JERAT MANIS ISTRI SIRI
[Cuplikan Bab 7-8 — Denial]
Lana melangkah turun, mengambil air wudu untuk menunaikan salat malam. Jika usahanya membuat Rey jatuh ke pelukannya terasa begitu menyesakkan, maka mengadu pada Sang Khalik dengan rayuan doa adalah jalan terakhir yang ia miliki.
Mengenakan mukena berwarna putih lembut yang ia siapkan tadi siang, Lana mulai melantunkan ayat-ayat suci. Suaranya yang merdu mengalun pelan, memecah kesunyian malam di ruang kamarnya. Namun, di tengah kekhusyukannya, tetesan air mata mulai jatuh tak terbendung. Isaknya menjelaskan segalanya dan betapa perih hatinya ditinggalkan begitu saja seperti pelacur oleh suaminya demi Kimmy, tepat setelah badai gairah yang baru saja mereka lalui bersama.
Lana bersujud lama, membiarkan dahinya menyentuh sajadah yang kini basah. Di balik kepura-puraannya yang kuat dan provokatif di depan Kimmy, ada kepingan hati yang hancur karena merasa hanya dijadikan persinggahan nafsu belaka.
"Jika Engkau menuliskan dia untukku, lembutkanlah hatinya. Jika tidak, kuatkanlah aku untuk melepaskannya."
Tepat tengah malam, taksi mengantarnya sampai di depan rumah. Rey membuka pintu dengan kunci yang dibawanya. Ruangan tampak tenang, lampu di ruang utama sudah mati, hanya menyisakan cahaya redup yang menciptakan suasana syahdu. Biasanya ia sendiri, namun kini ada seorang wanita di rumah ini.
Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an dari kamar istrinya "Lana?" batinnya. Suara itu terdengar begitu merdu di telinganya.
Rey mendekat tanpa suara, lalu mendorong sedikit pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Dari celah sempit itu, ia terpaku melihat Lana yang masih mengenakan mukena putih bersih, duduk bersimpuh menghadap kiblat dengan sebuah mushaf di pangkuannya.
Ada kontras yang menghantam batin Rey; wanita yang beberapa jam lalu bergulat dengan gairah dan amarah bersamanya, kini tampak begitu tenang dan suci dalam balutan doa.
Getaran suara Lana saat melantunkan ayat demi ayat membuat langkah Rey tertahan. Ia yang tadinya berniat masuk untuk bersikap dingin, justru terdiam di ambang pintu, merasakan sesal dan kekaguman yang berperang di dalam dadanya.
Rey beringsut mundur, menutup pintu dengan perlahan, lalu masuk ke kamarnya dan melemparkan jaketnya ke sofa.
"Brengsek! Aku harus senang atau justru tidak suka melihatnya berlagak seperti malaikat? Namun, saat sedang gila, dia benar-benar seperti malaikat pencabut nyawa," ucapnya sinis.
Rey mengacak rambutnya frustrasi, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang yang terasa terlalu luas. Bayangan Lana yang bersujud dan suara merdunya saat mengaji terus terngiang, beradu dengan memori keintiman panas yang baru saja mereka lalui. Ia merasa sedang dipermainkan oleh dua sisi kepribadian wanita itu yang sangat kontras.
******
Lana menutup mushafnya dengan tangan gemetar, sisa air mata masih membasahi pipinya. Ia memeluk kitab suci itu erat-erat di dadanya, mencari ketenangan yang tidak bisa ia dapatkan dari Rey maupun rencananya sendiri. Di balik tirai kamar yang tertutup, ia merenung; apakah balas dendam ini benar-benar sebanding dengan harga diri yang ia pertaruhkan setiap malam?
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki di luar kamarnya yang kemudian menghilang di balik pintu kamar sebelah. Ia tahu Rey sudah pulang. Lana menyeka air matanya, mencoba kembali memasang benteng keteguhan yang selama ini ia pakai. Ia tidak boleh terlihat lemah, meski hatinya hancur berkeping-keping.
*****
Rey mengambil kamera dari laci penyimpanan, lalu membuka file-file foto yang baru saja ia ambil beberapa bulan lalu. Ia melangkah keluar menuju teras kamar yang menghadap langsung ke kolam renang mini.
Sambil duduk, ia mulai mengamati foto-foto Lana yang dipotretnya secara diam-diam saat di komunitas hiking, sebulan sebelum penggerebekan Leon, kakak Lana.
Pikirannya berkelana pada Kimmy, gadis sebayanya. Mereka kenal sekitar 4-5 tahun lalu di California saat Coachella. Kimmy cantik, pintar, dan mandiri, sama seperti Lana. Rey tahu Kimmy menyukainya, namun ia tak pernah membalas perasaan itu. Jujur, Rey sempat tertarik, tetapi rasa itu menguap begitu saja. Akhirnya ia merasa hubungan mereka lebih cocok sebatas teman.
Lalu bagaimana dengan Lana? Perkenalan mereka baru sekitar 2-3 bulan lewat acara komunitas hikking. Rey tahu Lana adalah mantan kekasih Roy. Lana tidak terlihat sedang mengincarnya seperti gadis-gadis lain; dia bersikap biasa saja. Itulah mengapa Rey merasa nyaman tanpa harus merasa dikejar.
Namun siapa sangka, justru itu trik Lana. Saat Rey mulai merasa nyaman sebagai teman tanpa rasa curiga, Lana justru menjebaknya.
"Sial! Kalau ingat itu, rasanya ingin kuhajar saja dia. Kalau bukan wanita, sudah habis dari kemarin-kemarin. Mana sekarang jadi istriku, dan aku mengulangi tidur dengannya tadi sore..." geramnya sambil mematikan kamera yang terakhir menampilkan foto Lana sedang tertawa hingga mata ambernya menyempit jadi segaris.
Ingatan malam penjebakan itu memang samar karena ia dalam pengaruh obat perangsang, namun tadi ia melakukannya dengan sadar dan sukarela.
"Sudahlah, aku toh pakai kondom. Sekarang hanya tinggal mengandalkan pembuahan di malam laknat itu. Satu kali, belum tentu dia berpotensi hamil,"
ucapnya sambil tersenyum sendiri. Tanpa ia sadari, kelicikan Lana membocorkan pengaman itu justru merupakan upaya untuk menyemai benih.
*****
Nama pena: Vanilla Ice Creamm
Genre: Romansa Dewasa
Platform: GoodNovel / MegaNovel
Editorial:
Penulis membuka ruang batin tokohnya dengan cara yang tidak tergesa. Ada keberanian untuk menempatkan sisi spiritual dan hasrat dalam satu napas tanpa terasa dibuat sensasional. Suara penulis terdengar mantap saat menggambarkan Lana, bukan sebagai figur yang sepenuhnya rapuh atau sepenuhnya manipulatif, tetapi sebagai seseorang yang berdiri di antara dua dorongan yang saling menegasikan. Di titik ini, kekuatan utama teks terasa pada kemampuannya menjaga jarak emosional, sehingga pembaca tidak digiring untuk menghakimi terlalu cepat.
Ritme kalimat bergerak tenang namun konsisten, terutama pada bagian doa dan kontemplasi yang dibiarkan mengalir lebih panjang. Lalu tiba-tiba dipotong oleh perspektif Rey yang lebih kasar dan terpecah. Peralihan ini menciptakan kontras yang efektif tanpa perlu penjelasan berlebih. Ketegangan tidak dibangun dari konflik terbuka, melainkan dari benturan diam antara citra suci dan ingatan tubuh. Ada sesuatu yang sengaja ditahan di antara dua tokoh ini, dan justru penahanan itulah yang memberi daya tarik tersendiri.
Kedewasaan tema terlihat dari keberanian mengangkat relasi yang tidak bersih secara moral, namun disajikan tanpa glorifikasi. Ada lapisan refleksi yang muncul, terutama ketika Lana mempertanyakan harga diri yang ia pertaruhkan. Sementara itu, sudut pandang Rey memperlihatkan ketidakstabilan batin yang tidak disederhanakan menjadi sekadar kebencian atau ketertarikan. Penulis memberi ruang pada ambiguitas, membuat hubungan ini terasa tidak nyaman namun sulit diabaikan.
Beberapa bagian masih bisa dipadatkan agar intensitasnya lebih terjaga, terutama pada pengulangan emosi yang sudah cukup kuat tanpa perlu ditegaskan ulang. Ada juga pilihan kata yang sesekali terasa terlalu langsung, sehingga sedikit mengurangi kesan halus yang sebenarnya sudah terbentuk. Namun di luar itu, cuplikan ini meninggalkan jejak yang cukup kuat. Ia tidak menawarkan pelarian, melainkan sebuah pengalaman membaca yang menuntut perhatian, dengan janji bahwa konflik di dalamnya lebih dalam dari sekadar permukaan hubungan.
by Sweet Moon
