Bab 10
“Udah puas ngeliatin kakak aku?”
Suara sinis itu membuat Ibra menoleh.
Di depan teras rumah, Dimas berdiri dengan tatapan sengit. Tinggi badannya hampir sama dengan Ibra, hanya saja wajahnya masih tampak seperti bocah—tapi sorot matanya? Tajam, penuh ancaman.
Ibra malah tersenyum santai, seolah pertanyaan itu cuma candaan.
“Cukup puas.”
Dimas mendengus.
“Cih. Berani banget kamu bang naksir Ka Ella.”
Ibra pura-pura terkejut. Ia melipat tangan di dada, mencondongkan wajah sedikit, seperti ingin memastikan sejauh mana bocah di depannya tahu.
“Siapa yang naksir kakak kamu?” tanyanya, sok polos.
Senyum Ibra itu… menyebalkan.
Bikin Dimas ingin menonjok, tapi dia tahan.
“Bang Ibra jangan pura-pura. Aku liat sendiri tadi!”
Ibra mengangkat bahu, tak peduli.
Lalu, dengan percaya diri yang bikin darah naik, ia berkata pelan tapi jelas:
“Abang nggak naksir sama kakak kamu… tapi Ella memang akan jadi jodoh abang. Liat aja nanti.”
Dimas melotot.
Sumpah, kalau ini bukan tetangga, udah dia usir.
“Mimpi terus sana, Bang. Kak Ella udah bilang dia nggak akan mau sama kamu!”
Ibra hanya tertawa kecil.
Enteng. Seolah penolakan Ella bukan masalah besar.
“Udah, nggak usah seram gitu mukanya.” Ibra merangkul bahu Dimas tiba-tiba. “Ayo temenin abang belanja. Nanti abang traktir.”
Dimas menatap tangan Ibra yang merangkulnya.
Dia nyaris menepis… tapi kemudian senyum nakal muncul di sudut bibirnya.
"Kalau Ibra mau traktir, ya kenapa nggak?
Lumayan buat balas dendam Kak Ella."
Dimas ikut berjalan ke mart kecil yang tak jauh dari rumah. Sepanjang jalan, dia sengaja berjalan di belakang Ibra, sambil menahan tawa dalam hati.
‘Kak Ella… aku bakal balasin dendammu. Tunggu aja.’
Di mart, Dimas mengambil keranjang belanja sendiri.
Ibra membiarkannya.
Dan tanpa dosa… Dimas mulai memasukkan barang satu per satu. Camilan, minuman, makanan instan, bahkan barang yang sebenarnya nggak penting—pokoknya keranjang harus terlihat penuh.
Sementara Ibra?
Cuma ambil beberapa camilan kesukaannya dan satu gel rambut.
Begitu melihat keranjang Dimas yang hampir meledak, Ibra mengangkat alis.
“Kamu mau isi warung ibu kamu dengan belanjaan kamu?”
Dimas menjawab enteng, tanpa rasa bersalah.
“Aku udah belanja. Makasih Bang Ibra.”
Dimas menatap Ibra dengan wajah polos yang dibuat-buat. “Ini persediaan nanti malam mau nonton bola.”
Ibra hanya menghela napas pelan, lalu melangkah ke kasir.
Kasir menghitung belanjaan mereka cukup lama.
Sampai akhirnya…
“Totalnya tujuh ratus delapan puluh sembilan ribu rupiah.”
Mbak kasir tersenyum profesional. “Bayarnya cash atau debit?”
Ibra tetap santai.
“Debit, Mbak.”
Dimas menahan tawa.
Dalam hati dia bersorak, puas bukan main.
Begitu keluar dari mart, Dimas memeluk kantong belanjaan seperti anak kecil yang baru menang lomba.
“Karena kamu udah malakin abang…” Ibra berjalan di sampingnya, suaranya datar tapi mengandung ancaman halus. “Malam ini kita nonton bola bareng di rumah abang.”
Dimas langsung menggeleng.
“Nggak bisa. Aku mau nobar di lapangan bareng anak-anak. Kalo nonton cuma di rumah Bang Ibra nggak seru.”
Ibra mengangguk.
“Oke.”
Dimas melirik sebentar, lalu berkata dengan nada lebih santai:
“Kalo mau ikut nobar, ikut aja.”
Ibra tersenyum tipis.
“Nanti abang dateng.”
Dimas tidak tahu…
kalau ternyata Ibra bukan cuma sedang cari teman nobar.
Ibra sedang mencari cara…
buat menaklukkan Ella.
Dan mungkin… juga menaklukkan pawangnya.
*****
Author: Matcha Motchi
Genre: Romansa, Teenlit
Platform: KBM
Editorial:
Novel karya Matcha Motchi ini menghadirkan suasana ringan, lucu, dan penuh chemistry antartokoh yang terasa menghibur sejak awal. Pembaca langsung bisa merasakan dinamika yang seru antara Ibra, Ella, dan Dimas. Ceritanya sederhana, tetapi justru itulah yang membuat novel ini terasa dekat dengan kehidupan remaja sehari-hari. Dialog-dialognya terasa natural dan mudah dibayangkan seolah pembaca sedang melihat kejadian itu secara langsung.
Karakter Ibra menjadi daya tarik utama dalam bab ini. Dia digambarkan sebagai cowok yang santai, percaya diri, dan sulit ditebak. Meskipun jelas menyukai Ella, dia tetap berbicara dengan santai dan penuh percaya diri di depan Dimas. Sikapnya yang tidak mudah tersinggung membuat karakternya terasa menarik. Pembaca bisa melihat bahwa Ibra bukan tipe tokoh laki-laki yang terlalu serius atau penuh drama berlebihan. Justru gaya santainya itulah yang membuat interaksi dalam cerita terasa hidup dan menghibur.
Di sisi lain, Dimas menjadi karakter pendukung yang sangat mencuri perhatian. Walaupun masih terlihat seperti bocah, dia punya sifat protektif terhadap kakaknya. Cara Dimas menghadapi Ibra terasa lucu sekaligus gemas. Dia ingin terlihat galak dan mengintimidasi, tetapi sering kali malah kalah oleh sikap santai Ibra. Hubungan mereka dipenuhi adu mulut ringan yang membuat suasana cerita menjadi lebih segar. Pembaca juga bisa melihat kalau sebenarnya Dimas tidak benar-benar membenci Ibra.
Adegan ketika mereka pergi ke minimarket menjadi salah satu bagian paling menghibur dalam bab ini. Tingkah Dimas yang sengaja memasukkan banyak barang ke keranjang untuk “balas dendam” terasa sangat khas remaja. Hal sederhana seperti belanja camilan pun bisa dibuat menjadi adegan yang lucu karena dialog dan ekspresi karakternya ditulis dengan baik. Pembaca pasti akan tersenyum melihat bagaimana Dimas diam-diam puas berhasil “memalak” Ibra.
Sementara itu, sikap Ibra yang tetap santai meski tagihan belanja hampir mencapai delapan ratus ribu rupiah semakin memperlihatkan kepribadiannya. Dia tidak marah atau kesal. Sebaliknya, dia malah punya rencana lain untuk mendekati Ella melalui Dimas. Dari sini pembaca bisa melihat bahwa Ibra sebenarnya cukup pintar mencari jalan untuk mendekati orang yang disukainya. Cara pendekatan seperti ini terasa ringan dan tidak memaksa sehingga membuat cerita nyaman dibaca.
Gaya penulisan Matcha Motchi juga menjadi salah satu kekuatan utama cerita ini. Bahasa yang digunakan sederhana dan sangat mudah dipahami. Dialognya mengalir alami seperti percakapan remaja sehari-hari. Penulis juga pintar menyisipkan humor kecil dalam percakapan tanpa terasa dipaksakan. Hal ini membuat pembaca tidak cepat bosan meskipun ceritanya lebih banyak berisi interaksi antartokoh dibanding konflik besar.
Nuansa romansa dalam cerita ini juga terasa manis dan ringan. Tidak ada adegan yang terlalu berlebihan atau terlalu dramatis. Semua dibangun perlahan melalui interaksi sederhana. Justru hal-hal kecil seperti saling menggoda, bercanda, dan diam-diam memperhatikan menjadi daya tarik tersendiri. Pembaca yang menyukai cerita romansa remaja pasti akan menikmati perkembangan hubungan antar karakternya.
Selain lucu dan romantis, cerita ini juga punya suasana hangat tentang hubungan keluarga. Dimas sangat melindungi Ella, dan itu membuat hubungan kakak-adik mereka terasa realistis. Banyak pembaca mungkin akan merasa hubungan mereka mirip dengan kehidupan sehari-hari. Sikap jahil Dimas juga sebenarnya menunjukkan rasa sayangnya pada sang kakak. Hal-hal seperti ini membuat cerita terasa lebih hidup dan dekat dengan pembaca.
Secara keseluruhan, novel karya Matcha Motchi ini sangat cocok untuk pembaca yang mencari cerita ringan, lucu, dan penuh interaksi menggemaskan. Karakter-karakternya terasa hidup, dialognya natural, dan suasananya hangat. Meski konfliknya sederhana, cerita tetap mampu membuat pembaca tertawa dan ikut terbawa suasana. Buku ini berhasil menunjukkan bahwa kisah romansa remaja tidak selalu harus penuh drama besar untuk bisa terasa menarik dan menghibur.
by Hayyi Ze

Sebuah potongan cerita slice of life yang ringan namun menyimpan intrik romansa. Dialog antara Dimas dan Ibra terasa sangat hidup dan relatable dengan keseharian kita.
BalasHapusKeren untuk usia remaja dan usia sekolah related bngt
BalasHapusCocok buat yg suka lite reading
BalasHapus