Raja Logistik di Dunia Zombie - SleepyFace

Raja Logistik di Dunia Zombie - SleepyFace


0

Bab 8

Malam datang pelan, tapi di dalam gudang suasananya justru terasa lebih hidup.

Joni sudah menyelesaikan satu hal penting—galon.

Dia membelah satu per satu, lalu mengaktifkan trait-nya. Cahaya muncul berkali-kali di tangannya, dan setiap galon yang sudah dibagi kembali menjadi utuh, penuh air.

Dari dua belas jadi dua puluh empat.

“...mantap.”

Dia menyusun galon-galon itu dengan rapi, puas dengan hasilnya. Sementara itu, di sisi lain ruangan, Mila masih duduk di samping kakaknya, tidak ke mana-mana.

Saat Joni selesai dan berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan malam, suara pelan terdengar dari meja.

Deri mulai bergerak dan Mila langsung menoleh, matanya membesar.

“Bang… bang! Udah bangun bang?!”

Deri mencoba mengangkat tubuhnya, tapi begitu dia bertumpu dengan tangan, rasa sakit langsung menjalar. Wajahnya meringis, tubuhnya jatuh lagi ke posisi semula.

“Udah bang, jangan gerak dulu,” kata Mila cepat. “Ntar kebuka lagi jahitannya.”

Deri menarik napas pelan, lalu menoleh ke lengannya yang sudah terbungkus dan dijahit.

“Siapa yang jahit…?” suaranya lemah. “Ini di mana?”

“Kita dibantuin sama orang yang tadi di pabrik air, bang.”

Mila berdiri sedikit, tubuhnya berputar, tanpa sadar memperlihatkan tangannya yang masih terikat di belakang.

Deri melihat itu, lalu menghela napas.

“Terus gimana, Mil? Lu ga diapa-apain kan?”

Dia berhenti sebentar.

“Dia cowo apa cewe?”

Mila membuka mulut, tapi belum sempat jawab, Joni sudah keluar dari dapur.

Dia membawa tiga mangkuk mie panas, penuh topping seperti sebelumnya.

“Gue Joni.”

Dia bicara santai sambil jalan mendekat.

“Yang nolong lu dua kali.”

Kata dua kali dia tekan jelas.

Joni menaruh mangkuk di meja dekat Deri, lalu langsung mendekat. Tangannya memegang tubuh Deri, membantu mengecek kondisinya.

Deri hanya bisa diam, menatap lemah. Tenaganya hampir tidak ada.

“Lu demam,” kata Joni singkat. “Bisa duduk pelan-pelan ga?”

Deri menggeleng pelan.

“Ga kuat…”

Dia menarik napas.

“Makasih banyak, bang… lu jahit tangan gue aja gue udah—”

Joni tidak menunggu selesai. Dia sudah berbalik ke arah Mila. Dengan satu gerakan, dia membuka ikatan di tangan wanita itu.

“Tuh.”

Tali jatuh.

“Lu bantu abang lu duduk. Abis itu suapin.”

Dia menunjuk ke mangkuk.

“Gue udah buat makanan.”

Mila langsung berdiri, tapi refleks mundur beberapa langkah. Matanya masih waspada, tubuhnya tegang.

Joni melirik sekilas. Tidak bereaksi. Beberapa detik kemudian, setelah memastikan Joni tidak bergerak, Mila baru mendekat ke Deri dan mulai membantunya duduk perlahan.

Joni kembali mengambil mangkuknya sendiri, lalu duduk santai.

Dia melirik ke arah Mila sambil mulai makan.

“Cewe gila…”

Dia menggeleng pelan.

“Ngapain mundur coba?”

Dia menyeruput kuah.

“Kalau gue mau ngapa-ngapain, dari tadi juga udah gue sikat.”

Deri akhirnya berhasil duduk dengan bantuan Mila. Wajahnya masih pucat, napasnya belum stabil, tapi setidaknya dia sudah tidak terbaring lagi. Mila memastikan posisinya nyaman, lalu berdiri dan berjalan ke arah Joni.

Langkahnya pelan. Begitu sampai, dia menunduk. Tidak berani menatap.

“Ee…”

Belum selesai bicara, Joni langsung memotong.

“Ambil. Buruan.”

Nada suaranya datar, tapi jelas tidak mau lama-lama.

Mila langsung mengulurkan tangan, mengambil dua mangkuk mie itu, lalu buru-buru kembali ke meja tempat Deri duduk.

Joni menunjuk ke arah samping tanpa melihat.

“Kalau mau minum, itu ada botol. Ambil sendiri. Satu-satu.”

Mila mengangguk cepat.

“Iya…”

Dia langsung berbalik, hampir setengah berlari mengambil botol air. Setelah itu dia kembali, membukanya, lalu menyodorkannya ke Deri.

Deri langsung minum dengan cepat. Air itu habis dalam sekali teguk. Mila langsung membuka satu botol lagi dan menyodorkannya.

“Bang, ini lagi—”

Deri menggeleng pelan.

“Udah… lu aja.”

Dia menatap Mila sebentar.

“Dari tadi lu belum minum kan.”

Mila diam sebentar, lalu pelan-pelan mengangguk. Dia mengambil botol itu dan minum, tidak kalah cepat.

Habis.

Setelah itu, dia duduk lagi di samping Deri dan mulai menyuapinya makan. Gerakannya pelan, hati-hati supaya tidak kena luka.

Beberapa menit berlalu. Baru setelah Deri selesai, Mila mulai makan bagiannya sendiri.

Di sisi lain, Joni hanya duduk sambil memperhatikan. Tidak ikut campur, tidak bicara. Dia makan lebih dulu tadi, sekarang hanya melihat mereka berdua, menunggu sampai semuanya selesai.

Setelah Mila selesai makan, Joni berdiri tanpa banyak bicara dan keluar sebentar. Tidak sampai satu menit, dia sudah kembali sambil membawa beberapa obat-obatan di tangannya.

Dia berhenti di dekat mereka.

“Gue cuma punya ini. Minum sekarang.”

Obat itu dia sodorkan ke Mila. Mila menerimanya dengan hati-hati dan Deri menatap Joni, suaranya masih lemah.

“Makasih banget, Bang… tapi harusnya ga usah repot-repot. Obat sekarang mahal…”

Mila ikut mengangguk pelan. Di dunia sekarang, obat memang jauh lebih berharga daripada banyak hal.

Joni tidak peduli.

“Udah. Minum dulu.”

Dia menunjuk obat itu.

“Gue cuma ada penurun panas, antibiotik, sama pereda sakit. Abis itu baru gue ngomong.”

Deri mengangguk pelan.

Mila langsung membuka obatnya satu per satu, lalu membantu Deri minum. Air diberikan lagi, obat masuk, semuanya ditelan dengan susah payah.

Setelah selesai, Joni masih berdiri di sana, menatap mereka. Beberapa detik hening lalu dia bicara.

“Sekarang lu udah makan. Udah minum. Udah gue kasih obat.”

Nadanya datar.

“Waktunya bayar.”

Deri langsung tegang. Wajahnya berubah dan Mila menunduk.

“Bang… di ruangan lain aja…”

Suaranya pelan.

“Jangan di sini. Ga enak kelihatan kakak saya.”

Joni mengernyit.

“Ngapain di ruangan lain?”

Deri sudah menunduk, ekspresinya campur aduk namun Mila masih menunduk, suaranya makin kecil.

“Tadi gue bilang… gue bakal bayar apa pun, Bang…”

Dia menarik napas.

“Sekarang gue ga punya apa-apa… cuma badan gue doang.”

Dia menelan ludah.

“Jadi… jangan di sini, Bang. Kakak gue baru sadar…”

Joni terdiam. Beberapa detik lalu—

PLAK.

Dia nepuk jidatnya sendiri.

“Apaan sih…”

Dia menggeleng, jelas kesal.

“Kagak. Gue ga butuh tubuh lu.”

Mila langsung mengangkat kepala, Deri juga dan keduanya menatap Joni bersamaan.

Joni menunjuk ke arah Deri.

“Gue butuh abang lu.”

Deri langsung bengong.

“Hah?”

Mila refleks menutup mulutnya.

“Lah… gue kira…”

Dia melirik Joni dengan ekspresi aneh.

“Lu suka cowok, Bang…”

Joni langsung memerah, emosinya naik.

“Anak anjing lu!”

Dia menunjuk mereka berdua.

“Gue bukan gay, bangsat!”

Dia mendengus kasar.

“Gue butuh abang lu buat benerin senjata gue. Bukan buat yang aneh-aneh, cewe gila!”

Setelah kata-kata itu keluar, suasana sempat hening beberapa detik.

Joni masih berdiri dengan wajah kesal, napasnya agak berat. Mila menatapnya ragu, masih belum sepenuhnya percaya.

“Beneran, Bang…? Lu ga mau aneh-aneh?”

Joni langsung menjawab tanpa mikir, nadanya masih tinggi.

“Kagak!”

Dia menunjuk ke arah meja, lalu ke arah Deri.

“Gue butuh senjata gue dibenerin.”

Dia nengok langsung ke Deri.

“Gue butuh dia buat benerin senjata gue. Udah itu doang!”

Begitu tatapan Joni jatuh ke Deri, Deri refleks.

Tangannya yang masih sehat langsung nutupin bagian bawahnya. Ekspresinya campur antara panik dan waspada.

Joni langsung bengong sepersekian detik lalu mukanya makin kusut.

“Lo jangan ikut-ikutan, anjing!”

Dia ngacak rambutnya sendiri, frustrasi.

“Aaah!”

*****

Nama Pena: SleepyFace

Genre: Apokalips, Fantasy, Action

Platform: Victie

Editorial:

Buku karya SleepyFace ini berhasil menghadirkan suasana apokalips yang ringan tetapi tetap seru dan menegangkan. Cerita tidak hanya fokus pada aksi, tetapi juga memperlihatkan hubungan antar karakter dengan cara yang natural. Dari awal sampai akhir, pembaca dibuat nyaman mengikuti interaksi Joni, Mila, dan Deri di dalam gudang yang sederhana namun terasa hidup. Meski latarnya dunia kacau, suasana hangat di antara mereka membuat cerita terasa lebih manusiawi.

Karakter Joni menjadi daya tarik utama dalam bab ini. Ia digambarkan sebagai sosok yang kasar dalam bicara, tetapi sebenarnya peduli. Cara dia membantu Deri, memasak makanan, memberikan obat, sampai memastikan mereka makan dengan baik menunjukkan sisi baiknya tanpa harus dibuat terlalu lembut. Dialog-dialognya juga terasa natural dan lucu. Pembaca bisa melihat bahwa Joni bukan karakter dingin biasa, melainkan tipe orang yang perhatian dengan caranya sendiri.

Interaksi antara Mila dan Joni juga menjadi bagian paling menghibur dalam bab ini. Mila yang terus waspada karena trauma membuat banyak situasi canggung, sementara Joni justru kesal karena niatnya selalu disalahartikan. Kesalahpahaman saat Mila mengira Joni meminta “bayaran tubuh” menjadi momen komedi yang sangat menghidupkan suasana. Reaksi Joni yang langsung marah dan malu terasa lucu tanpa dipaksakan. Humor seperti ini membuat cerita apokalips terasa lebih ringan dan enak diikuti.

Selain humor, penulis SleepyFace juga berhasil membangun detail dunia yang menarik. Trait milik Joni yang bisa menggandakan galon air memberi gambaran bahwa kemampuan di dunia ini sangat berguna untuk bertahan hidup. Hal kecil seperti air, obat, dan makanan digambarkan sangat berharga. Ini membuat suasana dunia apokalips terasa realistis karena kebutuhan dasar manusia tetap menjadi hal paling penting.

Karakter Deri juga cukup menarik meski kondisinya masih lemah. Dari sedikit percakapannya, pembaca bisa melihat bahwa dia cukup tenang dan tahu diri. Sikapnya yang langsung berterima kasih kepada Joni membuat hubungan mereka terasa lebih hangat. Sementara Mila tampil sebagai adik yang benar-benar peduli kepada kakaknya. Cara dia menyuapi Deri dan selalu memastikan kondisi sang kakak menunjukkan hubungan keluarga yang terasa tulus.

Gaya penulisan SleepyFace mudah dipahami dan mengalir cepat. Dialognya terasa seperti percakapan sehari-hari sehingga pembaca mudah masuk ke dalam suasana cerita. Penggunaan bahasa santai membuat karakter terasa hidup dan cocok dengan genre action fantasy modern. Selain itu, ritme cerita juga pas karena ada perpaduan antara suasana tegang, hangat, dan lucu dalam satu bab.

Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik karena mampu menampilkan chemistry karakter dengan baik sambil tetap membangun dunia apokalipsnya. Cerita tidak terasa berat meski latarnya penuh bahaya. Humor yang natural, karakter yang kuat, dan interaksi yang hangat menjadi nilai utama dari karya SleepyFace di platform Victie. Buku ini sukses membuat pembaca penasaran untuk melihat perkembangan hubungan mereka dan bagaimana Joni akan bertahan hidup di dunia yang semakin kacau.

by Hayyi Ze





Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama