Bab 1 Takdir yang Menghancurkan Segalanya
Ravika memandangi hasil test pack di tangannya seperti surat panggilan takdir, setelah seminggu terakhir ia sering mual muntah. Dua garis merah. DUA... GARIS... MERAH... Tertera jelas.
"Ya Tuhan..."
Untuk sepersekian detik, dunia seperti kehilangan gravitasi, melayang tanpa jangkar. Suara kipas angin berisik seakan berhenti, bunyi motor lewat seolah diterbangkan, dan jantungnya... hampir menolak kerja.
Ayahnya paham lebih dulu sebelum ia sempat menyusun kata-katanya.
Marno, lelaki yang biasanya pulang sore dengan bau semen dan debu proyek, berdiri di ambang pintu rumah petak dengan wajah yang bukan hanya marah ke anak semata wayangnya, tapi juga... patah berkeping.
“Ini… apa?” suaranya pecah, bergetar, lontaran pertanyaan yang ia sendiri tak mau dengar jawabannya.
Ravika tak bisa menyembunyikan apa pun. Tangannya gemetar di pangkuan duduknya.
“Ayah…”
“Dari siapa?!”
Pekik tertahan pertanyaan itu lebih seperti palu godam daripada kata-kata.
Ravika menggigit bibirnya sampai terasa asinnya darah. Nama itu berputar di kepalanya, nama yang tak berani ia ucapkan, nama yang masih membawa hangat sekaligus pedih. Nayottama. Lelaki yang dua bulan lalu diwisuda, sebelum benteng status sosial dan dunia yang terlalu timpang memisahkan cinta mereka secara paksa.
“Ayah nggak perlu tahu,” ucap Ravika dengan suara lirih yang bahkan ia sendiri hampir tak dengar.
Marno meremas rambut di kepalanya yang memutih.
“Ravika! Anak siapa?!”
Nada itu bukan cuma marah, tapi juga refleksi ketakutan. Takut kehilangan wibawa sebagai orang tua, takut omongan tetangga, takut masa depan anaknya hancur.
Ravika justru menggenggam test pack lebih kuat.
“Anak orang yang aku cintai, Yah.”
Kalimat itu malah bikin Marno tersentak, seperti BBM yang disiram ke bara api.
“Cinta? Kamu pikir cinta bisa bayar beras? Bisa bikin kamu nggak dikatain orang kampung?! Kamu itu perempuan, Naaakk...!”
Ravika memotong, tanpa teriak, tapi tegas. “Aku betul perempuan, Yah, bukan barang. Dan aku yang tanggung semuanya.”
Marno menatapnya, rahangnya tegang. “Kuliahmu? Beasiswamu? Kerja keras kamu selama ini? Buat apa kalau ujungnya begini?!”
“Buat hidup...” jawab Ravika cepat dan tegas. Tapi suaranya tetap gemetar. “Buat jalan hidup yang aku pilih.”
Marno membalikkan badannya, menendang kursi plastik di depannya sampai mental hancur di dinding.
BRAAKKK!!!
“Kamu bikin malu ayah!”
Ravika berdiri, lalu mundur satu langkah, tapi bukan kabur. Dadanya naik turun cepat.
“Aku juga malu, Ayah. Tapi aku lebih malu kalau buang darah dagingku sendiri.”
Kata-kata itu membelah amarah Marno jadi serpihan kecil.
Marno berhenti. Seperti seseorang yang baru kena hantaman di bagian yang paling rapuh. Bahunya yang kaku turun perlahan, napas tersengalnya melemah.
“Jadi kamu pilih anak itu… daripada masa depanmu?” suaranya serak, nadanya menurun.
Ravika mengangkat wajahnya. Ada ketakutan, itu pasti. Tapi ada sesuatu yang lebih keras daripada takut.
“Aku pilih keduanya, Yah,” jawab Ravika. “Tapi kalau Ayah cuma bisa nerima salah satu… aku pilih anak ini.”
Kalimat itu seperti air yang akhirnya menyurutkan bara api. Marno terdiam, menutupi wajahnya yang kusut dengan kedua tangannya yang belepotan adukan semen. Napasnya berat, seperti setiap tarikan adalah perlawanan terhadap kenyataan di depannya.
Tapi ia tidak langsung luluh. Ia lalu hanya duduk di lantai, punggungnya menyandar ke dinding bercat kusam yang mengelupas, seolah tulang-tulangnya mendadak lembek. Tangannya masih menutupi wajahnya.
“Ayah capek, Vik…” katanya pelan, sedikit pecah. “Ayah cuma takut kamu hidup susah kayak Ayah.
Ravika perlahan mendekat, tapi tetap jaga jaraknya.
"Mungkin aku akan hidup susah, Yah. Tapi aku akan tetap hidup. Dan aku punya alasan untuk terus jalan demi anak ini.”
Marno menggeleng-gelengkan kepala kecil, suaranya berat. Ia belum seratus persen menerima kenyataan pahit ini.
“Kalau kamu mati-matian mau lahirin anak ini… Ayah...Ayah nggak akan tega suruh kamu pergi, Nak. Kamu milik Ayah satu-satunya.”
Ravika menahan napasnya. Sudut matanya mengembun.
“Tapi jangan minta Ayah senyum dulu,” sambungnya. “Ayah perlu waktu.”
Ravika mengangguk, bulir air matanya akhirnya jatuh, bukan karena penuh kelegaan, tapi setengahnya saja sudah cukup untuk membuatnya berdiri tegak.
Di titik itulah, tanpa kata manis, Marno akhirnya luluh, bukan karena ia setuju, tapi karena ia sadar anaknya tak lagi bisa dibenturkan agar berubah. Nasi sudah menjadi bubur. Dunia sudah memilih jalannya sendiri.
Rumah sempit itu mendadak jadi arena perang tanpa suara. Ibu sudah meninggal bertahun-tahun lalu, jadi tak ada pelukan yang menengahi, tak ada suara lembut yang bisa melarutkan amarah dan frustasi.
Malam itu, Ravika tak tidur. Perutnya memang belum tampak apa-apa, tapi ketakutan yang tumbuh di dalam dirinya jauh lebih besar dari ukuran janin yang masih sebesar titik. Sebagai mahasiswi beasiswa yang selama ini dielu-elukan kampus, ia hancur dalam satu hari.
Keesokan paginya...
Ia memutuskan menghadap ke pihak kampus.
“Saya mengajukan cuti dua tahun, Bu,” ujarnya datar.
"Ada apa, Vik?"
"Cuma urusan keluarga yang nggak bisa ditunda, Bu."
Dosen pembimbing memandangnya lama, seolah menimbang apakah Ravika kelak masih akan kembali seperti dirinya yang dulu.
Jelas ia tidak akan kembali, setidaknya bukan sebagai orang yang keadaannya sama.
Hari-hari selanjutnya berjalan dengan ritme yang sunyi, bangun tengah malam, muntah, menahan sakit pinggang, menghindari bisik-bisik tetangga, mengumpulkan dan mencatat tabungan seadanya, mengurus pemeriksaan ke puskesmas, berdebat dengan ayahnya lagi yang sekarang tampak seperti lelaki yang bertambah tua sepuluh tahun hanya dalam seminggu.
Kadang Ravika mendengar tetangganya berbisik,
“Kasihan Pak Marno, udah tua tapi anak yang cuma satu malah bikin susah…"
"Yaa, begitulah...anak zaman sekarang...” sahut lainnya.
Kadang ia melihat ayahnya duduk di bale bambu teras rumah melamun sampai malam, hanya memandangi langit seperti mencari jawaban yang tak pernah turun.
Meski begitu, Ravika tidak menyerah. Tidak untuk anak itu. Tidak juga untuk cinta ke lelaki yang tak pernah sepenuhnya padam di dadanya.
Seperti kejadian dua bulan sebelumnya...
Platform: GoodNovel
Karya: Lyren Kael
Editorial:
Buku ini menunjukkan suara penulis yang percaya diri dalam menghadapi konflik yang sangat manusiawi tanpa perlu bersembunyi di balik dramatisasi berlebihan. Penulis memahami bahwa momen paling menentukan dalam hidup seseorang sering terjadi di ruang sempit, di antara orang-orang terdekat, tanpa saksi, tanpa kemegahan.
Ada kejujuran emosional yang terasa mentah namun terkontrol, terutama dalam cara tokoh-tokohnya berbicara. Dialog tidak terasa seperti alat untuk memajukan cerita, melainkan sebagai cerminan posisi batin di mana cinta, rasa malu, harga diri, dan ketakutan hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar berdamai.
Ritme kalimat bergerak dengan kesadaran yang matang tentang kapan harus menekan dan kapan harus menahan. Penulis tidak tergesa-gesa mencari simpati pembaca. Justru sebaliknya, ia memberi ruang bagi ketegangan untuk tumbuh melalui jeda melalui napas yang tertahan, melalui kalimat yang diucapkan setengah hati, melalui reaksi yang tidak sepenuhnya diselesaikan.
Yang terasa kuat bukan ledakan emosinya, melainkan konsekuensi diam-diam dari keputusan yang tidak bisa ditarik kembali. Ada rasa permanen yang menggantung di setiap paragraf, seolah setiap kata membawa bobot waktu yang panjang.Tema yang diangkat diperlakukan dengan kedewasaan yang jarang ditemukan dalam cerita bertema serupa.
Penulis tidak menyederhanakan konflik menjadi persoalan benar atau salah, melainkan memperlihatkan bagaimana pilihan pribadi dapat berbenturan langsung dengan realitas sosial, ekonomi, dan hubungan keluarga.
Yang menarik adalah cara penulis menempatkan martabat sebagai sesuatu yang dinegosiasikan, bukan sesuatu yang otomatis dimiliki. Ada pemahaman bahwa keberanian tidak selalu terlihat heroik; kadang ia hadir dalam bentuk keputusan sunyi yang harus dipertahankan sendirian.
Kesan yang tertinggal setelah membaca bab ini bukanlah sensasi, melainkan kesadaran yang tenang bahwa cerita ini memahami konsekuensi hidup secara serius. Penulis tidak berusaha menghibur pembaca dengan janji pelarian, tetapi menawarkan sesuatu yang lebih bernilai: sebuah potret tentang seseorang yang berdiri di titik di mana masa depan tidak lagi abstrak, melainkan sesuatu yang harus dibayar dengan harga nyata.
Ini adalah awal yang menunjukkan disiplin emosional dan kejelasan visi dua kualitas yang membuat pembaca dewasa bersedia mengikuti perjalanan panjang tanpa perlu diyakinkan dengan kejutan-kejutan murah.
By Peniti Kecil

Sudah membaca buku ini di GN dan memang seseru itu konfliknya dan banyak penderitaan karena hamil di luar nikah, tanpa si ayah tau bahwa dia mempunyai anak, sementara dia sudah menikah dengan wanita lain dan punya anak. Tapi takdir mempertemukan mereka kembali....
BalasHapusWahhh.. Makasih banyak yaa bunda Riri.. Sukses juga buat buku2 mbak Riri..
Hapus