1. Santri Kepercayaan
Hujan kembali turun sejak dini hari.
Suara tetesannya memantul di atap seng pesantren Al-Hidayah, menyatu dengan lantunan ayat suci yang mengalir dari surau utama. Udara pagi terasa dingin, namun para santri tetap duduk rapi di barisan masing-masing.
Di antara mereka, Alif selalu berada di posisi yang sama barisan tengah, kepala sedikit menunduk, tangan menggenggam mushaf dengan tenang.
Ia bukan santri yang paling pintar.
Bukan pula yang paling menonjol.
Namun hampir semua orang mengenalnya
Alif dikenal sebagai santri pendiam. Jarang bicara, jarang tertawa keras, tetapi selalu patuh. Ia tidak pernah membantah perintah, tidak pernah terlambat salat berjamaah, dan selalu hadir saat namanya dipanggil.
Karena itulah, para ustaz mempercayainya.
“Alif,” panggil Ustaz Rahman setelah pengajian subuh selesai.
“Iya, Ustaz,” jawabnya cepat, berdiri dengan sopan.
“Kamu bantu saya ke kantor sebentar.”
Alif mengangguk tanpa bertanya. Ia segera merapikan sarung dan mengikuti langkah sang ustaz.
Bagi Alif, membantu adalah kewajiban, bukan pilihan.
Di pesantren Al-Hidayah, namanya sering disebut bukan karena pelanggaran, melainkan karena tanggung jawab. Mengantar berkas, membantu dapur, membersihkan ruang belajar, hingga menemani ustaz menerima tamu.
“Kalau butuh apa-apa, panggil saja Alif.”
Kalimat itu kerap terdengar.
Sebagian santri mengaguminya, sebagian lain memandangnya dengan tatapan berbeda antara iri dan tidak suka. Namun Alif tak pernah menanggapi. Ia memilih diam, seolah dunia di sekitarnya hanyalah lalu lalang yang tak perlu disimpan.
Ia hanya menjalankan hari demi hari.
Pesantren menjadi satu-satunya harapan yang ia miliki sejak kedua orang tuanya meninggal. Ia yang hanya memiliki seorang kakak perempuan setelah kepergian orang tuanya. Alif ingin pulang dan tinggal bersama kakak perempuan nya namun kakak nya menolak, Kakaknya ingin alif terus melanjutkan sekolah nya di pesantren. Melanjutkan mimpi kedua orang tua nya agar memiliki anak seorang anak yang bisa menjadi ustadz suatu saat nanti.
Karena itu Alif menurut dan sebisa mungkin berjuang menuntut ilmu di pesantren.
Di kantor pesantren, Alif membantu menyusun berkas sambil mendengarkan nasihat Ustaz Rahman.
“Kamu anak baik, Lif,” ujar ustadz itu pelan. “Jarang sekali santri sepertimu.”
Alif hanya menunduk. “Saya cuma menjalankan apa yang diperintahkan, Ustadz.”
"Bagaimana keadaan kakak mu lif?" Tanya ustadz. "Apa kakak mu sudah datang untuk menjenguk?"
Alif menggelengkan kepalanya pelan. "Belum ustadz."
Ustaz Rahman tersenyum kecil. "Tidak apa, kakak mu mungkin sedang sibuk bekerja. Jadi kamu cukup fokus menuntut ilmu."
Alif tersenyum sendu. "Iya ustadz."
Namun di luar ruangan, beberapa pasang mata memperhatikan mereka.
Bisik-bisik mulai muncul.
Tentang santri yang terlalu dekat dengan ustaz.
Tentang kepercayaan yang dianggap berlebihan.
Tentang kecemburuan yang perlahan berubah menjadi niat buruk.
Alif tidak menyadarinya.
Setelah selesai membantu ustadz untuk merapikan berkas, kini Alif hanya berdiam diri di kamar nya. Sebuah ruangan besar yang di huni 8 orang santri. Tidak ada tempat tidur yang nyaman hanya beralasan kasur lantai yang tipis serta lemari sebagai pembatas dengan santri yang lainnya.
Alif berdiam diri menyandarkan punggungnya pada tembok dingin sembari menunggu waktu untuk masuk kelas saat jam 9 nanti. Masih ada waktu satu jam untuk dia beristirahat di kamar nya dan menyiapkan buku pelajaran.
Membuka lemari yang berada di sebelah nya, mengambil sebuah kotak berukuran sedang.
"Mah pak Alif rindu." Ucap nya sambil bergetar setelah ia mengambil bingkai foto keluarga nya yang terdiri dari orang tua, kakak dan dirinya.
"Teteh belum nengokin Alif disini mah pak, Alif juga belum bisa ngehubungin teteh." Ucap nya, tanpa terasa air mata jatuh di pipinya.
"Bantu jagain teteh disana yah mah pak. Alif janji bakal cepet lulus dan lindungin teteh, Alif janji buat kerja keras demi cita-cita Alif."
"Alif rindu kalian mah, pak, teh." Tangis nya pecah, dadanya terasa sesak.
Menahan rindu untuk seseorang yang tidak akan pernah kembali adalah hal yang paling menyakitkan, karena hati masih ingin bertemu, sementara semesta sudah lebih dulu memisahkan.
Dengan segera Alif menghapus air matanya, Ia tidak ingin tangis nya terdengar oleh teman-temannya. Hanya memeluk sebuah foto dan memejamkan matanya. Penuh harap, penuh rindu, dan sesak.
Jika waktu bisa terulang kembali Alif memilih untuk tetap tinggal bersama orang tuanya. Menghabiskan sisa waktu bersama, membuat beribu-ribu kenangan, sampai semesta benar-benar memisahkan.
Waktu semakin cepat berlalu, kini saat nya Ia kembali melakukan tugas nya sebagai siswa sekaligus santri. Merapikan pakaiannya dan mengambil buku pelajaran nya.
"Assalamualaikum lif." Sapa Ridwan teman satu kamar nya.
"Waalaikumsalam Wan, ayo kita ke kelas." Ajak Alif.
Ridwan mengangguk dan berjalan berdampingan bersama Alif. "Ente baik-baik aja, Lif?"
"Baik atuh Wan. Emang nya kenapa gitu?" Tanya Alif bingung.
Ridwan menggelengkan kepala nya pelan. "Ente kalau ada masalah cerita sama ane lif, jangan di Pendem bahaya."
Alif tersenyum, tangannya merangkul sahabat nya itu. "Ane cuma rindu mamah sama bapak Wan. Rasa nya berat banget di dada."
Ridwan membalas rangkulan Alif. "Yang sabar yah lif, ane paham gimana perasaan ente. Tetap kuat Lif, bertahan demi mamah bapak dan teteh mu."
Alif mengangguk samar.
“Iya, Wan. Ane cuma pengen cepat lulus. Pengen kerja… terus tinggal bareng teteh ane. Ane gak tega, Wan, lihat teteh ane harus banting tulang demi hidup kita berdua.”
“Ane yakin, Lif. Ente sama teteh ente bakal bahagia suatu hari nanti. Sukses dunia akhirat. Selama ente tetap di jalan Allah SWT, insyaallah Allah bakal terus nuntun hidup ente.” ujar Ridwan pelan sambil mengerutkan rangkulannya.
Ridwan adalah sahabat terdekat Alif dari mereka sebelum masuk pesantren. Karena itu Ridwan tahu betul cerita hidup Alif sampai orang tuanya pergi untuk selama-lamanya.
Hanya dukungan dan doa yang selalu Ridwan berikan kepada sahabat nya itu.
Waktu semakin berlalu, kini Alif telas selesai mengikuti kelas nya.
Semenjak kepergian orang tua nya membuat Alif menjadi lebih pendiam dan banyak merenung. Ia tidak banyak bergaul dan hanya memiliki Ridwan sahabat nya untuk sekedar mengobrol singkat.
Hidup nya terasa sepi dan hampa. Kata menyerah sering kali singgah. Namun suara seseorang selalu muncul seolah menjadi pengingat hidup nya.
"Lif, hidup itu bukan perjalanan yang selalu indah. Pasti ada pait manis nya. Tapi tetap selalu temukan alasan kenapa kita harus bertahan. Kalau bapak sudah pergi suatu hari nanti, tolong jadikan mama sebagai alasan untuk Alif bertahan. Dan kalau mama pun sudah pergi menyusul bapak maka jadikan teteh mu sebagai alasan untuk bertahan."
Kata-kata itu yang selalu terngiang di telinganya.
Ia tetap berjalan menunduk di lorong pesantren, menyapa dengan sopan, membantu tanpa diminta, dan memikul tanggung jawab yang semakin besar.
Ia tak tahu bahwa kepatuhan yang membuatnya dipercaya… justru akan menjadi alasan kejatuhannya.
Dan hujan itu...bukan sekadar hujan.
Ia adalah pertanda bahwa hidup Alif akan segera berubah, selamanya.
Nama Pena : Narea Vane
Genre : Urban, Romance
Platform : Max Novel
Editorial:
Buku ini memperlihatkan suara penulis yang cenderung tenang dan terkontrol. Narasi bergerak dengan sikap yang tidak terburu-buru, seolah sengaja memberi ruang bagi pembaca untuk mengenali ritme kehidupan di dalam lingkungan pesantren.
Penulis memilih pendekatan yang sederhana namun sadar arah, memperkenalkan karakter melalui kebiasaan, kepatuhan, dan cara ia menempatkan diri di tengah komunitas.
Dari pilihan ini, terlihat upaya untuk membangun tokoh bukan dari peristiwa besar, melainkan dari disiplin sehari-hari yang perlahan membentuk identitasnya.
Ritme kalimatnya cenderung stabil, dengan dominasi dialog pendek dan deskripsi yang tidak berlebihan. Atmosfer yang muncul terasa sunyi namun padat oleh perasaan yang ditahan.
Tidak ada dramatisasi yang berisik, emosi muncul dalam bentuk yang lebih tertahan,melalui sikap menunduk, percakapan sederhana, atau momen ketika tokoh utama hanya berhadapan dengan kenangan keluarganya.
Cara seperti ini memberi kesan bahwa luka batin tokohnya bukan sesuatu yang perlu diumbar, melainkan sesuatu yang sudah lama dipikul secara diam-diam. Yang menarik adalah bagaimana penulis menanamkan ketegangan secara halus. Konflik belum benar-benar terbuka, tetapi bayangannya sudah terasa melalui perubahan sikap orang-orang di sekitar tokoh utama.
Kepercayaan yang awalnya terlihat sebagai hal positif perlahan memperoleh nuansa yang lebih rumit.
Penulis sepertinya sadar bahwa konflik yang kuat sering kali lahir bukan dari peristiwa besar, tetapi dari dinamika sosial yang perlahan berubah arah. Di balik latar religius yang cukup kuat, buku ini juga menyimpan tema yang lebih universal tentang kesepian, tanggung jawab, dan usaha bertahan setelah kehilangan.
Penulis tidak menjadikannya sebagai ceramah moral, melainkan sebagai bagian dari perjalanan batin seorang remaja yang mencoba tetap teguh dalam dunia yang tidak selalu ramah. Pendekatan ini memberi kesan bahwa cerita tidak hanya ingin bergerak sebagai drama emosional, tetapi juga sebagai refleksi tentang kepercayaan, hubungan manusia, dan harga dari sebuah reputasi.
Sebagai pembuka, buku ini meninggalkan kesan yang cukup tenang namun penuh potensi. Penulis tampaknya lebih tertarik membangun fondasi psikologis karakter sebelum membawa cerita ke arah konflik yang lebih besar.
Bagi pembaca yang menghargai narasi yang sabar, yang memberi ruang pada karakter untuk berkembang tanpa sensasi berlebihan, pembukaan seperti ini memberi alasan yang cukup kuat untuk melanjutkan halaman berikutnya.
by Peniti Kecil

Ceritanya keren dan seru Kak... semangat berkarya.
BalasHapusBerasa nyesek aku bacanya... Keren ka, Lanjut
BalasHapus