Pangeran Samudera - Cinta Dua Dunia - Ruby Ng

Pangeran Samudera - Cinta Dua Dunia - Ruby Ng


0

Pangeran Samudera - Cinta Dua Dunia

Langit Laut Selatan bergemuruh. Ombak raksasa beradu seperti dua naga purba yang saling menelan. Cahaya bulan tertelan oleh awan hitam. Sedang petir merah memecah langit menyambar-nyambar. Ujungnya menusuk lautan menyalakan wajah Tyas dan Samudera yang berdiri di atas menara kristal istana Arnawa Daksina.

“Semua penjaga di posisi mereka?” suara Samudera terdengar dalam dan tegas.

“Ya, Tuanku,” jawab prajurit penjaga dengan suara gemetar, karena laut di bawah mereka mulai mendidih.

Tyas menatap horizon. Di sana, garis hitam bergerak cepat di bawah permukaan laut—pasukan Dewi Bhujanga. Ular-ular laut sebesar kapal meliuk-liuk di kedalaman, membawa arus kegelapan. Dari jauh, terdengar nyanyian mantra Ratna, menggema dari kawah Meragni.

“Darahku … menjadi jembatan. Jiwaku … menjadi kunci. Bangkitlah, Dewi Bhujanga — tuan segala bayangan laut!”

Seketika, laut pecah. Dari bawahnya, muncul wujud kolosal: Dewi Bhujanga, siluman ular berkepala dua memakai mahkota bertahtakan permata tourmaline. Matanya menyala hijau, tubuhnya bersisik perak kehitaman. Suara desisnya, menelan gema petir.

“Anak Cahaya … aku mencium darah ibumu dalam tubuhmu. Aku butuh darahmu, darah cahaya dan kegelapan untuk mengembalikan ke wujud asliku.”

Tyas menatap tajam, cahaya biru berpendar di matanya. “Jangan mimpi! Darahmu ada di tubuhku karena takdir, bukan aku yang minta.”

Samudera menghunus trisulanya. Air laut berputar mengelilinginya, membentuk pusaran biru. “Dia Putri Cahaya, dan Arnawa Daksina tidak tunduk pada kegelapan!” ujar Samudera dengan nada dalam dan tegas.

Bhujanga tertawa, gemuruhnya membuat batu karang retak.

“Aku adalah kegelapan itu, Pangeran Laut! Aku yang lahir sebelum cahaya pertama di dunia kalian.”

“Kau yang merusak keseimbangan itu. Dewa telah mengutukmu!”

Seketika, ratusan anak buah Bhujanga menerjang ke arah istana. Prajurit laut Arnawa Dhaksina melawan balik dengan tombak kristal. 

Pertarungan berkobar dengan sengit. Prajurit yang terlatih dan menguasai medan tampak lebih unggul. Air di sekitar mereka berubah menjadi medan perang yang berkilau dengan darah dan cahaya.

Tyas menengadah, tangan kanannya bersinar terang. “Cahaya Jaladhau … bangkitlah!”

Dari arah dasar laut, pilar-pilar sinar biru terang muncul, membentuk perisai raksasa membentengi sekeliling istana. Namun, tak lama kemudian, Bhujanga menghantam dengan ekornya. Perisai itu bergetar hebat.

Samudera menatap Tyas. “Kau tidak bisa menahan ini sendirian!”

Tyas menggigit bibir. “Aku tidak punya pilihan. Kalau perisai ini runtuh, istana akan tenggelam!”

Sesosok bayangan melesat mendekat sambil mengirim kilatan cahaya biru ke arah titik di antara kedua mata Bhujanga. Bayangan itu Tumenggung Arga Purana, ketua Dewan Istana yang mempunyai kesaktiannya tingkat dewa.

Bhujanga menjerit lalu kabur menghindar, Tumenggung Arga Purana mengejarnya, sambil memperingatkan Samudera dan Tyas. 

“Pangeran, Putri, menyingkirlah biarkan dia kuhadapi!”

Samudera dan Tyas menyingkir memberi ruang kepada Tumenggung menghadapi Bhujanga yang cedera. Pertarungan keduanya semakin sengit. 

Dengan liciknya, Bhujanga menyemburkan cahaya racun hitam lalu menghilang. Dengan sigap Tumenggung menghindar. Sayang dia telah kehilangan lawan. 

Air di sekitarnya berwarna hitam pekat menyesakkan. Tumenggung melesat menjauh dari air yang mengandung racun. Dia mengeluarkan kristal suci untuk menawarkan racun. Bhujanga sudah lenyap.

Tiba-tiba, dari arah selatan, muncul sosok yang mereka kenal — Ratna, yang telah menjadi pendeta ular.

Dia berdiri di atas punggung naga hitam sambil bersedekap, rambutnya menari bersama badai, mata berkilat merah lembut.

“Kerajaan Siluman Naga ikut menyerang?” gumam lirih Samudera.

Dia langsung mengheningkan cipta, memberi tahu ibundanya jika Ratu Sharpakencana ikut ambil bagian dalam penyerbuan ini.

“Bunda, utus segera Dimas Matsya Purana ke perbatasan. Perkuat di sana. Eyang Tumenggung sedang menghadapi Bhujanga. Ratna ada di sini, dia datang mengendarai seekor naga.”

“Ibu! Kau—”

“Aku belum mati, Tyas. Berhentilah melawan,” suaranya lembut tapi mengiris. “Kau lahir dengan darahku. Kenapa menentang darahmu sendiri?”

Tyas menahan air mata. “Karena aku tahu apa yang kau lakukan pada ibunda Mayasari … dan ayahku!”

Ratna terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. “Cinta selalu melahirkan pengkhianatan. Aku hanya menuntut keadilan yang pernah dicuri dariku.”

Samudera melangkah ke depan, trisulanya diarahkan ke Ratna.

“Keadilan tak bisa dibangun di atas kebencian.”

Ratna menatapnya dengan tatapan tajam. “Namun cinta tak bisa bertahan di antara dua dunia yang seharusnya saling memusnahkan.”

Tiba-tiba terdengar suara Bhujanga kembali mengguncang laut. “Cukup bicaranya. Saatnya darah yang berbicara.”

Bayangannya meluncur, menghantam perisai istana. Meski hanya bayangan, perisai istana bergetar hebat. Tyas memejamkan mata, cahaya biru menyembur dari tubuhnya, membentuk sayap cahaya di punggungnya.

“Aku bukan lagi anak kecil dari dunia atas. Aku pewaris dua dunia. Malam ini, aku akan menentukan siapa yang bertahan!”

Bhujanga menampakkan diri. Secepat kilat Samudera melompat ke udara, menebas kepala Bhujanga pertama dengan trisula, namun kepala itu tumbuh lagi, kini dengan mata menyala merah.

“Tidak bisa dihancurkan begitu saja?” jerit Tyas.

“Dia tidak bisa mati kecuali tubuhnya dibakar oleh Cahaya Jaladhau dan Laut Hitam yang bersatu!” seru Maharani Rajni dari menara.

Mendengar itu Samudera menatap Tyas. “Kita harus melakukannya bersama!”

Tyas mengangguk, memegang tangannya. “Kalau kita gagal … dunia akan hancur.”

Samudera menatap matanya dalam. “Kalau kita berhasil … dunia mungkin tetap hancur. Tapi aku akan mati bersamamu.”

Mereka berdua melesat tinggi. Tubuh Samudera diselimuti arus hitam berkilau, sedang tubuh Tyas diselimuti sinar biru. 

Dua kekuatan yang seharusnya tak pernah bersatu kini bertabrakan. Kemudian kedua kekuatan saling membelit menjadi satu menciptakan gelombang dahsyat.

Cahaya putih menyilaukan dibayangi cahaya ungu lembut membelah malam. Cahaya melesat menuju Bhujanga yang terkesima. Sedetik kemudian Bhujanga menjerit memilukan. Tubuhnya retak oleh ledakan suci itu. 

Ratna memerhatikan dari balik keremangan kabut hitam sambil tersenyum. 

“Begitulah, anakku. Rasakanlah … kekuatan sejati darahmu.”

Tyas menatapnya dengan mata yang kini berpendar biru dan ungu bersamaan. “Aku tidak butuh restumu, Ibu.”

Kata-kata Tyas menusuk jauh di dalam relung hati murni Ratna sebagi seorang ibu. Hatinya bergetar, jiwa manusianya nelangsa. Dalam sekejap Ratna menjadi seorang ibu seutuhnya. Namun hati iblisnya langsung menindih perasaannya. 

Sesuatu terjadi pada tubuh Ratna, di tengah badai yang ditimbulkan cahaya suci. Tanpa disadari, separuh tubuhnya berubah menjadi tubuh ular hitam bersisik perak keunguan.

***

Kedua sejoli berpelukan sambil menangis. Melepaskan rasa takut kehilangan. Tiba-tiba terdengar geraman seperti perut bumi yang sedang bergolak.

“Pangeran—”

“Shshttt …,” Samudera memberi isyarat untuk diam. Dia menutup mata menajamkan pendengaran. “Arahnya seperti dari arah gerbang utara!”

*****

Nama pena: Ruby Ng

Genre: Romance Fantasy

Platform: Litera

Editorial:

Ada keyakinan yang terasa sejak kalimat pertama pada bab ini di baca, seolah penulis tidak sedang mencoba memikat, melainkan sudah tahu pembacanya akan datang dengan sendirinya. Suara penulis terdengar yakin dan terkontrol, terutama dalam cara ia menempatkan dialog di tengah lanskap yang besar tanpa kehilangan fokus emosional. Tidak semua bagian rapi, beberapa frasa masih terasa berlebih, namun justru di situ tampak keberanian untuk membangun dunia yang padat tanpa terlalu mengencerkan intensitasnya.

Ritme kalimat bergerak seperti ombak yang ditahan, lalu dilepas pada momen yang tepat. Ada kecenderungan repetisi visual dan deskriptif yang bisa dipangkas agar lebih tajam, tetapi atmosfer yang dihasilkan tetap konsisten. Ketegangan tidak dibangun dari ledakan peristiwa semata, melainkan dari apa yang tidak sepenuhnya diucapkan. Hubungan antar tokoh, terutama dalam dialog yang singkat dan terpotong, menyimpan lapisan yang terasa lebih dalam dari sekadar konflik permukaan.

Tema kedewasaan muncul bukan dari kompleksitas plot, tetapi dari cara emosi ditahan. Ada rasa kehilangan, pengkhianatan, dan warisan yang tidak pernah benar-benar selesai dibicarakan. Penulis tidak memaksa pembaca untuk bersimpati, ia hanya membuka ruang bagi pembaca untuk mengamati. Dalam beberapa bagian, pilihan kata masih bisa lebih hemat agar bobot emosinya tidak tercecer, namun arah penyajiannya sudah menunjukkan kontrol yang matang.

Kesan yang tertinggal bukan pada besarnya dunia yang dibangun, melainkan pada ketegangan batin yang terus berdenyut di baliknya. Novel ini tidak berusaha menjadi mudah, dan itu justru menjadi daya tariknya. Ia seperti undangan yang tenang, ditujukan bagi pembaca yang ingin merasakan cerita tanpa harus disuapi. Ada sesuatu yang dijaga, dan karena itu pula, ada alasan untuk terus membuka halaman berikutnya.

by Sweet Moon



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama