PEJANTAN KALIMANTAN
Bab 45. Ngidam di Luar Nalar
Rembo tak bisa berhenti menggenggam lengan Ghaisani. Ia begitu sigap dan protektif, layaknya seorang calon ayah yang siaga sedang menjaga istri dan anaknya.
Pemandangan itu justru membuat Sang Aji diliputi rasa cemburu, melihat keduanya yang selalu tampak mesra.
“Ekhem!” Aji berdeham keras, sedang memberi kode.
Dengan sekejap, Rembo dan Ghaisani pun diliputi rasa canggung yang luar biasa.
Hari itu sinar mentari bersinar cerah. Rembo masih menyimpan satu batu sakti pemberian kepala suku Punan Batu, yakni sebuah batu kecil yang telah banyak membantunya selama perjalanan panjang menuju alam ghaib saranjana, dan kini Rembo pun berniat untuk mengembalikan kembali pada mereka.
“Aji, aku hendak mengembalikan batu ini,”
ucap Rembo seraya mengeluarkan batu kecil itu dari dalam tas rotan miliknya.
“Apakah itu batu pemberian suku Punan Batu yang mereka berikan tempo hari?” tanya Aji.
“Iya. Aku ingin mengembalikan sisa batu ini kepada mereka,” balas Rembo.
Ghaisani pun penasaran tentang keajaiban benda yang sedang Rembo genggam.
“Apa itu, Rembo?” ucapnya curiga.
Rembo pun mulai menjelaskan tentang kesaktian batu tersebut, tentang bagaimana ia menggunakannya untuk bisa mengubah menjadi sebuah makanan lezat selama berada di alam gaib Saranjana.
“Pantas saja kau tidak mau menerima makanan atau minuman selama ada di sana,” ucap Ghaisani yang kini mengerti maksud Rembo.
Pagi itu, saat mereka melewati lembah hutan Kalimantan, pepohonan masih terasa sangat sejuk. Udara yang berhembus membawa kesegaran alam yang tak dapat diukur oleh apapun. Tuhan sang Maha Karya telah menganugerahkan hutan Kalimantan itu dengan segala keistimewaan, budaya, serta adat di dalamnya, menjadikannya tempat yang tetap terikat erat oleh alam.
Namun sebuah perjalanan panjang itu telah membuat Ghaisani yang tengah mengandung seorang bayi mulai merasa kelelahan.
“Rembo, bisakah kita rehat sejenak? Kakiku pegal sekali,” ucapnya lirih.
Ghaisani pun terduduk di salah satu dahan pohon yang sudah tumbang.
Rembo segera mendekat dan memijat kaki Sang istri dengan lembut.
“Jika kau merasa lelah, kita tidak akan memaksa untuk terus melanjutkan perjalanan ini. Apa kau juga merasa haus atau lapar?” tanya Rembo, memastikan kondisi sang istri dan bayi yang di kandungnya dalam kondisi baik-baik saja.
Ghaisani mengangguk pelan.
“A-aku memang sedikit lapar.” Wajahnya tertunduk malu, sementara janin di dalam perutnya terus meronta meminta di isi nutrisi.
Sang Aji pun mendekat.
“Biar aku saja yang berburu ikan di sungai. Kau jagalah istrimu yang sedang hamil itu,” ujarnya memaklumi.
“Terima kasih, Ji. Kau memang sahabatku yang bisa diandalkan,” balas Rembo tulus.
Aji segera pergi menuju sungai yang letaknya tak jauh dari lokasi mereka berehat.
Rembo kembali duduk di samping Ghaisani. Rasa lelahnya seakan lenyap dan menguap, di gantikan oleh keindahan paras sang Tuan Putri Saranjana, yang kini telah sah menjadi istrinya sekaligus calon ibu dari anak yang masih di dalam kandungannya.
“Bagaimana sekarang kondisi kakimu? Apakah Sudah membaik?” tanya Rembo lembut.
Ghaisani mengangguk pelan. “Sudah.” wajahnya masih menunduk, tidak berani memandang wajah Rembo.
“Hei, aku ini suamimu. Tolong tatap wajahku,” ucap Rembo seraya meraih dagu Ghaisani yang sibuk mengalihkan pandangan.
“Bagaimana bisa aku tidak gugup? Kita sudah terpisah sangat lama,selama tujuh tahun lamanya, Setiap malam bahkan aku selalu merindukanmu. Kini engkau tampak semakin gagah dan tampan, Rembo. A—aku…"
Ghaisani menutup wajahnya yang mulai memerah.
“Katakan, apa engkau mencintaiku?” Rembo bertanya dengan nada manja, membuka perlahan kedua tangan Ghaisani yang menutupi wajahnya.
“Lihat aku, sayang…” Rembo mencoba mengajak untuk saling berpandangan.
Namun Ghaisani merasa enggan, rasa malunya begitu besar pada seorang pemuda yang sudah berhasil menggagahinya tersebut.
“Lihat ini sayang!" Rembo meletakkan tangannya di perut sang tuan putri.
“Ini adalah benih cinta kita berdua. Bayi ini adalah sebuah simbol, bahwa betapa dalamnya kerinduanku yang telah lama di simpan.”
Rembo mengelus perut Ghaisani dengan penuh kasih sayang, sekaligus mengecupnya dengan lembut.
“Rembo…” lirih Ghaisani.
Keduanya tampak begitu romantis, saling menyampaikan kerinduan yang selama ini selalu tertahan. Keduanya sama-sama masih larut dalam pelepasan rindu yang terasa amat panjang.
Wajah Rembo semakin mendekat, menghirup aroma segar tubuh sang tuan putri. Ia membisikkan sebuah kata-kata cinta di telinganya, membuat tubuh Ghaisani itu bergetar hebat tidak karuan.
“Ghaisani, aku benar benar sangat mencintaimu,” ucap Rembo pelan.
Perasaan Ghaisani seakan sedang terbang melayang. selama ini, ia selalu hidup dalam sebuah kekangan dan aturan istana yang dibuat oleh Tuan Saka, yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri.
Ia tak pernah diberi ruang untuk dekat dengan lawan jenis, apalagi berniat untuk menikah. Hari-harinya hanya dihabiskan di kamar, dilayani para pelayan istana, tanpa adanya seorang teman satu pun, dan juga tanpa adanya seorang pujangga cinta yang melamarnya.
Sesekali ia juga selalu mendampingi dan ikut Tuan Saka untuk mengunjungi para rakyatnya, yakni bangsa siluman rusa, para iblis, dan jin penghuni Saranjana.
Meski demikian, sebagian wilayah negeri alam gaib itu telah berkembang secara modern, terutama dj pusat kota Saranjana, tempat teknologi yang sudah melampaui batas logika manusia.
Saat bibir Rembo dan Ghaisani hampir saja bersentuhan, Sang Aji tiba-tiba datang sambil membawa seekor ikan besar hasil tangkapan.
“Rembo! Lihat, aku dapat ikan baung merah.besar!” serunya bangga.
Berbekal sebuah tombak panjang, Aji dengan mudah menangkap ikan di sungai Kalimantan, tentunya berkat keahliannya di bidang berburu.
Membuat Rembo dan Ghaisani terpaksa menunda momen romantis itu.
“Wah, ikannya besar sekali,” ucap Rembo mendekat.
Ikan baung merah itu tampak luar biasa besar, beratnya bahkan bisa mencapai lima belas kilogram.
“Ayo kita buat ikan bakar. Sudah lama sekali kita tidak makan itu,” ujar Aji, rupanya sudah sangat kelaparan.
Namun saat Ghaisani melihat ikan besar itu hendak dijadikan santapan, tiba-tiba rasa ngidam yang luar biasa itu muncul dengan aneh.
Tanpa berpikir panjang, Istri Rembo itu tiba tiba mendekat dan langsung melahap ikan itu hidup-hidup.
Membuat Rembo dan Aji jelas sangat terkejut.
“Ghaisani? Apa itu dirimu?” Rembo panik. Ikan itu di lahap Ghaisani mentah mentah.
Namun Ghaisani sama sekali tak memedulikannya. Di matanya, ikan baung merah itu tampak begitu menggiurkan dan lezat.
Mulut sang tuan putri dipenuhi darah ikan yang mengalir segar. Ia tampak seperti seekor harimau lapar yang sedang memangsa hasil buruan.
Dalam sekejap, ikan besar itu pun habis tak bersisa, tidak ada rasa jijik sedikitpun di hati Ghaisani.
“Maaf… ikan ini benar-benar sangat lezat! Aku sampai menghabiskan nya” ucap Ghaisani merasa bersalah.
Padahal, semua ini jelas bukan kebiasaan Ghaisani sehari hari, Meski ia berdarah setengah siluman rusa dan manusia, ia selalu memakan makanan yang dimasak dan pastinya layak konsumsi.
Rembo dan Aji masih terdiam sesaat, termenung sekaligus tak percaya. Tuan Putri Saranjana itu baru saja menghabiskan satu ekor ikan baung merah besar itu sendirian.
Angin kembali berembus semilir, membawa aroma amis yang menusuk tajam indra penciuman, Ghaisani mengusap bibirnya perlahan, mengatur napasnya, serta wajahnya yang terlihat tampak lebih segar dari sebelumnya.
“Maaf,” ucapnya ringan, “ikan ini benar-benar sangat lezat.”
Rembo menatap ke arah perut Ghaisani, begitupun dengan Aji yang juga ikut memperhatikan hal yang sama.
Pandangan Aji bertemu dengan Rembo. Tak ada kata yang terucap, namun keduanya memahami hal yang sama, satu sama lain.
" Rembo, apa benar itu istrimu?" ucap Sang Aji tidak percaya.
" Jelas dia istriku, dia bukan seutuhnya seorang manusia, melainkan setengah siluman Rusa." Rembo menjelaskan.
*****
Nama pena: Fateemah Ali
Genre: Fantasi
Platform: Max Novel
Editorial:
Buku ini berjalan dengan keberanian yang cukup jarang dalam genre fantasi populer. Penulis tidak hanya mengandalkan petualangan, tetapi juga memberi ruang pada relasi yang terasa personal. Suara narasinya cenderung hangat di permukaan, namun menyimpan lapisan ganjil yang perlahan muncul. Perpaduan antara kelembutan domestik dan keganjilan instingtif memberi warna yang tidak sepenuhnya nyaman, dan justru di situlah daya tariknya mulai terbentuk.
Ritme kalimatnya relatif stabil dan mudah diikuti. Percakapan mengalir ringan, memberi kesan akrab antar tokoh. Namun di tengah alur yang tenang itu, penulis menyisipkan perubahan nada yang cukup tajam. Peralihan dari suasana intim menuju sesuatu yang lebih liar tidak dibuat dengan banyak penjelasan, melainkan dibiarkan terjadi begitu saja. Hasilnya terasa janggal, tetapi bukan tanpa tujuan. Ada kesan bahwa dunia yang dibangun memiliki aturan sendiri yang tidak selalu bisa dipahami secara rasional.
Ketegangan dalam bab ini tidak hadir sebagai ancaman terbuka, melainkan sebagai gangguan kecil terhadap sesuatu yang tampak normal. Momen yang seharusnya sederhana berubah menjadi tidak wajar tanpa peringatan. Penulis tampak sadar untuk tidak menjelaskan terlalu jauh, sehingga pembaca dibiarkan menafsirkan sendiri apakah ini sekadar keanehan atau pertanda sesuatu yang lebih besar. Pendekatan ini memberi kesan bahwa konflik tidak selalu datang dari luar, tetapi bisa muncul dari dalam tubuh dan relasi itu sendiri.
Meski demikian, beberapa bagian masih terasa terlalu langsung dalam penyampaian emosi dan informasi latar. Ada kalimat yang menjelaskan apa yang sebenarnya sudah cukup tersirat melalui tindakan tokoh. Jika diringkas dan dipadatkan, efeknya bisa menjadi lebih kuat dan tidak terpecah. Namun secara keseluruhan, bab ini menunjukkan arah yang cukup percaya diri. Ia tidak berusaha terlihat rumit, tetapi tetap meninggalkan rasa ganjil yang bertahan lebih lama dari yang diperkirakan.
by Sweet Moon
