Ch 5— Belanja ke Pasar
"Selamat pagi, cah ayu," sapa Kakung dengan raut ceria melihat Rara muncul dari kamar tanpa tangisan. Bocah itu melangkah santai dengan mata yang masih merem-melek (kriyep-kriyep) dan rambut berantakan serupa singa kecil. Tangan kanannya menyeret boneka Ebit di lantai, sementara tangan kirinya sibuk mengucek kelopak mata yang terasa berat.
Tadinya Kakung hendak membuka tirai dan jendela. Pukul lima pagi, semburat fajar mulai mengintip malu-malu di balik barisan pohon dan atap tetangga. Namun, aktivitas itu tertunda oleh kehadiran "tuyul mungil" yang berjalan gontai menuju ruang tengah.
"Akung..." panggil Rara dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iya, Rara. Kakung buka jendela dulu sebentar, ya. Habis ini mau tengok ayam?"
Rara menggeleng pelan, lalu merebahkan tubuhnya di atas karpet. "Mau... tapi Lala lapal (lapar). Dino di pelut (perut) Lala minta mam," rengeknya manja sembari mengelus perut buncitnya.
Srettt, srettt, srettt!
Kakung menyibak gorden dengan cekatan, membiarkan cahaya subuh dan kesegaran udara desa merasuk ke dalam rumah. Setelah mengaitkan daun jendela kayu yang besar, Kakung segera menggendong Rara. Ia harus mengerahkan tenaga ekstra karena bobot cucunya itu memang lumayan padat.
"Ayo, kita ke dapur. Uti sedang mengukus singkong. Uuu... tila..."
"Ingkong... enak?"
"Tentu! Nanti ditaburi kelapa parut dan gula. Manis dan lezat!"
Rara terdiam sejenak, tampak sedang berimajinasi. "Lala mau mam teluy dadal (telur dadar) sama naci (nasi) saja boyeh (boleh)?"
"Boleh sekali! Nanti Kakung buatkan khusus untuk Rara," jawab Kakung gemas sembari mengecup pipi cucunya. Aroma keringat bayi yang bercampur sisa losion adalah wewangian paling candu bagi seorang kakek.
Sesampainya di dapur, suasana sudah tampak sibuk. Uti tengah berkutat dengan kompor dan uap dari panci kukusan. "Uti, ada yang kelaparan nih. Minta nasi telur dadar buatan Kakung," lapor Kakung.
"Cantiknya Uti sudah bangun? Sini duduk di pangkuan Uti," sambut sang nenek hangat.
Uti menepati janjinya; ia sudah mandi air hangat sejak subuh dan sengaja belum memakai minyak kayu putih agar Rara nyaman memeluknya. Rara menurut, ia berpindah ke pangkuan Uti sambil memperhatikan Kakung yang mulai beraksi di depan penggorengan.
"Pak, nasinya didinginkan dulu supaya tidak kepanasan saat disuap," pesan Uti mengingatkan suaminya.
"Nduk, habis ini Uti mau ke pasar. Mau ikut tidak?" tawar Uti mencoba mengakrabkan diri.
"Mau! Nanti beli nugget dino sama pican (pisang) ya, Uti," sahut Rara antusias.
"Rara suka pisang?"
"Cuka! Biasana (biasanya) Bunda beyi (beli) di supelmalket (supermarket)."
Kakung yang tengah mengocok telur berbisik pada Uti, "Maksudnya pisang Cavendish itu, Bu."
Gelak tawa pecah di dapur sederhana berdinding bata ekspos itu. Di sudut luar, tumpukan kayu bakar tertata rapi di samping tungku. Wangi telur dadar yang gurih segera memenuhi ruangan, membuat air liur Rara hampir menetes.
"Ra..." suara Ririn terdengar mencari-cari. Tak lama, ia muncul masih mengenakan mukena, tampak panik karena "tuyulnya" menghilang dari tempat tidur.
"Oalah, ternyata sudah sarapan," goda Ririn melihat pipi Rara yang sudah kembung oleh suapan nasi telur dari Kakung.
"Rin, mau ikut ke pasar? Ibu mau buat acara megengan sore nanti, sekaligus stok bahan makanan," tawar Uti.
"Boleh, Bu. Kita bawa mobil saja supaya muat banyak, biar Mas Reno juga bisa bantu angkut barang."
Satu jam kemudian, rombongan "Bocah Kota" itu tiba di pasar tradisional. Begitu turun, mata Rara membelalak takjub. Sesekali ia menutup hidungnya dengan punggung tangan, beradaptasi dengan aroma khas pasar yang bercampur antara bumbu, ikan asin, dan ayam potong—pemandangan yang kontras dengan supermarket ber-AC yang biasa ia kunjungi.
"Wah... itu apa, Nda?" Rara menunjuk buah raksasa di sebuah kios. Uti berhenti untuk membeli pisang pesanan cucunya.
"Itu buah nangka. Mau coba pegang?" Ririn membimbing tangan mungil Rara menyentuh kulit nangka yang berduri tumpul.
"Au... geyi (geli)... atit (sakit)!" Rara menarik tangannya dengan cepat.
"Baunya harum, kan?"
"Nduk, ini nangka yang sudah dikupas. Mau coba?" tawar sang penjual ramah sembari menunjukkan potongan kuning cerah yang menggoda.
"No no no... tatut (takut)!" Rara justru bersembunyi di balik kaki Bundanya, mencengkeram daster Ririn dengan erat seolah nangka itu bisa menggigit. Tingkahnya sontak mengundang tawa orang-orang di sekitar.
Sembari menunggu para wanita berbelanja, Reno menyempatkan diri melipir ke toko pakan ternak di sebelah kios buah. Mengamati deretan karung pakan, otaknya mulai merancang rencana bisnis sampingan. Melihat lahan Kakung yang luas, ia berpikir bahwa memelihara ayam atau kambing bisa menjadi terapi anti-stres yang ampuh dibanding terus bergelut dengan laporan kantor.
"Yah... Ayah... tolong ini bawa ke mobil dulu," panggil Ririn.
Reno sigap mengangkut belanjaan. Rara yang melihat Ayahnya keberatan membawa kantong plastik besar berteriak sok dewasa, "Ayah! Ati-ati (hati-hati)!" sambil melambaikan tangan.
Reno tertawa lebar. Hari pertama di kampung dimulai dengan sangat produktif, memberikan pengalaman baru yang tak terlupakan bagi Rara di pasar tradisional.
*****
Nama pena: Sweet Moon
Genre: Urban, Komedi, Religi
Platform: Novea
Editorial:
Kehadiran Sweet Moon di platform Novea menawarkan sebuah jeda yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk fiksi urban yang sering kali terburu-buru.
Dalam cuplikan ini, penulis tidak berusaha memaksakan konflik dramatis, melainkan membiarkan kehangatan domestik mengalir secara organik melalui interaksi antar generasi. Kekuatan utamanya terletak pada kemampuan menangkap detail sensorik seperti aroma keringat bayi, uap singkong yang mengepul, hingga tekstur kulit nangka yang berduri, yang membangun atmosfer begitu nyata sehingga pembaca seolah ikut hadir di dapur sederhana tersebut.
Ritme narasi dibangun dengan cerdas melalui hadirnya antara kepolosan bahasa anak-anak dan kedewasaan perspektif orang dewasa. Dialog Rara yang masih cadel, seperti "lapal" untuk lapar atau "supelmalket" untuk supermarket, tidak hanya berfungsi sebagai elemen komedi, tetapi juga menjadi penanda identitas karakter yang kuat tanpa perlu deskripsi berlebihan.
Penulis berhasil menyeimbangkan kelucuan tingkah laku "tuyul mungil" ini dengan respons emosional yang tulus dari Kakung dan Uti, menciptakan dinamika keluarga yang terasa autentik dan jauh dari kesan menggurui atau terlalu manis.
Tema adaptasi budaya disajikan dengan pendekatan yang halus dan tidak menghakimi. Kontras antara kehidupan kota yang steril dengan pasar tradisional yang ramai bukan digambarkan sebagai benturan nilai, melainkan sebagai ruang belajar yang saling melengkapi. Ketegangan halus muncul dari upaya Rara memahami lingkungan barunya, seperti ketakutannya pada buah nangka, yang dikemas dengan ringan namun menyimpan makna lebih dalam tentang bagaimana seorang anak kota berproses menerima realitas baru. Ini menunjukkan kematangan penulis dalam menyajikan isu sosial tanpa menjadi pretensius.
Meskipun demikian, transisi antar adegan terkadang terasa sedikit datar, dan beberapa dialog pendukung bisa dipadatkan lagi untuk menjaga intensitas emosional tetap terjaga. Namun, kekurangan teknis minor ini tidak mengurangi esensi cerita yang justru mengandalkan kesederhanaan. Pilihan kata yang digunakan cenderung umum dan mudah dicerna, namun dirangkai dengan struktur kalimat yang efektif, memungkinkan pembaca dewasa untuk meresapi nuansa nostalgia dan ketenangan batin yang ditawarkan tanpa merasa sedang dibacaakan cerita anak-anak.
Secara keseluruhan, karya ini meninggalkan kesan intelektual yang segar, mengesankan bahwa kebahagiaan sering kali terselip dalam hal-hal kecil yang sering kita abaikan. Sweet Moon berhasil membuktikan bahwa genre komedi-religi tidak harus selalu kaku atau penuh dakwah eksplisit. Ia bisa menjadi refleksi lembut tentang kemanusiaan dan koneksi keluarga. Bagi pembaca yang mencari literatur dengan hati yang tenang dan observasi tajam terhadap kehidupan sehari-hari, novel ini adalah undangan yang layak untuk diterima.
by Nada Maya

Lucu banget kamu Ra
BalasHapusAyo mampir baca ya...
HapusHarus ini mah mampir sini 😘
BalasHapusTerimakasih 🤗
HapusDora versi waras 🤣
BalasHapusDora kearifan lokal nih 😁🫣🤗
HapusPengin nyubit
BalasHapusTolong tidakkkk hehe
HapusSudah baca dan memang seunyu itu si Rara, jadi kita seperti menonton show tunggal bocah kecil yang begitu kaget tapi akhirnya menikmati hidup di desa, sepaket dengan berbagai ulahnya. Lanjut Thor. Salam untuk Rara (dia sebut dirinya Lala krn msh cadel)...
BalasHapus