Ajian di Balik Daster - Lyren Kael


Ajian di Balik Daster

0

"Selamat jalan, Nek..." bisik Raga terbata.

Di sekelilingnya, para pelayat tertunduk khidmat. Suara dentuman pacul yang beradu dengan tanah serta lantunan doa menciptakan simfoni duka yang pekat. Saat gundukan tanah mulai menutup peti, tangan Raga bergetar hebat. Ia melempar segenggam tanah terakhir sebagai tanda perpisahan.

“Maaf, Nek… aku janji akan terus melangkah,” gumamnya lirih.

Di sudut lain, Kinten berdiri dengan anggun. Bunga desa itu memancarkan aura ketenangan meski matanya menyiratkan keprihatinan yang mendalam. Ia mendekat, lalu menyentuh bahu Raga dengan lembut.

“Rag, kamu tidak sendiri. Aku tahu ini sangat berat,” ucapnya menyejukkan.

Raga menoleh, memberikan senyum getir. “Neng... terima kasih sudah datang. Setidaknya aku tidak merasa hampa sendirian di sini.”

Kinten menepuk bahunya sekali lagi, meredam gejolak emosi Raga yang nyaris tumpah.

Usai pemakaman, Raga kembali ke rumah reotnya yang kini terasa semakin sunyi. Aroma kopi tua, kayu lapuk, dan kapur barus masih tertinggal di sana. Di atas meja makan, ia menemukan sebuah amplop cokelat kusam bertuliskan: 

"Untuk Ragaku."

Dengan tangan gemetar, ia membaca goresan tinta nenek yang rapi.

“Raga, Cucuku... Jika kau membaca ini, artinya tugas Nenek sudah usai. Pesanku, jangan hanya mencari rezeki yang mudah. Carilah pekerjaan yang membuatmu bangga dan nyaman. Carilah istri yang baik dan rupawan agar kau betah di rumah. Nenek titipkan sertifikat rumah dan tanah di lemari. Jaga baik-baik warisan ini.”

Mata Raga memanas. Ia mendekap surat itu erat-erat. Namun, dasar sifatnya yang jenaka, ia bergumam sendiri, “Cari rezeki yang bikin nyaman? Maksud Nenek... judi sabung ayam? Atau jadi tukang parkir? Kan nyaman rasanya punya banyak motor tanpa takut ditarik debt collector.”

Ia tertawa getir, membayangkan kepalanya pasti akan dipukul menggunakan sudip kayu jika sang nenek mendengar celotehnya.

Pandangan Raga beralih ke jemuran. Daster bolong milik nenek melambai ditiup angin. Kain itu adalah saksi bisu perjuangan neneknya menghidupi mereka lewat jasa pijat urut. Raga mengambil daster itu, melipatnya rapi, dan mencium aromanya yang khas minyak tawon.

“Daster ini sudah berjasa besar. Sekarang, biarkan aku yang merawat kenangannya,” janjinya pada langit yang mulai temaram.

Keheningan itu pecah saat Kinten tiba-tiba muncul dari pintu belakang membawa bungkusan plastik.

“Rag, makan dulu yuk. Nanti kamu jatuh sakit,” serunya.

Hati Raga seketika mencair. “Wah, rezeki nomplok! Ini bukan sistem bayar di tempat (COD) kan, Ten? Soalnya amplop pelayat belum aku hitung.”

“Hari ini gratis, besok bayar!” canda Kinten sambil menyajikan nasi padang rendang ke atas piring.

“Tahu saja kesukaanku. Kamu tidak makan? Mau aku suapi?” goda Raga.

“Sudah makan tadi. Cepat habiskan, nanti basi,” sahut Kinten ketus, meski wajahnya yang cantik merona.

"Ini nasi tadi pagi atau kemarin?" selidik Raga nakal.

"Nasi barulah!" Kinten membalas dengan pukulan ringan di punggung Raga.

"Aduh! Belum menikah saja sudah main fisik," keluh Raga sambil terkekeh, yang dibalas cubitan keras hingga sendok di tangan Raga terlepas ke lantai.

KLUNTING!

Merasa bersalah, Kinten segera membungkuk untuk mengambil sendok tersebut. Saat itulah, dari sudut matanya, Raga tak sengaja melihat belahan dada Kinten yang tersembunyi di balik pakaian elastisnya. Raga tersentak, tenggorokannya mendadak kering.

“Hm... hidangan penutup yang sangat segar,” gumamnya tanpa sadar.

“Kamu bilang apa?” tanya Kinten curiga. Ia menyadari arah pandangan Raga dan segera merapikan pakaiannya dengan wajah memerah.

"Eh, tidak... itu, sendoknya jangan langsung dipakai, kotor," kilah Raga gugup.

"Biarlah, buat tambah gizi," sahut Kinten ketus, meski dalam hatinya ia merasakan debaran yang tak biasa.

Nama pena: Lyren Kael

Genre: Perkotaan, Supernatural, 18+

Platform: MaxNovel

Editorial:

Cerita ini membuka tabir emosi yang sangat dalam melalui duka seorang pemuda bernama Raga yang baru saja kehilangan neneknya. Suasana pemakaman digambarkan begitu nyata, di mana rasa sedih berpadu dengan kehangatan dari orang-orang sekitar, terutama kehadiran Kinten. Penulis berhasil membawa pembaca merasakan kesunyian rumah reot yang kini hampa, namun tetap menyisakan aroma kenangan yang tidak mudah hilang.

Daya tarik utama kisah ini terletak pada surat wasiat sang nenek yang berisi pesan hidup yang sangat membumi. Bukan sekadar soal harta, nenek Raga menitipkan nasihat tentang cara mencari rezeki dan pasangan hidup agar Raga bisa bahagia. Dialog batin Raga saat membaca surat ini memberikan sentuhan humor yang segar, membuat cerita tidak melulu soal air mata tetapi juga tentang semangat untuk terus maju.

Hubungan antara Raga dan Kinten menjadi bumbu manis yang menghidupkan suasana. Interaksi mereka yang penuh candaan khas anak muda memberikan kontras yang menarik terhadap latar belakang duka yang dialami tokoh utama. Kinten hadir bukan hanya sebagai sosok cantik yang memikat mata, tetapi juga sebagai pendukung moral yang sangat dibutuhkan Raga di masa sulitnya.

Penulis menggunakan gaya bahasa yang lugas namun penuh makna, membuat setiap adegan terasa mengalir tanpa paksaan. Ada sisipan bumbu dewasa (18+) yang disajikan secara implisit melalui perspektif Raga, menambah dinamika pada genre perkotaan yang diangkat. Hal ini menunjukkan sisi manusiawi Raga yang tetap punya naluri laki-laki meski hatinya sedang terluka.

Secara keseluruhan, cerita ini sangat cocok bagi pembaca yang menyukai kisah kehidupan sehari-hari dengan sentuhan supernatural yang tipis dan bumbu romansa yang menggoda. Konflik emosional yang dibangun terasa sangat relevan bagi siapa pun yang pernah merasakan kehilangan. Perpaduan antara nasihat bijak nenek dan kehadiran sosok wanita seperti Kinten membuat pembaca penasaran dengan langkah Raga selanjutnya.

Adapun profil penulis yang meramu kisah menarik ini adalah Lyren Kael. Penulis cerita fiksi dengan keahlian memadukan genre Urban (Perkotaan) dan Supernatural. Dikenal melalui karyanya di platform MaxNovel, Lyren seringkali menyisipkan unsur kedewasaan dan bumbu kehidupan yang berani namun tetap memiliki kedalaman makna cerita.

By Nada Maya

28 Komentar

Ulasan buku

  1. Berhadapan dengan realita, novel ini seketika bikin aku ngaca ke diri sendiri.

    BalasHapus
  2. Naskah ini berhasil menggabungkan suasana duka dengan sentuhan humor ringan tanpa terasa dipaksakan. Adegan pemakaman yang menyentuh berpadu apik dengan dialog lucu Raga, sehingga cerita terasa hangat, manusiawi, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.--rawit

    BalasHapus
  3. Raga digambarkan sebagai sosok sederhana, tulus, dan penuh perjuangan. Kesedihannya terhadap nenek, cara ia mengenang masa lalu, hingga candanya bersama Kinten membuat pembaca mudah bersimpati dan merasa terhubung secara emosional.__ima

    BalasHapus
  4. Penggunaan latar kampung, kebiasaan warga, aroma rumah tua, hingga benda-benda sederhana seperti daster dan surat nenek memberi warna lokal yang kuat. Hal ini membuat cerita terasa nyata dan membumi, seolah pembaca ikut berada di dalamnya.

    BalasHapus
  5. Percakapan antara Raga dan Kinten terasa sangat alami, khas obrolan orang dekat di lingkungan sederhana. Candaan, godaan, dan celetukan spontan membuat cerita mengalir ringan dan membuat pembaca tersenyum tanpa kehilangan makna emosional.

    BalasHapus
  6. Pesan dari nenek tentang mencari rezeki yang membanggakan dan hidup dengan hati yang nyaman disampaikan secara sederhana namun mengena. Tanpa terkesan menggurui, naskah ini mengajak pembaca merenung tentang keluarga, perjuangan hidup, dan arti kebahagiaan.

    BalasHapus
  7. Cuplikan novel ini menyajikan perpaduan emosi yang hangat sekaligus getir. Wasiat sang nenek terasa tulus, sederhana, dan membumi, tidak hanya soal warisan harta, tetapi tentang makna hidup, kebanggaan, dan kenyamanan hati. Nasihatnya terasa dekat dengan realitas pembaca, terutama soal rezeki dan pasangan hidup.
    Yang menarik, suasana haru tidak dibiarkan terlalu larut. Karakter Raga tetap menunjukkan sisi jenaka lewat celetukannya tentang “sabung ayam” dan sindiran soal markir serta debt collector. Humor tipis ini justru membuat adegan terasa manusiawi dan tidak berlebihan dalam kesedihan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kak Rentang.. Support sekali komennya..

      Hapus
  8. Menggelitik dengan nuansa khasanah lokal yang natural... lanjutkan Thoorr..

    BalasHapus
  9. Setiap kalimatnya berasa aku sedang merasakan yang raga lakukan dan rasakan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe.. Sampai segitunya kak.. Jadi terhura..

      Hapus
  10. Ini nih.. novel dari penulis kesukaan Inah...
    Ceritanya bagus dan tidak berbelit. Sat set zag zeg.. menyala dasterkuuuu😁

    BalasHapus
  11. Ikut sedih waktu Raga ditinggal pergi sang Nenek, untungnya ada Kinten yang setia menemani. Jadi penasaran buat lanjut baca karena ada label 21+

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan sedih istrikuh.. Kakanda akan ngehiburmu..

      Hapus
  12. Potongan ceritanya punya potensi "kecanduan" yang tinggi bagi pembaca. Lyren Kael berhasil menciptakan tokoh utama yang punya sisi melankolis sekaligus slengean. Hubungan antara Raga dan Kinten sangat menjanjikan chemistry yang menarik untuk diikuti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wiiii masa iya kak.. Gak nyadar nih.. Makasih ya kak..

      Hapus
  13. Keren kak lyren...karakter slengean kena banget.ditambah ada humornya..buat nagih baca novelnya

    BalasHapus
  14. Bagus banget kak Kael. . . Entah kenapa kalo baca novel kakak bawaannya selalu aja pengen terus. . . Pengen lanjut baca maksudku. . . Ciri khasnya tuh bikin candu, dark comedynya selalu dapat dehh. . . Suka sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kak.. Iya lanjut terus sampe tamat ya kak..

      Hapus
Lebih baru Lebih lama