[Cuplikan Bab]
TOK. TOK. TOK.
Suara ketukan pintu itu seketika membuat langkah Leon terhenti. Ia mengernyitkan dahi. Selama ini tidak pernah ada tamu yang berkunjung. Tidak sudi, batinnya dalam hati.
TOK. TOK.
Pintu kembali diketuk dengan lebih jelas. Tanpa berpikir panjang, Leon berjalan menuju pintu lalu membukanya. Suara engsel pintu yang berderit memecah keheningan.
"Aku tahu kau sudah pulang. Aku melihat sepedamu di luar."
Suara itu sangat akrab di telinganya.
"Bela?" Leon tampak terkejut. Ia pun membuka pintu lebih lebar. "Masuklah. Di luar dingin."
Bela melangkah masuk tanpa ragu sambil menjinjing bungkusan. "Aku membawa makanan. Ibu memasak banyak sekali," ujarnya sembari berjalan menuju meja. "Katanya lebih baik dibagikan."
Perempuan itu mulai menata hidangan di atas meja dengan cekatan. Gerakannya cepat, seolah sedang berusaha menutupi kegelisahan atau rasa canggung yang menyelimuti atmosfer ruangan.
"Tidak perlu repot," ucap Leon.
Bela menggeleng pelan. "Tidak ada yang merasa direpotkan," sahutnya. Tangannya tetap sibuk beraktivitas di atas meja. "Di rumah hanya ada aku dan Ibu. Masakan ini terlalu banyak jika hanya dimakan berdua."
Leon terdiam. Perlahan, ia melangkah mendekat. Satu langkah saja sudah cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa menyempit. Bela menyadari kehadiran pria itu di belakangnya. Bahunya sedikit menegang, namun ia tidak beranjak menjauh.
"Sudah selesai," gumam Bela sambil berbalik setengah badan. "Kalau begitu, aku..."
Kalimatnya terputus. Tangan Leon menahan lengan Bela, memaksanya tetap berdiri di posisi tersebut. Jantung Bela berdegup kencang. Ia membeku di tempat.
"Temani aku makan."
Suara Leon terdengar rendah namun tenang. Tidak ada ekspresi berlebihan di wajah pria itu, tetapi ia juga tidak memberikan ruang bagi Bela untuk menolak. Kini tatapan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Bela bahkan bisa merasakan hangat napas Leon.
"Iya," jawabnya lirih, hampir menyerupai bisikan.
Leon melepaskan genggamannya. Tanpa membuang waktu, Bela kembali berbalik dan mengambil piring. Jemarinya sedikit gemetar saat menyendok nasi. Meski ia berusaha terlihat biasa saja, Leon menyadari perubahan itu. Pria itu tahu bahwa wanita di hadapannya sedang menahan rasa gugup sekuat tenaga.
Leon tetap berdiri di sana, mengamati punggung mungil Bela. Setiap gerakan kecil perempuan itu memperlihatkan kegelisahan yang nyata. Merasa tidak puas hanya dengan berdiri mematung, Leon melangkah lebih dekat hingga jarak mereka hampir habis. Ia kemudian mengangkat tangan dan menyentuh pundak Bela dengan lembut.
Seketika gerakan Bela terhenti. Sendok di tangannya menggantung di udara. Detak jantungnya kian berpacu dan napasnya tertahan. Leon sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya ke samping telinga Bela. Hawa panas napas Leon terasa jelas di tengkuknya.
"Bela, terima kasih sudah mau datang ke rumahku," bisik Leon dengan suara yang sangat lirih.
Suasana mendadak hening. Seolah dunia hanya menyisakan suara detak jantung dan deru napas mereka berdua di dalam rumah itu. Bela masih mematung, tidak bergerak, namun juga tidak mencoba menjauh sedikit pun. Ia menelan ludah dengan susah payah dan tetap diam di tempatnya, seolah sedang menunggu apa yang akan dilakukan Leon selanjutnya.
*****
Nama pena: Silent Wolf
Genre: Harem, Supernatural, Perkotaan, 21+
Platform: Maxnovel
Editorial:
Ada sesuatu yang sangat tenang, sekaligus mengancam, dalam bagaimana Silent Wolf membangun ruang sempit di antara dua manusia dalam naskahnya di Maxnovel. Melalui genre Supernatural Perkotaan, penulis tidak terburu-buru meledakkan konflik besar tetapi ia justru memilih bermain di wilayah mikroskopis emosi. Ketukan pintu yang memecah kesunyian, derit engsel, hingga aroma makanan yang dibawa masuk menjadi jangkar sensorik yang kuat. Kita tidak hanya melihat Leon dan Bela, kita merasakan bagaimana udara di ruangan itu mendadak menjadi padat dan berat hanya karena sebuah kehadiran yang tidak biasa.
Dinamika hubungan dalam fragmen ini dikelola dengan ritme yang sangat sabar. Penulis sangat jeli memotret bahasa tubuh, bagaimana bahu yang menegang atau sendok yang menggantung di udara bisa bercerita jauh lebih banyak daripada paragraf eksplanasi yang panjang. Dialognya pun terasa organik, tidak ada retorika yang dipaksakan. Kalimat-kalimat pendek yang saling dilempar justru berfungsi sebagai topeng untuk menyembunyikan kegelisahan yang meluap. Ada kedewasaan dalam cara penulis membiarkan keheningan mengambil peran utama, menciptakan ketegangan yang merambat perlahan dari lantai hingga ke tengkuk.
Meski narasi ini mengalir dengan luwes, terdapat beberapa pilihan kata pada deskripsi reaksi fisik yang terasa sedikit akrab di telinga, yang jika dieksplorasi lebih dalam, akan membuat prosa ini terasa lebih tajam. Namun, hal itu tidak mengurangi keindahan dari momen-momen sunyi yang dibangun. Silent Wolf berhasil membuktikan bahwa dalam narasi 21+, keintiman yang paling menggetarkan sering kali tidak terletak pada kontak fisik yang eksplisit, melainkan pada jarak beberapa sentimeter di belakang telinga dan bisikan terima kasih yang hampir tidak terdengar. Ini adalah tulisan yang menghargai kecerdasan pembacanya dalam menangkap sinyal-sinyal emosional yang subtil di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota yang keras.
by Caberawit
