Semerbak Lavender di Kintamani



0

Bab 1

Di lantai atas sebuah bangunan tua di Florence, Via Pisana, yang fasadnya dulunya dihias dengan tangan dan kini kecokelatan oleh waktu, terdapat studio Anggun. Sebuah ruang kaca dan keheningan, cahaya dan wewangian. Jendela-jendela dari lantai hingga langit-langit memungkinkan cahaya sore kota besar yang menyebar masuk tanpa hambatan, seolah menghirup dan mengembuskan udara ke dalam ruang tersebut. Karpet Persia yang usang dimakan waktu, terhampar di lantai kayu, dan sketsa-sketsa botani yang menguning, berbingkai kuningan, tergantung di dinding. Di tengah ruangan terdapat meja kerja kayu ek panjang, dipenuhi pipet, botol, bunga kering, lumpang, sendok takar kaca kecil, dan spatula baja tahan karat. Semuanya peralatan seorang ahli parfum yang memahami pekerjaannya, bukan hanya sebagai sebuah kerajinan, tetapi sebagai bentuk seni yang dikenang.

Anggun Caldarone berdiri tanpa alas kaki di depan meja. Lengan baju linennya yang berwarna krem digulung hingga siku. Tatapannya fokus, napasnya teratur. Dengan pipet kaca halus, ia mengambil setetes dari botol amber dan meneteskannya ke dalam mangkuk porselen kecil. Aroma lavender mawar, bening, aroma bunga dengan nada pahit tanah dan kayu.

Namun ada sesuatu yang hilang. Komposisinya masih tajam, terlalu tajam. Anggun mengerutkan kening, mengambil botol kedua, kali ini dengan neroli, dan menambahkan sedikit aroma. Ia mengirup aroma lagi, kali ini lebih lama. Saat memejamkan mata, untuk sesaat ia tak lagi berada di Florence. Suara-suara keriuhan kota, dengungan trem yang teredam, dentingan logam sepeda yang lewat, derap tumit seorang perempuan yang bergegas di atas batu-batu bulat, menghilang di balik kesunsetan persepsi imajinasinya. Di saat-saat seperti itu, hanya aroma itu yang ada. Aroma wangi yang menjadi jembatan menuju sesuatu yang lebih dalam, lebih intim. Sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh Anggun sendiri.

Namun dengungan itu kembali, kali ini bukan dari luar, melainkan dari ponselnya yang tergeletak di ambang jendela. Ponsel itu bergetar dua kali sebentar, lalu sekali lama. Sebuah pola dering yang secara naluriah Anggun kenali sebagai sesuatu yang penting.

Dengan hati-hati ia meletakkan pipet itu, menyeka tangannya dengan kain linen, dan meraih ponsel. Layarnya menampilkan nomor tak dikenal, dengan kode negara yang tak langsung bisa ia kenali, meskipun itu kode negara asalnya. Sesaat ragu, lalu ia menjawab.

"Nyonya Caldarone?" tanya sebuah suara pria, sopan, profesional. "Nama saya Indra Julian. Saya notaris di Pulau Bali. Saya menelepon Anda atas nama warisan bibi buyut Anda, Malini Caldarone."

Anggun membeku.

Sinar matahari tiba-tiba berkelap-kelip di balik awan yang berlalu, menerangi ruangan dengan cahaya pucat yang mengingatkan pada hari-hari di awal November. Ia melangkah ke jendela, seolah-olah melihat akan membantunya lebih memahami apa yang didengarnya.

"Bibi buyut Anda meninggal Jumat lalu," lanjut pria itu, tanpa memahami adanya jeda itu. "Menurut surat wasiatnya, Anda adalah pewaris tunggal tanah miliknya di Kintamani. Properti itu memiliki rumah tradisional bersejarah, dikelilingi kebun lavender. Dokumen-dokumennya akan dikirimkan kepada Anda melalui pos, tetapi saya ingin memberi tahu Anda sebelumnya."

Anggun tidak berkata apa-apa. Jari-jarinya mencengkeram telepon lebih erat dari yang seharusnya.

"Nyonya Caldarone?" tanya suara itu lebih pelan.

"Saya sudah bertahun-tahun tidak menghubunginya," Anggun akhirnya berkata, perlahan, seolah menembus kabut.

"Dia mempertimbangkan hal itu. Namun demikian, dia menunjuk Anda sebagai pewarisnya. Mungkin..." Sang Notaris agak ragu, "...ada alasan mengapa Anda harus tahu."

Anggun mengangguk tanpa sadar. "Saya mengerti. Terima kasih telah memberi tahu saya."

Ia menutup ponsel tanpa pamit, menatap layar selama beberapa menit, yang perlahan memudar menjadi gelap. Dunia di sekitarnya tidak berubah, namun rasanya seperti ada sesuatu yang pecah, retakan di dinding yang bahkan tidak ia ketahui keberadaannya.

Malini.

Itulah nama yang tak pernah ia ucapkan dengan lantang selama hampir duaompok puluh tahun. Nama yang telah ia buang beserta segala bayangan yang menyertainya.

Dapur kecil dengan daun jendela berderit. Aroma kue pie susu yang baru dipanggang. Detak jam dinding yang menggema di seluruh rumah bagai detak jantung. Dan di luar, kebun lavender.

Dan jeritan itu.

Jeritan yang mengubah segalanya.

Anggun mengatupkan bibirnya, memaksa diri untuk bergerak. Ia membuka jendela, membiarkan udara segar Florence masuk, tetapi aroma lavender tak kunjung hilang. Aroma itu melekat padanya, di rambutnya, di kulitnya, di ingatannya.

Ia kembali ke meja kerja, memandangi mangkuk porselen berisi komposisi yang setengah jadi. Kini aromanya berbeda. Tiba-tiba, kemurnian saripati tak lagi terasa, melainkan bayangan di dalamnya. Bagaikan setetes tinta di air.

Alih-alih melanjutkan bekerja, ia duduk di kusen jendela, mengangkat kakinya, dan menatap atap-atap gedung Florence. Seekor elang berputar-putar di atas rumah tetangga, sementara kehidupan terus berlanjut di bawahnya, layanan pengiriman, klakson mobil, tawa samar sekelompok pemuda yang berjalan di trotoar.

Namun di dalam dirinya, semuanya sunyi.

Mengapa Malini meninggalkan lahan itu untuknya?

Mengapa sekarang?

Dan apa yang akan ia temukan di sana, selain rumput liar, kenangan, dan masa lalu yang tak pernah sepenuhnya ia pahami?

Pikiran bahwa mungkin ada sesuatu yang harus ia ketahui menghantuinya.

Ia berdiri dan membuka lemari berisi buku-buku wewangian. “The Handbook of Great Italian Perfumery”, "Essences rares", "Parfum et Mémoire", "L'Art des arômes", literatur khusus yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun, seperti orang lain mengumpulkan perangko atau koin-koin tua. Ia membolak-balik buku Prancis dari tahun 1920-an dan menemukan sekuntum bunga lavender kering di dalamnya. Rapuh, berdebu, seperti salam dari masa lalu. Ia mengambilnya.

Ia tahu ia akan pergi.

Bukan besok. Tapi segera.

Namun sebelum memutuskan, sebelum memesan tiket perjalanannya, ia harus mengakui sesuatu yang sulit bagi dirinya sendiri.

Ia takut.

Bukan pada Kintamani.

Melainkan pada apa yang mungkin ia temukan tentang dirinya di sana.

Pagi kelabu menyingsing di atas Berlin. Kilau redup di balik awan menunjukkan matahari masih ada di suatu tempat, tetapi kehangatannya tak pernah sampai ke kota. Anggun berdiri tak bergerak di jendela kamarnya, secangkir kopi dingin di tangannya yang lupa diminum.

Keputusan telah dibuat. Ia akan pergi. Bukan karena penasaran atau rindu, bukan karena perlu berdamai dengan masa lalu, tetapi karena sebagian dirinya tak mampu menahannya. Mungkin itu rasa tanggung jawab, atau mungkin hanya kegelisahan yang tak kunjung hilang sejak panggilan dari notaris itu.

Tas perjalanannya tergeletak terbuka di atas tempat tidur, dikemas dengan hati-hati namun hemat. Dua pasang celana jins, sweter tebal, buku catatan lavendernya berisi sketsa wewangiannya, sebuah kantong kulit kecil berisi essence terpentingnya, lavender, bergamot, ambergris. Barang-barang yang tak pernah ia bawa ke mana pun, tapi kini ia bawa bersamanya, seolah ingin membuktikan kepada pulau Bali bahwa pulau itu telah berubah. Atau untuk mengingatkan dirinya sendiri akan hal itu.

Mengucapkan selamat tidur pada apartemen itu lebih mudah dari yang dibayangkan Anggun. Ruangan-ruangan tempat ia tinggal, bekerja, dan tetap hening selama bertahun-tahun tiba-tiba terasa bukan lagi miliknya. Ketika menutup pintu, ia berhenti sejenak di lorong, aroma lilin lantai dan kayu tua bercampur dengan suara radio dari apartemen sebelah yang samar. Ia menarik napas dalam-dalam. Momen itu hening, namun final.

Judul: Semerbak Lavender di Kintamani

Penulis: Ikhwanul Halim

Genre: Romansa, Drama, Sejarah

Platform: Novel Laris

Editorial:

Novel ini menyajikan pembuka yang sangat puitis dan penuh dengan kekuatan memori melalui indera penciuman. Penulis berhasil membawa pembaca melintasi dua atmosfer yang berbeda secara anggun, dimulai dari studio pembuatan parfum yang tenang di Florence, Italia, hingga misteri warisan kebun lavender di Kintamani, Bali. Deskripsi yang kaya tentang wewangian dan detail ruangan membuat pembaca ikut merasakan emosi sunyi yang melingkupi kehidupan sang tokoh utama.

Karya berjudul "Semerbak Lavender di Kintamani" ini ditulis oleh Ikhwanul Halim. Sebagai salah satu penulis berbakat di platform Novel Laris, ia kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam merajut genre Romansa, Drama, dan Sejarah. Melalui novel ini, ia menampilkan gaya bercerita yang sangat berkelas, tenang, namun menyimpan riak konflik masa lalu yang mendalam, membuat karyanya terasa sangat elegan dan dewasa.

Keunggulan utama novel ini terletak pada kemampuannya menyentuh imajinasi pembaca lewat deskripsi aroma. Penulis tidak hanya menceritakan apa yang dilihat tokoh, melainkan apa yang dihirupnya, seperti lavender mawar dan aroma pie susu, yang menjadi jembatan emosional menuju masa lalu. Selain itu, transisi misteri yang dihadirkan melalui panggilan telepon tak dikenal dari seorang notaris Bali memberikan kejutan yang rapi tanpa merusak ketenangan cerita.

Mengenai kekurangan, perpindahan latar tempat yang mendadak dari kota Florence ke Berlin di akhir bagian mungkin akan memicu sedikit kebingungan mengenai lini masa perjalanan sang tokoh. Namun, kekurangan narasi ini berhasil dieksekusi dengan sangat baik lewat kelebihan penulis dalam menggambarkan kekuatan tekad dan suasana batin Anggun yang bulat untuk pergi. Fokus emosional yang kuat pada persiapan keberangkatan sang tokoh membuat pembaca mengabaikan kebingungan geografis tersebut dan justru ikut larut dalam rasa penasaran tentang apa yang menantinya di Bali.

Secara keseluruhan, awal cerita ini berhasil menanamkan benih-benih konflik psikologis yang sangat menarik tentang trauma dan pencarian jati diri. Keputusan Anggun untuk menghadapi ketakutan masa lalunya menjadi motor penggerak cerita yang membuat pembaca ingin terus mengikuti petualangannya. Setiap kalimat yang ditulis terasa bermakna, lambat namun pasti menuju pengungkapan rahasia besar di Kintamani.

Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi kamu yang menyukai drama keluarga yang mendalam, misteri masa lalu, dan kisah romansa yang matang. Jika kamu mencari bacaan yang menenangkan namun tetap membuat penasaran dengan alur yang cerdas, karya Ikhwanul Halim ini adalah pilihan yang sangat sempurna. Mari ikut bersama Anggun kembali ke Kintamani dan temukan rahasia yang tersembunyi di balik semerbak harum lavender!

By: Rahmat Ry




Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama