sebelum akhirnya berubah menjadi kebencian yang menghancurkan. Kini, tatapan itu hanya berisi kecurigaan yang dingin.

​Larasati meminta izin kepada tamu-tamunya dan melangkah mendekati Bayu.

​"Saya tidak menyangka Anda akan datang, Bayu," kata Larasati, mencoba menjaga suaranya tetap stabil.

​"Saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat bagaimana seorang malaikat bekerja," jawab Bayu dengan nada yang mengandung sarkasme halus. Ia mengambil segelas minuman jahe hangat dari nampan pelayan yang lewat. "Tempat yang indah. Sangat kontras dengan bau mesiu di Tanah Abang beberapa bulan lalu."

​"Perubahan membutuhkan panggung yang tepat, Bayu," Larasati membalas, mencoba tidak terpancing.

​"Atau kamuflase yang tepat?" Bayu menatap langsung ke mata Larasati. "Saya sudah memeriksa data pengadaan bahan baku Anda. Anda membeli serat nanas dari Filipina dua bulan lalu, sebelum pemerintah di sana menaikkan pajak ekspor. Bagaimana Anda tahu?"

​Larasati tersenyum tipis. "Saya membaca jurnal perdagangan internasional, Bayu. Gejolak politik di Manila sudah bisa diprediksi."

​"Jangan beri saya jawaban buku teks, Larasati." Bayu melangkah lebih dekat, merendahkan suaranya agar tidak terdengar tamu lain. "Anda terlalu presisi. Anda bergerak seperti orang yang sudah tahu hasil akhir dari sebuah pertandingan sepak bola sebelum peluit pertama dibunyikan. Siapa yang memberi Anda informasi? Siapa di belakang Anda?"

​Larasati merasakan keringat dingin di punggungnya. Bayu terlalu dekat dengan kebenaran. Ia harus memutar narasi. "Tidak ada siapa pun di belakang saya, Bayu. Hanya keinginan untuk tidak menjadi sampah sejarah. Apakah begitu sulit dipercaya bahwa seorang wanita bisa berubah karena trauma?"

​"Trauma membuat orang takut, Larasati. Bukan membuat mereka menjadi ahli strategi ekonomi tingkat dewa," Bayu tidak melepaskan tatapannya. "Bahkan kontrak BUMN Energi yang baru akan dibahas minggu depan, saya dengar Anda sudah mulai mendekati pemasok logistiknya untuk menawarkan kain seragam pengrajin. Bagaimana Anda tahu tentang detail kontrak itu? Dokumennya bahkan belum keluar dari meja direksi."

​Larasati tertegun. Sial, ia melakukan kesalahan fatal. Ia terlalu bersemangat mengamankan pasar untuk para pengrajinnya sehingga menggunakan pengetahuannya tentang kontrak besar BUMN Energi yang diingat dari masa depan.

​"Saya hanya mendengar desas-desus di kalangan pengusaha," Larasati mencoba berdalih, namun ia tahu suaranya sedikit bergetar.

​"Desas-desus?" Bayu tertawa dingin. "Desas-desus tidak mengandung detail spesifik tentang volume pengadaan dan spesifikasi teknis yang Anda ajukan dalam proposal awal Anda. Anda bukan hanya pengamat, Larasati. Anda adalah penyusup. Anda mata-mata untuk siapa? Bima? Atau pihak asing?"

​"Aku bukan mata-mata, Bayu!" Larasati mendesis, amarahnya mulai bangkit karena rasa frustrasi. "Aku mencoba menyelamatkan perusahaanmu dari kerugian! Jika kamu menggunakan seragam dari bahan sintetis impor seperti yang direncanakan Pak Jaya dulu, kalian akan bangkrut saat dolar menyentuh angka tujuh belas ribu bulan depan!"

​Suasana di sekitar mereka mendadak hening. Beberapa tamu menoleh. Larasati menyadari ia baru saja membocorkan prediksi nilai tukar dolar yang sangat spesifik, angka yang saat ini masih dianggap mustahil oleh sebagian besar ekonom.

​Bayu terdiam dengan mata membelalak. "Tujuh belas ribu? Prediksi resmi pemerintah paling buruk hanya sepuluh ribu. Dari mana angka itu, Larasati?"

​Larasati memejamkan mata, merutuki mulutnya sendiri. Ia telah jatuh ke dalam perangkap Bayu. Pria ini tidak datang untuk berdamai, melainkan datang untuk memancingnya.

​"Aku harus mengurus tamu lain," Larasati berkata dengan suara dingin, mencoba memulihkan martabatnya. "Silakan nikmati pamerannya, Bayu. Tapi tolong, jangan bawa teori konspirasi Anda ke acara amal saya."

​"Ini bukan teori konspirasi jika itu kenyataan, Larasati." Bayu menahan lengan Larasati sejenak. "Kamu terlalu sempurna untuk menjadi nyata dan di dunia yang hancur ini, sesuatu yang terlalu sempurna biasanya adalah sebuah kebohongan yang dirancang dengan sangat baik."

​Larasati menarik lengannya dengan kasar. "Jika Anda menganggap kejujuran dan kerja keras saya sebagai kebohongan, itu adalah masalah Anda, bukan masalah saya. Sekarang, silakan pergi jika Anda hanya ingin mengganggu."

​Bayu menatapnya lama. Sebuah tatapan yang penuh dengan kekecewaan yang aneh, seolah-olah ia ingin mempercayai Larasati namun logikanya melarang. "Saya akan menemukan jawabannya, Laras. Demi keselamatan BUMN dan demi negara ini. Saya tidak akan membiarkan malaikat palsu merusak apa yang sedang kami bangun dengan susah payah."

​Lelaki itu berbalik dan melangkah keluar dari galeri, meninggalkan Larasati yang berdiri terpaku di tengah keramaian.

​Musik tradisional yang mengalun lembut di ruangan itu kini terdengar seperti lonceng kematian di telinga Larasati. Ia menyadari satu hal yang sangat pahit. Bayu, pria yang ia cintai dan ingin ia selamatkan, kini telah menjadi hambatan paling kritis bagi misinya. Semakin ia mencoba membuktikan dirinya baik, semakin Bayu mencurigainya sebagai agen kejahatan yang sangat canggih.

​Larasati memandang berkeliling pada kain-kain indahnya. Ia telah membangun semua ini untuk menebus dosa, untuk menjadi Kartini yang sesungguhnya. Namun di mata pria yang paling ia hargai, ia hanyalah seorang pemain sandiwara yang berbahaya.

​"Aku harus menjauh darinya," bisik Larasati pada dirinya sendiri, air mata tertahan di sudut matanya. "Aku harus menjaga jarak agar dia tetap aman dari rahasia ini, meskipun itu berarti aku harus membiarkannya membenciku."

​Malam itu, jamuan amal berakhir dengan kesuksesan finansial yang besar, namun Larasati merasa kalah total secara emosional. Ia masuk ke mobilnya, menatap gedung galeri yang mulai gelap. Ia tahu, mulai saat ini, permainannya bukan lagi sekadar melawan korupsi, tapi melawan kecurigaan dari orang yang paling ia cintai.

​"Aku akan membangun kerajaan ini, Bayu," tekadnya dalam hati saat mobil meluncur membelah malam Jakarta. "Bahkan jika aku harus melakukannya sebagai penjahat di matamu."

​Di kejauhan, Bayu berdiri di trotoar memperhatikan mobil Larasati menghilang. Ia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Hendra.

​"Hendra, perketat pengawasan pada semua komunikasi Larasati Harjo. Dan cari tahu siapa Tuan Dubois atau siapa pun kontak asing yang dia temui di Swiss. Aku yakin dia tidak bekerja sendirian. Dia adalah kunci dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar bisnis batik."

​Pertempuran antara ingatan masa depan dan logika masa kini telah resmi dimulai. Dan di tengah-tengahnya, hati dua manusia sedang dipertaruhkan.

*****

Nama pena: riwidy09

Judul : Proyek Masa Lalu: Larasati dan Gerbang Senja

Genre: Fantasi Urban, Regresi, Penebusan

Platform: Wattpad

Editorial:

Kehadiran riwidy09 di platform Wattpad menawarkan sebuah ketegangan yang memikat melalui perpaduan unsur misteri, intrik korporat, dan elemen regresi dalam genre fantasi urban. Dalam cuplikan Proyek Masa Lalu: Larasati dan Gerbang Senja ini, penulis berhasil membangun atmosfer kecurigaan yang intens di lingkungan BUMN dan jamuan amal yang elegan. Kekuatan utamanya terletak pada kemampuan menyajikan kontras yang tajam antara investigasi berbasis data yang dingin di ruang kerja dengan kemewahan manipulatif sebuah pameran seni di kawasan Menteng, menciptakan panggung yang ideal bagi benturan kepentingan dua karakter utamanya.

​Ritme narasi dibangun dengan taktis melalui dinamika konfrontasi yang semakin memanas antara Bayu dan Larasati. Penulis menyajikan dialog yang lugas dan sarat akan pembuktian logika, di mana setiap pertanyaan berfungsi sebagai jebakan informasi dan setiap jawaban menjadi benteng pertahanan. Interaksi ini tidak hanya memperjelas posisi masing-masing karakter, tetapi juga secara efektif menyampaikan informasi latar belakang mengenai prediksi ekonomi masa depan dan langkah strategis yang mencurigakan tanpa perlu penjelasan ekspositori yang bertele-tele.

​Karakterisasi Larasati digambarkan dengan kuat sebagai sosok yang terjebak di antara beban pengetahuan masa depan dan realitas masa kini yang penuh ketidakpercayaan dalam misinya melakukan penebusan. Penulis berhasil menonjolkan konflik internal Larasati yang frustrasi karena niat baiknya untuk menyelamatkan perusahaan dari kerugian justru dibaca sebagai tindakan spionase yang berbahaya. Di sisi lain, karakter Bayu ditampilkan secara konsisten sebagai sosok skeptis yang mengutamakan keselamatan institusi, menciptakan polarisasi yang logis dan kokoh sepanjang adegan.

​Ketegangan mencapai puncaknya ketika kesalahan verbal Larasati mengenai prediksi nilai tukar dolar menjadi bumerang yang memperkuat kecurigaan lawan bicaranya. Penulis memanfaatkan momen ini untuk mengubah arah narasi secara drastis, memindahkan fokus dari sekadar perdebatan bisnis menjadi sebuah ancaman pengawasan yang lebih besar. Penggunaan detail data konkret seperti penarikan aset emas, regulasi pajak ekspor Filipina, hingga spesifikasi kontrak logistik energi memberikan landasan yang kuat pada plot bertema spionase ekonomi ini.

​Meskipun demikian, penyelesaian konfrontasi di area publik ini terasa sedikit tergesa-gesa ketika Larasati memutuskan untuk menghindar, dan beberapa reaksi dari tokoh pendukung seperti Hendra dan Sari bisa dieksplorasi lebih lanjut untuk memperdalam skala ancaman. Namun, kekurangan teknis tersebut terbayar oleh penutupan adegan yang tegas, di mana kedua tokoh utama sama-sama mengambil posisi tegas untuk melanjutkan pertempuran mereka dari sudut pandang masing-masing.

​Secara keseluruhan, Proyek Masa Lalu: Larasati dan Gerbang Senja menyajikan fiksi drama-intrik yang matang dengan fokus yang jelas pada benturan logika dan rahasia. Riwidy09 berhasil membuktikan bahwa narasi yang melibatkan perjalanan waktu atau pengetahuan masa depan dapat dieksekusi dengan pendekatan yang serius dan penuh perhitungan taktis. Bagi pembaca Wattpad yang menyukai kisah dengan tensi tinggi, konfrontasi kecerdasan, dan dilema emosional yang melibatkan kalkulasi bisnis, naskah ini memberikan babak pembuka konflik yang sangat menjanjikan.

by Sweet Moon




Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama