Bab 1 Kata adalah Peluru
"Aku tidak pernah menyangka, Nis, kalau kata-kata bisa menjelma peluru." Nina meletakkan cangkir kopinya ke atas meja kaca yang mengkilap. Sisa busa tipis masih menempel di bibir, namun raut wajahnya tampak sangat serius.
"Lihat saja artikelmu. Seribu orang membaca, separuh dari mereka bisa berubah haluan hanya karena susunan kalimatmu," imbuhnya dengan mata yang berbinar.
Annisa berpaling dari laptop. Rambut hitam lurusnya tergerai ke bahu, sedikit berantakan akibat terjaga semalaman. Di layar, naskah berjudul "TAKDIR" masih terbuka. Ia mengerjapkan netra yang lelah, meski ada api kecil yang menyala di sana.
"Aku hanya menulis, Nin. Bukan diriku yang membuat mereka berubah."
"Justru itu." Nina mengangkat alis. "Kau selalu meremehkan potensi dirimu. Padahal tulisanmu itu," ia mengetuk layar perangkat Annisa dengan ujung jemari berhias cincin emas, "sangat tajam. Jauh lebih tajam daripada pedang."
Annisa terkekeh hambar. "Aku bahkan tidak memiliki pedang untuk melunasi biaya kontrakan bulan depan."
Mendengar keluhan itu, Nina memutar bola mata. Bangunan dua lantai yang mereka huni jauh dari kata sempit. Ada ruang tamu luas, sofa empuk, rak buku penuh, hingga dapur modern. Semua itu milik Nina, fasilitas mewah dari ayahnya yang menjabat sebagai CEO. Annisa sadar betul, tanpa sahabatnya ini, ia mungkin masih terjebak di kamar kos pengap dengan dinding terkelupas.
"Kalau kau bicara begitu lagi, aku sumpal mulutmu dengan bantal," sahut Nina berseloroh.
Annisa mendesah berat. "Kau bisa berucap mudah karena kau anak orang berada. Aku?" Ia menepuk dada sendiri. "Hanya anak petani yang tidak sempat memikirkan masa depan karena terlalu sibuk memikirkan makan untuk esok hari."
Hening sejenak. Jam dinding antik berdetik pelan mengisi ruang di antara mereka. Nina bergeser mendekat lalu duduk tepat di samping Annisa.
"Aku paham, Nis. Namun justru itulah alasan aku merasa kagum. Kau sanggup keluar dari lingkaran itu. Lulus S2 dengan predikat cumlaude di usia muda. Sementara aku, meski sudah menempuh S3, aku sadar kau bekerja keras sedangkan aku hanya menumpang fasilitas keluarga," ungkap perempuan yang sama-sama berusia 24 tahun tersebut.
Annisa menunduk. Ada rasa getir yang selalu muncul tiap kali Nina mengungkit latar belakang mereka. "Aku tidak sekuat itu, Nin. Seandainya Ibu tidak..." Ia berhenti mendadak, tenggorokannya terasa tercekat.
Sorot mata Nina melembut. Ia segera meraih tangan Annisa dan menggenggamnya erat. "Aku tahu. Aku berjanji, suatu hari kita akan mengungkap mengapa ibumu pergi begitu cepat. Itu bukan kesalahanmu."
Annisa memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam. Bayangan wajah sang ibu yang ramah namun letih, lalu tiba-tiba terbujur kaku tanpa nyawa, selalu hadir menghantui. Misteri kematian itu masih menggantung, menyisakan luka yang enggan menutup.
"Sudahlah." Ia memaksakan sebuah senyum sambil melepaskan genggaman tangan Nina. "Aku harus mengirim artikel ini dahulu," potongnya seraya bersiap mengunggah tulisan ke portal Warta Independent, tempatnya bekerja sebagai jurnalis resmi yang berpusat di Thamrin, Jakarta.
"Bagus!" Nina tersenyum lebar, kembali pada gayanya yang penuh energi. "Tapi serius, Nis. Jika tulisanmu semakin luas dibaca, kau harus bersiap. Siap disorot, juga siap diserang."
Annisa mengangkat bahu acuh. "Serangan sudah menjadi santapan harian, Nin. Hidupku sejak kecil memang tidak pernah sepi dari gempuran."
Nina tertawa pendek, meski tatapannya menyiratkan kecemasan. Ia tahu perempuan yang sudah dianggap saudara ini tidak sekadar berkias. Annisa benar-benar mengalami pahitnya perjuangan hidup sejak dini.
Tiba-tiba, suara notifikasi email memecah percakapan mereka. Sebuah pesan baru masuk tanpa identitas pengirim yang jelas. Hanya ada satu kalimat singkat yang tertulis di sana:
"Kata-kata adalah peluru. Dan peluru bisa membunuh. Ingat ibumu!"
Keduanya saling melempar pandang dalam ketakutan yang mendalam.
*****
Napen: Shohib Abdillah
Genre: Romansa Urban, Wanita Tangguh, Thriller
Platform: Fizzo
Editorial:
Novel Dendam Pewaris Pena Emas ini langsung menarik perhatian sejak awal. Cerita dibuka dengan percakapan sederhana, tetapi penuh makna tentang kekuatan kata-kata. Pembaca diajak memahami bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan bisa memberi pengaruh besar bahkan berbahaya.
Karakter Annisa digambarkan sebagai sosok pekerja keras dan sederhana. Latar belakangnya sebagai anak petani membuatnya terasa dekat dengan kehidupan nyata. Sementara itu, Nina hadir sebagai sahabat yang ceria, kaya, namun tetap peduli dan tulus. Perbedaan mereka justru menjadi kekuatan dalam cerita.
Penulis berhasil membangun emosi dengan baik, terutama saat membahas masa lalu Annisa dan kematian ibunya yang misterius. Bagian ini terasa menyentuh dan membuat pembaca penasaran. Ada rasa sedih yang disampaikan tanpa berlebihan, sehingga tetap nyaman dibaca.
Dialog antar tokoh terasa hidup dan natural. Percakapan mereka tidak kaku dan mudah dipahami, seperti obrolan sehari-hari. Hal ini membuat pembaca lebih mudah terhubung dengan karakter dan situasi yang ada.
Alur cerita di cerita ini juga tidak terasa lambat. Meski lebih banyak berisi percakapan, tetap ada perkembangan cerita yang jelas. Klimaks kecil di akhir, berupa email misterius, berhasil memberikan kejutan dan meningkatkan rasa penasaran.
Unsur thriller mulai terasa dari pesan anonim tersebut. Kalimat singkat yang mengancam menjadi penutup yang kuat. Pembaca dibuat bertanya-tanya tentang hubungan tulisan Annisa dengan kematian ibunya, serta bahaya apa yang akan datang.
Secara keseluruhan, novel ini berhasil menjadi pembuka yang kuat. Cerita terasa ringan di awal, tetapi menyimpan konflik yang dalam dan menegangkan.
Shohib Abdillah adalah penulis yang mengangkat tema romansa urban dengan sentuhan thriller. Gaya penulisannya sederhana, mudah dipahami, namun tetap mampu membangun emosi dan ketegangan. Melalui novel Dendam Pewaris Pena Emas, ia menghadirkan kisah wanita tangguh yang berjuang menghadapi masa lalu sekaligus ancaman di masa kini.
by Nada Maya
