Jangan Anggap Remeh Aku - Zavira Khaine

Jangan Anggap Remeh Aku - Zavira Khaine


0

Bab 7. Di Antara Gaun Merah dan Bom Waktu

Pesta penyambutan untuk kepulangan putra keluarga Bagas telah dipersiapkan dengan sangat meriah. Sejak pagi, Pak Lukman sudah lebih dulu tiba di kediaman keluarga tersebut.

Saat ia sibuk menyapa para tamu, seorang pria mendekatinya dengan senyum lebar.

“Direktur Lukman, selamat ya! Saya dengar putri Anda yang baru kembali dari luar negeri akan bertunangan dengan putra keluarga Bagas. Jangan lupa undang kami saat pernikahannya nanti,” ujar pria itu.

“Tentu saja. Kalian wajib datang,” jawab Pak Lukman hangat.

“Kami pasti hadir,” balasnya. Gelas mereka pun saling beradu.

“Ting!”

Tak jauh dari sana, beberapa tamu berbisik pelan membicarakan Pak Lukman.

“Siapa yang tidak kenal dia? Dulu cuma orang biasa, sekarang sedang naik. Katanya dia mengambil alih Grup Sandra lalu menggantinya jadi Grup Lukman. Sekarang malah ingin menikahkan cucu perempuan Kakek Chandra dengan anak bermasalah dari keluarga Bagas. Benar-benar tidak tahu diri,” sindir salah satu pria.

“Katanya Nona Serin dulu dikirim ke luar negeri bertahun-tahun. Sepertinya sekarang juga tidak ada gunanya,” timpal yang lain sambil meneguk anggur.

Di sisi lain, Mei sedang berkumpul bersama teman-teman sosialitanya.

“Mei, aku dengar putri keluargamu sudah pulang. Bagaimana penampilannya?” tanya salah satu dari mereka.

Wajah Mei langsung mengeras.

“Putri apa? Hanya gadis kampungan. Nanti juga kalian lihat sendiri. Tidak punya aura sama sekali, kerjanya cuma menunduk,” jawabnya meremehkan.

Namun, saat Mei masih sibuk merendahkan Serin—

“Tuk… tuk…”

Suara langkah dari tangga membuat semua kepala menoleh.

Serin muncul dengan gaun merah, melangkah anggun di tengah keramaian. Penampilannya begitu memikat hingga membuat para tamu terdiam sejenak.

“Wah… cantik sekali. Itu putri dari keluarga mana?” bisik seseorang.

Mei terperanjat, wajahnya langsung berubah tidak senang.

“Bagaimana mungkin… Serin bisa secantik ini?” gumamnya tak percaya.

“Itu Serin, putri keluarga Lukman,” jawab seorang wanita.

“Mei, boleh minta WeChat kakakmu?” tanya temannya.

Mei hanya tersenyum kaku, menahan emosi.

Sementara itu, Serin menatap sekeliling dengan tenang.

Pesta orang kaya… biasa saja. Bahkan tidak semewah acara Perusahaan Hakim Malam, batinnya.

Pak Lukman yang melihatnya langsung tersenyum bangga. Ia meletakkan gelasnya lalu berjalan menghampiri.

“Nak, akhirnya kamu datang. Putri keluarga Lukman memang harus tampil seperti ini. Nanti saat Tuan Muda Rendy tiba, dia pasti senang,” katanya.

Serin hanya membalas dengan senyum tipis.

“Ayo, Ayah kenalkan kamu ke beberapa teman,” lanjutnya.

Serin mengangguk pelan.

Namun tiba-tiba, suara Desi terdengar dari earbuds di telinganya.

“Bos, gawat! Baru saja dapat informasi ada bom di pesta keluarga Bagas. Waktu menuju ledakan tinggal sepuluh menit.”

Serin terkejut.

“Apa?” bisiknya.

Ia langsung berbalik, matanya menyapu sekitar dengan waspada.

Namun langkahnya terhenti.

“Kakak, mau ke mana?” suara Mei terdengar keras, sengaja menarik perhatian.

“Aku ada urusan penting. Minggir,” jawab Serin tegas.

Namun Mei tetap menghadang.

“Baru datang sudah mau pergi? Jangan-jangan kamu malu? Tidak suka dengan Tuan Muda Rendy?” ejeknya lantang.

Beberapa orang mulai memperhatikan.

“Aku tidak ingin berdebat. Minggir,” kata Serin dingin.

Ia mencoba melangkah, tetapi Mei menarik tangannya kuat.

“Kalau tidak jelaskan dulu, kamu tidak akan ke mana-mana!” ancamnya.

Tiba-tiba lampu mulai berkedip.

Hidup… mati… hidup… mati…

Kewaspadaan Serin meningkat.

“Lepaskan tanganku. Kalau tidak, kita semua bisa mati,” ucapnya serius.

Mei tertawa sinis.

“Mati? Kamu mau menakut-nakuti siapa?”

“Kalau tidak ingin mati, lepaskan aku,” tegas Serin.

Namun Mei tetap bersikeras.

“Kak Serin, kamu memang perempuan murahan! Hari ini kamu tidak akan kabur!”

Kesabaran Serin habis.

“Plak!”

Tamparan keras mendarat di pipi Mei.

“Aah!”

Mei terhuyung.

Kamu yang memaksaku. Tunggu saja setelah ini selesai, aku akan membalasmu, batin Serin dingin.

Tanpa menoleh lagi, ia segera pergi.

“Kak Serin! Lihat saja nanti!” teriak Mei sambil menunjuknya.

Ia ingin mengejar, tetapi teman-temannya menahan.

“Sudah, Mei. Jangan buat keributan. Banyak yang melihat,” ujar mereka.

Mei hanya bisa menahan amarah, sementara suasana pesta mulai terasa tegang.

Serin yang sudah berada di teras segera menghubungi Desi.

“Desi, bisa lacak posisi bomnya?” tanyanya rendah.

“Bos, waktu tinggal lima menit. Coba ke arah ruangan belakang,” jawab Desi cepat.

Tanpa membuang waktu, Serin segera menuju ke sana.

Langkahnya cepat namun tetap hati-hati. Saat sampai di depan sebuah pintu, ia meraih gagangnya.

Namun ia terhenti.

Sebuah tangan tiba-tiba menggenggam tangannya.

Di sampingnya berdiri seseorang yang paling tidak ingin ia temui… seseorang yang sejak awal sudah membuatnya kesal.

*****

Nama Pena: Zavira Khaine 

Genre: Action, Chicklit, Urban

Platform: Novea

Editorial:

Novel ini terasa semakin menegangkan dan penuh kejutan. Dari awal, suasana pesta yang mewah sudah dibangun dengan baik, memperlihatkan kehidupan sosial kalangan atas yang penuh pencitraan dan bisik bisik tajam di belakang. Pembaca langsung dibawa masuk ke konflik sosial yang terasa hidup dan realistis.

Karakter Pak Lukman digambarkan sebagai sosok ambisius yang ingin menaikkan status keluarganya, sementara komentar para tamu memperlihatkan bagaimana pandangan orang lain terhadap kesuksesan yang diraihnya. Ini menambah lapisan konflik, bukan hanya dari aksi, tetapi juga dari hubungan sosial dan reputasi. Kemunculan Serin menjadi salah satu momen paling kuat di bab ini. Deskripsinya sederhana tapi efektif, gaun merah, langkah anggun, dan aura yang langsung mencuri perhatian. Kontras antara hinaan sebelumnya dan kenyataan yang muncul membuat adegan ini terasa memuaskan.

Konflik antara Serin dan Mei juga ditulis dengan emosi yang cukup tajam. Dialog mereka terasa natural dan penuh tekanan. Tamparan yang diberikan Serin menjadi titik ledakan emosi yang sudah dibangun sejak awal, sehingga tidak terasa berlebihan, justru terasa pantas dalam situasi tersebut. Ketegangan meningkat drastis ketika muncul ancaman bom. Perubahan dari drama sosial ke situasi darurat dilakukan dengan cepat namun tetap terasa menyatu. Ini menunjukkan bahwa cerita tidak hanya berfokus pada konflik antar karakter, tetapi juga menghadirkan elemen aksi yang membuat pembaca semakin penasaran.

Bagian akhir menjadi cliffhanger yang sangat menarik. Saat Serin hendak menemukan bom, tiba tiba muncul seseorang misterius yang menggenggam tangannya. Ini membuat pembaca ingin langsung lanjut ke bab berikutnya karena rasa penasaran yang tinggi. Bab ini juga memperlihatkan perkembangan karakter Serin yang semakin kuat dan menarik. Ia tidak lagi terlihat sebagai sosok yang bisa diremehkan seperti anggapan banyak orang sebelumnya. Sikapnya yang tenang saat menghadapi ejekan, lalu berubah tegas ketika keadaan mendesak, menunjukkan bahwa ia memiliki kendali diri yang baik. Keputusannya untuk tetap fokus mencari bom di tengah keributan juga memperlihatkan rasa tanggung jawab yang besar.

Selain itu, penulis juga berhasil membangun suasana tegang dengan cara yang cukup halus. Awalnya hanya pesta biasa dengan obrolan sosial, lalu perlahan berubah menjadi situasi yang mengancam nyawa. Detail seperti lampu yang berkedip menambah kesan darurat tanpa perlu penjelasan yang rumit. Perubahan suasana ini terasa mengalir dan tidak dipaksakan, sehingga pembaca bisa merasakan ketegangan yang meningkat secara bertahap.

Interaksi antar karakter juga menjadi salah satu kekuatan dalam buku ini. Dialog yang digunakan tidak bertele tele dan langsung pada inti, sehingga mudah dipahami. Setiap tokoh memiliki cara bicara yang berbeda, membuat mereka terasa lebih hidup. Konflik antara Serin dan Mei tidak hanya sekadar pertengkaran biasa, tetapi juga menunjukkan kecemburuan, rasa tidak aman, dan keinginan untuk menjatuhkan satu sama lain.

Secara keseluruhan, buku ini berhasil menjaga keseimbangan antara drama, aksi, dan misteri. Alurnya cepat namun tetap jelas, sehingga pembaca tidak merasa bingung. Penulis juga pandai menyisipkan kejutan di momen yang tepat, terutama di bagian akhir yang membuat rasa penasaran semakin besar. Novel ini ditulis oleh Zavira Khaine, seorang penulis yang mengusung genre action, chicklit, dan urban. Gaya penulisannya ringan, mudah dipahami, dan mampu menggabungkan drama dengan ketegangan secara seimbang. Karyanya dapat dibaca di platform Novea, cocok bagi pembaca yang menyukai cerita penuh konflik, karakter kuat, dan alur yang cepat.

by Hayyi Ze





Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama