Logline:
Seorang kurir paket miskin di Surabaya tanpa sengaja membangkitkan pusaka terlarang milik Panglima Perang Majapahit, membuatnya terjerat dalam perang rahasia antara Klan Cultivator modern dan makhluk supranatural yang menguasai Jawa Timur.
***
Bab 23: Tabir Es di Aula Nusantara
Matahari Surabaya menyusup melalui celah gorden otomatis di asrama lantai tujuh, namun bagi Awan, cahaya itu terasa berbeda. Dibawah pengaruh Rajah Penutup Sukma milik Winda, ia merasa seperti sedang memakai mantel yang sangat sempit. Energinya yang meluap dipaksa masuk ke dalam rongga-rongga kecil di meridiannya, sementara Tulang Dewa di punggungnya berdenyut pelan, menuntut massa yang lebih besar dari lantai asrama yang dipijaknya.
Semalam, berita tentang Rangga yang "salah urat" setelah mencoba merundung Satya menyebar seperti api diantara para siswa baru. Saat Awan berjalan menuju Aula Utama untuk kuliah umum, bisik-bisik mengikuti setiap langkahnya.
"Itu dia... si anak bawang Adiwiguna," bisik seorang pemuda dengan jaket kulit mahal, "Rangga bilang tangannya mendadak mati rasa seperti dihantam balok besi. Padahal Satya cuma menyentuhnya dengan satu jari!"
"Mungkin dia punya artefak rahasia," sahut yang lain, "Mana mungkin praktisi Lapis Bumi tingkat tiga bisa melumpuhkan Lapis lima dengan begitu mudah?"
Awan mengabaikan mereka. Matanya terpaku pada arsitektur aula yang dirancang sebagai pengumpul energi. Disana, ratusan siswa dari klan-klan elit Nusantara berkumpul. Mereka bukan sekadar mahasiswa; mereka adalah calon pemimpin, jenderal BSI, dan direktur korporasi supranatural masa depan.
Di barisan depan, ia melihat seorang gadis dengan rambut perak yang diikat ekor kuda: Detha Dirgantara sedang duduk di podium kehormatan bersama jajaran dewan akademi. Wajahnya yang dingin dan simetris tampak sempurna dibawah lampu kristal aula. Tidak ada sisa-sisa ketakutan dari insiden penthouse semalam, hanya keangkuhan yang semakin membeku.
Awan mengambil tempat di barisan paling belakang, berusaha menyatu dengan bayang-bayang. Namun, indera pendengarannya menangkap detak jantung Detha yang sedikit lebih cepat dari normal. Wanita itu sedang gelisah.
"Selamat pagi, para calon penjaga peradaban," suara Prof. Darmanto bergema melalui sistem pengeras suara bertenaga Prana, "Hari ini, kita mendapatkan kehormatan besar. Nona Detha Dirgantara, Direktur Operasional Dirgantara Corps sekaligus praktisi Lapis Langit termuda di Jawa Timur, akan memberikan kuliah tentang 'Identifikasi Predator Supranatural'!"
Detha berdiri, melangkah menuju podium dengan langkah yang memancarkan hawa dingin. Seketika, suhu di aula yang luas itu turun drastis. Embun mulai terbentuk di permukaan gelas-gelas air di meja para siswa.
"Dunia ini tidak lagi aman," suara Detha jernih dan tajam, menusuk telinga setiap orang, "Baru-baru ini, sebuah entitas yang menyebut dirinya 'Lanang'e Jagad' telah muncul di Surabaya dan Malang. Dia bukan sekadar kriminal, dia adalah parasit yang menggunakan kekuatan purba yang tidak stabil. Tugas kalian sebagai generasi baru adalah belajar mengenali aura semacam itu sebelum mereka menghancurkan tatanan yang kita bangun!"
Awan menyeringai tipis di balik punggung siswa di depannya. Parasit? Detha benar-benar pandai memutarbalikkan fakta.
"Hari ini," Detha melanjutkan, matanya yang sedingin es menyapu seluruh aula, "aku akan menguji sensitivitas kalian. Aku akan melepaskan 'Aura Intimidasi Es' tingkat tujuh. Barangsiapa yang mampu berdiri paling lama tanpa mengaktifkan pelindung Prana, akan mendapatkan akses khusus ke Perpustakaan Terlarang akademi selama satu minggu!"
Aula itu mendadak riuh. Perpustakaan Terlarang! Tempat dimana kitab-kitab kuno era Singosari dan Majapahit disimpan. Itulah tempat yang dimaksud Dewa Ndaru.
Awan mengepalkan tangannya. Itu tiketku untuk menstabilkan Tulang Dewa.
Detha tidak menunggu jawaban. Ia mengangkat satu tangannya. Seketika, sebuah ledakan energi biru pucat menyapu seluruh ruangan. Suhu turun di bawah nol derajat dalam sekejap. Lantai aula mulai ditutupi lapisan es tipis.
Para siswa mulai berjatuhan. Mereka yang berada di Lapis Bumi tingkat rendah langsung pingsan dengan bibir membiru. Mereka yang lebih kuat mencoba bertahan dengan menggertakkan gigi, namun tubuh mereka gemetar hebat.
"S-sial... ini terlalu berat..." rintih seorang siswa di depan Awan yang kemudian jatuh terjerembab.
Awan berdiri diam. Berkat Tulang Dewa, hawa dingin ini tidak lebih dari sekadar hembusan kipas angin yang menyegarkan. Namun, ia harus berakting. Ia sedikit membungkukkan bahunya, mengatur wajahnya agar tampak pucat, dan membiarkan butiran keringat dingin (yang ia buat secara sengaja dengan sedikit Prana) muncul di dahinya.
Detha berjalan turun dari podium, melangkah di antara deretan kursi siswa yang bertumbangan. Ia mencari sesuatu. Ia mencari getaran energi yang ia rasakan di Dirgantara Tower.
Langkah kakinya berhenti di barisan belakang. Ia berdiri tepat di depan Awan.
"Satya Pradana, asisten baru Nyonya Saraswati," ucap Detha datar. Matanya menyipit, menatap Awan dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan mental orang biasa, "Lapis Bumi tingkat tiga, namun kau masih berdiri tegak di tengah auraku sementara mereka yang tingkat lima sudah tumbang. Jelaskan padaku... kenapa?"
Awan menundukkan kepalanya, menirukan nada bicara rakyat jelata yang ketakutan, "S-saya... saya besar di lereng Semeru, Nona. Saya sudah biasa dengan udara gunung yang dingin. Mungkin itu sebabnya!"
/
Detha tidak segera membalas. Ia mendekatkan wajahnya ke arah leher Awan, menghirup udara di sana. Awan menahan napas, memastikan Rajah Penutup Sukma bekerja maksimal. Wangi melati dari tubuh Vallin yang sempat menempel semalam sudah ia hapus, digantikan aroma tanah dan pupuk anggrek.
"Aromamu... membosankan," desis Detha. Ia melepaskan tekanannya sedikit, "Tapi kau punya ketahanan fisik yang menarik. Atau mungkin keluarga Adiwiguna memberimu obat rahasia!"
Detha berbalik, namun tiba-tiba ia melayangkan sebuah serangan telapak tangan cepat berisi energi es ke arah bahu Awan. Itu bukan serangan membunuh, melainkan ujian refleks.
Awan sengaja membiarkan serangan itu mengenainya. Ia terpental mundur dua langkah, jatuh terduduk, dan pura-pura terbatuk.
"Maaf, Nona... saya tidak siap," rintih Awan.
Detha menatap telapak tangannya sendiri yang barusan menyentuh bahu Awan. Ia merasa seperti baru saja menghantam sebongkah batu karang kuno, bukan bahu seorang pemuda kurus. Ada sensasi getaran aneh yang merambat ke sarafnya, sebuah getaran yang sangat mirip dengan...
Tidak mungkin, batin Detha. Lanang'e Jagad adalah monster yang sombong. Pemuda ini hanyalah pion miskin yang beruntung.
"Cukup untuk hari ini," Detha mengakhiri auranya. Suhu aula perlahan kembali normal, "Pemenangnya adalah Satya Pradana. Bukan karena kekuatannya, tapi karena daya tahan tubuhnya yang ulet seperti kecoa. Berikan dia kartu akses Perpustakaan Terlarang!"
Para siswa yang baru siuman menatap Awan dengan benci dan iri. Seorang rakyat jelata mendapatkan akses yang sangat mereka idamkan?
Awan menerima kartu akses perak dari Prof. Darmanto dengan tangan yang masih pura-pura gemetar, "Terima kasih, Nona Detha. Saya akan menggunakan kesempatan ini dengan baik!"
Saat Detha berjalan meninggalkan aula, ia sempat menoleh sekilas ke arah Awan. Ada sesuatu di matanya yang menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya percaya, "Satya," panggilnya dari kejauhan, "Besok, aku akan mengajar kelas praktek tempur. Kuharap 'daya tahan kecoa'-mu tidak mengecewakanku saat aku menyerang dengan sungguhan!"
Awan membungkuk, namun di balik topeng aktingnya, matanya berkilat tajam.
"Tuan muda," suara Dewa Ndaru tertawa, "Wanita itu mulai terobsesi padamu. Tapi hati-hati, Perpustakaan Terlarang akademi ini dijaga oleh 'Eyang Penunggu' dari era Kediri. Dia bisa melihat menembus rajah apapun jika kau tidak waspada!"
"Aku akan siap, Mbah," bisik Awan.
Ia berjalan keluar aula, menggenggam kartu akses itu erat-erat. Malam ini, di antara rak-rak buku tua yang menyimpan rahasia Nusantara, Awan akan memulai langkah pertamanya untuk benar-benar menguasai Tulang Dewa. Dan saat matahari terbit esok hari, Detha Dirgantara akan menyadari bahwa ia tidak sedang mengajar seorang kecoa... ia sedang melatih seekor naga yang siap menelan seluruh klan-nya.
Di sudut lain koridor, Rangga yang tangannya digips menatap Awan dengan dendam yang membara, "Akses Perpustakaan Terlarang, ha? Kita lihat apa kau bisa keluar darisana dengan nyawa yang masih utuh, Satya!"
Bersambung...
*****
Nama pena: Sukmaawan
Genre: Kultivasi Timur, Harem, Aksi, Identitas tersembunyi, Dewa Perang, Zero to Hero.
Platform: MaxNovel
Editorial:
Buku inj menghadirkan suasana dunia kultivasi modern yang sangat menarik sejak awal cerita. Penulis berhasil memadukan kehidupan akademi dengan unsur supranatural dan kekuatan kuno Nusantara. Dari awal, pembaca langsung diperlihatkan bagaimana Awan harus menyembunyikan kekuatan besarnya di tengah lingkungan yang penuh para cultivator elit. Hal ini membuat cerita terasa seru karena tokoh utama terus berada dalam situasi berbahaya.
Karakter Awan menjadi daya tarik utama dalam bab ini. Walaupun berasal dari kalangan miskin dan sering diremehkan, ia sebenarnya menyimpan kekuatan besar yang belum diketahui banyak orang. Cara Awan berpura-pura lemah di depan semua siswa membuat pembaca ikut gemas sekaligus kagum. Penulis Sukmaawan berhasil membuat karakter utama terasa cerdas, tenang, dan penuh perhitungan tanpa terlihat terlalu sombong.
Kemunculan Detha Dirgantara juga membuat cerita semakin hidup. Sosoknya digambarkan dingin, angkuh, dan sangat kuat sebagai praktisi Lapis Langit termuda di Jawa Timur. Interaksi antara Detha dan Awan terasa menarik karena dipenuhi kecurigaan dan permainan mental. Detha mulai merasa ada sesuatu yang aneh pada Awan, tetapi Awan masih mampu menutupi identitas aslinya dengan sangat baik. Hubungan seperti ini membuat cerita terasa menegangkan sekaligus membuat pembaca penasaran dengan perkembangan mereka nanti.
Bagian ujian “Aura Intimidasi Es” menjadi salah satu adegan terbaik dalam bab ini. Penulis menggambarkan suasana aula yang berubah dingin dan penuh tekanan dengan sangat jelas. Banyak siswa langsung tumbang, sementara Awan tetap bertahan sambil berpura-pura kesulitan. Adegan ini memperlihatkan perbedaan besar antara kekuatan Awan dan siswa lain tanpa harus membuat tokoh utama terlihat terlalu mencolok.
Konsep dunia yang dibangun juga terasa unik karena menggabungkan budaya Nusantara dengan sistem kultivasi modern. Kehadiran Perpustakaan Terlarang, Tulang Dewa, hingga sosok Dewa Ndaru membuat cerita memiliki nuansa mistis khas Indonesia. Hal ini menjadi nilai lebih karena cerita terasa berbeda dibanding novel kultivasi pada umumnya yang sering memakai latar luar negeri atau dunia fantasi biasa.
Gaya penulisan Sukmaawan cukup ringan dan mudah dipahami walaupun banyak istilah kultivasi digunakan. Penjelasan tentang energi, aura, dan tingkatan kekuatan tetap terasa jelas sehingga pembaca tidak mudah bingung. Dialog antar tokoh juga terasa hidup dan cocok dengan karakter masing-masing. Alur cerita mengalir dengan baik, terutama saat ketegangan antara Awan dan Detha semakin terasa di akhir.
Buku ini berhasil memberikan perpaduan aksi, misteri, dan intrik yang sangat menarik. Sukmaawan mampu membuat pembaca penasaran tentang rahasia Awan dan apa yang akan terjadi di Perpustakaan Terlarang nanti. Ending juga sangat kuat karena memberi petunjuk bahwa konflik besar akan segera dimulai. Novel ini cocok untuk pembaca yang menyukai genre kultivasi, aksi, identitas tersembunyi, dan perjalanan tokoh utama dari sosok lemah menjadi sangat kuat.
by Hayyi Ze
