Bab 1 Lelaki Pendiam itu Pulang
Aku kembali ke desa ini pada usia tiga puluh satu tahun dengan membawa sebuah koper kecil dan pikiran yang terlampau penuh. Tidak ada penyambutan di batas desa kecuali papan kayu kusam bertuliskan nama kampung yang catnya hampir habis dikikis hujan. Jalan tanah masih serupa dahulu; sempit, berdebu, dan seolah enggan menerima langkahku yang pernah memilih untuk pergi. Desa ini tidak pernah berubah, atau mungkin aku saja yang berharap ada perubahan agar kepulanganku tidak terasa seperti sebuah kekeliruan besar.
Rumah orang tuaku berdiri di ujung gang dengan dinding kayu tua yang warnanya kian memudar. Pintu depan sedikit miring dan engselnya berderit saat aku dorong. Aroma kayu lembap serta sisa asap dapur menyambutku lebih dahulu daripada suara manusia.
Ibu? panggilku pelan. Tidak ada jawaban.
Aku melangkah masuk dan meletakkan koper di dekat kursi panjang. Rumah itu terasa dingin, bukan karena embusan angin, melainkan karena jarak yang sudah lama tercipta di antara kami. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku benar-benar merasa pulang ke sini. Aku duduk menatap foto lama di dinding yang menampilkan sosok ayah, ibu, dan aku saat masih kecil. Wajah kami terlihat utuh di sana, namun tidak dalam kehidupan nyata. Ayah sudah wafat tiga tahun lalu, sementara ibu masih hidup namun seolah berjalan di dunia yang berbeda denganku.
Langkah kaki terdengar dari arah dapur. Kamu pulang? suara ibu terdengar datar tanpa nada terkejut maupun kehangatan. Iya, jawabku singkat. Ibu muncul dengan kain lap di tangan dan rambut yang kini lebih banyak memutih. Beliau menatapku sekilas lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya. Kamu kurusan, tambahnya.
Aku hanya mengangguk karena tidak tahu harus merespons apa. Di antara kami selalu ada ruang hampa yang tidak pernah berhasil aku isi sekeras apa pun aku mencoba. Aku kemudian melangkah ke kamar lamaku. Tempat tidur kayu, jendela kecil, dan dinding penuh bekas paku seakan menungguku di sana. Semuanya seolah berhenti berputar sejak aku pergi.
Aku merebahkan diri sambil menatap langit-langit yang kusam. Aku tidak pulang karena rindu, melainkan karena kota telah menghabiskanku tanpa sisa. Di sana, aku bekerja, bertahan, dan terus berharap. Aku menjalin hubungan, mengalami kegagalan, lalu mencoba lagi. Aku selalu menjadi pria yang cukup namun tidak pernah dipilih sepenuhnya. Selalu ada alasan mengapa aku tidak dicintai sebagaimana harapanku. Aku dianggap terlalu pendiam, terlalu dingin, atau terlalu sulit dimengerti, padahal aku hanya ingin dicintai tanpa harus menjadi orang lain.
Sore harinya aku keluar rumah menyusuri jalan desa. Beberapa orang menoleh dan sebagian berpura-pura tidak melihat, namun bisik-bisik kecil tetap mengikuti langkahku. Desa kecil memang tidak pernah pandai menyimpan rahasia. Aku berhenti di warung dekat lapangan untuk memesan kopi hitam. Pemilik warung menatapku lama sebelum tersenyum tipis. Lama tidak kelihatan, sapanya. Iya, sahutku pendek. Jawaban singkat itu bukan karena aku sombong, melainkan karena kata-kata sering kali gagal mewakili isi kepalaku.
Saat aku menyeruput kopi, seseorang berdiri di seberang jalan. Aku mengenalnya bahkan sebelum perempuan itu menoleh. Cara berdirinya dan jeda napas yang ragu-ragu itu masih sangat akrab di ingatanku. Ketika mata kami bertemu, dadaku terasa sesak. Ia tersenyum kecil, sebuah senyuman yang menyimpan banyak kenangan lama.
Kamu pulang, katanya. Iya, jawabku kembali singkat.
Kami berdiri berhadapan dengan rasa canggung layaknya dua orang asing yang pernah sangat dekat. Aku ingin bertanya banyak hal tentang hidupnya, namun lidahku mendadak kelu. Aku kira kamu tidak akan kembali, ujar perempuan itu pelan. Aku juga, sahutku. Ia tertawa kecil lalu terdiam dengan tatapan yang menyiratkan sesuatu yang belum selesai. Kamu tinggal lama? tanyanya lagi. Tidak tahu, jawabku jujur. Aku memang datang tanpa rencana. Aku hanya tahu bahwa aku lelah terus menjadi pria yang tidak pernah diinginkan.
Kami berpisah dengan kalimat basa-basi, namun langkah kakiku terasa lebih berat setelahnya. Pertemuan singkat itu membuka kembali pintu yang seharusnya tertutup rapat. Malam turun perlahan dan desa menjadi sunyi, namun tidak pernah benar-benar diam. Dari balik dinding kayu, aku bisa mendengar suara jangkrik dan pikiranku sendiri.
Aku duduk di ranjang menatap layar ponsel yang gelap. Tidak ada pesan masuk dan tidak ada yang mencariku. Aku menyadari satu hal malam itu; aku bukan pulang untuk mencari rumah, melainkan karena ingin seseorang akhirnya memilihku, meski aku belum tahu siapa dan dengan cara apa.
Ibu sudah masuk kamar tanpa banyak bicara. Aku mematikan lampu kamar dan menyisakan cahaya dari jendela yang menghadap ke halaman belakang. Angin menggerakkan daun pisang, menimbulkan suara gesekan yang pelan. Di desa ini, sunyi justru terasa lebih jujur sekaligus lebih kejam. Aku sempat membuka kontak lama di ponselku, namun segera menutupnya kembali. Aku selalu seperti ini; ingin mendekat namun takut ditolak, ingin dicintai namun terlalu takut terlihat membutuhkan.
Aku menunduk dan mengusap wajahku sendiri. Tak ada yang tahu betapa melelahkannya hidup tanpa pernah merasa benar-benar diinginkan. Aku ingat kalimat yang sering kudengar dahulu bahwa aku adalah orang baik, namun bukan yang dicari. Kalimat itu tetap saja menyisakan lubang meski diucapkan dengan nada lembut.
Aku berdiri dan membuka jendela sedikit. Udara malam yang dingin membawa aroma tanah basah. Di kejauhan, lampu rumah tampak redup. Semua orang seolah punya tempat untuk kembali atau seseorang yang menunggu. Aku hanya ingin dicintai, gumamku lirih. Kepulanganku bukan sekadar pelarian. Aku berharap segalanya akan berubah di sini atau setidaknya aku bisa jujur pada diri sendiri. Di balik sunyi desa ini, aku merasa sesuatu sedang menungguku, entah itu penyembuhan atau justru luka yang lebih dalam. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi ingin lari dari perasaan itu.
*****
Nama Pena: rentangwaktu
Genre: Perkotaan, Slice of life, 21+
Platform: Maxnovel
Editorial:
Pembukaan novel ini langsung menyapa pembaca dengan suasana yang sunyi dan penuh perenungan. Tokoh utama, seorang pria berusia tiga puluh satu tahun, pulang ke desa asalnya bukan karena rindu, melainkan karena lelah menghadapi kehidupan kota yang menguras tenaga dan perasaan. Penulis berhasil menggambarkan kontras antara hiruk-pikuk kota dan ketenangan desa yang justru terasa lebih jujur. Kehadiran papan nama kampung yang lusuh, jalan tanah berdebu, dan rumah kayu tua menciptakan latar yang kuat dan mudah dibayangkan.
Gaya penulisan yang digunakan sangat mengalir dan tidak berbelit-belit. Kalimat-kalimatnya pendek namun padat makna, cocok untuk genre slice of life yang mengutamakan kedalaman emosi daripada aksi yang dramatis. Nuansa perkotaan yang lelah dan pedesaan yang tenang saling bertemu, menciptakan ruang bagi tokoh utama untuk bernapas dan melihat kembali hidupnya. Pembaca diajak masuk ke dalam kepala sang protagonis, merasakan setiap keraguan dan keinginannya untuk diterima apa adanya.
Tema utama yang diangkat adalah kerinduan akan cinta dan pengakuan. Tokoh utama digambarkan sebagai pria pendiam yang sering dianggap dingin, padahal ia hanya ingin dicintai tanpa harus mengubah jati dirinya. Penulis menyentuh sisi manusiawi yang universal, rasa lelah menjadi "cukup" tapi tidak pernah "dipilih", serta ketakutan untuk menunjukkan kebutuhan akan kasih sayang. Karakter ini terasa sangat nyata, mewakili banyak orang yang pernah merasa tersesat di tengah harapan dan kenyataan.
Alur novel ini bergerak pelan namun penuh ketegangan emosional. Interaksi singkat dengan ibu yang datar, obrolan basa-basi di warung, hingga pertemuan canggung dengan perempuan dari masa lalu, semuanya ditulis dengan detail yang halus. Setiap momen menjadi cermin bagi pergulatan batin sang tokoh. Penulis tidak memaksa cerita menjadi dramatis, melainkan membiarkan keheningan dan suara desa berbicara lebih keras, membuat pembaca ikut merasakan beban yang dibawa sang protagonis.
Dengan label 21+, novel ini memang menyasar pembaca dewasa yang siap menyelami tema kematangan emosional dan realita hubungan. Tidak ada romantisme yang dipaksakan, hanya kejujuran tentang luka masa lalu, kegagalan cinta, dan pencarian jati diri. Cerita ini cocok bagi mereka yang menyukai bacaan reflektif, yang lebih mengutamakan kedalaman psikologis tokoh daripada plot yang penuh kejutan. Suasananya matang, intim, dan sangat personal.
Ditulis oleh "Rentangwaktu", seorang penulis yang aktif di platform Maxnovel, Aku Lelaki, Aku Ingin Dicintai menawarkan pendekatan bercerita yang jujur dan minim klise. Rentangwaktu mahir merangkai kata-kata sederhana menjadi narasi yang menyentuh, cocok untuk pembaca yang mencari karya populer bernuansa dewasa dan kontemplatif. Jika Anda menyukai cerita tentang perjalanan pulang, baik secara fisik maupun emosional, novel ini layak untuk diikuti perkembangannya di Maxnovel.
by Nada Maya

Kadang di balik tubuh tegap, kekar bahkan berotot, tersimpan segumpal daging yang melankolis...
BalasHapusSlowburn tp terasa agak berat buatku.. Nice 👍🏾
BalasHapus