Udin dan Keluarga dari Dunia Lain - Z.in M

Udin dan Keluarga dari Dunia Lain


0

Bab 1. Udin

Udin bangun sebelum matahari berdiri di posisinya. Bukan karena rajin, tapi karena perutnya lebih dulu terbangun. Atap seng rumah kecil mereka masih gelap. Bocor di beberapa titik, meninggalkan bekas karat seperti luka lama. Udin duduk pelan, menahan suara, lalu melirik ke arah tikar di sudut ruangan.

Neneknya masih tidur. Napasnya pendek-pendek, seperti orang yang bermimpi sedang berlari tapi kakinya tak kuat.

Udin mengambil gayung, menuang air ke ember kecil, lalu menaruhnya di dekat kaki nenek. Ia sudah hafal rutinitas itu—air hangat sebelum nenek berangkat bekerja.

“Nek…” panggilnya pelan.

“Subuh sudah dekat.”

Nenek membuka mata. Senyumnya muncul lebih dulu sebelum tubuhnya ikut bangun.

“Kamu belum makan?” tanyanya.

Udin menggeleng. “Nanti saja. Aku masih kenyang.”

Itu bohong. Tapi nenek pura-pura percaya. Mereka sudah terlalu sering saling berbohong demi membuat pagi terasa lebih ringan.

Setelah nenek berangkat membawa kantong cucian yang lebih besar dari tubuhnya sendiri. Udin duduk di lantai, menyiapkan alat kerjanya. Sebuah bangku kayu rendah, palu kecil yang gagangnya retak, benang tebal, dan beberapa sol sepatu bekas peninggalan ayahnya.

Ia menggendong semuanya dengan tas karung, lalu berjalan ke pinggir jalan besar.

Hari mulai ramai.

Motor melintas tanpa melirik. Mobil berkilat melambat lalu pergi lagi. Udin duduk, menunduk, dan bekerja.

“Tolong, dek. Solnya lepas,” kata seseorang.

Udin mengangguk cepat. Tangannya kecil, tapi gerakannya cekatan. Ia bekerja tanpa bicara, hanya sesekali tersenyum.

Tak lama, bayangan besar menutup sinar matahari.

“Bayar lapak,” suara kasar itu datang.

Udin mendongak. Seorang pria bertato berdiri sambil menghisap rokok.

“A-aku belum dapat banyak, Bang,” jawab Udin lirih.

Pria itu mendengus. “Aah... Gue kaga peduli... kalo lu gak bayar... Besok jangan di sini lagi.”

Udin mengangguk. Selalu mengangguk. Mengangguk lebih murah daripada melawan.

Siang menjelang. Panas menempel di kulit. Perutnya sakit. Uang yang dia dapat dari hasil memperbaiki sol yang lepas tadi cuman lima ribu rupiah, tidak cukup untuk membeli makan yang layak. Uang segitu cuman cukup membeli sebungkus nasi tanpa lauk, tanpa sayur, hanya nasi saja. Baginya itu sudah cukup, uangnya bisa di pakai untuk makannya nanti malam bersama Nenek.

Menjelang sore, Udin pulang.

Nenek sudah ada di rumah, duduk bersandar di dinding. Wajahnya pucat. Bajunya basah oleh keringat yang dingin.

“Nek?” Udin berlari kecil. “Kenapa pulang cepat?” Nenek tersenyum. Senyum yang terlalu tipis.

“Cuma capek.”

Udin memijat kaki nenek seperti biasa. Kali ini lebih lama. Lebih pelan. Tangan kecil itu berusaha menahan sesuatu yang tak ia pahami. Malam datang dengan sunyi yang aneh.

Nenek tak makan, katanya di beri makanan oleh majikannya (bohong). Ia Tak bicara, hanya menggenggam tangan Udin.

“Kalau nanti…” suara nenek bergetar, “kalau nanti Nenek gak ada, Udin gak apa-apakan?” air matanya mengalir di pipi namun dengan cepat dia usap dengan tangan yang keriput dan sedikit kasar karna pekerjaannya yang jadi tukang cuci baju.

Udin menggeleng keras. “Nek jangan ngomong gitu.”

Nenek lalu tersenyum “Udin anak baik.” sambil mengusap kepala Udin dengan lembut.

Dan untuk pertama kalinya… Udin takut tidur.

Pagi itu, nenek tidak bangun sendiri.

Udin yang lebih dulu terjaga duduk di sampingnya, memanggil pelan, lalu sedikit lebih keras. Ketika mata nenek akhirnya terbuka, tubuhnya tidak ikut bangun. Tangannya dingin, tapi keningnya panas.

“Nek?”

Suara Udin bergetar. Ia menyentuh dahi nenek dengan tangan mungilnya, rasanya panas, terlalu panas.

Udin berlari kecil ke dapur sempit mereka. Air direbus, gula tidak dimasukkan mereka sudah lama tak punya. Ia menuang teh tawar hangat ke gelas retak, lalu membantu nenek meminumnya seteguk demi seteguk.

“Nek minum pelan-pelan.”

Nenek tersenyum lemah. “Udin gak usah repot-repot…”

“Tidak apa-apa. Udin kuat.”

Udin memijat kaki dan tangan nenek, seperti yang selalu ia lakukan. Biasanya, pijatan itu membuat nenek sedikit lebih baik. Biasanya... namun hari ini tidak.

Panas di tubuh nenek tidak turun. Napasnya makin berat. Keringat dingin membasahi bantal.

Udin duduk diam cukup lama. Otaknya berputar-putar, mencari sesuatu yang tidak ia punya.

Uang.

Ia mengambil kain lap, merendamnya dengan air hangat, lalu mengompres kepala nenek. Berkali-kali. Seperti menghapus panas dengan harapan.

“Nek… tunggu ya,” katanya pelan. “Udin pinjam uang dulu.”

Mata nenek terbuka setengah. “Hujan…”

Udin menoleh ke luar jendela. Langit kelabu. Hujan turun deras. Lalu—

DUARR.

Petir menyambar, membuat jendela bergetar.

Tubuh Udin menegang. Sejak kecil, ia selalu takut petir. Suara itu seperti dunia sedang marah. Seperti ada sesuatu besar yang ingin memukul bumi.

Tapi kali ini…

ia tidak boleh takut.

Udin mengambil jaket tipis yang sudah kebesaran peninggalan ibunya, memakainya sambil menahan gemetar.

“Nek jangan tidur,” katanya cepat. “Udin cuma sebentar. Udin janji.”

Nenek mencoba menggenggam tangannya, lemah.

“Hati-hati…”

Udin mengangguk, meski tenggorokannya terasa penuh. Ia membuka pintu. Hujan langsung menyambutnya. Membasahi rambut, wajah, dan rasa takut yang tak sempat disembunyikan. Petir menyambar lagi. Udin menutup telinga, tapi tetap melangkah. Langkahnya kecil. Cepat. Terburu-buru.

Di kepalanya hanya ada satu pikiran:

Asal nenek sembuh.

Iya berlari keluar tanpa tahu kemana tujuannya. Lalu dia teringat satu rumah, majikan sang nenek biasa mencuci baju. Ya... mungkin disana dia bisa mendapatkan pinjaman.

Hujan belum reda ketika Udin sampai di rumah itu.

Rumah besar dengan pagar tinggi dan cat putih mengilap. Lampu terasnya terang, hangat—seperti dunia lain yang tidak mengenal dingin. Udin berdiri di depan gerbang, bajunya basah menempel di tubuhnya yang kecil.

Petir menyambar lagi.

Ia menelan ludah, lalu mengetuk pintu besi itu.

Tok. Tok.

Tidak ada jawaban.

Udin mengetuk lagi. Lebih keras. Tangannya gemetar, bukan hanya karena dingin.

Tak lama, pintu terbuka sedikit. Seorang perempuan berdiri di sana, rambutnya rapi, bajunya kering, wajahnya datar.

“Ada apa?” tanyanya, nada suaranya seperti tidak ingin mendengar jawaban.

Udin menunduk. “Maaf, Bu… saya Udin. Cucu dari nenek yang biasa nyuci di sini.”

Perempuan itu menyipitkan mata, seolah harus mengingat sesuatu yang tak penting.

“Nenekku sakit, Bu,” lanjut Udin cepat. “Badannya panas sekali. Saya mau pinjam uang sebentar… buat beli obat.”

Perempuan itu mendengus pelan.

“Pinjam?”

Ia membuka pintu lebih lebar. Bukan untuk mempersilakan masuk, tapi untuk memastikan Udin terlihat jelas dalam cahaya lampu—basah, kotor, kecil.

“Berapa kali nenekmu sudah saya kasih kerja?” katanya. “Sudah saya bayar.”

Udin mengangguk cepat. “Iya, Bu. Nanti saya ganti. Saya janji. Saya bisa kerja—”

“Kerja?” Perempuan itu tertawa pendek. “Anak kecil sepertimu?”

Suara tawa itu menusuk lebih tajam dari hujan.

“Masalah sakit itu urusan kalian,” lanjutnya. “Jangan bawa-bawa ke sini.”

Udin mengangkat kepala sedikit. Matanya merah, tapi ia berusaha tidak menangis.

“Tolong, Bu. Sedikit saja…”

Petir menyambar, bersamaan dengan suara pintu yang dibuka lebih keras.

Seorang pria muncul di belakang perempuan itu. Tubuhnya besar. Wajahnya kesal.

“Ngapain ribut-ribut malam begini?” bentaknya.

“Anaknya buruh itu,” jawab perempuan tadi. “Minta uang.”

Pria itu melangkah maju. Menatap Udin dari atas ke bawah.

“Pergi,” katanya singkat.

Udin tidak bergerak.

“Nenek saya sakit,” katanya pelan. “Kalau tidak minum obat—”

“Bukan urusan saya!” suara pria itu meninggi. “Kamu kira kami panti asuhan?”

Udin tersentak.

Pria itu menunjuk ke arah jalan.

“Pergi. Jangan bikin kotor halaman saya.”

Pintu ditutup tapi bukan ditutup pelan melainkan dibanting Dibanting. Udin berdiri di depan pintu itu cukup lama. Hujan menutupi suara napasnya yang tercekat. Air mata jatuh bercampur air hujan, tak ada yang bisa membedakan.

Ia menunduk.

“Maaf, Nek…” bisiknya. “Udin nggak bisa apa-apa.”

Petir menyambar lagi.

Dan untuk pertama kalinya… Udin merasa dunia benar-benar tidak menginginkannya ada. Ia berbalik, melangkah pergi dengan tangan kosong. Tanpa uang,

Tanpa obat.

Dengan hati yang lebih berat dari hujan.

Nama pena: Z.in M

Genre: Slice of life, Fantasi

Platform: Maxnovel

Editorial:

Buku ini langsung memperlihatkan satu hal yang jarang dimiliki cerita populer, kejujuran nada. Penulis tidak berusaha mengangkat kemiskinan sebagai tontonan emosional yang dramatis. 

Ia justru menuliskannya dengan tenang, hampir datar, seolah kehidupan keras itu memang sudah menjadi ritme sehari-hari tokohnya. 

Pilihan ini membuat suara penulis terasa stabil dan percaya diri. Ia tidak memaksa pembaca untuk merasa iba, ia hanya memperlihatkan keadaan dengan ketelitian yang sederhana, dan dari situlah bobot emosinya muncul.

Ritme kalimatnya bergerak pelan, tetapi tidak pernah terasa lamban. 

Banyak adegan kecil seperti air yang disiapkan, pijatan tangan anak kecil, kebohongan sederhana antara cucu dan nenek,ditaruh dengan jeda yang tepat. 

Di tangan penulis yang kurang sabar, momen seperti ini sering dipercepat. Namun di sini justru dibiarkan bernapas. 

Hasilnya adalah atmosfer yang sunyi namun penuh tekanan, di mana pembaca mulai merasakan bahwa keheningan itu menyimpan sesuatu yang rapuh. 

Yang paling kuat dari buku ini adalah ketegangan yang tidak pernah diteriakkan. 

Anak kecil yang terus mengangguk ketika diminta membayar lapak, kebohongan kecil tentang rasa kenyang, atau cara seseorang menahan tangis di tengah hujan,semuanya ditampilkan tanpa penjelasan moral. 

Penulis menahan diri dari komentar atau penghakiman. Justru dari penahanan itulah lahir rasa tidak nyaman yang perlahan menumpuk, membuat pembaca sadar bahwa dunia yang digambarkan di sini tidak bekerja dengan cara yang adil.

Secara tematik, buku ini menyentuh wilayah yang lebih dewasa daripada sekadar kisah penderitaan. 

Ada refleksi diam tentang martabat, tentang bagaimana orang kecil mempertahankan harga dirinya bahkan ketika pilihan yang tersedia hampir tidak ada. 

Penulis tidak membangun tokoh utama sebagai simbol kepolosan yang sentimental, tetapi sebagai manusia kecil yang sudah terbiasa menghadapi kenyataan tanpa perlindungan.

Kesan yang tertinggal setelah membaca buku ini bukanlah ledakan emosi, melainkan sesuatu yang lebih lama menetap: rasa sunyi yang tidak mudah dilepaskan. 

Cerita ini tidak mencoba memikat dengan kejutan besar di awal, tetapi dengan konsistensi suasana dan kejelasan sikap naratifnya. 

Bagi pembaca yang mulai jenuh dengan konflik yang dipaksakan atau tragedi yang terlalu teatrikal, pembukaan seperti ini memberi sinyal bahwa novel ini memilih jalur yang lebih tenang dan justru karena itu layak diikuti dengan perhatian yang serius.

by Peniti Kecil



3 Komentar

  1. Kasian Udin, dia sudah di dewasakanlah oleh keadaan tapi saran saya meski dia harus bertindak seperti orang dewasa, dia tetaplah anak kecil, jadi tambahkan dialog atau narasi yang menunjukkan sisi anak kecilnya juga. Selain itu nenek juga harusnya dibikin berkesan lagi sebelum nenek kenapa kenapa, bikin kesan dia benar benar menyayangi udin.

    BalasHapus
  2. Karakter Udin meskipun kasian bgt tapi dapet banget pelajaran yang bisa kita ambil. Apalagi kayanya banyak yg related di umur yg masih muda tapi harus dewasa karena kehidupan 😭

    BalasHapus
  3. sedih banget jadi udin. tapi nanti aku yakin di bab selanjutnya bakalan ada kabar baik buat udin sama neneknya. semangat terus udin, dunia selalu berputar, malam akan digantikan terang. tetap kuat dan bersemangat

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama