20. Hasil dari Dugaan
Sebenarnya kamu ada hubungan apa dengan Kak Ezra? Pertanyaan Widya meluncur begitu saja tepat saat dua pengemudi ojek datang menyerahkan helm kepada mereka. Kurang dari sepuluh menit, keduanya telah tiba di halaman samping gedung kelas jurusan. Yuri berjalan bersisian dengan Widya setelah melunasi ongkos perjalanan mereka.
Keduanya melangkah perlahan menuju lantai dua tempat ujian berlangsung. Yuri berusaha berjalan senormal mungkin meski gerakannya sangat lambat. Jangan bantu aku, Wid, Yuri segera memberi peringatan kepada sahabatnya. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian atau tontonan mahasiswa lain.
Isa melambaikan tangan dari kejauhan saat melihat kehadiran mereka. Bagaimana kondisimu? bisik Isa setelah berada di samping Yuri. Ia sudah paham bahwa Yuri sangat menghindari sorotan publik. Sudah lebih baik daripada kemarin, jawab Yuri singkat.
Widya yang masih didera rasa penasaran sejak kemarin kembali bersuara. Ri, kamu diamuk siapa sebenarnya? bisik Widya yang hanya bisa didengar oleh mereka bertiga. Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu? Isa menyahut dari sisi seberang. Yuri yang berdiri di tengah merasa seperti terhimpit tembok.
Kamu tidak lihat rambutnya yang berantakan dan kakinya yang keseleo kemarin? Aku tidak yakin seorang Yuri bisa seceroboh itu, analisis Widya tajam. Isa tidak membantah, ia justru menoleh ke arah Yuri seolah menuntut penjelasan.
Yuri menghela napas kasar. Sepertinya ia memang tidak bisa menyimpan rahasia dari dua sahabatnya yang sangat ingin tahu ini. Nanti setelah ujian aku ceritakan semuanya. Puas kalian? putus Yuri sedikit sewot agar teror pertanyaan itu berhenti.
Dua mata kuliah berhasil Yuri lalui hari itu. Otaknya terasa panas dan jemarinya kaku karena terus menulis. Ia bersyukur tangannya baik baik saja dan hanya mengalami goresan yang kini mulai mengering. Di lorong kelas, mereka saling mengeluh tentang beratnya soal ujian.
Untung saja yang sakit kakiku, bukan tanganku, ujar Yuri ikut dalam obrolan. Kalau tanganku yang terluka, aku pasti kesulitan menulis jawaban ujian, elaknya sambil menyeringai.
Kita bicara di mana? tanya Isa menagih janji. Di kosan Isa saja yang dekat, putus Widya yang disetujui oleh semuanya. Secara tidak sengaja, mereka berpapasan dengan Ezra dan kawan kawannya. Widya dan Isa menyapa seperti biasa, namun Yuri hanya menunduk dan terus berlalu.
Kamar kos Isa mendadak terasa penuh dengan kedatangan mereka. Sambil menikmati camilan yang dibeli di depan kampus, Isa kembali membuka percakapan. Tadi kenapa kamu bersikap cuek kepada Kak Ezra? Bukankah minggu lalu kamu ada proyek bersamanya?
Yuri akhirnya bercerita mulai dari pertemuan awal di ruang buletin, proses pemotretan, hingga kemunculan Tania dan kelompoknya yang berujung pada kakinya yang terluka. Namun, Yuri menyimpan rapat beberapa hal, seperti saat ia menginap di tempat Ezra atau kedatangan pria itu ke kosnya tadi pagi.
Parah sekali Kak Tania. Jahat sekali kelakuannya seperti anak kecil, omel Widya sambil mengunyah siomay. Iya, seolah Kak Ezra adalah kekasihnya saja, tambah Isa. Mereka kemudian membahas obsesi Tania yang tidak mempan meski sudah diperingati berkali kali. Widya bahkan menyebutkan deretan mahasiswa berprestasi lain yang jauh lebih layak untuk dikagumi daripada bersikap gila kepada Ezra.
Ponsel Yuri bergetar di atas kasur. Ia sempat berniat menjauh untuk mengangkat telepon dari Ezra, namun kedua sahabatnya melarang. Angkat di sini saja, goda Widya.
Setelah menarik napas panjang, Yuri menjawab telepon itu. Halo. Kamu di mana? Makan malam bersama yuk, suara Ezra terdengar dari seberang. Aku sedang di tempat Isa. Tidak dulu, terima kasih, jawab Yuri tegas. Jangan menghindariku, pintanya. Sudah dulu ya, Kak. Selamat tinggal, Yuri mematikan sambungan secara sepihak.
Apa itu dari Kak Ezra? Isa kembali menyelidik. Yuri hanya mengangguk malas lalu merebahkan diri di kasur. Kamu ingin aku babak belur lagi? Tania dan kelompoknya masih berkeliaran di luar sana jika kalian lupa, ketusnya yang disambut tawa oleh kedua sahabatnya.
Malam harinya, Yuri dan Widya berpamitan untuk pulang ke kediaman masing masing. Selama belajar bersama tadi, Yuri sengaja mengabaikan semua pesan singkat dari Ezra dan mengubah mode ponselnya menjadi senyap.
Sesampainya di kos, Yuri menggunakan sisa tenaganya untuk mengunci gerbang kecil. Jalanan sangat sunyi, hanya terdengar suara serangga malam. Ia merasa tidak perlu lagi berakting berjalan normal karena tidak ada orang yang melihat. Namun saat ia menoleh ke arah rumah utama, ia tidak sengaja bertemu pandang dengan dosen mudanya yang sepertinya juga baru pulang.
Pak Kenan, lirihnya. Angin malam berembus menggoyangkan pepohonan di belakang Yuri. Kenan tampak terkejut hingga matanya membelalak. Yurika! serunya seolah sedang melihat sosok yang tidak terduga di tengah kegelapan malam.
*****
Nama pena: Sweet Moon
Genre: Urban, Romansa, Kampus
Platform: Novel Toon
Editorial:
Novel ini bercerita dengan ketegangan yang halus namun efektif, berfokus pada dinamika persahabatan antara Yuri dan dua sahabatnya, Widya serta Isa. Penulis berhasil menggambarkan keakraban mereka melalui dialog-dialog singkat yang penuh selidik, terutama mengenai kondisi fisik Yuri yang terluka. Rasa penasaran sahabat-sahabatnya terhadap hubungan Yuri dengan Ezra menjadi pancingan awal yang membuat pembaca ikut bertanya-tanya, menciptakan rasa ingin tahu yang kuat tanpa perlu adegan dramatis yang berlebihan.
Karakter Yuri digambarkan sebagai sosok yang berusaha menjaga citra diri di depan umum, meskipun sedang dalam kondisi lemah. Upayanya untuk berjalan normal dan menghindari sorotan mata mahasiswa lain menunjukkan sisi rapuh namun tegar dari tokoh utama. Interaksi saat ujian dan di lorong kelas menambah nuansa kehidupan kampus yang sangat relatable, mulai dari keluhan soal beratnya materi hingga rasa lega karena tangan yang tidak terluka parah. Detail-detail kecil ini membuat dunia cerita terasa hidup dan nyata.
Konflik eksternal hadir melalui sosok Tania, yang digambarkan sebagai antagonis dengan perilaku posesif terhadap Ezra. kehadiran Tania terasa melalui cerita Yuri dan reaksi teman-temannya. Diskusi tentang obsesi Tania yang dianggap kekanak-kanakan oleh Widya dan Isa memberikan konteks sosial di lingkungan kampus tersebut. Hal ini juga memperkuat posisi Yuri sebagai korban situasi yang tidak ia inginkan, sehingga pembaca merasa simpati padanya.
Hubungan antara Yuri dan Ezra dibangun dengan pendekatan slow burn yang menarik. Sikap dingin Yuri saat menerima telepon dari Ezra, serta keputusannya untuk mengabaikan pesan-pesannya, menunjukkan adanya konflik batin atau ketakutan akan konsekuensi sosial (terutama dari Tania). Namun, ketegasan Ezra yang meminta Yuri untuk tidak menghindar menciptakan ketegangan romantis yang klasik. Pembaca diajak menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi di antara keduanya sebelum insiden kaki terkilir itu.
Puncak novel ini terjadi di akhir malam, ketika Yuri bertemu dengan dosen mudanya, Pak Kenan, di tengah kesunyian malam. Pertemuan tak terduga ini mengubah arah cerita secara drastis. Reaksi terkejut Pak Kenan yang memanggil nama "Yurika" menimbulkan misteri baru: apakah Pak Kenan mengenal masa lalu Yuri? Apakah ada hubungan khusus di antara mereka? Cliffhanger ini sangat efektif dalam memancing pembaca untuk segera melanjutkan ke kisah berikutnya.
Secara keseluruhan, novel ini menawarkan alur cerita urban-romansa kampus yang padat dan enak diikuti. Sweet Moon, penulis di platform Novel Toon, mahir dalam merangkai emosi karakter dan membangun misteri secara bertahap. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, novel Lesson After Class cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta remaja dewasa dengan elemen misteri dan dinamika pertemanan yang kuat. Kombinasi antara drama interpersonal dan kejutan di akhir diberikan konflik yang menjadikan karya ini menarik untuk dinikmati.
by Nada Maya

Satu lagi bahan bacaan romansa anak muda yang harus dibaca buat nambah wawasan pembaca. dulu jarang banget baca novel teenlit, tapi kalau udah nikmati bab demi bab, pengennya baca terus-terusan. lanjutkannn romansa nyai
BalasHapus