LEGACY OF THE MONSTER'S BLOOD - Widya Pramesti

LEGACY OF THE MONSTER'S BLOOD - Widya Pramesti


0

LEGACY OF THE MONSTER'S BLOOD

BAB 56 Terperangkap

[TERKUNCI]

.....

...

Pecahan kaca berserakan seperti jebakan mematikan. Cairan pendingin dari tabung yang pecah membentuk genangan tipis yang perlahan mengalir ke arah kaki Kael dan Eren, menyebar seperti darah dingin yang merayap dari tubuh tak dikenal.

Mereka terdiam. Napas tercekat. Mata membelalak, menolak mempercayai apa yang barusan terlihat.

Tubuh itu… tidak menggeliat. Tidak meronta. Tidak membuka mata. Tidak menyeringai seperti monster yang lapar darah.

Ia hanya... diam. Mati.

Dan justru itulah yang membuat semuanya terasa lebih menakutkan.

Kael melangkah pelan, mendekati tubuh remaja yang terkapar. Cairan di lantai membuatnya nyaris terpeleset, tapi ia bertahan, terus maju hingga berdiri hanya satu meter dari sosok tak bernyawa itu.

Tubuh laki-laki muda. Tanpa sehelai kain. Kabel-kabel medis masih menancap di dada dan pelipisnya. Matanya setengah terbuka—kosong, pucat, membeku. Urat-urat di tubuhnya membiru dan keunguan, seperti sisa racun yang belum sempat menguap dari aliran darah.

Kael menunduk. Matanya membelalak.

"Astaga…" desisnya pelan.

Eren melangkah cepat ke sisinya. Dan ketika ia melihat jelas wajah mayat itu—ia langsung menutup mulutnya sendiri, menahan isak dan muntah yang mendesak keluar.

"Kael... Itu... itu Alvin," bisiknya ketakutan. "Astaga... itu dia."

Kael diam. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Alvin. Siswa pertama yang "mati" dalam satu tahun terakhir. Korban yang katanya dibunuh oleh monster. Teman dekat Davin, pemimpin geng 12-B—yang dulu adalah wakil Alvin saat dia masih hidup.

Davin... yang dulu menuduh Kael sebagai pembunuh Alvin. Yang bersumpah pernah melihat Kael berdiri di atas tubuh Alvin, berlumuran darah. Tatapan Kael kosong. Tidak bersalah. Tidak sadar. Tapi juga… tidak manusiawi.

Dan sekarang…

"Kenapa dia ada di sini?" suara Kael serak. "Bukannya... jasadnya sudah diangkut ambulans dan dimakamkan?"

Dia menatap tubuh Alvin lagi. Masih utuh. Tidak membusuk. Tidak hancur. Tapi ada sesuatu yang sangat salah—jahitan kasar membelah sisi lehernya, seolah tubuh itu pernah dibedah... lalu dijahit ulang dengan niat buruk.

"Ambulans..." Kael bergumam, pelan. "Ambulans yang mengambil keempat siswa yang mati... Mungkinkah mereka bagian dari ini? Bekerja sama dengan pihak sekolah... mengangkut ‘mayat’ yang belum mati dan menjadikannya eksperimen?"

Eren menggeleng, wajahnya memucat. "Jadi selama ini mereka memalsukan kematian?" Ia menatap tabung-tabung lain. "Kael... bisa jadi semua ini... sudah dirancang. Monster, laboratorium bawah tanah, perpustakaan tua yang mengarah ke tempat ini—sekolah ini menyembunyikan semuanya."

Ia mulai menghubungkan potongan-potongan aneh dalam ingatannya.

"Kamu benar. Ingat? Kita nggak pernah dengar soal pemakaman keempat siswa itu. Tidak ada pengumuman. Tidak ada peringatan. Tidak ada yang benar-benar melihat peti jenazahnya. Seolah... mereka menghilang begitu saja."

Kael menggertakkan gigi. "Sekolah ini... membangun topeng. Seolah-olah kita sedang belajar. Padahal yang kita jalani adalah eksperimen berjalan."

Eren mendongak. Napasnya memburu. "Dan Mr. Alecto... dia bukan guru biasa. Dari cara dia bersikap... dia bukan cuma pengajar kimia. Aku yakin dia... bagian dari sistem ini."

Kael menoleh ke tabung-tabung lain. Matanya membelalak—ada wajah-wajah lain yang tak asing. Murid-murid dari berbagai kelas. Beberapa siswi. Bahkan... beberapa yang mereka tidak kenali. Semua terendam. Semua terdiam.

"Mereka bukan hanya empat korban. Mereka... jauh lebih banyak," ucap Kael pelan. "Ini lebih besar dari yang kita pikirkan."

Ia berlutut perlahan di sisi tubuh Alvin. Tangannya nyaris menyentuh bahu sahabat lamanya itu, namun berhenti. Ada sesuatu yang mengganjal dalam dadanya. Kemarahan. Kesedihan. Dan pertanyaan yang belum sempat terjawab.

"Kael…" Eren bersuara pelan, lebih lembut dari sebelumnya. "Aku juga ingin minta maaf... Aku sempat percaya tuduhan Davin. Bahkan aku ikut menjauh darimu."

Kael tak menoleh. "Aku tahu, Ren. Aku tahu." Suaranya tenang, tapi nadanya dalam. “l"Tapi aku juga tak bisa membela diri saat itu. Karena… aku memang ada di sana. Berdiri di atas tubuh Alvin. Tapi aku... tidak ingat kenapa. Kenapa bisa ada di sana?"

"Tidak ingat?"

Kael mengangguk. "Seolah… aku dijebak. Atau ada bagian dari diriku yang hilang. Seperti aku bukan aku."

Eren menatap Kael dalam diam. Dalam hatinya, sebuah pertanyaan mendesak keluar.

"Kael… kalau monster itu benar-benar ada di sekolah ini. Dan jika... ada orang biasa yang ternyata bisa berubah jadi monster tanpa mereka sadari… apa yang akan kamu lakukan?"

Kael menoleh cepat. Matanya menyipit. "Kenapa kamu tanya itu?"

Eren menelan ludah. "Cuma... andai terjadi. Misalnya... salah satu dari kita."

Kael menatapnya lebih dalam. Pikirannya melayang ke ingatan kabur—wajahnya sendiri di cermin kamar, setengah berubah. Ingatan samar tentang toilet sekolah. Tentang pertempuran di aula... Tapi semuanya seperti mimpi buruk yang tak bisa ia sentuh.

"Aku... awalnya tidak percaya monster itu nyata," Kael akhirnya menjawab. "Tapi... jika itu terjadi—aku tidak akan membunuh mereka. Karena itu berarti... mereka masih bisa diselamatkan."

Namun sebelum Eren sempat menanggapi—

WAAANNGK!!

Lampu ruangan tiba-tiba berkedip merah. Alarm menyala. Lampu darurat memantul liar di dinding silinder.

Suara sistem terdengar di seluruh penjuru ruangan. Datar. Dingin. Namun kali ini… lebih keras.

"PERINGATAN. Subjek 003-MR gagal bertahan. Tabung pecah. Sistem ketahanan tidak stabil. Risiko kebocoran biologis meningkat."

Kael dan Eren berpaling cepat.

"Kael… kita harus keluar dari sini. Sekarang!" Eren nyaris berteriak.

Tapi suara sistem belum selesai.

"PERINGATAN! Retakan sistemik terdeteksi. Subjek 004-MR hingga 018-MR tidak stabil. Tabung akan mengalami kegagalan berantai."

Dan...

CRAAAKKK!!

Suara retakan kaca terdengar seperti simfoni maut. Satu... dua... lima tabung mulai pecah serentak. Cairan menyembur. Tubuh-tubuh menghempas ke lantai. Sebagian tidak bergerak. Tapi ada yang... mulai meronta.

Kael berteriak, "LARI!!"

Mereka lari secepat mungkin, menyusuri sisi ruangan sambil menghindari pecahan kaca yang beterbangan. Lantai terendam air dingin dan cairan kimia, membuat kaki mereka terpeleset. Kael nyaris jatuh, tapi Eren menariknya.

BRAAAK!!

Satu tubuh terhempas ke dinding di samping mereka, menghantam logam dengan suara retak tulang. Eren berteriak. Tubuh itu... bergerak. Jemarinya mencakar, matanya terbuka—bercahaya merah samar.

"JALAN KELUARNYA DI MANA?!" Kael berteriak panik.

Namun pintu utama—tertutup rapat. Tak bergerak. Tak merespons.

"MODE KUNCI DARURAT DIAKTIFKAN. SEMUA JALUR DISEGEL. PEMURNIAN ZONA AKTIF DALAM 03 MENIT."

Eren terhuyung. "Mereka mau... membunuh kita semua di sini?!"

Kael menoleh cepat. "Ke tengah! Lihat... proyektor hologram itu! Di bawahnya ada sesuatu!"

Mereka melesat ke tengah ruangan, menghindari mayat yang bangkit, tabung yang meledak, dan semburan cairan mendesis. Nafas mereka memburu, tubuh basah dan gemetar.

Namun tepat saat Kael nyaris mencapai proyektor...

CLANKK!

Sesuatu bergerak cepat di bawah lantai—lantai yang dipijak Kael tiba-tiba terbuka seperti perangkap otomatis. Sebuah celah terbentuk di bawah kakinya.

"Kael—!" Eren berteriak.

Terlambat.

Kael terjatuh ke dalam lubang itu dengan suara tumbukan berat, menghilang dari pandangan. Sebelum Eren sempat melompat untuk menyusul, sebuah tabung silinder muncul dari celah yang sama—naik ke atas secara otomatis, menutup celah seperti tak pernah terbuka.

Dan... di dalamnya, Kael.

Terjebak.

Tubuhnya terkurung dalam tabung kaca yang berdiri tegak. Sekilas, bentuknya mirip dengan tabung-tabung sebelumnya—namun desainnya lebih kompleks, lebih padat, dengan garis-garis logam yang mencengkeram kuat seperti kerangka baja.

Eren tertegun. "Kael..."

Kael mengetuk-ngetuk dinding tabung dari dalam. Wajahnya pucat, napasnya berat. Tapi hanya embun dan bekas telapak tangannya yang terlihat dari luar.

Lalu...

Air mulai mengisi tabung.

Perlahan, tapi pasti, dari bawah ke atas. Bening, nyaris tanpa suara—namun justru itu yang paling menakutkan. Dalam beberapa detik, air itu sudah mencapai betis Kael.

"Tidak... Tidak, tidak!" Eren melangkah maju, panik.

Dia mengetuk kaca dari luar. "Kael! KAU DENGAR AKU?!"

Kael menatap balik, wajahnya tegang. Ia menghantam kaca dari dalam, mencoba mencari celah, retakan, apa pun.

Tapi tabung itu tidak bergeming.

Eren mengerahkan seluruh tenaganya, menendang, membenturkan tubuhnya ke sisi tabung. Namun berbeda dengan tabung lain yang pecah dengan mudah, yang satu ini kokoh. Tak bergerak sedikit pun.

Air di dalam tabung sudah mencapai pinggang Kael.

"KAEL!!"

Eren menoleh ke sekitar, mencari sesuatu—apa pun—yang bisa digunakan. Potongan logam, pecahan kaca, batang penyangga. Ia meraih satu dan mencoba mencungkil sisi tabung, mendesak, membanting.

Tak berhasil.

Air terus naik.

Kini hampir sampai ke dada Kael. Dan Kael... mulai tampak sesak. Mulutnya terbuka, tubuhnya gemetar, napasnya pendek.

Eren terhuyung. Kepanikan di wajahnya berubah menjadi ketakutan mentah. Matanya basah. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.

"Kael... Aku akan menyelamatkanmu. Aku janji... kau tidak boleh mati di sini." Suaranya parau, bergetar, nyaris seperti doa yang penuh keputusasaan.

Kael masih berusaha mengetuk, mencoba bertahan... sementara air di dalam tabung itu perlahan menelan tubuhnya—sedikit demi sedikit.

Waktu mereka hampir habis.

...

.....

*****

Nama pena : Widya Pramesti 

Genre : Fantasi. Sci-fi. Monster. Misteri. Thriller. 18+.

Platform : Maxnovel

Editorial:

Ada kendali yang terasa kuat dalam cara penulis menahan diri. Adegan tidak didorong oleh ledakan emosi, melainkan oleh sesuatu yang lebih tenang dan mengendap. Suara penulis tidak berusaha meyakinkan pembaca bahwa situasi ini menakutkan. Ia hanya memperlihatkan detail yang cukup, lalu mundur. Dari situ, ketegangan tumbuh sendiri. Pilihan diksi yang sederhana justru memberi kesan percaya diri, seolah penulis tahu kapan harus berhenti sebelum menjadi berisik.

Ritme kalimat dijaga dengan cermat. Potongan deskripsi yang pendek dan terputus menciptakan napas yang tidak stabil, selaras dengan situasi yang semakin terdesak. Namun sesekali, kalimat memanjang dan melambat, memberi ruang bagi atmosfer untuk meresap. Pergantian ini terasa alami dan tidak dipaksakan. Hasilnya adalah suasana yang dingin, hampir klinis, tanpa kehilangan tekanan emosional yang terus meningkat di bawah permukaan.

Yang paling menonjol adalah bagaimana ketegangan dibangun dari hal yang tidak sepenuhnya dijelaskan. Ada banyak hal yang sengaja dibiarkan menggantung. Bukan untuk membingungkan, melainkan untuk memberi ruang bagi rasa tidak nyaman berkembang. Kematian tidak ditampilkan sebagai puncak horor, melainkan sebagai kondisi yang membingungkan. Ada jarak antara apa yang terlihat dan apa yang dipahami, dan justru di situlah daya tariknya. Pembaca diposisikan untuk merasakan ketidakpastian, bukan sekadar menyaksikan peristiwa.

Meski demikian, masih ada beberapa bagian yang bisa dipadatkan agar intensitasnya tidak melemah. Beberapa penegasan terasa diulang, seolah penulis belum sepenuhnya percaya pada kekuatan adegan yang sudah terbangun. Jika bagian-bagian ini dirapikan, keseluruhan akan terasa lebih tajam. Terlepas dari itu, bab ini meninggalkan kesan yang cukup kuat sebagai karya yang tidak mengejar sensasi, melainkan ketegangan yang bertahan lama di pikiran. Ini jenis tulisan yang tidak meminta perhatian, tetapi perlahan mengikatnya.

by Sweet Moon



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama