Langit pagi membentang biru tanpa cela. Sang surya bersinar hangat seolah dunia sedang baik-baik saja. Burung-burung berkicau riang di antara pepohonan, sementara hembusan angin membawa aroma segar yang biasanya menenangkan hati. Namun, segala keindahan itu berhenti tepat di ambang pintu kediaman keluarga Indra.
Di dalam sana, udara terasa begitu berat. Kesunyian bukan lagi sekadar ketiadaan suara, melainkan beban yang menekan dada. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada langkah kaki yang ringan, pun tiada canda yang biasanya memenuhi ruang makan. Hanya ada tatapan yang saling dihindari, napas yang tertahan, dan gejolak perasaan yang tidak terucap.
Meja makan memang tetap terisi, tetapi bukan kehangatan yang tersaji, melainkan jarak yang membentang luas. Cahaya mentari masuk melalui celah jendela, menyentuh lantai dan dinding seakan berusaha menghidupkan suasana. Sayangnya, sinarnya gagal menembus dingin yang menyelimuti setiap sudut ruangan. Akibat kejadian kemarin, pagi yang seharusnya membawa harapan justru menjadi saksi bisu dari retaknya sebuah kepercayaan yang sulit untuk diperbaiki.
Mega masih bergeming di bawah selimut. Setelah apa yang menimpanya, wanita itu berharap semua ini hanya mimpi buruk atau sekadar permainan yang sedang disusun oleh penulis takdirnya. Namun setiap kali kelopak matanya terbuka, kenyataan bahwa si kembar bukan darah dagingnya kembali menghantam ulu hati. Rasa sesak yang kian menghimpit membuatnya membulatkan tekad untuk pergi ke Medan. Ia harus menemukan kebenaran yang sesungguhnya.
Di tempat lain, Defana terduduk lesu di sebuah kursi taman. Gadis itu tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Huh, apa dunia harus sekejam ini?" bisiknya pelan.
"Kalau kami bukan anak Mama dan Papa, apa aku dan Kak Asya pantas menerima ini?" gumamnya lagi dengan nada bergetar.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menyalahkan Papa? Tapi posisi Papa juga tidak mudah, beliau hanya ingin Mama bahagia."
Kemarin, remaja itu tidak sengaja mendengar segalanya. Ia menyimpan rahasia tersebut seorang diri. Tangisnya pecah dalam diam. Baginya, dunia yang selama ini terlihat sempurna ternyata hanyalah rangkaian kebohongan. Luka yang dirasakan gadis itu jauh lebih dalam daripada sekadar hancurnya kepercayaan Mega kepada Indra dan Defandra.
Tanpa ia sadari, seorang pria berdiri tegak tepat di belakangnya. Sosok itu awalnya tidak berniat mendekat, namun ada dorongan di hatinya untuk menyapa.
"Hapus air matamu," ucap pria itu sembari menyodorkan saputangan kecil berwarna marun.
Defana menoleh dengan kepala sedikit mendongak. Di hadapannya berdiri seorang pria jangkung dengan tinggi hampir mencapai seratus sembilan puluh sentimeter.
"Tidak usah, aku membawa tisu," tolak gadis itu halus.
"Baiklah," jawab sang pria seraya memasukkan kembali saputangannya ke saku.
Defana segera merogoh tas kain jeans miliknya. Dahinya berkerut saat ia tidak menemukan benda yang selalu ia bawa tersebut.
"Kemana ya? Apa aku lupa membawanya? Rasanya tidak mungkin," gumamnya bingung.
"Duh, memalukan sekali kalau sampai tidak ada," lanjutnya dalam hati.
Pria asing itu tetap mengamati gerak-gerik Defana dengan tenang. "Jika memang tidak ada, kamu bisa memakai saputanganku. Tenang saja, ini gratis."
"Hehehe, maaf ya, aku pikir tisuku ada di dalam tas," ucap Defana sambil meringis. "Aduh, aku malu sekali," batinnya.
"Tidak masalah," sahut lelaki itu.
Dengan menahan rasa malu, Defana akhirnya menerima pemberian tersebut.
"Jangan lupa bersihkan sekalian ingusmu itu," seloroh sang pria dengan wajah datar.
Wajah Defana seketika memerah padam. "Aku tidak ingusan!"
"Kamu pikir yang di hidungmu itu apa? Hiasan? Riasan?" ejeknya lagi. "Dia pikir aku buta kali ya?" bisik pria itu pelan.
Merasa kesal, Defana bermaksud mengembalikan saputangan itu. "Nih aku kembalikan, tidak jadi pakai!" katanya sambil mengulurkan tangan.
"Pakai saja. Ingusmu banyak begitu, apa tidak malu dilihat orang?" balas pria asing itu santai.
"Kamu!"
Perkataan Defana terputus oleh suara teriakan dari kejauhan.
"Al, mobilnya sudah siap!"
"Oke!" sahut pria yang ternyata bernama Al tersebut.
Sebelum melangkah pergi, Al kembali menatap Defana. "Saputangan itu untukmu saja. Anggap saja aku sedang bersedekah," ucapnya enteng. "Aku pergi dulu, sampai jumpa."
Defana terpaku mendengar kalimat ketus itu. Ia bangkit berdiri dan bersiap meluapkan amarahnya, namun sosok itu sudah melangkah jauh dengan sangat cepat.
"Woi, tunggu!" teriak Defana.
"Aku buru-buru, lain kali saja!" balas Al dari kejauhan.
"Bawa kembali saputanganmu! Aku tidak butuh sedekah! Aku bisa beli seratus saputangan seperti ini kalau mau!" teriak Defana sekencang mungkin.
Orang-orang di sekitar taman mulai menoleh ke arahnya. Kesadaran itu membuat nyali Defana menciut. Ia tersipu malu dan merutuki dirinya sendiri. "Kenapa aku harus berteriak sih, Na?"
Sambil menahan rasa canggung yang luar biasa, Defana segera meninggalkan lokasi itu dengan wajah merah padam dan perasaan dongkol yang tersisa di dada.
*****
Nama pena: MarwahH.K
Genre: Urban Romance
Platform: Fizzo
Editorial:
Novel ini bercerita dengan kontras yang sangat tajam antara keindahan alam pagi hari dan suasana mencekam di dalam rumah keluarga Indra. Penulis berhasil menggambarkan ketegangan emosional melalui detail sensorik, seperti udara berat, kesunyian yang menekan, dan cahaya matahari yang gagal menembus dinginnya hubungan antar anggota keluarga. Penggambaran Mega yang masih terbaring di tempat tidur karena syok mengetahui anak kembarnya bukan darah dagingnya langsung menarik simpati pembaca dan membangun misteri utama cerita. Siapa sebenarnya orang tua kandung anak-anak tersebut?
Sisi lain dari konflik keluarga ini ditampilkan melalui karakter Defana, remaja yang merasa dunianya hancur setelah mendengar rahasia keluarganya. Perasaan Defana digambarkan dengan sangat manusiawi. Ia bingung harus menyalahkan siapa, apakah ayahnya yang berbohong atau ibunya yang menjadi korban. Monolog batin Defana menunjukkan kedewasaan emosionalnya yang terluka, membuat pembaca ikut merasakan beban rahasia besar yang harus ia tanggung sendirian. Ini menambah lapisan drama psikologis selain sekadar masalah perselingkuhan atau adopsi biasa.
Pertemuan antara Defana dan pria asing bernama Al di taman menjadi titik terang sekaligus sumber komedi dalam bab yang penuh kesedihan ini. Interaksi mereka dimulai dengan cara klasik namun efektif, tawaran saputangan saat gadis sedang menangis. Namun, alih-alih romantis manis, penulis memilih pendekatan banter (saling ejek) yang segar. Sikap Al yang datar dan sedikit sarkastis memecah ketegangan sedih Defana dan memperkenalkan dinamika kimia yang unik antara dua tokoh ini.
Gaya bahasa dialog antara Defana dan Al terasa natural dan menghibur. Reaksi Defana yang malu karena tidak menemukan tisu, lalu semakin malu karena diejek soal "ingus", menciptakan momen awkward yang lucu dan relatable. Penulis pintar menggunakan humor situasional untuk menyeimbangkan beratnya latar belakang cerita. Pembaca diajak tertawa pada kecerobohan Defana, sehingga karakternya terasa lebih hidup dan tidak hanya sebagai sosok korban yang terus-menerus menangis.
Klimaks interaksi mereka terjadi ketika Al pergi dengan kalimat "Anggap saja aku sedang bersedekah", yang memicu kemarahan Defana. Teriakan Defana di taman umum yang membuatnya malu sendiri adalah akhir yang pas untuk adegan perkenalan ini. Momen ini menegaskan sifat Defana yang impulsif ketika emosinya tersentuh, serta sifat Al yang misterius dan sulit ditebak. Ketegangan antara keinginan Defana untuk membalas ejekan dan rasa malunya di depan umum meninggalkan kesan mendalam dan rasa penasaran tentang siapa sebenarnya pria bernama Al ini.
Secara keseluruhan novel ini menawarkan campuran drama keluarga yang intens dan romansa ringan yang menyegarkan. Marwah H.K, penulis di platform Fizzo, menunjukkan kemampuannya dalam merangkai emosi sedih dengan candaan cerdas tanpa terasa dipaksakan. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, novel CINTA YANG SEMPURNA cocok bagi pembaca yang menyukai kisah urban romance dengan plot twist identitas dan dinamika hubungan enemies-to-lovers atau meet-cute yang unik. Bagi penggemar cerita yang menggabungkan air mata dan tawa.
by Nada Maya
