Lullaby For A Living Dead - Beliabell

Lullaby For A Living Dead - Beliabell


0

Jantung Natasha rasanya ingin lepas dari rongga dadanya, keringat dingin mulai mengucur. Ia buru-buru pergi dari tempat itu, ia tidak berani jalan di lorong. Natasha melihat jalan setapak lain dan ia mengikutinya.

"Semoga jalan ini benar, semoga jalan ini benar." Natasha mengulang kalimat itu seperti doa.

Ia sampai di tempat binatu, meletakkan keranjang pakaian kotor milik Pangeran Maximillan. Ia tidak berani mencucinya, takut salah dan membiarkan pelayan lain yang lebih senior dan berpengalaman darinya mencuci pakaian di keranjang itu.

Gadis itu melihat Bertha mendekat, punggungnya tegak dan mengambil tempat di samping gadis yang masih kosong. Ada beberapa gadis lainnya, mereka membentuk satu barisan lurus dan rapi.

Natasha meremas rok hitamnya yang kaku. Seragam itu terasa asing dan membebani, seolah-olah setiap helai benangnya dirajut dari rasa putus asa. Roknya mengembang berat, ditopang oleh beberapa lapis puring yang kasar dan menggesek kulit kakinya setiap kali ia bergerak. Ia merasa seperti boneka yang dipaksa masuk ke dalam kotak sempit. Sepatu flat hitam yang dikenakannya pun terasa terlalu pas, menekan jemari kakinya, tidak nyaman, ia biasa menggunakan sepatu yang memberi ruang untuk jari-jarinya bergerak.

"Berhenti meraba-raba kain itu, Natasha. Seragam itu tidak akan berubah jadi sutra hanya karena kau elus," suara Bertha Braun menggelegar, memantul di dinding lorong yang lembap.

Natasha tersentak, tangannya otomatis turun ke samping. Ia menoleh dan mendapati Bertha sedang berdiri di depan seorang pelayan lain, seorang gadis yang mungkin baru berusia belasan tahun. Gadis itu tertunduk, tubuhnya bergetar hebat.

"Maafkan saya, Nyonya Bertha ... saya tidak sengaja menjatuhkan keranjangnya," rintih gadis itu. Suaranya kecil, nyaris tenggelam oleh deru angin yang menyusup lewat celah jendela.

Bertha melangkah maju, bayangannya yang tinggi dan bengkok menelan tubuh kecil pelayan itu. "Tidak sengaja? Di Westphalia, kata 'tidak sengaja' adalah alasan bagi mereka yang ingin cepat-cepat masuk ke lubang kubur. Apa kau tahu berapa harga pakaian yang kau kotori itu?"

"Sa-saya akan mencucinya lagi, Nyonya. Saya janji," gadis itu mendongak. Air mata mengalir deras di pipinya yang pucat, membasahi celemek putihnya yang bersih.

Natasha memperhatikan pemandangan itu dari sudut matanya dengan napas tertahan. Namun, ada sesuatu yang janggal. Gadis itu memang menangis, tapi ia tidak melihat kesedihan, tidak ada suara, tidak ada isak tangis, tidak ada suara sesenggukan yang biasanya menyertai ketakutan. Namun air matanya mengucur.

Keheningan itu terasa mencekam. Gadis itu seperti sedang memerankan sebuah sandiwara bisu tentang penderitaan yang gagal. Mulutnya terbuka seolah ingin menjerit, namun hanya udara kosong yang keluar.

"Kau akan mencucinya lagi? Tidak," desis Bertha. Ia mencengkeram bahu gadis itu dengan jemari kaku yang terlihat seperti cakar. "Kau akan pergi ke gudang bawah dan menghabiskan malammu di sana tanpa lampu. Mungkin kegelapan akan mengajarimu cara memegang keranjang dengan benar."

Gadis itu hanya terdiam. Ia tidak memprotes, tidak memohon lagi. Dengan gerakan kaku, ia berjalan menjauh, mengikuti perintah Bertha tanpa mengeluarkan suara, seolah permohonannya tadi tidak pernah ada. Natasha menatap punggung gadis itu yang perlahan hilang di tikungan lorong yang gelap.

"Kenapa kau masih berdiri di sana?" bentak Bertha, kini mengalihkan tatapan matanya yang dingin ke arah Natasha. "Apa kau juga ingin menemani gadis bodoh itu di gudang bawah?"

"Ti-tidak, Nyonya. Saya akan segera menjalankan tugas saya," jawab Natasha cepat.

Suaranya terdengar terlalu nyaring di telinganya sendiri, terlalu hidup dibandingkan kesunyian yang baru saja ia saksikan.

Bertha mendengus, hidung bengkoknya mengernyit jijik. "Ingat satu hal, Natasha. Di istana ini, keingintahuan dan kepedulian adalah pemborosan. Jangan biarkan matamu terlalu banyak melihat, atau kau akan berakhir sama seperti mereka yang sudah kehilangan pijakannya."

"Apa maksud Anda?" tanya Natasha, memberanikan diri meski jantungnya berdebar kencang.

Bertha tidak menjawab. Ia hanya menatap Natasha selama beberapa detik dengan tatapan yang seolah-olah sedang menghitung sisa waktu hidup gadis itu. Kemudian, tanpa suara, kepala pelayan itu berbalik dan berjalan pergi, rok hitamnya menyapu lantai batu dengan suara gesekan yang halus.

Natasha menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Ia melihat ke sekeliling, beberapa pelayan lain lewat dengan langkah yang teratur, wajah mereka tanpa ekspresi, kulit mereka pucat di bawah cahaya lilin. Tidak ada bisikan, tidak ada sapaan. Terlalu kosong dan sepi untuk orang yang seramai ini. Mereka seperti tidak mengenal satu sama lain, padahal Natasha yakin beberapa di antaranya ada yang sudah bekerja di sini dalam waktu yang lama dan tidak mungkin tidak saling mengenal.

'Aku benar-benar sendirian,' pikir Natasha.

Rasa isolasi itu menghantamnya lebih keras daripada siraman air es tadi pagi. Ia merasa seperti satu-satunya makhluk yang memiliki perasaan di antara sekumpulan orang yang seperti boneka hidup.

Natasha mencoba menyesuaikan letak keranjangnya, ia berdiri diam menatap keranjang milik orang yang harus dihindari. Gadis itu mulai merasa kalau aura istana ini terasa berbeda, bukan lagi sekadar dingin, melainkan pekat dan menekan. Seolah-olah udara itu sendiri memiliki berat yang sanggup meremukkan tulang rusuknya.

Saat ia melangkah menuju area yang ditunjuk Bertha sebelumnya, Natasha merasa bayangannya sendiri di dinding tampak sedikit lebih gelap dan lebih panjang dari yang seharusnya. Ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada orang yang mengikutinya.

Lorong itu kosong. Namun, di kejauhan, ia mendengar sebuah denting halus, seperti suara kunci yang diputar di dalam gembok yang berkarat. Suara itu berasal dari arah gudang bawah tempat pelayan tadi dibawa.

Jantung Natasha berdegup sekali lagi, lebih keras, seolah-olah memperingatkannya untuk tidak menoleh lagi. Ia mempercepat langkahnya, namun setiap jengkal ia melangkah, perasaan diawasi itu semakin menguat. Istana ini seperti memiliki mata dan semua mata itu sedang tertuju tepat ke arahnya. Natasha menggigil, ia kembali ke ruang binatu. Kedatangannya disambut oleh tatapan dingin dan ekspresi datar semua pelayan berwajah pucat, jantungnya mencelos.

Nama pena: Beliabell

Genre: Gothic Dark Romance - Psychology Triller

Platform: nbj

Editorial:

Buku ini menampilkan suara penulis yang sadar sepenuhnya akan kekuatan suasana. Tidak ada upaya untuk menjelaskan dunia secara berlebihan, sebaliknya, penulis membiarkan pembaca merasakan tekanan melalui detail fisik yang intim dan konkret, tekstur kain, suhu lorong, cara tubuh bereaksi terhadap ruang yang tidak ramah. Ini menciptakan pengalaman membaca yang tidak hanya visual, tetapi juga psikologis. 

Penulis tidak meminta simpati secara langsung, melainkan membangun kondisi di mana simpati muncul sebagai respons alami terhadap keterasingan yang begitu terstruktur.

Ritme kalimat bergerak dengan kehati-hatian yang konsisten. Tidak ada ledakan emosi yang sembrono. Ketegangan justru lahir dari hal-hal yang tidak terjadi, suara yang tidak keluar, reaksi yang tidak diberikan, pertanyaan yang tidak dijawab. Keheningan menjadi alat naratif yang efektif. 

Penulis memahami bahwa ketakutan yang paling bertahan lama bukan berasal dari ancaman yang jelas, tetapi dari ketidakpastian yang dibiarkan menggantung tanpa penjelasan. Ini memberi bobot pada setiap gestur kecil, setiap tatapan, setiap jeda.

Tema yang diangkat terasa dewasa karena tidak diperlakukan sebagai konflik sederhana antara kekuatan dan kelemahan. Yang hadir di sini adalah sistem—struktur sosial yang menekan individu hingga identitasnya perlahan terkikis. 

Penulis menunjukkan bagaimana kekuasaan bekerja melalui rutinitas, melalui aturan yang tidak perlu dijelaskan ulang karena semua orang sudah memahaminya secara naluriah. Ada kesadaran yang tajam tentang isolasi sebagai pengalaman mental, bukan sekadar kondisi fisik. Ini memberi lapisan psikologis yang kuat pada narasi, menjadikannya lebih dari sekadar cerita tentang ketakutan eksternal.

Kesan yang tertinggal bukanlah teror yang eksplisit, melainkan rasa tidak nyaman yang menetap. Ada perasaan bahwa dunia yang digambarkan memiliki logika sendiri, dan logika itu tidak berpihak pada siapa pun yang mempertanyakan keberadaannya. 

Penulis menunjukkan disiplin dalam menahan informasi, membangun kepercayaan bahwa setiap detail memiliki tujuan. Bagi pembaca yang mencari karya dengan atmosfer yang terkontrol dan kesadaran emosional yang matang, buku ini menawarkan sesuatu yang semakin jarang ditemukan, sebuah cerita yang tidak berusaha menghibur secara instan, tetapi memilih untuk mengganggu secara perlahan dan bertahan lama.

By Peniti Kecil



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama