Prolog: Gema Malam Karapathra
Belaian angin malam yang dingin menyapu puncak menara pengamatan, membawa aroma ozon yang tajam. Raka berdiri tegak, bayangannya membelah langit malam Karapathra yang tak berujung. Cahaya remang-remang dari SoluXis, sang matahari spiritual, dan kilau misterius IXelune menerpa wajahnya, namun pandangannya tertuju jauh ke angkasa. Ada sesuatu yang mengganggu ketenangan malam ini. Sebuah sensasi halus, seperti getaran nada yang salah dalam simfoni semesta.
Resonansi asing berdenyut di dalam dirinya, melampaui bisikan angin atau desauan dedaunan di kejauhan. Itu adalah gangguan pada Etherfield, perisai energi yang menopang Chelonara. Biasanya, ia hanya merasakan harmoni menenangkan dari para mitranya, bisikan hangat Langda atau ketenangan para Skyix lain yang bersemayam di dalam ResoCore miliknya.
Namun, ini berbeda. Ini adalah tangisan yang terdistorsi.
"Apa itu..." gumam pemuda itu lirih, suaranya nyaris tertelan oleh keheningan kosmik.
Mata Raka menyipit, mengamati hamparan bintang yang berkelip seperti permata di kain beludru gelap. Langit terasa begitu luas dan agung, namun malam ini membawa beban yang tak terlihat. Beban dari sesuatu yang seharusnya tidak ada; sesuatu yang merobek jalinan realitas dengan kasar.
Sebuah percikan cahaya yang menyakitkan mata melesat di kejauhan, jauh di atas cakrawala. Bukan kilat petir biasa, bukan pula pancaran bintang jatuh. Ini adalah cahaya penuh keputusasaan, diiringi gelombang energi yang terasa seperti sengatan listrik statis yang membakar kulit. Getaran di dalam dirinya semakin kuat, memicu alarm di batas kesadaran Raka. Ada sesuatu yang meluncur di sana. Sesuatu yang sangat besar. Gerakannya patah-patah, tidak alami, seolah-olah hukum fisika sedang dipaksa tunduk.
Raka merasakan kehadiran Owlarcanne di sampingnya. Mitra itu tidak bersuara, namun eksistensinya yang misterius terasa seperti jangkar di tengah badai. Tiba-tiba, sensasi dingin yang menusuk menjalar di benaknya. Ini bukan pesan suara, melainkan kiriman emosi mentah yang pekat; ketakutan, kebingungan, dan rasa sakit yang mendalam.
"Ada... di sana..." Kesan telepati dari Owlarcanne mengalir tanpa satu pun kata manusia. Hanya getaran jiwa yang kacau balau, membuat Raka ikut merasakan sesak yang tak terjelaskan. Owlarcanne yang biasanya tenang, kini bergetar dalam frekuensi yang menandakan bahaya besar.
Raka memejamkan mata sejenak, memfokuskan seluruh inderanya melalui hubungan batin. Ia merasakan keengganan dari alam semesta itu sendiri, seolah ada sesuatu yang memutarbalikkan esensi kehidupan menjadi sesuatu yang menjijikkan.
Di tengah kegelapan pekat, wujud mengerikan mulai terbentuk. Bukan bayangan atau ilusi, melainkan sesuatu yang memiliki substansi namun bentuknya terus berubah, meliuk-liuk seperti mimpi buruk yang dipaksakan menjadi nyata. Sayapnya yang compang-camping merobek udara, memancarkan aura distorsi yang membuat bulu kuduk meremang. Makhluk itu tampak seperti perpaduan mengerikan antara Dragonoix dan sesuatu yang asing, yang lahir dari kekosongan yang seharusnya tidak tersentuh.
Eksistensi itu tidak terasa seperti IX. Bahkan Etherfield di sekeliling menara seolah menolak keberadaannya, berderak dan memercikkan listrik setiap kali makhluk itu melintas. Sosok itu mengeluarkan suara yang bukan lolongan, melainkan jeritan tanpa suara yang merobek gendang telinga spiritual. Sebuah resonansi menyakitkan yang memutarbalikkan keindahan langit malam menjadi kehancuran abstrak. Ia meluncur di langit seperti meteor yang jatuh membawa kutukan.
Langda mengirimkan gelombang dukungan hangat ke dalam benak Raka, berpadu dengan kegelisahan para Skyix lain di dalam ResoCore. Raka merasakan kehadiran mereka, namun beban di pundaknya terasa jauh lebih berat.
"Apa kau melihatnya?"
Pertanyaan itu datang bukan dari Owlarcanne maupun Langda. Suara itu begitu asing dan kuat, bergema langsung di dalam inti kesadarannya. Ini adalah sebuah panggilan; sebuah permohonan putus asa dari dimensi berbeda yang menerobos perisai Etherfield yang mulai retak.
Raka membuka mata, menatap lurus ke arah makhluk mengerikan yang kini melesat semakin dekat. Sinarnya yang sakit-sakitan menerangi langit di atas Karapathra, menciptakan bayangan yang menari liar di bawah menara. Perasaan dingin menusuk tulang belakangnya, bukan hanya karena makhluk itu, tetapi karena suara di kepalanya yang terus meratap.
"Tolong... selamatkan kami..."
Makhluk itu kini melayang tepat di atas menara, mengeluarkan desisan yang menggetarkan seluruh struktur batu. Aura distorsi yang dipancarkannya membuat udara terasa berat dan mencekik, seolah oksigen telah lenyap digantikan oleh kekosongan.
"Mereka datang..."
Suara itu bergema untuk terakhir kalinya, meledak di dalam batin Raka. Tepat saat makhluk itu membentangkan sayap cacatnya dan membuka rahang yang penuh cahaya hitam berdenyut, salah satu Sigil kuno di punggung tangan kanan Raka tiba-tiba retak. Rasa sakit membakar menjalar hingga ke jantungnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup sebagai seorang IXer, Raka mendengar Etherfield menjerit.
Kegelapan menelan Karapathra.
...
Penulis: Spica rigel
Genre: Fantasi, Aksi, Sistem
Platform: Novel Laris
Editorial:
Novel ini menyuguhkan pembukaan yang sangat megah dengan membangun dunia fantasi yang terasa luas dan penuh misteri. Penulis berhasil menciptakan suasana mencekam di puncak menara Karapathra, di mana keindahan langit malam tiba-tiba berubah menjadi teror yang mengancam nyawa. Deskripsi mengenai energi dan gangguan alam semesta dalam cerita ini membuat pembaca langsung masuk ke dalam suasana tegang yang dialami oleh sang tokoh utama.
Karya berjudul "EvoluXion" ini ditulis oleh Spica rigel. Spica rigel menunjukkan kemampuannya dalam merancang genre Fantasi dengan sentuhan fiksi ilmiah yang kental. Gaya penulisannya sangat imajinatif, terutama dalam menggambarkan hubungan batin antara manusia dengan makhluk-makhluk mitra spiritual yang ada di dalam dunianya.
Keunggulan utama novel ini terletak pada kemampuannya membangun world-building atau gambaran dunia yang unik dan terasa mahal. Penggunaan istilah-istilah seperti Etherfield, ResoCore, dan Skyix, memberikan identitas kuat yang membedakan naskah ini dari cerita fantasi lainnya. Penulis juga sangat piawai dalam menggambarkan emosi mentah, seperti ketakutan dan keputusasaan, melalui indera spiritual, sehingga ketegangan yang dirasakan tokoh Raka tersampaikan dengan sangat baik kepada pembaca.
Mengenai kekurangan, banyaknya istilah teknis yang muncul sekaligus di awal cerita mungkin akan sedikit membingungkan bagi pembaca yang belum terbiasa dengan genre fantasi berat. Namun, hal ini bisa dieksekusi dengan sempurna lewat kelebihan penulis dalam memberikan deskripsi visual yang sangat detail. Bayangan makhluk mengerikan yang meliuk di langit dan retaknya Sigil kuno di tangan Raka memberikan gambaran yang begitu jelas, sehingga pembaca tetap bisa menikmati alur cerita meski masih meraba-raba makna setiap istilahnya.
Dinamika antara Raka dan para mitra batinnya seperti Langda dan Owlarcanne menjadi salah satu daya tarik yang kuat. Penulis tidak hanya menceritakan sebuah pertempuran, tetapi juga sebuah panggilan jiwa dan tanggung jawab besar untuk menyelamatkan dimensi yang terancam. Akhir cerita yang ditutup dengan kegelapan total meninggalkan rasa penasaran yang sangat tinggi, membuat siapa pun ingin segera mengetahui apa yang akan terjadi setelah perisai pelindung dunia mereka retak.
Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi kamu pecinta kisah fantasi yang epik dan penuh dengan elemen keajaiban tingkat tinggi. Jika kamu mencari bacaan yang mampu membangkitkan imajinasi tentang dunia baru yang luas dan misterius, karya Spica rigel adalah pilihan yang tidak boleh dilewatkan. Mari bergabung dalam perjalanan Raka untuk mengungkap rahasia besar di balik jeritan alam semesta ini!
By: Rahmat Ry
