Getaran keras mobil hitam membuat giginya bergemeletuk. Setiap lubang di jalan tanah, becek dan berbatu mengirimkan guncangan hebat yang merayap dari ban ke mesin, lalu langsung ke tulang punggungnya. Di luar jendela, kanopi hijau hutan merapat begitu lebat, mengubah siang yang terik menjadi senja yang lembap dan sedikit mistis. Sinyal ponsel sudah lenyap sejak satu jam lalu, digantikan oleh kesunyian yang terasa asing dan mengancam.
"Seriusan ini jalannya?" Suara Tio dari sampingnya memecah deru mesin Land Rover yang meraung-raung. " Gue kira kita mau penelitian, bukan ikut program cari suku pedalaman."
Kanaya hanya tersenyum tipis tanpa menoleh. "Anggap aja latihan bertahan hidup, Tio. Biar gak manja."
"Latihan bertahan hidup berdua sama lo sih gue mau, Nay."
Tangan Tio bergerak dari jok, mendarat santai di atas paha Kanaya. Sebuah sentuhan yang sudah kelewat batas teman biasa, sisa-sisa kesenangan mereka dua malam sebelum berangkat masih teringat jelas.
Kanaya tidak menyentaknya. Ia hanya menatap tangan itu dengan sorot mata kesal sebelum menggeser tubuhnya sedikit menjauh.
"Fokus sama penelitian aja, deh. Dosen pembimbing kita galak."
Tangan Tio menarik diri dengan canggung. "Iya, iya, ampun, Bu Manajer."
Mobil akhirnya melambat, berderak keluar dari terowongan hijau dan berhenti di sebuah area terbuka yang tampak seperti jantung desa. Ada rumah bata dan beberapa rumah panggung kayu berdiri berjauhan, tampak kusam dan tua dimakan cuaca.
Udara yang menghantam Kanaya begitu ia membuka pintu adalah campuran pekat aroma tanah basah dari sepanjang jalan menuju desa, daun busuk, dan sesuatu yang lain, sesuatu yang manis seperti bunga yang mekar di kegelapan hutan. Panas dan lengket. Desa itu terasa sepi, tak berpenghuni, hanya suara serangga hutan yang memekakkan telinga menjadi satu-satunya tanda kehidupan.
Saat Kanaya dan timnya dari jurusan Kehutanan mulai menurunkan tas-tas ransel dan peralatan, debu mengepul dari arah mereka datang, di dalam desa ternyata kering, tidak seperti jalanan diluar yang memang tertutup pohon tinggi. Sebuah mobil lain, berhenti di belakang mereka. Kening Kanaya berkerut, pasalnya hanya timnya, dosen dan para asisten S2 yang juga ikut trip ini untuk penelitian, ia tak tahu kalau ada tim yang lain bergabung.
Pintu mobil itu terbuka. Sosok pertama yang turun adalah seorang gadis berambut pendek yang tidak Kanaya kenali. Tapi sosok kedua, Kanaya membeku. Rambutnya sedikit gondrong, rahangnya tegas, dan tatapan matanya tajam seolah bisa menembus apa saja. Rangga. Napas Kanaya tercekat di tenggorokan. Kenangan pahit setahun terakhir, teriakan, cemburu buta, air mata, dan perpisahan yang buruk menyerbu benaknya seperti banjir.
Mata mereka bertemu selama sepersekian detik. Di wajah Rangga, keterkejutan yang sama terpantul jelas sebelum mengeras menjadi ekspresi datar yang dingin. Ia segera membuang muka, sibuk mengangkat kotak dari bagasi, seolah Kanaya hanyalah bagian dari pemandangan yang tak menarik, seperti kerikil di tepi jalan.
Sial! Dari semua tempat di dunia, kenapa harus di sini?
"Itu bukannya ...." Tio menyikut Kanaya pelan. "Mantan lo, kan?"
"Bukan urusan lo," desis Kanaya.
Lebih tajam dari yang ia maksudkan. Ia meraih ranselnya dengan kasar dan menghempaskannya ke pundak. Profesional. Ia harus bersikap profesional. Walau raut kesalnya tercetak jelas, kenapa harus penelitian ke tempat terpencil seperti ini.
Seorang pria paruh baya yang memperkenalkan diri sebagai kepala desa menyambut mereka dengan senyum ramah. Ia menunjuk tiga rumah panggung yang berjajar paling dekat dengan bibir hutan.
"Yang ini untuk Tim Kehutanan," kata dosen yang pergi bersama mereka. Tim Kanaya mendapatkan rumah paling kiri. "Yang tengah untuk Tim Biologi, dan yang paling ujung buat Dosen dan Asisten," putusnya.
"Maaf ya, Pak, Neng, Mas, seadanya. Air mandi dari sumur, kalau untuk minum ada tukang galon di depan gapura desa, listrik idup, tapi sering mati," jelasnya.
"Gak masalah, Pak. Makasih banyak," jawab Dosen itu. Kepala desa mengangguk.
"Kalau butuh sayur, ada tukang sayur keliling tiap pagi, kalau mau ke pasar jaraknya setengah jam dari sini," lanjut kepala desa yang bernama Bejo. "Cari saya kalau butuh apa-apa."
"Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih."
Rumah itu persis seperti yang Kanaya bayangkan. Berderit di setiap pijakan, berbau kayu lapuk dan debu tua. Hanya ada tiga kamar kecil dengan ranjang kayu reyot dan sebuah ruang tengah yang kosong. Kanaya memilih kamar paling kecil di sudut belakang, yang jendelanya langsung menghadap ke dinding pepohonan hutan yang gelap. Setidaknya di sini ia bisa sendirian.
Sore itu dihabiskan dengan membongkar peralatan dan mencoba beradaptasi. Kanaya bekerja dalam diam, berusaha keras mengabaikan keberadaan Rangga yang hanya berjarak kurang dari dua puluh meter darinya. Sesekali, ia bisa merasakan tatapan pria itu menusuk, sebuah sensasi yang membuatnya merinding sekaligus marah. Rangga selalu seperti itu, tatapannya seolah ingin mengklaim, mengawasi, bahkan setelah semuanya berakhir.
"Nay, butuh bantuan gak bawa boks isinya GPS itu?" Rangga tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu rumahnya. Suaranya terdengar berat dan canggung.
Kanaya yang sedang menyapu lantai menoleh. "Gak perlu. Temen gue bisa sendiri."
"Cuma nawarin," sahut Rangga dingin, bahunya menegang. "Jangan galak-galak."
Kanaya diam, Rangga mendengus pelan, matanya melirik sekilas ke arah Tio yang sedang bercanda dengan anggota tim lain di teras. Tatapannya kembali ke Kanaya, kini lebih tajam.
"Gue liat lo cepet banget dapet cowo baru."
Rahang Kanaya mengeras. "Mau lo apa sih? Jangan sok akrab dan urusin urusan lo aja."
"Gue cuma mau ngingetin," kata Rangga, melangkah mundur. "Hutan ini gak kayak kota. Salah langkah sedikit bisa bahaya."
Ancaman terselubung dalam suaranya membuat darah Kanaya mendidih. Sebelum ia sempat membalas, Rangga sudah berbalik dan berjalan kembali ke rumahnya. Kanaya memegang sapu lidi di tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Brengsek! Tu orang gak pernah berubah!" Umpatnya.
Malam datang dengan cepat, menelan desa dalam kegelapan pekat, sial bagi mereka, selepas maghrib listrik mati. Kanaya berbaring di ranjangnya yang keras, menatap langit-langit kayu yang gelap. Ia tidak bisa tidur. Pertemuannya dengan Rangga membuka luka lama yang ia kira sudah sembuh. Udara di kamar terasa berat dan dingin, meresap lewat celah-celah dinding.
Ia mencoba memejamkan mata, memaksa bayangan wajah marah Rangga pergi dari kepalanya. Di luar, suara jangkrik dan katak bersahutan tanpa henti. Namun di antara semua kebisingan alam itu, telinganya menangkap suara lain. Sebuah suara yang tidak seharusnya ada di sana.
Kres ... kres ...
Suara langkah kaki. Pelan, diseret, dan sangat dekat. Seperti seseorang berjalan di atas tumpukan daun kering dan ranting tepat di bawah jendelanya. Kanaya menahan napas, jantungnya berdebar kencang. Mungkin hanya salah satu temannya yang kebelet pipis dan pergi ke kamar mandi di belakang.
"Siapa juga yang pergi ke kamar mandi di belakang. Di dalem kan ada, lebih bersih malah," gerutu Kanaya.
Tapi langkah itu terdengar aneh, tidak berirama seperti langkah manusia.
Kres ... kres ... kres ...
Langkah itu berhenti, tepat di luar jendelanya. Keheningan yang tiba-tiba terasa jauh lebih mengerikan daripada suaranya. Bulu kuduk Kanaya meremang. Ia terbaring kaku, tidak berani bergerak, telinganya menegang, menunggu. Tidak ada suara lagi. Hanya detak jantungnya sendiri yang menggema di telinga.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Dengan gerakan sepelan mungkin, ia turun dari ranjang dan mengendap-endap ke jendela. Jendela itu hanya berupa bilah-bilah kayu horizontal yang bisa sedikit diungkit. Dengan jari gemetar, Kanaya mendorong salah satu bilah kayu itu ke atas, menciptakan celah sempit untuk mengintip.
Matanya menyapu tanah kosong di bawah jendela, mencari-cari. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya hamparan daun kering yang diterangi cahaya bulan yang redup dan samar.
Nama pena: Beliabell
Genre: Horror Romance
Platform: Wattpad
Editorial:
Buku ini memperlihatkan kendali penulis atas atmosfer sejak kalimat pertama. Tidak ada pembukaan yang terburu-buru untuk menciptakan sensasi, sebaliknya, penulis membangun rasa tidak nyaman secara perlahan melalui detail fisik yang konkret, getaran kendaraan, hilangnya sinyal, perubahan cahaya, dan tekstur ruang yang semakin asing.
Suara naratifnya tenang, observatif, dan tidak memohon perhatian. Ia membiarkan lingkungan berbicara lebih dulu, dan keputusan ini memberi kesan bahwa ancaman bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul, melainkan sesuatu yang sudah ada sejak awal, menunggu untuk disadari.
Ritme kalimat bergerak dengan disiplin emosional yang menarik. Percakapan terasa alami, tidak berusaha terdengar dramatis, namun justru di situlah ketegangannya terbentuk. Ada jarak emosional yang jelas antara karakter-karakternya, dan jarak itu tidak dijelaskan secara eksplisit. Ia terasa melalui respons yang tertahan, melalui pilihan untuk tidak menjawab, melalui gestur kecil yang mengandung lebih banyak makna daripada dialog panjang.
Penulis memahami bahwa konflik yang paling meyakinkan bukanlah yang diucapkan keras-keras, melainkan yang dibiarkan menggantung di antara dua orang yang memiliki sejarah.Yang menonjol adalah kedewasaan dalam cara penulis memperlakukan relasi dan ruang. Tidak ada romantisasi berlebihan, tidak ada upaya untuk membuat karakter tampak heroik atau tragis secara instan.
Sebaliknya, mereka terasa seperti individu yang membawa beban pribadi masing-masing, mencoba mempertahankan kendali dalam situasi yang secara perlahan merenggut rasa aman mereka. Hutan tidak hanya hadir sebagai latar, tetapi sebagai entitas yang mengubah cara karakter berpikir dan merasakan. Ini menunjukkan kesadaran struktural yang kuat—bahwa tempat dapat menjadi tekanan psikologis, bukan sekadar lokasi.
Kesan yang tertinggal setelah membaca buku ini bukanlah rasa takut yang eksplosif, melainkan rasa waspada yang tenang. Penulis tidak memaksa pembaca untuk bereaksi, ia menciptakan kondisi di mana pembaca secara alami menjadi lebih peka, lebih memperhatikan, lebih curiga terhadap detail-detail kecil. Ini adalah pendekatan yang jarang ditemukan dalam karya yang terlalu bergantung pada kejutan instan.
Buku ini memberi sinyal jelas bahwa cerita ini dibangun di atas fondasi kontrol dan kesabaran dua kualitas yang membuat pembaca percaya bahwa perjalanan selanjutnya akan ditangani dengan keseriusan yang sama.
by Peniti Kecil

Cerita nya seruu bisa bikin flashback jaman kuliah dulu. Cerita romance waw bgt wkwk agak kaget dikit hehee
BalasHapus