Raneira, Bocah Kampung - Sweet Moon

Raneira, Bocah Kampung - Sweet Moon


0

Ch 1— Pamit dari Kota

Apartemen unit 10-A yang biasanya menjadi saksi bisu keriuhan yang tak ada habisnya saat ini sunyi sepi hanya ada suara gesekan kardus dan suara barang berpindah tempat.

Hari-hari dengan suara TV yang memutar lagu-lagu ceria dari kanal anak-anak sering kali beradu dengan lengkingan suara Raneira Raharja alias Rara, yang sedang sibuk menjalankan misi pentingnya yaitu sibuk mengejar robot vakum yang ia namai "Momo", yang kini seluruh badannya penuh dengan stiker kelinci sudah tak ada lagi. Momo si robot vakum sudah meringkuk di dalam kotak kardus gelap, dan keriuhan yang ada bukan lagi berasal dari sana, tetapi dari derit lakban bening yang ditarik paksa.

​Ririn, sang Bunda, tampak sedang berperang. Rambutnya diikat asal, peluh membanjiri dahi saat ia berusaha menjejalkan tumpukan barang ke dalam dus cokelat besar. Di ambang pintu kamar, seorang bocah mungil dengan daster motif kelinci kesayangannya berdiri mematung. Rambutnya yang hitam legam dikuncir dua, namun ikatannya sudah miring ke kiri dan ke kanan hasil dari aksi guling-guling protes di atas karpet yang kini sudah tergulung setengah.

​"Nda, kenapa lumah kita acak-acakan, semua balang macuk ke dalam kotak ini?" tanya Rara dengan nada bingung.

​Ririn berhenti sejenak, mengusap keringat dengan punggung tangan. "Bukan diacak-acak, Sayang. Kan Bunda sudah bilang, kita mau pindah ke rumah Uti di Jawa. Jadi barang-barangnya harus dibungkus dulu biar nggak berantakan di jalan nanti."

​Bukannya luluh, bibir mungil Rara justru mengerucut maju beberapa sentimeter. Matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi Lala nggak mau pindah! Di cana nggak ada yang jualan eyim (Es krim), Nda. Lala nggak mau ikut. Bunda aja yang pindah cama Ayah!"

​Dan ledakan itu pun terjadi. Tangis Rara pecah, melengking memenuhi ruangan yang kini terasa lebih bergema karena sudah mulai kosong. Ini adalah tantrum kesekian kalinya dalam seminggu ini. Padahal, Ririn dan Reno sudah memberikan pengertian pelan-pelan selama berhari-hari agar putri mereka paham dan mengerti. Tapi tiap hari selalu ada saja alasannya dari mulai takut tidak bisa bertemu teman-teman PAUD-nya lagi, takut tidak bisa main di taman apartemen yang ada perosotan warna-warninya, atau takut tidak bertemu es krim.

​"Lala mau main cama Caca! Lala nggak mau ke lumah Uti!" teriaknya sambil menghentak-hentakkan kaki ke lantai.

​Ririn segera menghampiri, memeluk putri kecilnya itu untuk menenangkan badai emosinya yang datang lagi Di sudut lain, Reno, sang Ayah hanya bisa menarik napas panjang. Ia baru saja selesai melakban dus berisi koleksi bukunya tanpa banyak bicara. Wajahnya tampak lelah, lebih lelah dari biasanya. Guratan di bawah matanya menceritakan beban berat selama beberapa minggu terakhir. Pengurangan karyawan di perusahaan swasta tempatnya bekerja begitu mendadak, seperti hantaman petir di cerahnya hari.

​Reno mendekat, lalu berjongkok di depan Rara yang masih terisak di pelukan Bundanya. Bunda kembali melipir memberi ruang, suaminya untuk berbicara. Ia memegang kedua bahu mungil putrinya dengan lembut. "Rara sayang, cintanya Ayah... dengerin Ayah sebentar ya?"

​Isakan Rara mereda menjadi sesenggukan kecil. "Iya, Ayah."

​"Di rumah Uti nanti, halamannya luuuas sekali. Rara bisa bermain dan lari-larian sepuasnya, nggak kayak disini, Sayang. Rara tahu? Di sana ada pohon mangga, ada banyak ayam, terus nanti Rara bisa liat bintang banyak sekali kalau malam. Bintangnya terang, nanti bisa Rara namai ya."

​Rara terdiam, tampak berpikir keras. Matanya yang bulat berkedip-kedip seolah sedang memproses data penting di kepalanya. "Ayamnya pakai baju nggak, Yah? Kayak di caltun?"

​Reno tidak bisa menahan tawa. Rasa penat yang menghimpit dadanya sedikit menguap melihat ekspresi sok dewasa putri kecilnya. "Nggak pakai baju, Sayang. Ayamnya asli, punya bulu, cantik-cantik."

​"Ih, mayu dong ayamnya celanjang!" celetuk Rara dengan wajah polos tanpa dosa. "Nanti Lala katih dastel Bunda aja ya bial ayamnya tantik."

​Ririn yang sedang memasukkan sisa bumbu dapur ke kardus kecil langsung menyahut, "Eh, jangan dong! Daster Bunda nanti habis dipakai ayam semua! Nanti Bunda pakai apa? Huhuhu," Ririn pura-pura menangis sambil menutup wajahnya.

​Tawa pecah di ruang sempit itu kembali terdengar dari mulut si Ayah. Rara yang tadi mengamuk, kini malah sibuk mengelus tangan Bundanya, berusaha menenangkan dengan gaya ala orang dewasa. Meskipun tawa itu hadir, ada ganjalan yang tetap menetap di hati Reno dan Ririn. Keputusan pulang kampung ini adalah pertaruhan besar. Meninggalkan gaji tetap, jaminan kesehatan, dan fasilitas kota demi masa depan yang masih abu-abu di desa. Namun, membayangkan tekanan lembur yang gila-gilaan dan jarang melihat Rara tumbuh ditiap harinya, Reno merasa ini adalah jalan satu-satunya untuk tetap "waras", toh masih ada tabungan. Jadi dia tidak lagi terburu-buru untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain untuk sementara.

​Malam harinya, apartemen itu terasa asing. Meja makan sudah diangkut jasa ekspedisi sejak siang, memaksa mereka makan malam lesehan di atas tikar. Menunya sangat sederhana berupa nasi putih dan nugget ayam berbentuk dinosaurus di goreng bergiru saja dan sisa acar yang di buat untuk makan mie goreng siang tadi.

​"Nugget Dino telakhil di cini, iya kan Ebit?" gumam Rara pelan. Ia menusuk kepala T-Rex goreng itu dengan garpu plastik, lalu menyodorkannya ke arah Ebit, boneka kelinci favoritnya yang sudah mulai kusam.

"Nanti di kampung Uti, ayamnya bentuknya sepelti apa, Nda? Apa bentuknya Blontocaulus?"

​"Di kampung bentu ayam sungguhan, Ra. Bukan dibentuk-bentuk begini. Makan itu, lebih sehat, biar Rara makin pinter dan gembul," jawab Ririn sabar sambil mencolek pipi gembul putrinya yang kemerahan.

​"Tapi Lala mau yang bentuk Dino, Nda! Nanti kalau ayam di kampung nggak mau belubah jadi Dino, Lala mau mayah cama ayamnya!" Rara bersedekap dada, pipinya menggembung lucu.

​Reno memandang istrinya, ada binar haru sekaligus lucu di matanya. Ia lalu menatap Rara dengan serius namun lembut. "Lala tahu nggak? Dua hari lagi itu bulan Ramadhan. Kita sampai di kampung pas banget orang-orang mulai puasa."

​Rara berhenti mengunyah. "Puaca? Yang nggak makan dalis pagi itu ya, Yah? Lala mau ikut! Ayah, Bunda!"

​"Memangnya Lala kuat?" pancing Reno sambil menahan tawa.

​"Kuat dong! Lala kan sudah becal, sudah tamat sekolah PAUD! Tapi... kalau minum cucu boleh ya? Cucu kan bukan makan, cucu itu minum kata bu Gulu," tawarnya dengan logika bocah yang tak terbantahkan.

​Reno dan Ririn hanya bisa saling lirik dan tersenyum. Perjalanan panjang besok pagi bukan hanya tentang menempuh ratusan kilometer menuju Jawa, tapi tentang membawa si "Bocah Kota" ini mengenal akar hidupnya. Kota mungkin telah memberikan mereka banyak hal, tapi kampung halaman adalah tempat mereka akan belajar kembali arti dari kata cukup.

​"Oke, sekarang habiskan nugget-nya, terus bobo. Besok kita berangkat pas matahari belum bangun. Oke, Sayang?" bisik Reno sambil mengacak rambut Rara gemas.

​Malam itu, Rara tertidur lelap sambil memeluk Ebit, bermimpi tentang ayam-ayam yang akan ia pakaikan daster di rumah Uti.

Nama pena: Sweet Moon

Genre: Urban, Komedi, Religi

Platform: Novea

Editorial:

Buku ini menunjukkan sesuatu yang cukup jarang ditemui dalam banyak novel populer, keberanian penulis untuk memulai cerita dari situasi domestik yang sangat biasa, namun ditulis dengan kesadaran ritme yang jelas.

Suara penulis terasa ringan, tetapi tidak ceroboh. Dialog mengalir dengan tempo yang alami, seolah percakapan keluarga itu memang terjadi tanpa dipaksakan untuk menjadi dramatis. 

Pilihan bahasa yang sederhana justru memberi ruang bagi karakter untuk hidup melalui kebiasaan kecil, bukan melalui penjelasan panjang. Ritme narasi dibangun melalui interaksi antara orang tua dan anak. 

Penulis terlihat memahami bagaimana suara dari seorang anak, tidak selalu logis, sering melompat dari satu hal ke hal lain, dan justru di situlah dinamika emosinya terasa nyata. Kalimat-kalimat pendek, selingan humor, dan respons spontan dari para tokoh menciptakan atmosfer rumah tangga yang akrab. 

Namun di balik keriuhan kecil itu, ada keheningan yang terasa cukup jelas, perubahan besar sedang terjadi, dan tidak semua orang di ruangan itu benar-benar siap menghadapinya.

Ketegangan dalam cerita ini tidak datang dari konflik yang langsung meledak, melainkan dari yang sengaja tidak diperbesar. 

Keputusan hidup yang berat hanya muncul sekilas dalam percakapan yang terlihat santai. 

Penulis tidak memaksa pembaca untuk merasa iba atau tegang, ia hanya menunjukkan bagaimana sebuah keluarga menata ulang hidupnya sambil tetap mempertahankan tawa di depan anak mereka. 

Pendekatan seperti ini memberi lapisan emosional yang lebih matang, karena beban cerita terasa hadir tanpa harus diumbar secara berlebihan.

Dari sisi tema, Buku ini menyentuh wilayah yang cukup bagi pembaca dewasa, perubahan arah hidup, kerentanan ekonomi keluarga, dan pencarian kembali makna rumah. Semua itu disajikan melalui perspektif keluarga muda yang mencoba tetap hangat di tengah ketidakpastian. 

Penulis tidak menggurui, juga tidak menjadikan latar religius sebagai dekorasi semata. Nilai-nilai tersebut muncul sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sebagai pesan yang dipaksakan.

Sebagai pembuka, buku ini meninggalkan kesan yang bersahaja tetapi percaya diri. 

Penulis tampaknya tidak tergesa-gesa mengejar kejutan dari cerita ini. 

Ia memilih membangun fondasi hubungan antar tokoh terlebih dahulu dan itu dilakukan dengan kontrol nada yang cukup stabil. 

Bagi pembaca yang mulai jenuh dengan pembukaan cerita yang terlalu sensasional, pendekatan seperti ini menawarkan sesuatu yang berbeda, sebuah kisah yang tampaknya lebih tertarik pada kejujuran pengalaman manusia daripada sekadar dramatisasi peristiwa.

by Peniti Kecil



9 Komentar

  1. Harus ini mah mampir sini 😘

    BalasHapus
  2. Dora versi waras 🤣

    BalasHapus
  3. Sudah baca dan memang seunyu itu si Rara, jadi kita seperti menonton show tunggal bocah kecil yang begitu kaget tapi akhirnya menikmati hidup di desa, sepaket dengan berbagai ulahnya. Lanjut Thor. Salam untuk Rara (dia sebut dirinya Lala krn msh cadel)...

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama