Bab 23 Darah Pertama di Lembah
Angin di Lembah Angin Selatan berembus tipis, membawa aroma besi yang samar. Bau itu hanya dikenali oleh orang-orang yang akrab dengan pertumpahan darah. Liang Chen berdiri tegak, jemari kanannya masih mencengkeram erat gagang pedang. Di hadapannya, pria berwajah pucat melangkah turun dari beranda kayu dengan tenang, seolah sedang menyambut tamu alih-alih lawan tanding.
"Aku kira kau akan lari lebih jauh," ucap lelaki itu ringan.
"Aku tidak suka dikejar," sahut Liang Chen. "Lebih baik datang sendiri."
Beberapa penduduk lembah mulai menyisip mundur, memberi ruang di tengah tanah lapang. Tidak ada teriakan maupun upaya melerai. Mereka bagaikan penonton yang telah lama menanti sebuah pertunjukan maut.
Pria pucat tersebut mencabut senjatanya. Benar seperti ingatan Liang Chen, bilahnya tipis, panjang, dan berkilau serupa jarum raksasa.
"Aku tidak berniat menghabisimu malam itu," katanya. "Aku hanya ingin memastikan kau layak."
"Layak untuk apa?"
"Untuk tetap hidup."
Kalimat itu berakhir bersamaan dengan pergerakan pertama. Sosok pucat itu melesat maju tanpa aba-aba. Kecepatannya melampaui batas manusia biasa, namun Liang Chen bukanlah pemuda sembarangan. Ia memutar tubuh setengah langkah, membiarkan ujung pedang tipis menyapu udara kosong di samping lehernya. Ujung bilah sempat menyentuh kulit, meninggalkan garis merah tipis yang terasa hangat.
Liang Chen membalas. Senjatanya tidak secepat milik lawan, namun jauh lebih berbobot. Ia tidak mengincar titik vital seperti leher atau jantung, melainkan menargetkan tangan lawan. Benturan tajam antara besi melawan besi pun pecah.
Pria pucat itu tersenyum tipis. "Bagus."
Ia memutar pergelangan tangan, menggeser pedangnya menyusuri bilah milik Liang Chen, lalu menusuk ke bawah dengan sudut yang tidak terduga. Liang Chen melompat mundur, namun ujung pedang lawan tetap merobek paha kirinya. Darah menyembur tipis. Rasa panas menjalar, tetapi ia enggan menoleh ke bawah. Di lembah tersebut, aroma darah kian menyengat. Para penonton bergeser mendekat.
Lawan kembali menyerang bertubi-tubi. Tebasan horizontal, tusukan kilat, hingga ayunan balik dari arah bawah. Setiap gerakan dirancang untuk menguji reaksi. Liang Chen tidak membalas dengan kekuatan penuh, ia memilih bertahan sambil membaca pola serangan. Ia memperhatikan ritme napas, langkah kaki, serta arah bahu lawan sebelum serangan dilepaskan.
Pada terjangan keenam, ia menemukan celah. Saat pria itu menusuk lurus ke dada, Liang Chen memutar raga, menjepit bilah tipis lawan menggunakan bagian belakang pedangnya, lalu menghantamkan lutut ke perut musuh. Benturan keras terjadi. Pria pucat itu mundur setengah langkah, cukup untuk membuka jarak.
Liang Chen tidak menyia-nyiakan waktu. Ia merangsek maju. Tebasan pertamanya sukses mengenai lengan kanan lawan. Kain robek dan darah menyembur lebih deras. Beberapa penonton berseru pelan. Namun, pria pucat itu tidak mengerang kesakitan, ia justru tertawa kecil.
"Ya, seperti ini."
Ia menggenggam pedangnya lebih kuat, membiarkan darah mengalir membasahi lengan. Serangan berikutnya tidak lagi sekadar uji coba, melainkan jauh lebih liar. Pedangnya berubah bak bayangan putih yang sulit ditebak arahnya. Liang Chen terpaksa mundur dua langkah. Ujung bilah tipis kembali menggores pipinya, membuat darah menetes ke dagu.
Lalu, sebuah tusukan menembus bahu kiri Liang Chen. Bilah tipis itu masuk sedalam setengah ruas jari sebelum ditarik paksa. Darah memancar deras. Rasa nyeri datang terlambat, serupa petir yang menyusul kilat. Liang Chen mengerang rendah. Ia sadar jika pertarungan ini dibiarkan berlarut-larut, dirinya akan tumbang akibat kehabisan darah.
Maka, ia mengubah ritme. Alih-alih menghindar, ia justru menerjang. Pedangnya dihantamkan lurus ke depan dengan seluruh beban tubuh. Bukan teknik yang indah atau jurus rumit, hanya kekuatan murni yang diarahkan tepat ke tengah dada lawan. Pria pucat itu berusaha menghindar, namun ia terlambat sepersekian detik.
Bilah pedang Liang Chen menembus sisi rusuknya. Suara daging yang terbelah terdengar jelas. Keduanya mematung sesaat. Raut wajah pria pucat itu berubah, bukan karena rasa takut, melainkan kepuasan yang ganjil.
"Bagus," bisiknya lirih.
Liang Chen menarik senjatanya keluar. Darah mengucur hebat, membasahi tanah kering. Lelaki itu terhuyung lalu jatuh berlutut. Tidak ada seorang pun yang bergerak untuk menolongnya. Ia menatap Liang Chen untuk terakhir kali.
"Sekarang, mereka akan datang," ucapnya lemah sebelum tubuhnya roboh tak bernyawa.
Lembah seketika hening. Liang Chen berdiri terengah-engah dengan darah yang masih menetes dari bahu serta pahanya. Tangannya gemetar akibat kehilangan banyak tenaga. Beberapa orang mulai mendekat, bukan untuk menyerang, melainkan untuk memastikan siapa sosok terkuat yang kini berdiri di tengah mereka.
*****
Nama pena: Restu Agung Nirwana
Genre: Action, Fantasi, Petualangan
Platform: NovelToon
Editorial:
Novel JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA menghadirkan adegan pertarungan yang intens sejak awal. Suasana lembah yang tenang langsung berubah menjadi mencekam dengan aroma darah dan sikap para penduduk yang justru menonton tanpa rasa takut. Hal ini membuat latar cerita terasa unik dan penuh tekanan.
Karakter Liang Chen terlihat sebagai sosok yang tenang dan penuh perhitungan. Ia tidak gegabah dalam menyerang, tetapi memilih membaca gerakan lawan terlebih dahulu. Sikap ini membuatnya tampak cerdas dan berpengalaman dalam bertarung, bukan sekadar mengandalkan kekuatan.
Lawan yang dihadapi juga tidak kalah menarik. Pria berwajah pucat digambarkan memiliki kemampuan luar biasa dengan gaya bertarung cepat dan tajam. Ia bahkan terlihat menikmati pertarungan, sehingga menambah kesan berbahaya dan tidak terduga.
Penulis berhasil menggambarkan adegan duel dengan detail yang jelas namun tetap mudah dipahami. Gerakan pedang, luka yang terjadi, hingga aliran darah digambarkan cukup nyata tanpa terasa berlebihan. Pembaca bisa membayangkan setiap adegan dengan baik.
Ketegangan terus meningkat seiring luka yang diterima kedua tokoh. Liang Chen yang mulai kehabisan darah tetap memaksakan diri untuk bertahan. Keputusan untuk mengubah strategi di akhir pertarungan menjadi momen penting yang menentukan kemenangan.
Bagian akhir cerita ini terasa kuat dengan kalimat terakhir dari lawan yang tewas. Ucapan tersebut memberikan petunjuk bahwa konflik yang lebih besar akan segera datang. Hal ini membuat pembaca semakin penasaran dengan kelanjutan cerita.
Secara keseluruhan, cerita ini berhasil menyajikan aksi yang seru, karakter yang kuat, dan misteri yang menarik. Perpaduan antara pertarungan dan petunjuk cerita membuat novel ini tidak hanya menegangkan, tetapi juga penting untuk perkembangan alur.
Restu Agung Nirwana adalah penulis yang fokus pada genre action, fantasi, dan petualangan. Gaya penulisannya dikenal detail dalam menggambarkan adegan pertarungan serta membangun suasana yang kuat. Melalui novel JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA, ia menghadirkan cerita penuh aksi, strategi, dan misteri yang membuat pembaca terus ingin mengikuti setiap babnya.
by Nada Maya
