Terpaksa Menikahi Pasien yang Katanya ODGJ - Caberawit

Terpaksa Menikahi Pasien yang Katanya ODGJ - Caberawit


0

Karina pov

Aku tidak pernah menyangka shift malamku di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sejahtera berubah menjadi kejadian yang memalukan sekaligus aneh.

Semua bermula saat aku mengobservasi seorang pasien titipan bernama Arga Mahendra Pratama. Nama itu terdengar mewah untuk gelang pasien kuning bertuliskan pengawasan ketat.

Dia bukan pasien biasa. Masih muda, tinggi, dan berpenampilan menarik. Katanya ia CEO Pratama Corp yang sukses di bidang teknologi. Namun sekarang, ia mengenakan baju pasien yang kebesaran. Tatapannya terlihat kosong, tetapi bagiku terlalu dibuat buat untuk disebut gangguan mental. Aku mulai curiga, mungkin ia hanya berpura pura demi menghindari masalah hukum.

Aku memutuskan mengujinya.
“Aku akan memberimu suntikan,” kataku, memberi tanda agar ia bersiap.

Padahal yang kusiapkan hanya suntikan ringan, tidak berbahaya. Aku hanya ingin melihat reaksinya.

Ia langsung melotot dan berusaha melepaskan diri dari pegangan dua perawat pria. Namun sebelum jarum menyentuh kulitnya, lampu tiba tiba padam.

Ruangan langsung gelap. Hanya ada cahaya samar dari jendela kecil di dinding. Dua perawat yang tadi membantuku langsung panik dan berlari ke arah pintu. Sayangnya, pintu itu terkunci otomatis saat listrik mati.

Aku mengumpat dalam hati. Kini aku terjebak berdua dengan pasien aneh itu.

Terdengar suara kain bergesek dan bunyi besi berderit. Aku menoleh perlahan ke arah brankar. Tempat Arga tadi terikat kini kosong.

Kosong.

“Dokter,” suara itu terdengar pelan dari balik tirai. “Sekarang kita hanya berdua.”

Aku menelan ludah. Tanganku masih memegang suntikan. Jantungku berdegup cepat.

Arga muncul dari balik tirai. Ia berdiri tegak. Bajunya terlihat tidak rapi, seolah baru saja terlepas. Ia segera membetulkannya dengan gerakan cepat, seperti orang yang sadar sedang dilihat.

Di situlah aku semakin yakin ada yang janggal.

Orang dengan gangguan mental biasanya tidak peduli penampilan. Tapi dia justru terlihat sadar dan menjaga dirinya.

Aku sempat ingin tertawa karena situasinya terasa aneh. Namun tawa itu langsung hilang saat melihat perubahan di wajahnya.

Tatapannya kini tajam. Penuh perhitungan.

Saat itu aku sadar, Arga tidak gila.
Dan ia tahu bahwa aku menyadarinya.

Aku mencoba tetap tenang, meski sulit. Suntikan di tanganku terasa tidak berguna sekarang.

Arga mendekat perlahan. Langkahnya tenang, seperti seseorang yang sudah menguasai situasi.

“Kenapa kamu terlihat takut, Dokter?” tanyanya dengan suara lembut.

“Aku hanya pasien, bukan?” lanjutnya.

Ia berhenti sangat dekat. Nafasku tertahan.

“Apa kamu takut aku akan melakukan sesuatu?” bisiknya.

Suasana menjadi tegang. Ini bukan lagi observasi, melainkan permainan pikiran.

Ia mendekat sedikit lagi, lalu tangannya terangkat. Aku refleks mundur. Namun ia hanya menepuk pipiku pelan, seolah menenangkan.

Ia tertawa pelan.
“Tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal buruk. Tapi kamu hampir menyuntikku tanpa izin.”

Aku kesal. Ia jelas mempermainkanku.

“Jadi, siapa yang sebenarnya tidak waras di sini?” katanya sebelum berbalik dan duduk santai di brankar.

Aku masih berdiri, mencoba mengatur napas. Perasaanku campur aduk antara takut dan marah.

Entah dorongan apa yang muncul, mungkin karena harga diriku tersinggung. Aku mengambil suntikan lain dari saku. Isinya obat penenang dosis sedang.

Tanpa peringatan, aku maju dan langsung menyuntikkannya ke lengan Arga.

Ia terkejut.
“Apa yang kamu lakukan...”

Terlambat. Obat sudah masuk.

Ia cepat bereaksi. Dengan gerakan kasar, ia mencabut jarum dan menangkap pergelangan tanganku. Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke atas brankar.

Sebelum sempat bangkit, ia sudah berada di atasku, menahan kedua tanganku.

Aku sulit bernapas.

Tatapannya kini penuh kemarahan.
“Aku sudah bilang, kamu perlu belajar,” katanya pelan namun tegas.

Aku mencoba tetap tenang.
“Itu hanya obat penenang,” jawabku pelan.

Perlahan ekspresinya berubah. Rahangnya tidak lagi tegang.

Aku menatapnya.
“Kalau kamu memang tidak gila, apa tujuanmu di sini?” tanyaku.

Ia diam sejenak, menatapku dalam. Seolah menilai apakah aku serius.

Lalu ia tersenyum tipis.
“Apa untungnya bagiku kalau aku menjawab?” katanya pelan.

Tatapannya turun sebentar, lalu kembali ke mataku.
“Atau mungkin kita bisa membuat kesepakatan.”

“Kesepakatan?” aku mengangkat alis. “Ini bukan tempat tawar menawar.”

Ia tersenyum kecil.
“Dan aku bukan pasien yang bisa kamu kendalikan. Jadi kita seimbang.”

Ia melonggarkan cengkeramannya, tetapi belum benar benar menjauh.

“Aku ingin tahu tujuanmu,” kataku tegas. “Kamu berpura pura gila di tempat seperti ini. Itu bukan hal biasa.”

Tatapannya berubah. Ada kewaspadaan di sana.

“Kalau kamu cukup cerdas untuk menyadarinya,” katanya perlahan, “maka kamu cukup cerdas untuk menjadi partner.”

“Partner?” aku menatapnya ragu. “Dengan orang yang menyamar di rumah sakit jiwa? Aku butuh alasan yang lebih kuat.”

Ia menyeringai.
“Kamu tidak akan menyesal. Bahkan mungkin malam ini akan jadi lebih menarik.”

Aku menatapnya waspada.
“Maksudmu apa?”

Ia tidak langsung menjawab. Hanya menatapku dengan senyum tipis, seolah menyimpan sesuatu yang belum ingin ia ungkapkan.

*****

Nama pena: Caberawit

Genre: Romance

Platform: KBM

Editorial:

Cerita ini langsung menarik perhatian sejak paragraf pertama. Pembaca langsung diajak masuk ke situasi yang tidak biasa, yaitu shift malam di rumah sakit jiwa. Suasana yang awalnya terasa biasa berubah menjadi tegang dan penuh misteri. Cara Cabe Rawit membuka cerita terasa ringan, tetapi cepat berubah menjadi serius, sehingga membuat pembaca penasaran.

Tokoh utama sebagai dokter menjadi sudut pandang yang tepat. Pembaca bisa merasakan langsung ketegangan yang dialami tokoh tersebut. Perasaan takut, bingung, dan kesal digambarkan dengan cukup jelas. Bahasa yang digunakan juga sederhana, sehingga mudah dipahami tanpa mengurangi emosi dalam cerita.

Tokoh Arga Mahendra Pratama menjadi daya tarik utama dalam cerita ini. Ia digambarkan sebagai sosok yang tidak biasa. Dari awal sudah terlihat bahwa ada sesuatu yang janggal pada dirinya. Penampilannya sebagai pasien tidak sesuai dengan sikap dan cara berpikirnya. Hal ini membuat pembaca ikut curiga dan terus ingin tahu siapa sebenarnya Arga.

Konflik dalam cerita dibangun dengan baik. Awalnya hanya berupa observasi sederhana, tetapi berubah menjadi permainan psikologis antara dokter dan pasien. Ketegangan meningkat secara bertahap, terutama saat listrik padam dan mereka terjebak berdua di ruangan. Momen ini menjadi titik penting yang membuat cerita semakin menarik.

Interaksi antara dokter dan Arga terasa hidup. Dialog yang digunakan tidak berlebihan, tetapi cukup kuat untuk menunjukkan karakter masing-masing. Arga terlihat tenang dan penuh kendali, sementara dokter berusaha tetap profesional meski berada dalam tekanan. Perbedaan ini membuat dinamika cerita terasa seimbang.

Ada juga unsur kejutan yang cukup menarik. Saat Arga terlihat gugup karena bajunya terbuka, suasana yang sebelumnya menegangkan berubah menjadi sedikit lucu. Namun momen itu tidak berlangsung lama, karena ketegangan kembali muncul dengan cepat. Perpaduan antara tegang dan ringan ini membuat cerita tidak terasa monoton.

Bagian ketika dokter akhirnya menyuntik Arga menjadi puncak konflik. Tindakan itu terasa spontan dan didorong oleh emosi. Reaksi Arga yang cepat juga menunjukkan bahwa ia bukan orang biasa. Adegan ini memperkuat kesan bahwa keduanya sedang saling menguji dan tidak ada yang benar-benar lemah.

Ketegangan semakin terasa saat Arga membalas dengan menahan dokter. Situasi ini dibuat cukup intens, tetapi masih dalam batas yang wajar. Pembaca bisa merasakan tekanan yang dialami tokoh utama tanpa harus membaca deskripsi yang berlebihan. Ini menjadi salah satu kelebihan dalam gaya penulisan.

Selain itu, unsur misteri juga mulai terlihat jelas. Pertanyaan tentang alasan Arga berpura-pura menjadi pasien membuat cerita semakin menarik. Dialog tentang kemungkinan kerja sama atau kesepakatan membuka arah baru dalam alur cerita. Hal ini membuat pembaca ingin terus mengikuti kelanjutannya.

Secara keseluruhan, cerita ini memiliki alur yang cepat, konflik yang kuat, dan karakter yang menarik. Gaya bahasa yang sederhana menjadi nilai tambah karena membuat cerita mudah dinikmati. Cabe Rawit menulis genre romance ini dengan tambahan unsur drama dan ketegangan. Gaya penulisannya cenderung sederhana, langsung, dan fokus pada emosi karakter. Cerita yang dibuat sering menghadirkan konflik yang intens dan hubungan antar tokoh yang dinamis.

by Hayyi Ze




1 Komentar

Ulasan buku

  1. Jarang-jarang banget baca novel romance, kayanya cocok buat jadi teman waktu luang, apalagi idenya antimainstream. judulnya udah bikin tertarik buat baca hihi

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama