Sistem Digital Dipa - Aina

Sistem Digital Dipa - Aina


0

Bab 25: Jejak Digital Berbahaya

Grace menatap chip merah itu dengan pandangan kosong. Ucapan Dipa tadi masih terngiang di kepalanya walau hanya berupa bisikan pelan.

“Aku bingung, Profesor. Kenapa Dipa melarang kita ke tempat itu? Padahal dia butuh unit pusat supaya bisa pulih lagi. Kenapa malah menyuruh kita menjauh?” tanya Grace sambil menghela napas berat.

Profesor Ervin menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menoleh ke arah Grace.

“Dipa memiliki protokol perlindungan yang sangat tinggi, Nona. Walau sekarang dia adalah robot, cara berpikirnya berbeda dari unit lain. Keselamatan Nona lebih penting daripada sistem dirinya sendiri. Sejak awal dia memang diprogram untuk melindungi Anda,” jelas profesor dengan nada serius.

Grace mengepalkan tangan.

“Kalau begitu kenapa dia tidak memilih menyelamatkan dirinya sendiri? Waktu itu dia bisa saja membawaku kabur dari orang-orang ayahku. Tapi dia malah memilih melakukan bom bunuh diri,” ucapnya lirih. Napasnya terdengar berat karena kelelahan.

Profesor Ervin menyesuaikan kacamatanya lalu tersenyum tipis.

“Kalau Nona benar-benar ingin mengembalikan Dipa, sebenarnya masih ada satu cara. Dulu saat aku membantu membangun sistem digitalnya bersama tim rahasia milik Tuan Thorne, aku menemukan jalur belakang menuju server pusat. Sebuah backdoor yang mungkin masih bisa digunakan.”

Mata Grace langsung berbinar.

“Benarkah? Jadi kita bisa mengambil data dari sana?” tanyanya penuh harap.

“Mungkin bisa. Tapi risikonya besar. Kalau aku mencoba masuk ke server itu dari gubuk ini, tim IT Industri Thorne bisa melacak lokasi kita hanya dalam beberapa menit.”

Grace terdiam. Ia sadar pilihannya sangat berbahaya. Namun membiarkan Dipa menghilang begitu saja juga bukan hal yang sanggup ia lakukan.

“Kita coba saja, Profesor. Aku ingin tahu semua data tentang Dipa sebelum ayahku menghapusnya dari pusat sistem,” ucap Grace mantap.

Profesor Ervin mengangguk pelan. Ia menyambungkan kabel tipis dari chip merah milik Dipa ke laptopnya.

Beberapa detik kemudian layar laptop bergetar disertai suara aneh.

ZINNNG~

Layar berubah merah terang. Sebuah folder muncul di hadapan mereka.

“PROYEK REGENERASI - SUBJEK SALVATORE”

“Akhirnya berhasil!” seru Grace sambil mendekat. “Cepat buka, Profesor!”

Profesor membuka folder itu perlahan. Namun tiba-tiba muncul peringatan besar di layar.

“MASUKKAN KATA SANDI BIOMETRIK. SUARA ATAU DETAK JANTUNG.”

Profesor menggaruk kepalanya.

“Masalahnya kata sandinya bukan angka. Sistem meminta frekuensi suara atau detak jantung seseorang.”

Grace teringat sesuatu tentang Dipa. Setiap kali bersentuhan dengannya, Dipa selalu bereaksi aneh. Bahkan saat ia menangis, Dipa seperti mampu merasakan getaran emosinya.

“Coba gunakan rekaman suara Dipa tadi,” saran Grace.

Profesor segera memutar rekaman itu.

“Gra...ce...ha...lo...”

Beberapa detik kemudian layar kembali berbunyi.

“KODE GAGAL. SILAKAN COBA LAGI.”

Profesor menghela napas.

“Sistem meminta detak jantung yang hidup.” Ia menatap Grace cukup lama. “Kurasa kuncinya bukan Dipa, tapi Anda.”

“Hah? Aku?” Grace terlihat bingung.

“Tuan Thorne sulit ditebak. Mungkin dia menjadikan detak jantung Nona sebagai akses utama karena Dipa selalu berada di sisi Anda. Coba letakkan tangan di sensor laptop.”

Grace menelan ludah lalu menempelkan telapak tangannya ke sensor. Jantungnya berdegup sangat cepat.

BIP! BIP!

“AKSES TERBUKA.”

Folder itu akhirnya terbuka. Bukan hanya data bisnis gelap Alexander Thorne yang muncul, tetapi juga sebuah video lama.

Di layar terlihat pria yang wajahnya sangat mirip Dipa versi lebih tua. Ia duduk di depan kamera tersembunyi dengan wajah lelah.

“Jika seseorang melihat video ini, berarti aku sudah tiada. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada putraku, tetapi aku takut Alexander Thorne menjadikannya bagian dari proyek robot tempur. Jika Dipa menjadi Unit Tempur 05, dia akan kehilangan sisi manusianya. Tolong selamatkan Dipa.”

Grace langsung menutup mulutnya karena terkejut.

“Jadi Dipa benar-benar diburu untuk dijadikan robot tempur?” suaranya bergetar.

Profesor Ervin menunduk penuh penyesalan.

“Maafkan aku, Nona. Saat itu Dipa terluka parah. Aku sedang mencari kandidat untuk proyek Unit Tempur 05. Aku pikir menyelamatkannya adalah pilihan terbaik. Kalau tidak, dia pasti mati.”

Grace makin syok mendengar kenyataan itu.

“Jadi semua penderitaan Dipa karena proyek itu...” gumamnya sesak.

Tiba-tiba suara helikopter terdengar semakin dekat. Cahaya lampu sorot menembus celah kayu gubuk tua.

Profesor Ervin langsung berdiri panik.

“Mereka menemukan kita! Cepat cabut chip itu sekarang!”

Grace segera mencabut kabel hingga rusak. Detik berikutnya pintu gubuk didobrak keras.

BRAKK!

“Selamat malam, putriku.”

Suara dingin Alexander Thorne memenuhi ruangan. Ia berdiri di ambang pintu bersama sepuluh pria bersenjata.

Grace langsung berdiri di depan profesor sambil menyembunyikan chip merah di belakang tubuhnya.

“Ayah sudah membohongiku selama ini! Ayah bilang Dipa adalah manusia yang Ayah selamatkan, padahal Ayah menjadikannya alat untuk bisnis gelap!” teriak Grace marah.

Alexander tertawa kecil sambil melangkah masuk.

“Jadi akhirnya kamu tahu juga. Dunia ini bukan soal perasaan, Grace. Yang penting hanyalah kekuasaan dan uang. Dipa itu cuma alat yang sekarang sudah rusak. Serahkan chip itu dan pulang bersama Ayah.”

Grace menatap ayahnya penuh kebencian.

“Ayah tidak punya hati!”

Alexander tersenyum dingin.

“Hati tidak membuat seseorang bertahan hidup.”

Tiba-tiba chip merah di tangan Grace memancarkan cahaya terang.

Semua orang langsung menoleh.

“Nona, chipnya bersinar lagi!” teriak Profesor Ervin panik.

Grace memegang chip itu erat di depan dadanya. Cahaya merahnya semakin kuat hingga memenuhi ruangan.

SHINGGG!

*****

Nama Pena : Aina

Genre : Sistem, Fantasi

Platform : MaxNovel

Editorial:

Buku ini berhasil menghadirkan suasana tegang sejak awal cerita. Penulis membawa pembaca masuk ke dalam konflik batin Grace yang mulai mempertanyakan semua hal tentang Dipa dan ayahnya sendiri. Percakapan antara Grace dan Profesor Ervin terasa emosional karena memperlihatkan rasa takut, bingung, sekaligus harapan untuk menyelamatkan Dipa. Alur cerita juga berjalan cepat sehingga membuat pembaca penasaran dengan apa yang akan terjadi berikutnya.

Bagian ketika Profesor Ervin menjelaskan tentang sistem perlindungan Dipa menjadi salah satu poin yang menarik. Pembaca bisa melihat bahwa Dipa bukan hanya sekadar robot biasa, tetapi memiliki rasa ingin melindungi Grace dengan sepenuh hati. Hal ini membuat karakter Dipa terasa lebih hidup dan emosional walaupun dirinya adalah sebuah unit robot. Hubungan antara Grace dan Dipa juga terasa semakin kuat dan menyentuh.

Penulis cukup baik dalam membangun unsur misteri dan teknologi. Kehadiran chip merah, server rahasia, hingga sistem biometrik membuat suasana cerita terasa modern dan menegangkan. Adegan saat mereka mencoba membuka folder rahasia juga berhasil membuat rasa penasaran meningkat. Pembaca dibuat ikut berpikir tentang isi data tersebut dan rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Alexander Thorne.

Momen terbukanya folder rahasia menjadi salah satu bagian paling emosional. Video dari pria yang mirip Dipa membuka fakta mengejutkan tentang masa lalu Dipa dan proyek robot tempur. Dari sini pembaca mulai memahami bahwa Dipa sebenarnya adalah korban dari ambisi besar Alexander Thorne. Penjelasan ini membuat cerita terasa lebih dalam karena tidak hanya membahas teknologi, tetapi juga sisi kemanusiaan.

Karakter Grace terlihat berkembang dengan baik. Ia tidak lagi hanya menjadi sosok yang bingung, tetapi mulai berani mengambil keputusan besar walaupun penuh risiko. Keinginannya untuk menyelamatkan Dipa menunjukkan bahwa ia benar-benar peduli. Reaksi Grace saat mengetahui kebenaran tentang Dipa juga terasa natural dan mudah dipahami oleh pembaca.

Kemunculan Alexander Thorne di akhir menjadi penutup yang sangat kuat. Sosoknya digambarkan dingin, kejam, dan hanya memikirkan kekuasaan. Dialog antara Grace dan ayahnya berhasil memperlihatkan pertentangan yang besar di antara mereka. Adegan ketika chip merah tiba-tiba bersinar juga menjadi cliffhanger menarik yang membuat pembaca ingin segera melanjutkan ke bab berikutnya.

Gaya penulisan cukup sederhana dan mudah dipahami. Dialog antartokoh terasa aktif sehingga cerita tidak membosankan. Walaupun masih ada beberapa kalimat yang bisa dirapikan agar lebih efektif, keseluruhan cerita tetap enak diikuti. Penulis juga berhasil menjaga suasana tegang dari awal hingga akhir tanpa kehilangan emosi dari setiap tokohnya.

Penulis Aina menghadirkan cerita bergenre sistem dan fantasi yang dipadukan dengan unsur teknologi modern. Imajinasi yang dibangun terasa luas dan penuh misteri. Melalui platform Maxnovel, Aina berhasil menciptakan kisah yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga menyimpan sisi emosional yang kuat antara manusia dan teknologi.

by Hayyi Ze





Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama