Badai Takdir - Ikhwanul Halim

Badai Takdir - Ikhwanul Halim


0

Bab 18. Dalam Pengawasan Dokter

Dia siap untuk meyakinkan Yakub bahwa dia siap berkorban dan betapa sia-sia jika Yakub mencoba meyakinkannya agar menggugurkan janin yang dikandungnya. Namun, ketika Yakub sampai padanya, lantai bersinar dalam lingkaran cahaya yang berkliau dan segera saja cahaya putih terang menyelubungi keduanya. Dan kemudian cahaya memudar.

Kendida membuka matanya dan kini mereka berada di tengah hutan.

“Apa yang telah kamu lakukan pada bayiku?” Kendida berteriak panik, dan mengulang pertanyaan itu lagi dengan lebih teriakan yang lebih keras.

"Aku tidak melakukan apa-apa pada bayi itu," Yakub meyakinkannya.

Dia kemudian menuntun Kendida menembus hutan dan akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan besar di atas bukit.

Yakub berhenti dan Kendida melihat ke atas.

“Ayo,” desak Yakub. Kendida mengikutinya ke arah bangunan dan ketika mereka semakin dekat semakin nyata betapa besar bangunan tersebut. Pintu kemudian terbuka.

“Selamat datang kembali, Tuan Grimm,” kata pemuda itu sambil menyingkir membuka jalan. Yakub bahkan tidak berhenti untuk membalas sapaannya. Dia terus saja masuk dan berhenti di suatu tempat di sepanjang selasar dan meraih tangan Kendida.

Mereka menjauh dari pintu. Kendida digiring ke lantai atas memasuki sebuah ruangan besar dengan tempat tidur besar. Yakub mulai menanggalkan pakaian Kendida dan setelah semua pakaiannya terlepas, Yakub melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri, lalu membuka pintu ke sebuah ruangan putih.

Yakub melangkah masuk dan menarik Kendida bersamanya. Air mengalir ke kepala dan badan keduanya. Yakub memandikannya dan melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri. Dia buru-buru melakukan semua ini dan akhirnya berhenti dan menatap Kendida.

Kendida menjadi khawatir.

“Apakah kamu baik-baik saja?” dia bertanya.

“Ya.”

“Di mana kita?” dia bertanya lagi, mengangkat tangannya dan menatap air yang jatuh di tangannya.

Bagaimana bisa hujan di dalam rumah dengan atap tertutup?

“Kita berada di tempat di mana sebagian besar penyihir merasa nyaman.”

Kemudian Yakub terdiam lama sebelum berkata, “Aku tidak akan membiarkanmu mati.”

“Mengapa?” Kendida bertanya.

Yakub tidak menjawab. Dia membungkuk dan mencium bibir Kendida, menggendongnya dari kamar mandi dan membawanya untuk dibaringkan di tempat tidur dalam keadaan basah kuyup.

Tak lama kemudian, basahnya air berganti dengan kuyupnya peluh. Lalu akhirnya napas yang memburu kembali normal secara perlahan. Keduanya terdiam.

“Kau tahu berapa umurku?” akhirnya Yakub bersuara.

“Tidak.”

“Hampir enam ratus. Tahun yang sangat banyak, Kendida. Dalam tahun-tahun itu, aku telah jatuh cinta pada wanita, bersama mereka selama sisa hidup mereka. Mereka hamil dan mati atau mereka memilih untuk tidak memiliki anak dan mereka tetap mandul selama sisa hidup mereka atau mereka memilih untuk meninggalkanku.”

Kendida menatap Yakub, dan dia melanjutkan. 

“Kau berbeda, Kendida. Dengan cara yang tidak bisa kujelaskan dan aku tahu ini, karena aku memperhatikanmu selama tiga bulan kita bersama. Aku mencoba menebak apa yang akan terjadi selanjutnya denganmu, tapi aku tak bisa.”

“Apa itu bagus?” tanya Kendida. Jarinya menelusuri dada Yakub.

“Aku tahu kamu tidak mencintaiku.” Yakub menoleh, tapi Kendida tak balas menatap. “Jelas sekali kamu hanya memikirkan dia. Kamu tersesat, seolah-olah jiwamu telah tiada.”

“Lalu mengapa kamu tinggal bersamaku? Mengapa kamu ingin membuatku tetap hidup?”

“Karena aku jatuh cinta padamu. Aku melihatmu di medan perang, dan aku melihatmu melihatku, tahu persis siapa aku. Dan kau tertangkap karena aku ada di sana. Aku berdebat dengan diriku sendiri cukup lama, apakah bijaksana untuk datang dan membantumu keluar? Ketika akhirnya aku datang, kau berada di ruang bawah tanah menunggu kesepakatan yang dibuat agar mereka membebaskanmu, tetapi kau tahu itu akan sangat merugikan orang-orangmu karena kau sangat penting bagi mereka.”

“Ya, benar.”

“Jadi kau mengambil kesempatan yang kutawarkan. Kau ikut denganku. Kau bahkan pura-pura tidak tahu siapa aku. Lalu kita berciuman. Itulah yang mengunci takdirku. Aku jatuh cinta padamu.”

“Maafkan aku karena tidak merasakan hal yang sama tentangmu, Yakub.”

“Apa yang kau rasakan tentangku?”

Mata mereka bertemu. “Aku menyukaimu. Aku benar-benar tertarik padamu, tapi....”

Yakub meletakkan jari telunjuknya di bibir Kendida. 

“Cuma itu yang perlu aku ketahui. Aku orang yang sangat sabar. Ingat, aku sudah hidup selama enam ratus tahun.”

Yakub berdiri, mengeluarkan beberapa helai pakaian dari lemari dan mengenakannya. Bukan jenis busana seperti yang pernah dilihat Kendida sebelumnya.

Yakub mendatanginya di tempat tidur, masih tertutup selimut, dan mencium keningnya.

“Tetaplah di sini. Aku akan segera kembali.”

***

Kendida menatap Angrokh. Lelaki itu adalah orang yang paling sabar di dunia dan bukan penyihir. Angrokh sama sekali tidak mengusiknya saat dia melamun.

“Kamu mau bicara?” Kendida bertanya.

“Tidak,” jawab Angrokh sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya pada saat bersamaan. “Tidak juga.”

Kendida menyandarkan kepala di pundaknya dan pikiran kembali melayang ke masa lampau.

***

Yakub kembali agak lama dan Kendida bolak-balik antara sadar dan tertidur berkali-kali. Dia membuka matanya ketika mendengar suara orang-orang di ruangan itu. 

Yakub berdiri agak jauh bersama seorang pria lain. Ketika pria itu melihat bahwa Kendia terbangun, dia datang ke sisi tempat tidur. Membuka kotak yang dibawanya dan mengeluarkan sesuatu yang panjang yang dia letakkan di lehernya. 

Dia berkata, “Hai, Kendida. Saya dokter Ghozali dan mulai sekarang saya yang akan menjadi orang yang merawat Anda.”

Dia meletakkan salah satu ujung benda di lehernya menjepit telinganya dan ujung lainnya dia pegang di tangannya, lalu menyelipkan tangannya ke bawah selimut. 

Kendida menatap Yakub dengan cemas, tetapi penyihir itu terlihat tenang dan hanya menunggu. Benda itu terasa dingin di kulitnya, tetapi Kendida tetap diam. 

Setelah beberapa saat, pria itu meletakkan benda tersebut di perutnya, lalu menunggu lagi. 

Dia berkata, “Wah Kendida, sepertinya Anda akan punya bayi.” 

Dia mengeluarkan benda panjang tersebut dari balik selimut. Yakub datang dan duduk di sebelahnya sambil memegang tangannya.

“Apakah dia akan baik-baik saja?”

“Ya, Anda tidak perlu khawatir. Setidaknya belum.”

“Bisakah aku bersamanya?” Yakub bertanya.

Dokter membutuhkan beberapa detik untuk memahami pertanyaan tersebut. 

“Ya, Anda boleh bersamanya. Anda hanya harus mulai berhati-hati ketika dia mulai membesar.”

“Terima kasih, Dokter.”

“Hubungi saya kalau terjadi sesuatu. Saya akan datang ke sini secepat mungkin.” 

Dokter Ghozali kemudian tersenyum pada Kendida, dan Kendida merasa senyum pria yang disebut “dokter” itu seolah tahu ajalnya sudah dekat. Dia meninggalkan dia dan Yakub sendirian.

***

Trimester pertama semuanya lancar dan Kendida banyak bergerak. Dia menjelajahi rumah itu. Dia dibawa berbelanja dan membeli banyak pakaian. Dia juga melihat-lihat pakaian bayi yang belum pernah dia lihat sebelumnya. 

Dia dibawa dengan kendaraan yang melaju kencang tanpa ditarik kuda yang menakjubkan. Rumah Yakub adalah yang terbesar yang pernah dia lihat, sebelum dia terpaksa berpikir kembali tentang pendapatnya itu ketika melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi ke awan di kota.

Awalnya, dokter Ghozali datang sebulan sekali untuk memeriksanya dan meninggalkannya dengan senyum aneh yang sama. 

Yakub tidak lagi datang untuk mengawasi pekerjaan dokter karena dia sangat khawatir akan mendengarkan sesuatu yang salah. Dia membeli semua peralatan yang akan dibutuhkan. Mereka mengubah salah satu ruangan menjadi bangsal bersalin dan dokter sangat terkesan dengan perhatian Yakub terhadapnya. Ghozali diberitahu bahwa dia harus tinggal di tempat itu sampai persalinan selesai. Dia berencana untuk menolak, tetapi dua orang lain yang dia lihat di gedung itu menyuruhnya untuk menerimanya.

“Tuan Grimm adalah pria yang sangat gigih dan jika Anda menolak, kelak Anda akan berharap bahwa Anda tidak melakukannya,” pria itu memberitahunya.

“Saya seorang dokter yang memiliki pasien lain yang membutuhkan perhatian saya. Saya tidak bisa selalu menjaganya.”

“Dr. Ghozali, kami sangat ingin Anda memikirkannya lagi. Tuan Grimm mengkhawatirkan nyonya Kendida. Ini hal baru bagi kami. Kami belum pernah melihat dia begitu peduli pada seseorang,” kata wanita itu.

“Apa maksud Anda?”

* * * * *

Nama Pena: Ikhwanul Halim

Genre: Fantasi

PF: Hinovel

Editorial:

Novel karya Ikhwanul Halim ini menghadirkan cerita fantasi yang penuh misteri, emosi, dan konflik batin yang kuat. Pembaca bisa merasakan suasana gelap sekaligus romantis yang dibangun dengan cukup menarik. Penulis berhasil membuat hubungan antara Kendida dan Yakub terasa rumit, bukan sekadar kisah cinta biasa. Ada rasa takut, pengorbanan, dan takdir yang terus menghantui keduanya sepanjang cerita.

Salah satu hal yang paling menarik dari novel ini adalah karakter Yakub. Dia digambarkan sebagai sosok penyihir tua yang telah hidup hampir enam ratus tahun. Namun meski memiliki umur panjang dan kekuatan besar, Yakub tetap terlihat rapuh ketika menyangkut Kendida. Sikapnya yang dingin berubah menjadi penuh perhatian dan protektif. Hal ini membuat pembaca penasaran dengan masa lalunya dan mengapa ia begitu takut kehilangan Kendida. Karakter seperti ini membuat cerita terasa lebih hidup dan emosional.

Kendida juga menjadi tokoh yang cukup kuat. Walaupun sedang hamil dan berada dalam situasi asing, dia tetap berani mempertanyakan banyak hal. Kendida tidak langsung luluh pada Yakub. Dia jujur tentang perasaannya dan tidak berpura-pura mencintainya. Sikap ini membuat karakter Kendida terasa realistis dan tidak berlebihan. Pembaca bisa memahami bahwa dirinya masih memiliki luka dan kebingungan sendiri.

Dunia fantasi yang dibuat oleh Ikhwanul Halim juga terasa unik. Perpindahan dari hutan, rumah besar misterius, hingga kendaraan tanpa kuda memberi kesan bahwa dunia Yakub jauh lebih maju dan berbeda dari dunia Kendida sebelumnya. Penulis tidak menjelaskan semuanya secara langsung, tetapi justru itu yang membuat pembaca semakin penasaran. Ada nuansa modern bercampur sihir yang menarik untuk diikuti.

Bagian ketika dokter Ghozali muncul juga menjadi salah satu adegan yang menarik perhatian. Kehadiran seorang dokter di tengah dunia penyihir memberikan suasana berbeda. Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan terasa sederhana, tetapi berhasil menciptakan ketegangan. Apalagi ketika dokter terus memberikan senyum aneh kepada Kendida. Pembaca dibuat bertanya-tanya apakah sebenarnya ada bahaya besar yang sedang menunggu.

Selain itu, hubungan antara Yakub dan Kendida dibangun dengan perlahan. Tidak semuanya langsung romantis atau sempurna. Justru hubungan mereka dipenuhi percakapan jujur yang terasa menyentuh. Yakub mengakui cintanya tanpa memaksa Kendida membalas perasaan itu. Ia hanya ingin Kendida tetap hidup. Dari sini terlihat bahwa cinta dalam novel ini lebih banyak digambarkan sebagai pengorbanan dan kesabaran dibanding sekadar kata-kata manis.

Gaya bahasa dalam novel ini cukup ringan dan mudah dipahami. Dialog antar tokoh terasa natural sehingga pembaca tidak kesulitan mengikuti alur cerita. Deskripsi suasana juga tidak terlalu berlebihan, tetapi cukup jelas untuk membangun imajinasi. Pembaca bisa membayangkan rumah besar Yakub, lorong-lorong misterius, hingga suasana kamar putih tempat Kendida diperiksa dokter. Ini menjadi nilai tambah karena membuat cerita terasa lebih nyata. Pembaca diberi kesempatan memahami isi hati karakter dan hubungan mereka secara lebih dalam.

Novel ini juga memiliki aura misteri yang kuat. Banyak pertanyaan yang belum terjawab, seperti apa sebenarnya bahaya dari kehamilan Kendida, mengapa Yakub begitu yakin bahwa Kendida berbeda dari wanita lain, dan apa yang akan terjadi pada bayi mereka. Rasa penasaran seperti ini membuat pembaca ingin terus melanjutkan cerita sampai akhir.

Novel karya Ikhwanul Halim ini merupakan novel fantasi romantis yang menarik untuk dibaca. Ceritanya penuh emosi, misteri, dan hubungan karakter yang kuat. Penulis berhasil menggabungkan unsur sihir, cinta, dan konflik takdir menjadi satu cerita yang membuat pembaca penasaran di setiap babnya. Novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah fantasi dengan sentuhan drama emosional dan karakter yang memiliki masa lalu rumit.

by Hayyi Ze





1 Komentar

Ulasan buku

  1. Keren alurnya, saya suka nih. Agak kaget baca ada adegan 18+ dikit tipis2, cuma bisa di baca dengan baik.

    -Jen

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama