My Bf is Ghost - Beliabell

My Bf is Ghost - Beliabell


0

Jantung Hutan yang Dingin

Getaran keras mobil hitam membuat gigi Kanaya bergemeletuk. Setiap lubang di jalan tanah becek itu mengirimkan guncangan hebat yang merayap dari ban menuju tulang punggungnya. Di luar jendela, kanopi hijau hutan merapat lebat, mengubah siang terik menjadi senja lembap yang mistis. Sinyal ponsel telah lenyap, digantikan kesunyian yang terasa asing sekaligus mengancam.

"Serius ini jalannya?" Suara Tio memecah deru mesin Land Rover yang meraung. "Aku kira kita penelitian, bukan ikut program mencari suku pedalaman."

Gadis itu hanya tersenyum tipis tanpa menoleh. "Anggap saja latihan bertahan hidup, Tio. Biar tidak manja."

"Latihan bertahan hidup berdua bersamamu sih aku mau, Nay." Tangan pria itu bergerak dari jok, mendarat santai di atas paha Kanaya. Sebuah sentuhan yang melampaui batas pertemanan biasa.

Kanaya tidak menyentaknya, namun matanya menatap tangan tersebut dengan sorot kesal sebelum menggeser duduknya menjauh. "Fokus penelitian saja. Dosen pembimbing kita galak."

Tangan Tio ditarik kembali dengan canggung. Mobil akhirnya melambat, berderak keluar dari terowongan hijau dan berhenti di area terbuka desa. Beberapa rumah panggung kayu berdiri berjauhan, tampak kusam dimakan cuaca. Udara yang menghantam Kanaya begitu pintu dibuka adalah campuran aroma tanah basah dan sesuatu yang manis seperti bunga kegelapan. Desa itu terasa mati, hanya suara serangga hutan yang memekakkan telinga.

Saat tim Kehutanan mulai menurunkan peralatan, debu mengepul dari mobil lain yang baru tiba. Kening Kanaya berkerut; ia tidak tahu ada tim lain yang bergabung. Pintu mobil itu terbuka. Sosok kedua yang turun membuat Kanaya membeku. Rahang tegas dan tatapan tajam pria itu seolah menembus apa saja. Rangga. Napas Kanaya tercekat. Kenangan pahit setahun terakhir—cemburu buta, air mata, dan perpisahan buruk—menyerbu benaknya.

Mata mereka bertemu sekejap. Di wajah Rangga, keterkejutan terpantul sebelum mengeras menjadi ekspresi dingin. Ia segera membuang muka, sibuk mengangkat kotak seolah Kanaya hanyalah kerikil di tepi jalan.

"Itu bukannya mantanmu, kan?" Tio menyikut pelan.

"Bukan urusanmu," desis Kanaya tajam. Ia meraih ransel dan menghempaskannya ke pundak. Ia harus profesional, meski rasa kesal tercetak jelas di wajahnya.

Kepala Desa bernama Pak Bejo menyambut mereka dan menunjukkan tiga rumah panggung di bibir hutan. Tim Kehutanan menempati rumah paling kiri, sementara tim Biologi—tempat Rangga berada—di tengah. Rumah itu berderit di setiap pijakan, berbau kayu lapuk dan debu tua. Kanaya memilih kamar sudut belakang yang jendelanya menghadap langsung ke dinding pepohonan gelap.

Sore itu dihabiskan dengan beradaptasi. Kanaya bekerja dalam diam, berusaha mengabaikan keberadaan Rangga yang hanya berjarak dua puluh meter. Namun, ia merasakan tatapan pria itu terus mengawasinya.

"Nay, butuh bantuan membawa boks GPS?" Rangga tiba-tiba berdiri di ambang pintu. Suaranya berat dan canggung.

Kanaya yang sedang menyapu menoleh dingin. "Tidak perlu. Temanku bisa sendiri."

"Hanya menawarkan," sahut Rangga, bahunya menegang. Matanya melirik Tio yang sedang bercanda di teras. "Aku lihat kamu cepat sekali mendapatkan pria baru."

Rahang Kanaya mengeras. "Mau kamu apa? Jangan sok akrab dan urus saja urusanmu sendiri."

"Aku hanya ingin mengingatkan," kata Rangga sembari melangkah mundur. "Hutan ini tidak seperti kota. Salah langkah sedikit bisa bahaya."

Ancaman terselubung itu membuat darah Kanaya mendidih. Sebelum ia sempat membalas, Rangga sudah berbalik pergi. Kanaya memeras gagang sapu hingga buku jarinya memutih. "Brengsek! Orang itu tidak pernah berubah!" umpatnya.

Malam datang cepat, menelan desa dalam kegelapan pekat karena listrik mati selepas Maghrib. Kanaya berbaring di ranjang keras, menatap langit-langit kayu. Pertemuan dengan Rangga membuka luka lama yang ia kira sudah sembuh. Udara kamar terasa berat dan dingin, meresap lewat celah dinding.

Ia mencoba memejamkan mata, namun telinganya menangkap suara asing di antara kebisingan alam.

*Kres... kres...*

Suara langkah kaki. Pelan, diseret, dan sangat dekat. Seseorang seolah berjalan di atas tumpukan daun kering tepat di bawah jendelanya. Kanaya menahan napas. "Siapa juga yang ke kamar mandi belakang malam-malam begini?" gerutunya dalam hati untuk mengusir takut.

Namun langkah itu terdengar aneh, tidak memiliki irama langkah manusia. Langkah itu berhenti tepat di luar jendelanya. Keheningan yang tiba-tiba terasa jauh lebih mengerikan. Bulu kuduk Kanaya meremang. Ia terbaring kaku, tidak berani bergerak, hanya detak jantungnya yang menggema.

Setelah beberapa menit, rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Dengan gerakan sepelan mungkin, ia turun dan mengendap-endap ke jendela. Dengan jari gemetar, Kanaya mendorong sedikit bilah kayu horizontal untuk mengintip. Matanya menyapu tanah kosong di bawah. Tidak ada siapa pun. Hanya hamparan daun kering yang diterangi cahaya bulan yang redup dan samar. Kosong, namun perasaan sedang diawasi justru semakin menguat.

*****

Nama pena: Beliabell

Genre: Horror Romance

Platform: Wattpad

Editorial:

Cerita ini dibuka dengan suasana yang langsung terasa padat dan lembap. Beliabell, yang menulis di platform Wattpad dengan genre horror romance, tampak sengaja menahan pembaca di dalam ruang sempit yang bergerak. Getaran mobil, jalan becek, dan hutan yang menutup cahaya membentuk pengalaman yang hampir bisa dirasakan secara fisik. Detail seperti gigi yang bergemeletuk atau udara yang berubah jadi “senja lembap” membuat suasana tidak hanya terlihat, tapi juga terasa di tubuh. Ini cara yang cukup efektif untuk memperkenalkan ancaman tanpa harus menjelaskannya secara langsung.

Ritme cerita berjalan cukup rapi. Perpindahan dari perjalanan, kedatangan di desa, hingga malam hari terasa mengalir tanpa lonjakan yang berlebihan. Ada keseimbangan antara aktivitas luar dan reaksi batin Kanaya. Ia tidak terlalu banyak bicara, tapi pikirannya terasa aktif. Sementara itu, karakter lain seperti Tio dan Rangga muncul dengan fungsi yang berbeda. Tio membawa dinamika ringan yang sedikit mengganggu, sedangkan Rangga langsung memberi tekanan emosional sejak awal. Kombinasi ini membuat suasana tidak monoton.

Dialog dalam cerita ini cukup natural, terutama dalam percakapan santai seperti antara Kanaya dan Tio. Ada kesan obrolan anak kampus yang akrab, meski terkadang sikap Tio terasa sedikit terlalu cepat melewati batas. Di sisi lain, percakapan antara Kanaya dan Rangga lebih kaku, tapi justru itu yang terasa pas. Ada jarak, ada sisa emosi yang belum selesai. Hanya saja, di beberapa bagian, dialog Rangga terdengar agak terlalu langsung, seperti ingin segera menunjukkan konflik, padahal ketegangan bisa dibuat lebih halus.

Hubungan antar karakter mulai terbentuk dengan jelas meski masih di tahap awal. Kanaya terlihat sebagai sosok yang berusaha menjaga jarak dan tetap profesional. Rangga membawa masa lalu yang belum selesai, sementara Tio seperti gangguan kecil yang memperumit keadaan. Menariknya, konflik di sini tidak meledak besar. Justru ketegangan muncul dari hal-hal kecil, seperti tatapan, nada bicara, atau keberadaan seseorang di jarak dekat. Ini membuat cerita terasa lebih dewasa, karena konflik emosinya tidak disederhanakan.

Bagian malam menjadi titik yang paling kuat. Tidak ada kejadian besar, tapi suasana berhasil dibuat mencekam. Suara langkah yang tidak jelas, keheningan yang tiba-tiba, dan rasa diawasi menjadi pusat ketegangan. Beliabell tidak terburu-buru menjelaskan apa yang terjadi, dan itu justru membuat rasa takutnya lebih terasa. Pembaca dibiarkan berada di posisi yang sama dengan Kanaya, tidak yakin apakah itu nyata atau hanya perasaan.

Secara keseluruhan, tulisan ini menunjukkan kontrol suasana yang cukup baik, terutama untuk genre horror romance. Ada usaha untuk menyeimbangkan unsur emosional dan elemen horor tanpa saling menutupi. Beberapa bagian masih bisa dibuat lebih halus, terutama dalam dialog dan penyampaian konflik, agar terasa lebih alami. Namun cara penulis membangun ketegangan dari detail kecil menunjukkan potensi yang menarik, terutama untuk pembaca yang menyukai cerita dengan suasana yang pelan tapi terus menekan.

By Caberawit





1 Komentar

Ulasan buku

  1. Cerita nya seruu bisa bikin flashback jaman kuliah dulu. Cerita romance waw bgt wkwk agak kaget dikit hehee

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama