"Terpaksa Menikahi Pasien yang Katanya ODGJ"
Karina pov
Aku tak pernah menyangka shift malamku di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sejahtera akan berubah jadi kisah konyol yang memalukan.
Semuanya dimulai ketika aku mengobservasi seorang pasien titipan, Arga Mahendra Pratama . Nama yang terlalu mewah untuk ditempelkan pada gelang pasien berwarna kuning bertanda "pengawasan ketat".
Dia bukan pasien biasa. Muda, tinggi, tampan, dan katanya CEO perusahaan Pratama Corp yang melejit di bidang teknologi. Tapi sekarang, dia mengenakan baju pasien longgar yang tampak kebesaran dan kini tatapannya kosong, ke pura-puraan yang terlalu sempurna untuk disebut gangguan mental. Sejujurnya, aku meragukan jika dia benar-benar mengalami gangguan mental. Mungkin kah ia hanya anak orang kaya yang terjerat hukum dan hendak mengelak.
Aku memutuskan untuk langsung mengujinya. “Aku akan memberikanmu sebuah suntikan,” kataku memberikan kode agar ia bersiap. Padahal aku hanya menyiapkan suntikan ringan yang tak berbahaya, sekadar untuk melihat reaksinya. Ia melotot kerahku lalu berusaha menarik tangannya dari cekalan dua perawat pria yang berjaga. Tapi sebelum sempat aku menembuskan jarum itu ke kulitnya...
“Blup!”
Lampu padam.
Ruangan observasi seketika berubah menjadi ruang pertunjukan horor. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah remang dari jendela kecil tinggi di dinding. Dua perawat pria yang membantuku, spontan lari kearah pintu yang otomatis terkunci setelah beberapa detik listrik padam.
Sial.
Aku lupa dan berakhir terjebak dengan pasien aneh ini.
Aku mendengar suara gesekan kain dan bunyi besi berderit.
Kupalingkan wajah pelan-pelan mengamati brankar tempat Arga sebelumnya terikat kini kosong.
Kosong?
"Dokter," suara itu terdengar pelan, terlalu pelan, nyaris seperti bisikan dari balik tirai brankar. "Kita tinggal berdua sekarang."
Aku menelan ludah. Perlahan aku mundur. Tanganku masih menggenggam suntikan. Jantungku berdetak kencang.
Lalu muncul sosok Arga, berdiri tegak menyibak tirai. Baju pasiennya yang bertali Entah bagaimana, melorot, sepertinya ikatan bajunya lepas, dan... oh...
Ya Tuhan.
Sinar samar dari jendela menyorot tubuhnya yang bisa dibilang bukan milik seseorang yang biasa makan jatah nasi rumah sakit. Arga jelas-jelas punya waktu di gym sebelum ia jadi… “gila”.
Aku tercekat. Karena sedikit kagum, tapi juga heran karena dia segera sadar dan dengan reflek cepat menarik kembali bajunya dan memakainya asal-asalan seperti anak magang yang malu datang telat.
Dan di situlah aku menangkap kejanggalan untuk kesekian kalinya.
Orang dengan gangguan mental tak peduli soal malu. Tapi dia? Dia buru-buru menutup dada seperti tokoh utama dalam drama Korea yang tak sengaja keluar dari kamar mandi.
Aku menahan tawa yang muncul dari antara ketegangan. Ya ampun, bagaimana bisa aku takut pada pasien yang baru saja gugup karena tel*njang?
Tapi setelah bajunya terpasang tatapannya berubah. Tidak lagi panik. Tidak juga bingung.
Tatapannya tajam. Penuh perhitungan. Seolah-olah sedang menilai apakah suntikan di tanganku mengandung sesuatu yang bisa membunuh atau hanya berisi air biasa.
Dan seketika suasana kembali menegang. Tawa yang sempat menggelitik tenggorokanku mendadak lenyap.
Karena sekarang aku tahu Arga bukan orang gila.
Dan dia juga tahu bahwa aku tahu.
Aku berusaha tetap tenang walau sulit. Tangan kiriku masih memegang suntikan, tapi rasanya benda itu kini tak berguna untuk menakuti pasien yang pura-pura gila.
Arga mendekat, langkahnya pelan tapi pasti, seperti kucing yang baru menyadari tikus di pojokan tak bisa kabur.
"Kenapa kamu takut, Dokter?" katanya sambil memiringkan kepala, suaranya lembut, terlalu lembut untuk maksud yang mengancam.
"Tak ada yang perlu ditakutkan, Aku ‘kan cuma pasien sakit jiwa .... "
Langkahnya berhenti hanya sejarak satu lengan dariku. Nafasku tertahan.
Arga menyeringai."Apa kamu... takut aku akan berbuat sesuatu?" bisiknya.
Tengkukku kaku. Ini bukan lagi sekadar ujian observasi. Ini permainan psikologis.
Ia mendekat lebih lagi. Matanya menyapu wajahku, leherku, lalu berhenti tepat di jarum suntik yang masih kugenggam.
"Kalau aku memang gila," katanya, napasnya hangat di pipiku, "maka tak ada hukum yang bisa menghukumku... kalau aku memutuskan untuk melakukan..."
Tangannya terangkat aku refleks mundur. Tapi alih-alih menyentuhku, dia justru... menepuk pipiku pelan, seperti orang dewasa menenangkan anak kecil. Lalu ia tertawa. Bukan tawa lepas yang bahagia, melainkan tawa penuh rasa puas.
“Tenang saja, Dokter. Aku bukan pemerk*sa. Tapi kamu pantas diberi pelajaran karena hampir menyuntikkan sesuatu tanpa persetujuanku.”
Kurang ajar! Ia mempermainkan harga diriku. Aku menatapnya, masih mencoba mengatur nafas, keringat dingin membasahi punggungku. Dia tidak menyentuhku, tapi ketegangan yang ia ciptakan menusukku sampai ke tulang. Aktingnya nyaris membuatku yakin dia akan melakukannya.
“Jadi, siapa yang gila sekarang?” bisiknya sekali lagi sebelum berbalik perlahan, kembali ke brankar, duduk santai seolah tak terjadi apa-apa.
Dan aku... berdiri di sana, masih dengan jarum suntik di tangan dan harga diriku di ujung jurang.
Aku masih berdiri, jantungku menghantam dada seperti genderang perang. Dalam kepalaku, ketakutan, marah, dan ego berputar tak karuan.
Entah dorongan dari mana. Bisa jadi karena karena harga diriku yang diinjak berkali-kali. Yang pasti, aku sudah muak dianggap lemah oleh pria yang bahkan tak tahu batas.
Dengan cepat, aku menukar suntikan di tanganku dengan satu yang kuselipkan di kantong saku sneli—campuran ringan penenang dosis sedang, cukup untuk membuatnya... diam. Setidaknya sebentar.
Tanpa aba-aba, aku maju—dan jleb!
Jarum itu menancap di lengan Arga.
Ia terbelalak, tubuhnya menegang. "Apa yang kamu...."
Terlambat.
Aku sudah menekan piston suntikan sepenuhnya. Cairannya masuk ke pembuluhnya sebelum ia sempat menarik napas.
Refleksnya cepat. Ia mencabut suntikan dengan gerakan kasar, dan secepat kilat, ia mencengkeram pergelangan tanganku dan menarikku dengan tenaga penuh.
Aku terpental, jatuh ke atas brankar dengan suara dentuman pelan. Sebelum aku sempat bangkit, tubuhnya sudah melayang di atasku.
Aku tak bisa bernapas.
Tangannya menahan kedua tanganku di atas kepala. Nafasnya memburu, wajahnya nyaris menempel di wajahku. Tak ada sisa kelakar di matanya. Hanya kemarahan yang tersulut seperti bara api yang baru disiram bensin.
"Aku sudah bilang..." desisnya dengan suara serak menahan amarah. "Kamu pantas diberi pelajaran.Tapi sepertinya kamu perlu diberi pelajaran yang lebih serius."
Aku bisa menci*m nafasnya, bisa merasakan denyut di dadanya. Tapi aku tidak berani menoleh.
"Apa yang kamu suntikkan?" tanyanya tajam.
Aku berusaha bicara dengan tenang, meski suara sendiri terdengar lebih seperti gumaman gemetar. “Sesuatu yang bisa membuatmu... tenang.”
Lalu, pelan-pelan, rahangnya mengendur.
"Kalau kamu memang bukan orang gila..." Sekarang suaraku terdengar lebih tenang daripada perasaanku, "apa tujuanmu berada di sini?"
Ia menatapku. Lama. Matanya menelisik seolah hendak mencari tahu apakah aku benar-benar ingin tahu, atau hanya ingin mengulur waktu.
Beberapa detik kemudian, ia tersenyum tipis bukan senyum manis, lebih seperti lengkungan bibir seseorang yang sedang mengukur kelemahan lawannya.
"Apa untungnya bagiku kalau aku memberitahumu, Dokter?" tanyanya pelan tepat didaun telingaku. "Dan... apa gunanya bagimu?"
Tatapannya turun ke bibirku, lalu naik lagi ke mataku. "Atau mungkin," lanjutnya, suaranya berubah lebih halus, "kita bisa buat... kesepakatan."
"Kesepakatan?" aku memiringkan kepala, mencoba terdengar skeptis meski jantungku belum berhenti berdebar. "Kau kira ini pasar malam? Aku bukan pedagang."
Dia tertawa kecil, tapi tawanya lebih ke arah mengejek. "Dan aku bukan pasien sakit jiwa yang bisa kau permainkan. Jadi... kita impas."
Ia perlahan melonggarkan cengkeramannya di pergelangan tanganku, namun tetap tak bergerak dari posisinya. Tubuhnya masih di atasku, dan aku tahu harus tetap diam, karena satu gerakan salah bisa membuatku dalam masalah karena suntikanku belum bekerja.
"Aku ingin tahu apa yang kau cari di sini, Arga," ulangku, kali ini lebih tegas. "Dan aku tahu kamu waras. Tapi pura-pura gila? Di rumah sakit jiwa kelas dua seperti ini? Itu bukan tempat persembunyian biasa."
Tatapan Arga berubah. Sekilas, ada kewaspadaan yang jelas terlihat.
“Kalau kamu cukup pintar untuk menebaknya,” katanya perlahan, “maka kamu cukup pintar untuk jadi… partner.”
“Partner?” aku mengangkat alis. “Partner orang yang berpura-pura gila, menyelinap masuk ke rumah sakit jiwa, dan mengurung diri bersama dokter muda malam-malam? Kayaknya aku butuh penawaran yang lebih menarik. Yang lebih menguntungkan.”
Arga menyeringai lalu berkata. “Kau tidak akan menyesalinya,Dokter. Bahkan aku bisa membuatnya lebih menarik malam ini.”
“Apa yang akan kau lakukan?”
Nama pena: Caberawit
Genre: Romance
Platform: KBM
Editorial:
Buku ini langsung memperlihatkan satu hal yang jarang dimiliki banyak novel populer, suara penulis yang sadar diri. Narator berbicara dengan nada yang lugas, sedikit sinis, dan terasa sangat manusiawi.
Ia tidak mencoba terdengar puitis atau dramatis secara berlebihan. Justru kesederhanaan cara bercerita itu yang memberi kesan percaya diri, seolah penulis tahu bahwa ketegangan tidak harus dibangun dengan kalimat besar, tetapi cukup dengan situasi yang dibiarkan berkembang perlahan di depan pembaca.
Ritme kalimatnya bergerak ringan namun terkontrol. Narasi bergulir seperti percakapan batin seseorang yang sedang bekerja dalam situasi yang tidak sepenuhnya ia pahami.
Ada keseimbangan antara observasi rasional seorang tenaga medis dan rasa curiga yang pelan-pelan tumbuh. Ketika listrik padam, perubahan atmosfer terasa jelas tanpa perlu deskripsi panjang. Transisinya cepat, tapi tidak terburu-buru,membuat ruang yang tadinya biasa tiba-tiba terasa sempit dan tidak aman.
Yang paling menarik justru apa yang tidak dijelaskan secara terang-terangan. Tokoh Arga diperkenalkan dengan cara yang menimbulkan pertanyaan, bukan jawaban. Ada ketegangan halus antara label “pasien” yang menempel padanya dan kesan kontrol yang tampaknya ia miliki.
Penulis tidak buru-buru membuka kartu. Sebaliknya, ia membiarkan pembaca merasakan ketidakpastian yang sama seperti naratornya: apakah yang sedang terjadi ini benar-benar situasi medis, atau sesuatu yang jauh lebih rumit.
Tema yang muncul di permukaan Terlihat sederhana, pertemuan antara dokter dan pasien di ruang observasi. Namun cara penyajiannya memberi kesan ada lapisan kekuasaan, manipulasi, dan kemungkinan permainan identitas yang lebih dewasa.
Buku ini tidak mencoba menjelaskan semuanya. Ia hanya menyalakan lampu kecil di awal lorong cerita, cukup untuk membuat pembaca sadar bahwa langkah berikutnya mungkin tidak akan sesederhana yang terlihat.
Kesan yang ditinggalkan bukan rasa penasaran yang riuh, melainkan kepercayaan bahwa cerita ini tahu ke mana ia berjalan.
Ada kontrol dalam cara penulis menahan informasi, membangun atmosfer, dan membiarkan dialog pendek menjadi titik tekanan.
Bagi pembaca yang mulai jenuh dengan pembukaan novel yang terlalu heboh atau terlalu cepat menjanjikan segalanya, ini terasa seperti undangan yang lebih tenang tetapi justru karena itu sulit untuk diabaikan.
By Peniti Kecil

Jarang-jarang banget baca novel romance, kayanya cocok buat jadi teman waktu luang, apalagi idenya antimainstream. judulnya udah bikin tertarik buat baca hihi
BalasHapus