Alis, Si Gemerlap Kota Hujan - Narae Vane

Alif, Si Gemerlap Kota Hujan


0

Santri Kepercayaan

Hujan kembali turun sejak dini hari. Suara tetesannya memantul di atap seng pesantren Al Hidayah, menyatu dengan lantunan ayat suci yang mengalir dari surau utama. Udara pagi terasa dingin, namun para santri tetap duduk rapi di barisan masing-masing. Di antara mereka, Alif selalu berada di posisi yang sama, barisan tengah dengan kepala sedikit menunduk dan tangan menggenggam mushaf dengan tenang.

Pemuda itu bukan santri yang paling pintar atau paling menonjol, namun hampir semua orang mengenalnya. Alif dikenal sebagai sosok pendiam yang jarang bicara dan jarang tertawa keras, tetapi selalu patuh. Ia tidak pernah membantah perintah, tidak pernah terlambat salat berjamaah, dan selalu hadir saat namanya dipanggil. Karena itulah, para ustaz sangat mempercayainya.

"Alif," panggil Ustaz Rahman setelah pengajian subuh selesai.

"Iya, Ustaz," jawabnya cepat sembari berdiri dengan sopan.

"Kamu bantu saya ke kantor sebentar."

Alif mengangguk tanpa bertanya. Ia segera merapikan sarung dan mengikuti langkah sang guru. Bagi Alif, membantu adalah kewajiban, bukan pilihan. Di pesantren Al Hidayah, namanya sering disebut bukan karena pelanggaran, melainkan karena tanggung jawab. Ia terbiasa mengantar berkas, membantu dapur, membersihkan ruang belajar, hingga menemani ustaz menerima tamu.

Kalimat kalau butuh apa apa panggil saja Alif kerap terdengar di lingkungan itu. Sebagian santri mengaguminya, namun sebagian lain memandangnya dengan tatapan iri. Alif tak pernah menanggapi hal tersebut. Ia memilih diam, seolah dunia di sekitarnya hanyalah lalu lalang yang tak perlu disimpan dalam hati. Ia hanya menjalankan hari demi hari dengan tekun.

Pesantren menjadi satu-satunya harapan yang ia miliki sejak kedua orang tuanya meninggal. Ia hanya memiliki seorang kakak perempuan setelah kepergian mereka. Sebenarnya Alif ingin pulang dan tinggal bersama sang kakak, namun wanita itu menolak. Kakaknya ingin Alif terus melanjutkan sekolah agar bisa mewujudkan mimpi orang tua mereka menjadi seorang ustaz suatu saat nanti. Karena itu, Alif menurut dan berjuang menuntut ilmu sekuat tenaga.

Di kantor pesantren, Alif membantu menyusun berkas sambil mendengarkan nasihat Ustaz Rahman.

"Kamu anak baik, Lif," ujar sang guru pelan.

 "Jarang sekali santri sepertimu."

Alif hanya menunduk. "Saya cuma menjalankan apa yang diperintahkan, Ustaz."

"Bagaimana keadaan kakakmu? Apa dia sudah datang menjenguk?" tanya Ustaz Rahman lagi.

Alif menggelengkan kepalanya pelan. "Belum Ustaz."

Ustaz Rahman tersenyum kecil. "Tidak apa, mungkin dia sedang sibuk bekerja. Kamu cukup fokus menuntut ilmu."

Alif tersenyum sendu. "Iya Ustaz."

Namun di luar ruangan, beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Bisik-bisik mulai muncul tentang santri yang dianggap terlalu dekat dengan guru. Kepercayaan yang berlebihan itu mulai memicu kecemburuan yang perlahan berubah menjadi niat buruk. Alif sama sekali tidak menyadarinya.

Setelah selesai merapikan berkas, Alif berdiam diri di kamarnya. Sebuah ruangan besar yang dihuni delapan orang. Tidak ada tempat tidur nyaman, hanya beralaskan kasur lantai tipis serta lemari sebagai pembatas. Ia menyandarkan punggung pada tembok dingin sembari menunggu waktu masuk kelas jam sembilan nanti.

Ia membuka lemarinya dan mengambil sebuah kotak berukuran sedang. Di dalamnya ada bingkai foto keluarga.

"Mah, Pak, Alif rindu," ucapnya dengan suara bergetar. "Teteh belum menengok Alif di sini, Alif juga belum bisa menghubunginya. Bantu jaga Teteh di sana ya. Alif janji akan cepat lulus dan melindungi Teteh."

Tangisnya pecah dan dadanya terasa sesak. Menahan rindu pada orang yang tidak akan pernah kembali adalah hal paling menyakitkan. Hati masih ingin bertemu, sementara semesta sudah memisahkan. Alif segera menghapus air matanya agar tidak terdengar teman-temannya. Ia memeluk foto itu dan memejamkan mata dalam penuh harap.

Waktu berlalu, saatnya kembali melakukan tugas sebagai siswa. Ia merapikan pakaian dan mengambil buku pelajaran.

"Assalamualaikum, Lif," sapa Ridwan, teman satu kamarnya.

"Waalaikumsalam, Wan. Ayo ke kelas," ajak Alif.
Ridwan berjalan berdampingan dengannya.

 "Kamu baik-baik saja, Lif?"

"Baik, Wan. Memangnya kenapa?" tanya Alif bingung.

Ridwan menggeleng pelan. "Kalau ada masalah cerita padaku, jangan dipendam sendiri."

Alif tersenyum dan merangkul sahabatnya.

 "Aku cuma rindu mamah sama bapak, Wan. Rasanya berat sekali."

"Yang sabar ya, Lif. Aku paham perasaanmu. Tetap kuat demi mereka dan kakakmu," ujar Ridwan menguatkan.

Alif mengangguk samar. "Iya, Wan. Aku cuma ingin cepat lulus, ingin bekerja, lalu tinggal bersama Teteh. Aku tidak tega melihatnya harus banting tulang sendirian demi hidup kami berdua."

"Aku yakin kalian akan bahagia suatu hari nanti. Selama kamu tetap di jalan Allah, insya Allah kamu akan selalu dituntun," kata Ridwan tulus.

Ridwan adalah sahabat terdekat Alif bahkan sebelum masuk pesantren, sehingga ia tahu betul duka yang dipikul sahabatnya. Setelah kelas selesai, Alif kembali merenung. Hidupnya terasa sepi dan kata menyerah sering singgah, namun pesan ayahnya selalu muncul sebagai pengingat. Sang ayah pernah berpesan bahwa jika orang tua sudah tiada, maka kakak perempuannya adalah alasan utama bagi Alif untuk tetap bertahan hidup.

Kata-kata itu yang selalu terngiang di telinganya. Ia tetap berjalan menunduk di lorong pesantren, menyapa dengan sopan, dan memikul tanggung jawab yang semakin besar. Ia tidak tahu bahwa kepatuhan yang membuatnya dipercaya justru akan menjadi awal kejatuhannya. Hujan itu bukan sekadar hujan, melainkan pertanda bahwa hidup Alif akan segera berubah selamanya.

****

Nama Pena : Narea Vane

Genre : Urban, Romance

Platform : Max Novel

Editorial:

Masuk kedalam cerita ini terasa seperti mendengarkan rintik hujan yang jatuh di atas atap seng, sebuah harmoni alam yang menenangkan namun menyimpan getir yang sunyi. Penulis membangun atmosfer melalui detail sensorik yang sangat membumi. Dinginnya udara pagi di pesantren dan cara tangan Alif menggenggam mushaf dengan tenang menjadi pembuka yang intim. Kita diajak masuk ke dalam ruang privat, seperti sudut kamar yang hanya beralaskan kasur tipis, di mana aroma kerinduan terasa lebih pekat daripada wangi buku pelajaran. Di sini, suasana bukan sekadar latar, melainkan cerminan batin tokoh utamanya yang senyap namun penuh gelombang emosi.

Ritme cerita bergerak dengan keanggunan yang terjaga, terutama dalam memotret keseimbangan antara perspektif kedewasaan yang dipaksakan oleh keadaan dan kenaifan seorang remaja yang berduka. Ada kontras yang halus antara ketegasan figur otoritas seperti Ustaz Rahman dengan rapuhnya Alif saat ia hanya berdua dengan bingkai foto keluarganya. Dinamika ini memperlihatkan bahwa kepatuhan Alif bukanlah sekadar karakter bawaan, melainkan sebuah bentuk pertahanan diri untuk menjaga mimpi orang tua yang telah tiada. Penulis berhasil menangkap momen kecil yang krusial, seperti gerak Alif merapikan sarung sebelum mengikuti gurunya, sebuah detail yang menunjukkan beban tanggung jawab di pundak yang masih muda.

Dialog dalam karya ini berfungsi melampaui sekadar pertukaran informasi. Percakapan antara Alif dan Ridwan terasa sangat alami dan hangat, khas persahabatan di lingkungan asrama yang saling menopang dalam keterbatasan. Ridwan hadir bukan hanya sebagai pelengkap, melainkan sebagai saksi mata atas duka Alif yang disembunyikan dari dunia luar. Melalui interaksi ini, kita melihat perkembangan karakter Alif yang mulanya terlihat pasif dan kaku, ternyata memiliki kedalaman rasa yang sangat manusiawi. Ia bertransformasi dari sekadar santri yang taat menjadi seorang adik yang menyimpan tekad besar untuk melindungi kakak perempuannya.

Ketegangan yang dibangun di sini bersifat sublim, bukan melalui ledakan konflik besar, melainkan melalui bisik-bisik di koridor dan tatapan iri dari rekan-rekan sesama santri. Hal ini menciptakan rasa waspada yang elegan di tengah ketenangan pesantren. Kita merasakan ada ancaman yang tumbuh justru dari sesuatu yang bersifat positif, yaitu kepercayaan. Kedewasaan tema yang diangkat sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, tentang bagaimana seseorang mencoba tetap berdiri tegak di atas puing-puing kehilangan, sembari memenuhi ekspektasi lingkungan yang menganggapnya sebagai sosok tanpa cela.

Meski narasi ini mengalir dengan apik, terdapat sedikit ruang untuk memperdalam eksplorasi psikologis terhadap tokoh-tokoh sampingan agar mereka tidak hanya menjadi bayang-bayang bagi sang tokoh utama. Namun, keterbatasan itu tertutup oleh kemahiran penulis dalam merajut rasa sepi menjadi sebuah keindahan yang kontemplatif. Narea Vane, pencerita yang meniti jejak di platform MaxNovel, tampaknya sangat memahami anatomi rasa dalam genre Urban dan Romance yang ia usung. Kehalusan budi yang dituangkan dalam setiap paragraf menunjukkan bahwa ia adalah penulis yang memahami bahwa kekuatan sebuah cerita sering kali justru terletak pada apa yang tidak terucapkan secara gamblang.

By Caberawit



2 Komentar

Ulasan buku

  1. Ceritanya keren dan seru Kak... semangat berkarya.

    BalasHapus
  2. Berasa nyesek aku bacanya... Keren ka, Lanjut

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama