"Lututmu kurang rendah, Arga! Apa otakmu tidak cukup untuk mengepel dengan benar?"
Cacian melengking itu datang dari Liana, ibu mertua Arga. Ia berdiri angkuh di ruang tengah rumah megah keluarga Baskoro. Arga, yang berlutut memegang kain pel, hanya diam. Baginya, penghinaan telah menjadi rutinitas harian selama dua tahun terakhir.
"Sudah, Mah. Jangan buang energi bicara pada sampah," sahut Larasati saat turun dari tangga. Istrinya itu tampak elegan dalam setelan kantor mahal, kontras tajam dengan Arga yang mengenakan pakaian lusuh.
Laras berjalan melewati Arga dan sengaja menginjak jari tangan suaminya dengan sepatu hak runcingnya. Arga meringis menahan sakit, namun Laras justru menekan lebih keras sebelum melanjutkan langkah.
"Malam ini ada perjamuan bisnis. Kau tidak perlu datang. Aku malu jika rekan-rekanku tahu suamiku hanyalah pelayan tak berguna," ucap Laras dingin tanpa menoleh.
Arga menatap punggung istrinya. Di rumah ini, ia hanyalah "Menantu Sampah", bahan ejekan seluruh Metropolitan Jaya.
Kisah pahit ini bermula dua tahun lalu. Arga ditemukan hampir mati di pinggir perkebunan sawit milik keluarga Baskoro, tubuhnya penuh luka akibat pengkhianatan organisasi misterius. Tuan Baskoro, kakek Laras, menyelamatkannya. Sang kakek melihat "aura naga yang tertidur" dalam diri Arga dan merawatnya secara rahasia.
Menjelang ajalnya, Tuan Baskoro membuat keputusan menggemparkan: Laras, cucu kesayangannya, harus menikahi Arga.
Tiba-tiba, dering telepon memecah ketegangan. Seorang pelayan mengangkatnya dengan wajah pucat. "Tuan Besar Baskoro kritis! Ini saat-saat terakhirnya!"
Wajah Laras memucat. "Siapkan mobil!"
Mereka bergegas keluar. Arga, dengan insting yang masih tajam, segera mengikuti.
"Siapa yang menyuruhmu ikut, sampah?!" bentak Liana.
"Kakek penyelamat nyawaku. Aku harus ada di sana," jawab Arga datar, suaranya tiba-tiba berwibawa. Liana terdiam sesaat oleh tatapan Arga, lalu mendengus dan membiarkannya menyusul dengan taksi.
Di rumah sakit, suasana mencekam. Keluarga besar Baskoro berkumpul, namun lebih sibuk membahas warisan daripada mendoakan sang kakek.
Sebelum masuk kamar, Laras menatap Arga benci. "Puaskan dirimu. Jika Kakek meninggal, aku akan menceraikanmu detik itu juga!" Laras membenci Arga karena dianggap beban reputasi. Tanpa perlindungan kakek, ia berencana mengakhiri pernikahan mereka.
Seorang perawat keluar dan berkata, "Tuan Baskoro ingin bertemu Tuan Arga sendirian."
Keluarga riuh protes, namun perintah sang kakek mutlak. Arga masuk ke ruangan berbau antiseptik. Tuan Baskoro terlihat rapuh, namun matanya masih cerdas.
"Kemarilah, Arga..." bisiknya.
Arga menggenggam tangan pria tua itu. "Aku di sini, Kek."
"Maafkan aku telah memaksamu masuk ke keluarga dangkal ini," ucap Tuan Baskoro lemah. "Tapi itu untuk melindungi Laras dan menunggu momen ini."
Arga bingung. "Maksud Kakek?"
"Aku tidak melihat gelandangan saat menemukanmu. Aku melihat Mata Naga. Kekuatan besar yang tubuhmu dulu tak mampu tampung, sehingga jiwamu menguncinya."
Sang kakek mengeluarkan liontin giok hitam berukir naga dari balik bantal. "Ini kuncinya. Pakailah. Bangunkan nagamu. Lindungi Laras, dan balas dendamlah pada mereka yang menghancurkanmu."
Saat kulit Arga menyentuh giok itu, getaran halus merambat ke tulang belakangnya.
"Waktuku habis. Hancurkan belenggumu, Arga..."
Napas terakhir Tuan Baskoro terhembus. Monitor jantung berbunyi nada panjang. Sang singa tua telah tiada.
Arga berdiri tegak. Di luar, tangisan palsu kerabat terdengar. Arga tidak menangis. Ia mengenakan liontin itu.
BOOM!
Bagi orang lain, ruangan hening. Bagi Arga, ledakan energi terjadi di dadanya. Panas membakar kelemahannya. Penglihatannya menjadi tajam; ia bisa mendengar detak jantung orang di luar, merasakan aliran udara, dan melihat aura energi.
Di dalam jiwanya, naga raksasa membuka mata. Segel pecah.
Arga keluar dengan langkah tegak. Auranya begitu menekan hingga keluarga Baskoro yang sedang bersandiwara terdiam ketakutan.
Laras menghampiri, mata sembab. "Apa kata Kakek? Berikan padaku!" Ia mencoba meraih leher Arga.
Dengan kecepatan sulit diikuti mata, Arga menangkap pergelangan tangan Laras.
"Lepaskan!" jerit Laras kaget. "Kau berani menyentuhku?"
Arga menatapnya. Untuk pertama kalinya, Laras melihat kilatan emas di pupil Arga. Bukan mata pria lemah, melainkan mata penguasa.
"Kakek sudah pergi, Laras," suara Arga berat dan bergema. "Mulai hari ini, segalanya berubah. Kau bilang aku debu di sepatumu?"
Arga melepaskan tangan Laras dengan sentakan halus yang membuatnya mundur.
"Mari kita lihat, seberapa lama duniamu bertahan tanpa 'debu' ini."
Laras terpaku. Ia sadar Arga kini memegang kunci warisan kakek yang sangat besar. Menceraikannya sekarang berarti kehilangan harta tersebut.
*****
Nama Pena : Sal-by
Genre : Urban Fantasy
Platform : Maxnovel
Editorial:
Cerita ini sangat menarik karena menggunakan tema "pahlawan yang menyamar" yang sangat populer. Kita diajak melihat kehidupan Arga, seorang pria yang diperlakukan seperti pelayan di rumah istrinya sendiri. Penulis berhasil membangun emosi pembaca dengan menunjukkan betapa sabarnya Arga menghadapi hinaan dari ibu mertua dan istrinya, Larasati, yang sangat sombong.
Titik balik cerita terjadi saat kakek pelindung Arga meninggal dunia. Di momen menyedihkan ini, Arga justru mendapatkan kembali jati dirinya yang hilang melalui sebuah liontin giok misterius. Perubahan karakter Arga dari pria lemah menjadi sosok yang berwibawa dan penuh kekuatan memberikan rasa puas bagi pembaca yang sudah gemas dengan perlakuan keluarga Baskoro.
Konflik yang ditawarkan bukan hanya soal urusan keluarga, tapi juga tentang misteri kekuatan besar yang disebut "Mata Naga". Perpaduan antara drama rumah tangga yang penuh intrik dan unsur fantasi urban membuat alurnya terasa cepat dan tidak membosankan. Pembaca akan dibuat penasaran bagaimana Arga membalas dendam pada orang-orang yang dulu meremehkannya.
Gaya bahasa yang digunakan Sal-by cukup lugas dan mudah dibayangkan. Deskripsi saat segel kekuatan Arga pecah terasa sangat hidup, seolah kita bisa merasakan energi panas yang meledak di dalam ruangan tersebut. Hubungan antara Arga dan Larasati yang kini terjepit antara benci dan kebutuhan akan harta warisan juga menambah ketegangan cerita.
Mengenai penulisnya, Sal-by adalah seorang penulis yang aktif di platform Maxnovel. Ia dikenal mahir dalam meramu kisah bergenre Urban Fantasy, di mana kehidupan kota modern bersinggungan dengan kekuatan rahasia yang luar biasa. Melalui karya-karyanya, Sal-by sering mengangkat tema perjuangan harga diri dan pembalasan dendam yang elegan.
Secara keseluruhan, kisah ini sangat cocok bagi Anda yang menyukai cerita tentang tokoh utama yang "diremehkan namun ternyata penguasa". Cerita ini mengajarkan bahwa roda kehidupan selalu berputar, dan mereka yang hari ini berada di bawah bisa saja menjadi orang yang paling menentukan nasib kita di masa depan.
By Nada Maya

Menarikk kakk, ceritanya bagus dan alurnya juga epic. Semangat kak author. . .
BalasHapusBiasanya cewek yg dijadiin babu, ini kebalikannya. Plot twist bngt!!👍🏾👍🏾
BalasHapusDari sini aku bisa ngeliat kalau ceritanya bagus, penulis pun pandai mengolah kata, jadi pembaca gak perlu mikir keras buat ngerti maksudnya apa
BalasHapusAuthor cerita ini pandai sekali membuat narasi, sangat enak dan enjoy untuk dibaca, tak ada kata kata tidak perlu atau memutar mutar. Semuanya ngalir dan bisa masuk ke imajinasi saya. Lanjutkan
BalasHapusAku bacanya sampe ngerasa kesel banget sama si laras, nyampe banget ini ceritanya, narasinya ngga bertele tele, keren Thor
BalasHapus