BAB 56 Terperangkap
[TERKUNCI]
Pecahan kaca berserakan bak jebakan maut. Cairan pendingin dari tabung yang hancur membentuk genangan tipis, merayap ke arah kaki Kael dan Eren serupa aliran darah dingin. Mereka mematung dengan napas tertahan. Sosok di depan mereka tidak bergerak, tidak meronta, pun tidak menyeringai lapar. Tubuh itu diam dan mati, menciptakan aura yang jauh lebih mencekam.
Kael melangkah hati-hati mendekati raga remaja yang terkapar tersebut. Tubuh laki-laki muda itu polos tanpa busana, dengan kabel medis masih menancap di dada serta pelipis. Matanya setengah terbuka, menatap kosong dan membeku. Urat-urat di kulitnya membiru, sisa racun yang gagal menguap.
"Astaga," desis Kael.
Eren menyusul di sampingnya. Saat melihat wajah itu, ia spontan membekap mulut guna menahan mual. "Kael, itu Alvin," bisiknya gemetar.
Alvin adalah siswa pertama yang dinyatakan tewas setahun lalu. Ia merupakan sahabat Davin, pemimpin geng 12-B yang dahulu menuduh Kael sebagai pembunuhnya. Davin bersumpah melihat Kael berdiri tak manusiawi di atas jasad Alvin yang bersimbah darah.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Kael serak. "Bukannya jasadnya sudah dimakamkan?"
Kondisi Alvin masih utuh, namun ada jahitan kasar di lehernya seolah pernah dibedah dan disatukan kembali secara paksa. Kael bergumam tentang ambulans yang mengangkut para korban. Ia curiga sekolah bekerja sama untuk memalsukan kematian demi eksperimen ilegal.
Eren menggeleng dengan wajah pucat. "Berarti selama ini mereka berbohong. Monster, laboratorium ini, hingga perpustakaan tua, semuanya rancangan sekolah."
Ingatan Eren mulai menyatu. Tak ada pemakaman atau pengumuman resmi bagi para siswa yang hilang. Semuanya lenyap begitu saja. Kael menggertakkan gigi, menyadari sekolah ini hanyalah topeng bagi eksperimen manusia.
"Mr. Alecto pasti terlibat. Dia bukan sekadar guru kimia," tambah Eren.
Kael mengalihkan pandangan ke tabung lain. Di sana berjajar wajah-wajah murid yang mereka kenali maupun tidak, semuanya terendam dalam keheningan. "Ini jauh lebih besar dari dugaan kita," ucap Kael pelan.
Ia berlutut di sisi Alvin. Ada kemarahan dan kesedihan yang menyesakkan dadanya. Eren kemudian bersuara lirih, "Kael, maafkan aku. Aku sempat percaya pada Davin dan menjauhimu."
"Aku tahu, Ren," sahut Kael tenang. "Tapi aku pun tak bisa membela diri karena aku memang ada di sana, meski aku tak ingat mengapa."
Eren menatap Kael dalam. "Kalau monster itu nyata, dan ada orang biasa yang berubah tanpa sadar, apa yang akan kamu lakukan?"
Kael teringat bayangan dirinya yang ganjil di cermin. "Aku tidak akan membunuh mereka. Mereka masih bisa diselamatkan."
Tiba-tiba, lampu ruangan berkedip merah dan alarm memekik nyaring. Suara sistem yang dingin menggema, memperingatkan bahwa Subjek 003-MR gagal bertahan dan risiko kebocoran biologis meningkat.
"Kael, kita harus keluar!" teriak Eren.
Sistem kembali memberi peringatan tentang ketidakstabilan subjek lain. Bunyi retakan kaca terdengar serentak. Belasan tabung pecah, menumpahkan isinya ke lantai. Sebagian tubuh mulai meronta bangkit dengan jemari mencakar dan mata bercahaya merah.
"LARI!" teriak Kael.
Mereka berlari melintasi lantai yang licin oleh cairan kimia. Pintu utama terkunci rapat. Sistem mengumumkan mode penguncian darurat dan proses pembersihan zona akan aktif dalam tiga menit.
"Mereka mau melenyapkan kita?" Eren terhuyung.
Kael menunjuk ke tengah ruangan. "Ke proyektor hologram itu! Ada sesuatu di bawahnya!"
Saat Kael nyaris mencapai tujuan, lantai di bawahnya mendadak terbuka. Ia jatuh terperosok. Sebelum Eren sempat menolong, sebuah tabung silinder muncul dari celah tersebut dan mengunci Kael di dalamnya. Tabung ini jauh lebih kokoh, diperkuat kerangka baja yang tebal.
Kael memukul dinding kaca, wajahnya pucat. Air mulai mengisi tabung dengan cepat dari arah bawah.
"Kael! Kau dengar aku?" Eren menggedor kaca dari luar.
Kael menghantam dinding tabung, namun material itu tidak bergeming. Air sudah mencapai pinggangnya. Eren mencari benda tajam di sekitar untuk mencongkel atau memecahkan kaca, namun usahanya sia-sia. Tabung itu tetap utuh.
Air terus naik hingga mencapai dada Kael. Napas pemuda itu mulai pendek dan memburu. Eren dilanda kepanikan luar biasa, matanya basah oleh air mata.
"Kael, aku akan menyelamatkanmu. Janji, kau tidak boleh mati!" teriak Eren dengan suara parau.
Kael terus mengetuk lemah, mencoba bertahan selagi air perlahan menelan seluruh tubuhnya. Waktu mereka hampir habis di dalam laboratorium maut tersebut.
*****
Nama pena : Widya Pramesti
Genre : Fantasi. Sci-fi. Monster. Misteri. Thriller. 18+.
Platform : Maxnovel
Editorial:
Novel ini menghadirkan suasana yang sangat tegang dan mencekam. Sejak awal, pembaca langsung disuguhkan pemandangan laboratorium yang penuh misteri, dengan pecahan kaca dan cairan kimia yang menambah kesan berbahaya. Nuansa horor dan thriller terasa kuat di setiap adegan.
Penemuan tubuh Alvin menjadi titik emosional yang kuat. Sosok yang seharusnya sudah mati ternyata berada di laboratorium dalam kondisi yang tidak wajar. Hal ini membuat cerita semakin gelap dan penuh tanda tanya, sekaligus memperkuat konflik masa lalu antara Kael, Eren, dan Davin.
Penulis berhasil membangun misteri dengan baik. Perlahan terungkap bahwa sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar justru menyimpan rahasia besar berupa eksperimen ilegal. Fakta ini membuat cerita terasa lebih luas dan kompleks, tidak sekadar tentang monster, tetapi juga konspirasi.
Karakter Kael dan Eren terlihat semakin kuat dalam cerita ini. Hubungan mereka yang sempat renggang mulai membaik, terutama saat Eren meminta maaf. Di tengah situasi berbahaya, sisi kemanusiaan mereka tetap terlihat, membuat pembaca lebih terhubung secara emosional.
Ketegangan meningkat drastis saat alarm berbunyi dan tabung-tabung mulai pecah. Adegan ini ditulis dengan sangat hidup, seolah pembaca ikut berada di dalam laboratorium tersebut. Munculnya subjek eksperimen yang bangkit menambah rasa panik dan membuat alur semakin cepat.
Bagian paling menegangkan adalah ketika Kael terjebak dalam tabung yang mulai terisi air. Situasi ini terasa sangat putus asa dan membuat pembaca ikut cemas. Usaha Eren untuk menyelamatkan Kael menambah drama dan emosi, sekaligus menjadi klimaks yang kuat di kisah ini.
Secara keseluruhan, novel berhasil menggabungkan unsur misteri, aksi, dan emosi dengan sangat baik. Cerita terasa intens, penuh kejutan, dan membuat pembaca ingin segera mengetahui kelanjutannya.
Widya Pramesti adalah penulis yang dikenal dengan karya bergenre fantasi, sci-fi, dan thriller. Gaya penulisannya kuat dalam membangun suasana gelap dan penuh ketegangan. Dalam LEGACY OF THE MONSTER'S BLOOD, ia menghadirkan cerita yang memadukan misteri, eksperimen manusia, dan konflik emosional, sehingga mampu menarik pembaca yang menyukai cerita penuh aksi dan teka-teki.
by Nada Maya
