Bab 1 Evolusi Sihir
"Ris, lo masih mau latihan?"
"Pulang bareng aja," jawab Aris lesu.
"Kirain anak timnas basket latihannya dobel," ejek Gery.
Aris mendengus. "Capek juga, gue. Besok tanding."
Sandy tertawa kecil. Mereka bertiga berjalan keluar dari gedung olahraga saat sore mulai redup. Angin hangat berembus pelan, tetapi langkah Aris mendadak terhenti.
"Lo ngerasa nggak?" gumamnya.
"Ngerasa apa?" tanya Sandy.
"Sunyi banget."
Gery belum sempat menjawab ketika suara jalanan mendadak lenyap. Angin berhenti. Dunia seperti membeku.
Lalu langit berubah.
Butiran cahaya turun perlahan seperti salju bercahaya. Orang-orang keluar rumah, terpukau melihat kilau aneh itu. Anak-anak berlarian sambil tertawa, sementara sebagian orang merekam langit dengan ponsel.
Namun beberapa lainnya justru ketakutan. Ada yang buru-buru masuk rumah, ada pula yang memilih menjauh.
"Gila… kayak salju," gumam Sandy.
Gery menadahkan tangan. "Dingin, tapi enak."
Beberapa detik kemudian, seorang pria roboh ke aspal.
Jeritan langsung pecah di mana-mana.
Satu orang tumbang, lalu disusul yang lain. Kepanikan menyebar cepat. Orang-orang saling dorong untuk menyelamatkan diri.
"Gery!" teriak Aris.
Tubuh Gery limbung lalu jatuh tak sadarkan diri.
Aris dan Sandy berusaha menyeret korban ke pinggir jalan, tetapi satu per satu orang yang membantu justru ikut roboh.
"Kenapa ini?" suara Aris bergetar.
Tak lama kemudian Sandy ikut tumbang.
Dalam hitungan menit, jalan dipenuhi tubuh tak bergerak. Kini hanya Aris yang masih berdiri dengan napas memburu.
Hujan cahaya akhirnya berhenti, tetapi sesuatu meledak di dalam tubuhnya.
Rasa sakit itu brutal. Seolah tulangnya dihancurkan lalu dipasang kembali secara paksa. Aris menjerit keras sambil berlutut di aspal.
"AAAAH!"
Cahaya merah merayap di bawah kulitnya, mengikuti aliran darah. Napasnya terasa membakar.
"Berhenti… tolong…"
Tubuhnya gemetar hebat sampai ia yakin akan mati.
Namun perlahan rasa sakit itu surut.
Aris terbaring lemah sambil menatap tangannya. Di telapak tangannya muncul simbol bercahaya yang bergerak seperti tinta hidup.
"Ini halusinasi…"
Ia mencoba menghapusnya, tetapi gagal.
Saat meraih tas di dekat Gery, tas itu justru melayang sendiri ke arahnya.
Aris mundur panik.
"Gue gila…"
Ia menatap sekitar dengan cemas, takut ada yang melihat. Namun saat mencoba memindahkan tubuh orang-orang pingsan, semuanya terasa terlalu ringan.
"Kalau gue bisa ngelakuin ini… gue bisa nyakitin orang."
Ketakutan menghantam pikirannya.
"Sihir?" bisiknya lirih. "Nggak mungkin."
Tetapi tubuhnya tak berhenti bereaksi. Saat memikirkan api, panas muncul di ujung jarinya. Ketika membayangkan angin, udara di sekitarnya bergetar.
Aris terduduk lemas.
Ini bukan keajaiban baginya, melainkan ancaman.
"Ini salah…"
Simbol di telapak tangannya bersinar makin terang.
"Apa pun ini, jangan bikin gue jadi monster."
---
Rumah sakit penuh sesak.
Pasien memenuhi koridor, kursi roda, hingga tandu darurat. Tangisan dan teriakan bercampur dengan suara tenaga medis yang kewalahan.
Aris berdiri di dekat Sandy dan Gery yang masih belum sadar. Tangannya terus gemetar di dalam saku jaket.
Televisi di ruang tunggu menayangkan berita yang sama.
"Fenomena Hujan Cahaya Misterius Melanda Seluruh Dunia!"
Aris menelan ludah.
Jadi bukan cuma di sini.
Namun bukannya lega, ia justru semakin takut. Jika semua orang mengalami perubahan, dunia akan jadi seperti apa?
Tak lama kemudian beberapa pasien mulai sadar tanpa bantuan medis.
Gery membuka mata sambil mengerang.
"Ger?" suara Aris melemah.
"Pusing banget…" gumam Gery.
Sandy juga sadar beberapa menit kemudian. Aris akhirnya bisa bernapas lega.
Saat mereka bertanya apa yang terjadi, Aris ragu menjelaskan semuanya.
"…gue bisa ngelakuin hal aneh," katanya pelan.
Sandy mengernyit. "Aneh gimana?"
"Nanti gue jelasin."
Tiba-tiba berita di televisi berubah.
"Fenomena ini kini resmi disebut Mana Sihir."
Ruangan langsung sunyi.
"Mana Sihir dianggap sebagai anugerah sekaligus bencana. Sebagian korban meninggal, sementara lainnya mengalami mutasi berbahaya."
Layar memperlihatkan hewan-hewan dengan bentuk tak normal.
"Beberapa manusia juga dilaporkan memiliki kemampuan di luar nalar."
Perut Aris terasa melilit.
Jadi semua ini nyata.
Di tengah pikirannya yang kacau, seseorang mendekatinya.
"Maaf…"
Aris refleks menoleh. Seorang pemuda seumuran berdiri canggung di sampingnya.
"Aku Ridho," katanya gugup. "Kamu kelihatan kayak ngerti."
"Ngerti apa?" tanya Aris waspada.
Ridho menarik napas pelan. "Kamu ngerasain hal aneh juga, kan?"
Aris menatapnya lama.
"Lo juga?"
Ridho langsung mengangguk lega. "Syukurlah."
Aris mengernyit. "Kenapa?"
"Soalnya aku kira cuma aku yang ngalamin."
Hening sejenak.
"Kamu bisa apa?" tanya Aris.
"Angin, kayaknya. Kadang berhasil, kadang nggak. Tadi hampir bikin alat infus jatuh."
Aris mengangguk pelan. "Bagus kalau berhenti nyoba."
Ridho balik bertanya, "Kalau kamu?"
Aris terdiam sesaat sebelum menjawab lirih, "Beberapa hal. Dan gue nggak senang soal itu."
Ridho tak mendesak.
Aris kembali menatap televisi.
"Kalau ini nyebar ke seluruh dunia, bakal banyak yang nggak siap."
"Iya," sahut Ridho pelan. "Termasuk kita."
Beberapa detik berlalu dalam diam.
"Kalau nanti semua orang mulai takut," kata Ridho hati-hati, "setidaknya kita tahu kita nggak sendirian."
Aris menoleh pelan.
"Iya," jawabnya lirih. "Itu udah cukup buat sekarang."
*****
Napen : KH_88
Genre : Fantasi-isekai
Platform : Max Novel
Editorial:
Ada sesuatu yang menarik dari cara KH_88 membuka bab pertama novel fantasi-ise kai ini di platform Max Novel. Penulis tidak buru-buru memamerkan dunia besar atau konsep sihir yang rumit. Ia justru memulai semuanya dari kelelahan sederhana sepulang latihan, obrolan ringan antar teman, dan sore yang terasa biasa. Detail kecil seperti angin hangat, langkah yang melambat, atau kalimat pendek “sunyi banget” menjadi penanda perubahan yang pelan tetapi efektif. Suasana dibangun bukan melalui ledakan spektakuler, melainkan lewat gangguan kecil pada keseharian. Di titik itu, pembaca tidak merasa sedang memasuki dunia asing, melainkan menyaksikan dunia yang perlahan kehilangan bentuk yang dikenalnya.
Kekuatan lain naskah ini terletak pada ritmenya. Penulis tahu kapan harus mempercepat adegan dan kapan memberi ruang hening. Saat hujan cahaya turun, narasi bergerak dengan tenang, bahkan nyaris indah. Anak-anak tertawa, orang dewasa merekam dengan ponsel, sementara beberapa orang lain memilih menjauh karena firasat yang tidak bisa dijelaskan. Ada keseimbangan menarik antara rasa kagum dan rasa takut. Perspektif anak muda hadir melalui spontanitas dialog mereka, tetapi kepanikan orang dewasa juga terasa nyata lewat tindakan-tindakan kecil yang sangat manusiawi. Seorang ibu yang menarik anaknya masuk rumah terasa lebih membekas daripada penjelasan panjang tentang bahaya. Penulis tampaknya memahami bahwa ketegangan paling efektif sering muncul dari gerak refleks yang sederhana.
Dialog-dialognya terdengar alami karena tidak berusaha terdengar dramatis. Cara Aris menyangkal apa yang terjadi pada tubuhnya terasa lebih meyakinkan justru karena ia terdengar bingung, pendek, dan tidak puitis. Kalimat seperti “gue gila” atau “bagus kalau berhenti nyoba” bekerja bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai penahan emosi. Ada jarak yang dipertahankan antar karakter, terutama antara Aris dan Ridho, dan jarak itu membuat percakapan mereka terasa canggung dalam arti yang baik. Mereka tidak langsung akrab hanya karena mengalami hal serupa. Ada saling ukur, saling hati-hati, dan itu membuat hubungan mereka terasa hidup. Dalam genre fantasi yang sering tergoda untuk menjelaskan segalanya terlalu cepat, pilihan untuk membiarkan karakter saling diam justru memberi bobot emosional yang lebih kuat.
Menarik juga bagaimana ancaman terbesar di bab ini bukan benar-benar sihir itu sendiri, melainkan ketakutan menjadi berbeda. Aris tidak sibuk memikirkan kekuatan baru sebagai sesuatu yang keren. Ia justru takut melukai orang lain, takut dilihat, takut dianggap aneh. Kecemasan seperti ini terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari banyak orang, hanya saja dibungkus dalam lanskap fantasi. Rumah sakit yang penuh sesak, televisi yang mengulang berita yang sama, serta orang-orang yang mendadak harus menerima kenyataan baru, semuanya memberi kesan bahwa dunia dalam cerita ini dibangun dari kecemasan sosial yang akrab. Fantasinya tetap besar, tetapi pijakannya masih terasa manusiawi.
Meski begitu, ada beberapa bagian yang masih bisa diperdalam, terutama pada transisi emosi Aris setelah rasa sakit mereda. Beberapa momen bergerak sangat cepat sehingga ruang refleksinya terasa sedikit terpotong. Padahal justru di situlah kekuatan utama naskah ini berada, yaitu pada suasana batin yang pelan dan gelisah. Namun sebagai pembuka serial fantasi-ise kai, tulisan KH_88 memiliki kepekaan yang tidak selalu ditemukan dalam genre ini. Ia tidak hanya membangun dunia, tetapi juga membangun rasa asing di dalam tubuh manusia biasa. Dan itu membuat cerita ini terasa memiliki arah yang lebih matang dibanding sekadar kisah tentang kekuatan baru dan dunia yang berubah.-
By Caberawit
