PULUNG GANTUNG
Bab 9. Api Dibalik Hutan
Angin malam menyapu dedaunan hutan Gunung Kidul seperti bisikan panjang yang tak pernah berhenti. Langit masih memerah, rona pulung berdenyut tipis di antara awan tipis. Cahaya itu tidak bergeming, seperti sedang mengawasi seluruh lembah. Wira memacu mobil sejauh yang bisa dilalui roda, lalu berhenti di depan jalan tanah yang menurun ke arah hutan kecil di barat Banyubiru, tempat yang tidak tertera di peta resmi, tapi bisa terlihat oleh mata siapa pun yang memperhatikannya.
Asap putih tipis. Melingkar naik dari balik pepohonan. Bima mencondongkan tubuh.
“Itu asap dupa. Jumlahnya banyak.”
“Ya,” jawab Wira singkat. Ia membuka pintu mobil dan segera mengeluarkan pistol dengan senter terpasang. Bima menyiapkan senjata yang sama. Keduanya berjalan cepat menuruni jalan tanah itu.
Suara katak dan serangga terpotong oleh denting benda logam yang dipukul berulang-ulang. Suara itu pelan, ritmis, seperti tanda atau isyarat.
Wira mengenal bunyi ini. Dari rekaman lama kasus serupa yang pernah ia pelajari. Bunyinya seperti: panggilan untuk berkumpul.
“Mereka sudah mulai,” gumam Wira. “Berapa orang, kira-kira?” tanya Bima perlahan.
“Kalau ini ritual utama… bisa sepuluh atau lebih.” Wira mengecek pelurunya. “Kalau mereka lihat kita, mereka tidak akan ragu menyerang.”
“Aku siap,” kata Bima.
Tapi Wira tahu Bima gugup. Nafasnya cepat. Tangannya sedikit gemetar. Bima bukan polisi yang biasa menghadapi ritual aneh di tengah hutan. Dan malam ini, mereka melawan orang-orang yang sudah tidak lagi melihat diri mereka sebagai manusia biasa.
Di bawah cahaya merah, Ketika mereka semakin masuk ke hutan, tanah berubah lembek. Jejak-jejak kaki terlihat jelas di tanah berlumpur. Banyak. Mungkin lebih dari lima belas orang.
“Jejaknya baru. Paling satu jam,” ujar Bima.
“Benar.” Suara denting logam semakin jelas, diikuti bau dupa yang menusuk. Wira mengangkat tangan memberi isyarat berhenti. Mereka berjongkok di balik pohon besar. Dari celah dedaunan… terlihat lingkaran api kecil di tengah hutan. Dikelilingi obor. Dan di sekeliling obor itu berdiri orang-orang berkapucong hitam. Sebagian membawa tongkat dengan ukiran Mata Candhala. Sebagian memegang kendi. Sebagian menunduk sambil melafalkan mantra. Di tengah lingkaran api itu. Larasati duduk terikat, tubuhnya lunglai, wajahnya berlumur debu dan tanah, mulutnya disumpal kain.
Wira merasakan gelombang amarah naik, tapi ia menahan diri. Ia menghitung. Satu. Dua. Tiga… Ada enam belas orang. Dan satu orang berdiri berbeda dari yang lain. Tidak memakai kupluk hitam. Pakaiannya hitam polos. Lehernya bertato mata merah menyala—tato yang sama dengan pria yang terlihat di rumah Bu Wening. Dan pria itu memegang pisau ritual tipis, bermata dua. Ia adalah pemimpin. Penggerak Mata Candhala. Sosok itu melangkah mengitari Larasati, suaranya dalam dan teratur.
“Dengan cahaya pulung yang turun malam ini… Kami buka gerbang kedua. Kami persembahkan darah keturunan pertama garis Raras… Untuk mengikat jalan kepada penjemput…”
Larasati meronta lemah, matanya merah dan berair. Ia berusaha mengeluarkan suara meski mulutnya tersumpal. Wira mengepalkan pistol.
“Satu tembakan, Wira?” bisik Bima.
“Bisa saja langsung buyar.”
“Tidak. Mereka akan menyerang balik seperti binatang.” ucap Wira berpendapat.
Bima menelan ludah. “Lalu?”
“Kita harus membuat mereka terpisah.”
Wira menarik batu kecil dan melemparkannya jauh ke arah kiri, sengaja mengenai semak-semak. Suara grasak-grusuk mengejutkan beberapa anggota sekte. Tiga orang langsung berbalik.
“Ada sesuatu!” Pemimpin sekte mengangkat tangan.
“Periksa. Jangan hancurkan lingkaran.” Ketiga orang itu berjalan masuk ke gelap. Wira memberi tanda kepada Bima untuk bergerak memutar dari sisi lain. Bima diam-diam merayap menuju sisi kanan lingkaran. Suara detak jantungnya terdengar jelas di telinga sendiri.
Wira bergerak perlahan, mendekat dari arah belakang pemimpin sekte. Ia harus cepat. Satu langkah… Dua langkah… Tiga langkah… Namun saat ia hampir cukup dekat untuk menodongkan pistol— Pria bertato itu berhenti bicara. Kepalanya sedikit miring. Seperti mendengar sesuatu yang orang lain tidak dengar. Lalu ia berbicara, tanpa menoleh:
“Keluar, Pak Polisi.” Wira membeku. “Aku sudah menunggu kedatanganmu.”
Pemimpin sekte itu berbalik perlahan. Matanya merah. Bukan seperti mata biasa—lebih seperti pembuluh darahnya pecah satu per satu. Wira mengangkat pistol.
“Lepaskan dia sekarang.” perintah Wira.
“Kau datang lebih cepat dari dugaan.” ucap pemimpin sekte itu mantap.
“Lepaskan!”
“Atau apa? Kau tembak aku? Dan kau pikir anggota lain akan membiarkanmu keluar hidup-hidup?” ucapnya sambil tertawa lepas.
Dua belas anggota sekte lain berbalik menatap Wira, perlahan mendekat. Wira tahu ia harus menahan tembakan. Kalau ia menembak sekarang, mereka semua akan menyerbu Larasati lebih dulu.
Pemimpin sekte tersenyum tipis. “Kau bahkan masih membawa cincin itu, ya?” Wira menahan napas. Laki-laki itu menunjuk jemari Wira, cincin pernikahan yang masih ia pakai sejak kematian Raras.
“Wanita itu… Raras… Dia pun merasakan kehadiran pulung sebelum kau datang ke rumahnya malam itu.”
“Diam.”
“Dia menatap langit… melihat cahaya… dan tahu bahwa garisnya sudah dipilih.”
Wira menggenggam pistol lebih kuat. “Kau berkata lagi tentang Raras, aku tembak kepalamu sekarang.” ucap Wira mulai emosi.
“Kau boleh coba,” jawabnya tenang. “Tapi kau tidak akan menyelamatkan Larasati. Kami sudah menyiapkan dua lokasi… kau hanya menemukan yang pertama.”
Wira membeku. Bima yang tersembunyi di sisi hutan ikut menegang. “Apa maksudmu… dua lokasi?” tanya Wira.
“Ritual ini butuh dua ruang. Satu untuk membuka pintu. Satu untuk menerima. Kau baru melihat gerbangnya.”
Wira merasakan perutnya melilit. “Larasati bukan korban utama malam ini… bukan?”
Pemimpin sekte itu tersenyum. “Dia hanya kunci kedua.”
“Lalu korban utamanya siapa?!” Pemimpin itu membuka kapucongnya perlahan. Wira terkejut melihat wajahnya. Ia mengenal pria itu. Sudarma. Warga desa yang mengantar informasi awal tentang pulung. Orang yang tampak paling takut. Yang malam itu gemetar ketika bercerita.
“Kejutan?” tanya Sudarma sinis. “Kau… kau memancingku dari awal.”
“Tentu saja. Kami butuh keturunannya datang sendiri. Kau. Dan Larasati.”
Wira merasakan darahnya beku. “Keturunan?” tanya Wira bingung.
“Kau pikir garis itu hanya ada pada Raras?”
“Jelaskan.”
“Kau… adalah garis keempat. Penerus terakhir. Dan malam ini, Ia menoleh ke langit merah di atas mereka. “pulung akan memilihmu.”
Tiba-tiba, dari sisi kanan hutan, Bima menembak satu anggota sekte yang mencoba menyerangnya. DOR! Anggota sekte itu jatuh. Ritual buyar. Lingkaran hancur. Dupa padam. Sudarma berteriak:
“Tangkap mereka!” Perintah Sudarman.
Wira menembak satu orang yang mendekat. DOR!
Bima menembak dua lainnya. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Empat orang mengayunkan tongkat kayu. Tiga menubruk Wira. Dua mencoba menyeret Larasati ke luar lingkaran.
Wira menghajar satu laki-laki dengan gagang pistolnya, menghantam rahang pria itu hingga roboh. Tapi dua lainnya menekan tubuhnya ke tanah. Bima menembak ke udara.
“LEPASKAN!” Tiba-tiba sebuah tongkat menghantam kepala Bima dari belakang. Bima jatuh tersungkur.
“Bima!” teriak Wira. Namun serangan tidak berhenti. Seseorang menendang bahu Wira, membuat pistolnya terlempar.
Sudarma mendekat dengan pisau ritual terangkat.
“Sudah cukup. Gerbang sudah terbuka. Tinggal memanggilmu masuk.”
Wira mencoba bangkit, namun dua anggota sekte menahan bahunya dengan keras. Sudarma mendekat, menurunkan pisau ke arah dada Wira. Wira berteriak: “Kau… salah memilih orang.” Sudarma menghentikan pisaunya, bingung sesaat. Lalu Wira menendang lutut pria yang menahannya, meraih batu di tanah, dan menghantam kepala kedua penahan itu sekuat tenaga. DOR! Tembakan lain terdengar. Bima, meski terluka, menembak dari tanah, mengenai bahu salah satu anggota sekte yang mendekati Larasati.
Sudarma kehilangan keseimbangan. Pisau hampir jatuh.
Wira meraih pistolnya. Membidik. “Selesai sudah, Sudarma.” Sudarma tersenyum.
“Belum.” Ia mengambil sesuatu dari dalam jubahnya, sebuah kantong kecil berisi serbuk putih dan melemparkannya ke wajah Wira. Wira menutup mata. Serbuk itu terbakar. Seperti kulitnya tersiram panas. Pandangannya kabur.
Sudarma melarikan diri masuk ke hutan. “Wira! Kejar dia!” teriak Bima. Wira mengusap wajahnya. Blur. Namun masih bisa berdiri. Ia menoleh ke Larasati. Wanita itu masih hidup. Masih terikat. Tapi aman sementara.
“Bima, jaga dia… jangan biarkan siapa pun mendekat.”
“Kau mau ke mana?”
“Mengakhiri ini.” Wira berlari masuk ke hutan, mengikuti jejak Sudarma. Suara ranting patah. Dengusan napas. Bayangan hitam berlari cepat. Jalur itu menanjak. Semakin gelap. Semakin jauh dari cahaya api ritual. Dan di atas bukit kecil… Cahaya merah pulung tampak bulat sempurna di langit. Sudarma berdiri tepat di bawahnya, tangan terentang.
“Lihat, Wira…”
“Ini pilihan mereka.”
“Ini malammu.”
Wira mengangkat pistol. “Tidak ada lagi tumbal malam ini.”
Sudarma tertawa, suara pecah seperti dua orang berbicara sekaligus.
“Terlambat.” Wira menekan pelatuk. DOR! Peluru menghantam dada Sudarma. Laki-laki itu jatuh tersungkur ke tanah. Namun ketika cahaya merah menyentuh tubuhnya… Sudarma menatap Wira untuk terakhir kalinya dengan mata yang berubah total, Merah. Menyala. Sama seperti langit. Dan ia tersenyum.
“Gerbang sudah terbuka… Wira…” Tubuhnya kaku. Dada berhenti bergerak. Sudarma mati. Namun langit merah tidak padam. Tidak berkurang. Tidak bergerak. Dan itu membuat Wira sadar satu hal: Ritual belum selesai. Karena Sudarma bukan pemimpin sebenarnya. Masih ada seseorang di balik semua ini. Seseorang yang lebih tinggi. Seseorang yang belum terlihat. Seseorang yang mungkin… sudah dekat. Wira menatap hutan gelap itu, napasnya
berat.
“Siapa kau sebenarnya…?” Hanya angin yang menjawan.
*****
Nama pena: Nada Maya
Genre: Misteri, Horor, Petualangan
Platform: Fizzo
Editorial:
Buku ini berjalan dengan keyakinan yang jelas terhadap alurnya sendiri. Penulis tidak ragu menempatkan pembaca langsung di tengah situasi yang tegang, tanpa banyak pengantar yang bertele-tele. Suara narasinya tegas, hampir dingin, seolah memahami bahwa ketegangan tidak perlu dipermak dengan emosi yang berlebihan. Ada kontrol dalam cara informasi diberikan, cukup untuk membuat pembaca waspada, namun tidak pernah sepenuhnya merasa aman.
Ritme kalimatnya cepat namun tidak kehilangan arah. Perpindahan dari pengamatan ke aksi terasa mengalir, dengan jeda yang tetap terjaga di momen-momen penting. Detail seperti suara logam, bau dupa, dan tekstur tanah tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi ikut membangun atmosfer yang padat. Hutan tidak digambarkan sebagai latar kosong, melainkan ruang hidup yang menekan, tempat setiap gerakan terasa diawasi.
Ketegangan utama justru muncul dari hal-hal yang ditahan. Identitas, motif, dan struktur kekuatan tidak dibuka sekaligus. Penulis memilih menyisakan ruang kosong yang membuat ancaman terasa lebih luas dari apa yang terlihat. Ada lapisan psikologis yang berjalan di bawah aksi fisik, terutama melalui relasi antara tokoh dan masa lalunya. Ini memberi kesan bahwa konflik yang dihadapi bukan sekadar eksternal, tetapi juga sesuatu yang lebih dalam dan belum selesai.
Meski demikian, beberapa bagian masih cenderung langsung dalam penyampaian, terutama pada dialog yang kadang terlalu menjelaskan situasi yang sebenarnya sudah bisa dipahami dari konteks. Jika disederhanakan, dampaknya akan lebih tajam dan terasa lebih alami. Namun secara keseluruhan, bab ini menunjukkan arah yang matang. Ia tidak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga membangun rasa bahwa dunia yang dihadirkan memiliki aturan dan misteri yang belum sepenuhnya terungkap. Ini jenis tulisan yang membuat pembaca bertahan bukan karena kejutan sesaat, tetapi karena kepercayaan bahwa ada sesuatu yang lebih besar sedang disusun dengan sabar.
by Sweet Moon
