Hutan Terlarang Aetheria - Frengky e-book

Hutan Terlarang Aetheria - Frengky e-book


0

Hutan Terlarang Aetheria

Bab 2: Hukum Rimba dan Cahaya di Balik Kegelapan

Udara di Hutan Terlarang terasa berat, seolah setiap partikel oksigen di tempat ini mengandung ribuan tahun sejarah magis yang tidak tersentuh. Di hadapan delapan remaja yang terbuang itu, seekor predator merayap keluar dari bayang-bayang pohon raksasa. Makhluk itu adalah perwujudan dari mimpi buruk: seekor macan berukuran dua kali lipat singa dewasa, namun alih-alih bulu halus, sekujur tubuhnya ditutupi oleh duri-duri hitam legam yang tajam seperti jarum obsidian. Itulah Thorned-Quill Tiger, sang Macan Berduri Landak.

Piko meringis, tangan kirinya masih memegang dada yang terasa nyeri akibat hantaman robot penjaga tadi. Namun, sebelum ia sempat goyah, sebuah sensasi kenyal dan hangat menempel di bahunya. Moy, si slime yang tadinya berwarna ungu ketakutan, kini berubah menjadi warna hijau zamrud yang jernih. Cahaya lembut terpancar dari tubuh Moy, meresap ke dalam kulit Piko. Rasa perih itu memudar, digantikan oleh aliran energi yang menenangkan.

"Terima kasih, Moy. Tetaplah di sana," bisik Piko. Ia merasakan indra High Human-nya menajam. Meskipun ia dianggap paling lemah di kotanya, di sini, di tengah mana liar, Piko merasa bisa "membaca" aliran energi di sekitarnya.

Di sisi lain, Ella sang Elf tidak tinggal diam. Ia melihat Theo, si golem air yang tubuhnya menyusut akibat tekanan sihir kota, tampak lemah. Ella merentangkan tangannya, memanggil kelembapan dari udara hutan yang basah. "Theo, terima ini!" teriaknya. Pancaran air murni menyemprot dari telapak tangan Ella, menyirami tubuh Theo. Seperti spons yang kering, Theo menyerap air itu dengan rakus. Tubuhnya kembali mengembang, kristal-kristal air di dalam tubuhnya berputar cepat, dan api biru di jantungnya menyala stabil.

Orion, sang hantu, segera bertindak sebagai penyokong logistik. Ia merogoh ke dalam lubang hitam kecil di udara—ruang dimensinya. "Rey! Pey! Tangkap ini!" Orion melemparkan dua benda logam yang tampak berkarat.

Rey sang zombie menangkap sebuah tombak panjang dengan ujung yang bergerigi, sementara Pey sang skeleton menangkap sebilah belati panjang yang tumpul namun berat. "Senjata sampah dari Sektor Nol," gerutu Pey sambil menguji keseimbangan belati itu, "tapi di tangan seorang ahli, ini lebih dari cukup."

Macan Berduri Landak itu menggeram, suaranya seperti gesekan batu besar. Tiba-tiba, ia mengguncang tubuhnya. SRAAAKKK! Ratusan duri tajam melesat dari punggungnya seperti hujan anak panah.

"Semuanya, menghindar ke samping! Sekarang!" perintah Piko dengan suara yang penuh otoritas.

Mereka semua melompat secara insting. Leo si rubah putih melesat dengan kecepatan predator, ekornya meninggalkan jejak salju tipis di udara. Ella berguling di balik akar pohon besar. Namun, Moy yang berada di pundak Piko dan Theo yang tubuhnya baru saja membesar, sedikit terlambat bereaksi.

TUK! TUK! TUK!

Duri-duri itu menghujam tubuh Moy dan Theo. Piko membelalak ketakutan, namun ia segera menyadari keunikan teman-temannya. Duri yang mengenai Moy hanya melewatinya begitu saja, karena tubuh slime-nya bersifat semi-cair. Sedangkan duri yang mengenai Theo hanya terhisap ke dalam air yang membentuk tubuhnya, kehilangan momentumnya sebelum mencapai inti jantung sang golem. Moy berubah warna menjadi putih pucat karena terkejut, sementara Theo hanya menatap duri yang mengambang di dalam perutnya dengan bingung.

"Serang sekarang!" teriak Piko.

Ella dan Leo bergerak secara sinkron. Ella menciptakan bola api besar, sementara Leo menyemburkan lidah api dari telapak tangannya. Dua serangan api itu menyatu, membentuk pusaran panas yang menghanguskan bulu-bulu duri sang macan.

ROAARRRR!

Macan itu mengerang kesakitan, namun ia masih berdiri tegak. Saat itulah Theo melangkah maju. Ia membuka mulutnya, namun alih-alih menyemburkan api yang biasanya menjadi kutukannya, ia mengeluarkan uap yang sangat panas. "Air mendidih!" gumam Piko takjub. Theo menyemburkan air dengan suhu yang sanggup melunakkan baja, menyiram langsung ke wajah dan luka bakar sang macan.

Makhluk itu kini benar-benar menderita. Ia mencoba berbalik untuk melarikan diri ke dalam kegelapan hutan, namun jalur pelariannya sudah tertutup.

"Jangan biarkan dia pergi!" Piko berlari maju, tongkat kayu di tangannya tiba-tiba terasa berat dan padat seolah-olah ia telah mengalirkan mana secara tidak sadar.

Rey sang zombie melemparkan tombak karatnya dengan kekuatan yang sanggup menembus tembok beton. Tombak itu menancap di kaki belakang sang macan. Pey dan Piko menyerang secara bersamaan; Pey dengan belati karatnya yang mengincar titik vital di leher, dan Piko menghantamkan tongkat kayunya ke kepala makhluk itu.

BRAAKK!

Meskipun hanya kayu, serangan Piko menghasilkan dentuman keras. Ia sendiri terkejut melihat betapa seriusnya luka yang ia akibatkan. Macan itu limbung, matanya meredup.

"Satu serangan terakhir, Orion!" teriak Leo.

Orion melayang tinggi di atas mereka, memegang sebuah bola kristal retak yang berisi energi sihir yang tidak stabil—sebuah bom sihir gagal yang ia temukan di pembuangan.

 "Rasakan ini, kucing besar!" Orion menjatuhkan bom itu tepat di atas luka terbuka sang macan.

BOOM!

Ledakan kecil namun terkonsentrasi itu mengakhiri perlawanan sang Macan Berduri Landak. Makhluk itu ambruk ke tanah, tak lagi bernapas. Keheningan kembali menyelimuti hutan, hanya menyisakan suara napas terengah-engah dari delapan remaja tersebut.

"Kita... kita melakukannya?" Ella bertanya, suaranya gemetar antara tidak percaya dan lega.

"Kita menang!" teriak Rey sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Pertarungan yang hebat untuk kelompok 'gagal' seperti kita, bukan?"

Namun, kegembiraan itu segera berubah menjadi rasa lapar yang mendesak. Perut Rey berbunyi sangat keras hingga terdengar oleh yang lain. "Eh... apakah monster ini bisa dimakan? Aku merasa energiku habis total. Sebagai zombie, aku butuh asupan daging yang segar, atau setidaknya yang baru mati," ucap Rey dengan wajah tanpa dosa.

Moy bergoyang pelan di pundak Piko. Orion mendekat dan berkata, "Dulu aku sering mengintip laboratorium Profesor Orc di pinggiran kota. Dia sering memasak daging monster liar. Katanya, kalau diolah dengan benar, rasanya lebih enak dari daging ternak Aetheria yang penuh bahan kimia."

Saat Orion sedang menjelaskan cara memisahkan duri dari daging, Moy tiba-tiba jatuh dari pundak Piko ke tanah. Tubuhnya bergetar hebat. Warnanya berubah-ubah dengan sangat cepat—dari merah, biru, kuning, hingga akhirnya menjadi putih bersih yang bersinar sangat terang.

"Moy! Ada apa?" Piko berlutut dengan panik.

"Apakah dia keracunan duri tadi?" Ella bertanya dengan mata berkaca-kaca.

Selama beberapa menit yang mencekam, Moy terus bergetar. Namun, cahaya putih itu perlahan meredup. Ukuran Moy yang tadinya hanya sebesar bola basket, tiba-tiba membesar hingga setinggi manusia, lalu menyusut kembali menjadi ukuran semula dalam sekejap.

"Dia... dia berevolusi?" Pey meneliti dengan mata skeletonnya yang tajam.

Moy tampak ceria kembali. Ia meloncat-loncat kecil dan tiba-tiba, POP!, tubuhnya membesar menjadi ukuran raksasa, mengisi celah di antara pepohonan, lalu menyusut lagi menjadi sekecil kelereng. "Dia mendapatkan kemampuan manipulasi ukuran!" seru Orion takjub.

Ella langsung memeluk Moy (yang dalam ukuran normal), air mata haru menetes di pipinya. "Jangan menakut-nakuti kami seperti itu lagi, dasar lendir kecil."

Di tengah canda tawa singkat itu, Piko menatap langit yang mulai benar-benar gelap. Cahaya kota Aetheria di kejauhan tampak seperti bintang yang dingin dan tak terjangkau. "Kita tidak bisa tinggal di sini terlalu lama. Bau darah macan ini akan mengundang predator lain. Kita harus masuk lebih dalam dan mencari tempat yang lebih aman," instruksi Piko.

Leo, Ella, dan Theo menciptakan cahaya dari sihir mereka—Leo dengan api lembut, Ella dengan bola cahaya dari elemen angin yang bergesekan, dan Theo dengan cahaya dari inti api di dalam tubuh airnya. Mereka berjalan memasuki kegelapan yang lebih pekat. Daging macan tadi sudah dimasukkan ke dalam dimensi ruang Orion, bersama dengan duri-duri raksasanya yang mungkin berguna sebagai senjata nantinya.

Tanpa mereka sadari, dari atas gerbang kota yang menjulang tinggi, sesosok figur bertudung hitam memperhatikan mereka. Sosok itu berdiri tak bergerak, matanya yang tersembunyi di balik bayangan tudung menatap lurus ke arah Piko. Tidak ada yang tahu apakah sosok itu musuh atau kawan, namun ia terus mengawasi sampai rombongan itu hilang di balik lebatnya pepohonan.

Perjalanan mereka semakin berat. Hutan ini penuh dengan hewan aneh: kelinci dengan tanduk rusa, burung yang sayapnya terbuat dari daun, hingga tanaman merambat yang mencoba menangkap kaki mereka. Setelah berjalan selama beberapa jam, Pey yang berada di posisi paling belakang tiba-tiba mengangkat tangannya.

"Berhenti. Lihat ke depan," bisik Pey.

Di kejauhan, melalui celah pepohonan, terlihat sebuah cahaya temaram yang bukan berasal dari alam. Cahaya itu kehijauan dan berdenyut secara ritmis. "Matikan cahaya kalian! Cepat!" perintah Pey.

Leo, Ella, dan Theo segera memadamkan sihir mereka. Keadaan menjadi gelap gulita, namun karena mereka sudah berada di hutan cukup lama, mata mereka mulai terbiasa.

"Itu sebuah pemukiman," gumam Piko. "Tapi rasanya sangat kumuh, mirip Sektor Nol."

Piko menoleh ke Orion. "Orion, bisakah kau periksa? Kau yang paling tidak terlihat di kegelapan."

Orion mengangguk. Tubuh hantunya menjadi lebih transparan saat ia melayang rendah, menyelinap di antara semak-semak menuju sumber cahaya. Delapan menit kemudian, ia kembali dengan wajah pucat (yang sebenarnya sulit dibedakan pada hantu).

"Piko, ada monster lipan raksasa di sana. Banyak sekali. Tapi ada satu yang sangat besar di tengah-tengah pemukiman. Di kepalanya ada lingkaran emas yang bersinar," lapor Orion.

Piko mengerutkan kening, mencoba mengingat pelajaran sejarah monster yang pernah ia baca secara sembunyi-sembunyi di perpustakaan ayahnya. "Lingkaran emas... itu bukan mahkota. Itu Corp. Lipan Raksasa Pemakan Mana. Lingkaran itu adalah koin sensor organik. Mereka sangat cerdas dan biasanya hidup berkoloni di dalam gua atau struktur bangunan tua."

"Kelemahannya?" tanya Rey sambil menggenggam tombaknya.

"Koin di kepalanya," jawab Piko. "Itu adalah pusat saraf dan penyimpanan mana mereka. Jika disentuh oleh benda asing yang tidak dikenal oleh frekuensi mana si lipan, koin itu akan mengalami ketidakstabilan dan meledak. Masalahnya, ledakannya sangat kuat. Bisa meratakan area ini."

Pey tampak bingung. "Jadi, apa rencana kita? Kita butuh tempat istirahat, dan pemukiman itu sepertinya memiliki akses ke bawah tanah."

Theo, sang golem, tiba-tiba bersuara dengan nada rendahnya. "Jika kita menyerang koin itu dari jarak jauh... kita selamat. Tapi kita harus lari. Sangat cepat."

Piko mengangguk setuju, namun wajahnya terlihat ragu. "Ide bagus, Theo. Tapi masalahnya, tidak ada dari kita yang bisa lari secepat itu menjauhi radius ledakan, kecuali mungkin Leo atau Orion yang masuk ke dimensinya. Tapi bagaimana dengan yang lain?"

Piko terdiam sejenak, lalu matanya berbinar. "Orion, apakah kau masih punya bom sihir itu?"

Orion merogoh dimensinya. "Tinggal satu. Kecil pula. Tidak akan cukup untuk membunuh monster sebesar itu."

"Kita tidak butuh bom itu untuk membunuhnya," kata Piko dengan senyum tipis. "Kita hanya butuh bom itu untuk menyentuh koinnya. Koin itu sendiri yang akan menjadi peledak utamanya. Orion, kau harus terbang ke sana, jatuhkan bom ini tepat di atas koinnya saat dia tertidur, lalu masuklah ke dimensi ruangmu secepat mungkin."

Semua orang menahan napas. Ini adalah rencana yang sangat berisiko. Orion mengambil bom itu, tangannya yang transparan gemetar sedikit. "Baiklah. Demi kalian, kawan-kawan."

Orion pun melayang pergi, menghilang ditelan kegelapan malam. Sementara itu, Piko memberikan instruksi agar teman-temannya mundur beberapa puluh meter dan berlindung di balik pohon paling besar yang mereka temukan.

"Mundur lagi! Lebih jauh!" perintah Piko.

Saat Piko baru saja melangkah mundur untuk berlindung di belakang Theo yang memasang posisi bertahan, sebuah kilatan cahaya hijau yang luar biasa terang meledak di kejauhan.

DUMMMMMMMMM!!!

Gelombang kejut yang dihasilkan sangat hebat. Pohon-pohon di sekitar mereka tumbang, dan suara dengung memenuhi telinga mereka. Namun, sesuatu yang ajaib terjadi di Hutan Terlarang ini. Begitu ledakan itu menghancurkan area sekitarnya, tanah dan pepohonan yang hangus seolah-olah "bernapas". Tunas-tunas baru tumbuh dalam hitungan detik, dan kabut hijau muncul untuk menetralkan api. Hutan itu meregenerasi dirinya sendiri dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

"Ayo! Sebelum monster lain datang melihat apa yang terjadi!" teriak Piko.

Mereka berlari menuju titik ledakan. Di sana, mereka menemukan lubang raksasa di tanah, tempat sang Corp tadi berada. Sosok lipan itu telah hancur menjadi abu, namun di dasar lubang itu, terlihat sebuah pintu masuk menuju gua bawah tanah yang tersembunyi.

Orion muncul dari udara kosong di samping mereka, tampak pusing namun selamat. "Aku... aku berhasil," ucapnya lemah.

Piko menepuk pundak Orion. Di depan mereka, gua itu tampak gelap namun menawarkan perlindungan dari predator hutan yang ganas di atas tanah. "Kita punya tempat untuk bersembunyi. Untuk malam ini, kita aman."

Kedelapan remaja itu melangkah masuk ke dalam gua, meninggalkan permukaan hutan yang berbahaya, tidak menyadari bahwa di dalam gua tersebut, mereka akan menemukan rahasia yang jauh lebih besar dari sekadar tempat untuk tidur.

Bersambung!...

*****

Napen: Frengky e-book

Genre: Fantasi isekai

Platform: Max Novel

Editorial:

--



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama