Jodoh Pilihan Leluhur - Vhin Ananta


Jodoh Pilihan Leluhur

0

"Bu, Nada itu baru saja lulus SMA! Dia masih terlalu muda dan belum matang untuk dijadikan istri cucu Ibu!" protes ibu Bima dengan nada tinggi. Ia tidak habis pikir dengan keputusan sang mertua yang memaksa pernikahan tersebut.

Di tempat lain, suasana serupa terjadi di rumah calon pengantin wanita, Serenada. Ketegangan menyelimuti ruang tamu saat Lestari, ibu Serenada, berdebat sengit dengan Dariman, kakak dari almarhum suaminya.

"Mas, Mas tidak punya hak menentukan nasib putriku!" seru Lestari penuh amarah.

"Tari, ini bukan keputusan pribadi Mas atau keluarga besar. Ini adalah amanat leluhur yang sudah berlangsung lama," jawab Dariman dengan tenang namun tegas. Ia menjelaskan bahwa jika ada perempuan lain dalam garis keturunan mereka, mereka tidak akan memaksa Nada. Namun, karena hanya ada Serenada, perjanjian itu harus ditepati.

"Ini perjodohan kuno tanpa persetujuan kami! Putriku yang jadi korban," keluh Lestari pedih.

"Bukan korban, Tari. Kami hanya meminta pengertianmu," bantah Dariman.

Suci, istri Dariman, segera membela iparnya. "Sudahlah, Mas. Jangan paksa Mbak Tari. Jika aku punya anak perempuan, aku juga akan menolak. Perjanjian leluhur yang sudah lama mati ini tiba-tiba hidup lagi karena Ibu yang mengungkitnya."

Dariman terdiam, menghadapi dilema. Secara pribadi ia setuju dengan istrinya, namun sebagai kepala keluarga, ia merasa wajib menuruti keinginan ibunya, Amalia, untuk menikahkan keponakannya dengan putra tunggal sahabat leluhur mereka. Di dalam kamar, Serenada mendengar semuanya dengan hati hancur. Baru saja ia lulus sekolah dan putus dari pacar tiga tahunannya, kini ia dipaksa menikah dengan orang asing.

Dua hari kemudian, kabar buruk datang. Sebuah kecelakaan hebat terjadi di jalan raya padat, merenggut nyawa seorang perempuan di tempat kejadian. Perempuan itu adalah Serenada, calon istri Bima Satria. Tubuhnya tergencet mobil penabrak yang kabur, meninggalkan luka parah di dada dan kaki.

Keluarga besar histeris. Lestari menangis tak terkendali, sementara nenek Amalia hampir pingsan. Namun, reaksi Amalia berikutnya membuat semua orang syok.

"Tari, lakukan pernikahan itu sekarang! Jika kita ingkari janji leluhur, bencana akan menimpa kita," kata Amalia dingin.

"Ibu sadar apa yang Ibu katakan? Nada sudah meninggal!" bentak Dariman tidak percaya.

"Diam! Nada belum menikah secara sah. Hanya Bima yang bisa menyelesaikan perjanjian ini melalui pernikahan dengan jenazahnya," hardik Amalia. Wajah tua itu tidak menunjukkan kesedihan, melainkan ketegasan yang menakutkan.

"Apa sebenarnya isi perjanjian leluhur kita dengan keluarga Bramantya?" tanya Dariman penasaran.

"Kamu tidak perlu tahu! Hubungi Bramantya sekarang dan beritahu dia tentang kematian Nada!" perintah Amalia.

Dengan berat hati, Dariman menghubungi Bramantya. Setelah percakapan selesai, ia bersama Suci dan Lestari bergegas ke rumah sakit untuk mengurus jenazah.

Di rumah keluarga Bramantya, kekacauan juga terjadi. Bramantya bingung bagaimana menyampaikan kabar ini kepada putranya, Bima.

"Suruh Ibumu yang bicara. Aku tidak mau ikut campur. Serenada sudah mati, Pa. Apa kita tega menikahkan mayat dengan anak kita?" protes Dahlia, istri Bramantya, dengan keras.

Matilda, ibu Bramantya, marah mendengar pembelaan menantunya. "Biar aku yang urus! Kamu jangan sok benar!"

"Ibu, Bima itu cucu kandung Ibu! Kenapa Ibu tega?" seru Dahlia.

Matilda mengancam akan menceraikan Dahlia jika ia terus melawan. Bramantya membela istrinya, menyatakan tidak akan pernah menceraikan Dahlia. Ia menolak terlibat dalam drama ibunya yang ingin menikahkan Bima dengan jenazah, apalagi Bima sendiri sangat menolak ide tersebut saat masih hidup.

Namun Matilda tetap bersikeras. Ia merampas ponsel Bramantya dan menelepon Bima. Entah bujukan apa yang digunakan, Matilda berhasil meyakinkan Bima untuk menyetujui pernikahan tersebut tanpa kesulitan berarti.

Kini, di rumah Amalia, peti jenazah Serenada telah diletakkan di ruang tamu. Seluruh keluarga berkumpul dengan perasaan campur aduk antara heran dan iba.

"Cepat, lakukan ijab kabulnya!" desak Matilda yang duduk berdampingan dengan Amalia, saling menggenggam tangan erat.

"Dariman, kamu jadi walinya. Lakukan sekarang!" perintah Amalia.

Dariman menunduk, menarik napas panjang berkali-kali sebelum akhirnya memulai akad nikah. Prosesi berjalan khidmat namun mencekam. Saat tangan Bima menggenggam tangan dingin jenazah Serenada untuk sah nya pernikahan, tiba-tiba Bima memejamkan mata.

Sebuah kilasan pandangan muncul jelas di benaknya. Ia melihat detik-detik sebelum kecelakaan Serenada. Bima terkejut bukan main.

"Astaghfirullahaladzim... Apa yang kulihat ini? Mengapa aku bisa melihat dan merasakan apa yang dialami Serenada?" gumam Bima dalam hati.

Apa yang dilihat Bima bukanlah sekadar kecelakaan biasa. Ada sesuatu yang aneh dan mengerikan di balik kematian gadis itu. Dari vision tersebut, timbul tekad kuat dalam hati Bima untuk mengungkap kebenaran di balik kematian Serenada. Namun, ia memutuskan untuk menyimpannya rapat-rapat untuk saat ini. Ia belum bisa bertindak gegabah di tengah keluarga yang sedang kacau balau ini.

*****

Nama pena: Vhin Ananta

Genre: Horor, Misteri, Balas dendam

Platform: MaxNovel

Editorial:

Naskah karya Vhin Ananta ini menghadirkan premis yang langsung mencuri perhatian sejak awal. Konflik perjodohan yang dipaksakan, dibalut dengan unsur tradisi leluhur, berhasil membangun ketegangan emosional yang kuat. Pembaca langsung disuguhkan pertentangan antara logika, perasaan, dan kepercayaan turun-temurun yang terasa menyesakkan. Dialog antar tokohnya hidup, penuh emosi, dan mudah dipahami, sehingga konflik terasa nyata dan dekat dengan kehidupan.

Alur cerita berkembang dengan cukup cepat tanpa terasa membingungkan. Perpindahan dari konflik keluarga menuju tragedi kecelakaan menjadi titik balik yang sangat kuat. Kematian Serenada bukan hanya menjadi kejutan, tetapi juga membuka pintu ke arah cerita yang lebih gelap dan misterius. Di sinilah nuansa horor mulai terasa, terutama ketika ide pernikahan dengan jenazah dihadirkan—sebuah konsep yang tidak biasa dan cukup berani.

Karakter-karakter dalam cerita ini juga memiliki peran yang jelas dan kuat. Amalia dan Matilda tampil sebagai sosok yang dominan dan menakutkan dengan keyakinan mereka terhadap perjanjian leluhur. Sementara itu, tokoh seperti Lestari, Dariman, dan Dahlia mewakili suara logika dan hati nurani, sehingga menciptakan keseimbangan konflik. Bima sendiri menarik karena perubahan sikapnya yang tiba-tiba, terutama setelah mengalami penglihatan misterius saat akad berlangsung.

Kelebihan utama naskah ini terletak pada atmosfernya. Penulis berhasil membangun suasana mencekam tanpa harus menggunakan deskripsi yang berlebihan. Adegan akad nikah dengan jenazah menjadi puncak horor yang kuat dan membekas. Ditambah dengan elemen vision yang dialami Bima, cerita ini semakin mengarah pada misteri yang menjanjikan, terutama terkait penyebab kematian Serenada yang ternyata tidak sesederhana kecelakaan biasa.

Namun, ada beberapa hal yang masih bisa dikembangkan. Transisi emosi beberapa tokoh, terutama Bima, terasa cukup cepat sehingga bisa dibuat lebih mendalam agar pembaca lebih memahami perubahan batinnya. Selain itu, latar belakang perjanjian leluhur masih terasa samar, sehingga jika nantinya diungkap lebih detail, akan semakin memperkuat daya tarik cerita dan alasan di balik tindakan ekstrem para tokohnya.

Vhin Ananta adalah penulis yang mengusung genre horor, misteri, dan balas dendam dengan gaya penceritaan yang emosional dan penuh ketegangan. Karya-karyanya dikenal berani mengangkat tema tabu dan konflik keluarga yang kompleks, dipadukan dengan unsur supranatural yang kuat. Melalui platform MaxNovel, Vhin Ananta berusaha menghadirkan cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah rasa penasaran pembaca hingga akhir.

By Nada Maya

21 Komentar

Ulasan buku

  1. Baru kali ini baca sendiri ada cerita nikah sama mayat.. Hhiiiiiii...

    BalasHapus
  2. Bagus banget ceritanya.. tapi kenapa sepi peminatnya ?

    BalasHapus
  3. Ceritanya fresh banget. Baru ini loh tahu, demi wasiat perjodohan nikah sama mayat hiiiii

    BalasHapus
  4. Cerita ini langsung menarik sejak awal dengan konflik keluarga yang kuat dan emosional. Perjodohan adat, pertentangan orang tua, sampai tragedi kecelakaan membuat alurnya terasa intens. Ending dengan kemampuan Bima melihat masa lalu Serenada bikin penasaran banget. Fix, ini tipe cerita yang bikin susah berhenti baca!-- ka inah aku mampir 🥰

    BalasHapus
  5. Plotnya unik dan berani. Pernikahan dengan jenazah karena perjanjian leluhur benar-benar beda dari cerita romance biasa. Unsur mistisnya masuk secara halus dan bikin cerita makin hidup. Saya suka bagaimana emosi setiap tokoh digambarkan, terutama konflik antara generasi tua dan muda. semangat thor...

    BalasHapus
  6. Cerita ini sukses bikin campur aduk perasaan: sedih, marah, penasaran, dan deg-degan. Karakter Lestari, Dariman, dan Bima terasa nyata banget. Tragedi Serenada bikin hati nyesek, tapi justru itu yang membuat pembaca makin terikat secara emosional...

    BalasHapus
  7. Alurnya rapi dan tidak membosankan. Dari konflik keluarga, kecelakaan, sampai pernikahan tak biasa, semuanya mengalir dengan baik. Misteri tentang apa yang dilihat Bima jadi daya tarik utama. Endingnya menggantung tapi justru bikin pengin lanjut baca ke part berikutnya.

    BalasHapus
  8. Ini tipe cerita yang punya potensi besar jadi novel panjang atau drama seri. Tema perjodohan adat, rahasia leluhur, dan kemampuan supranatural digabungkan dengan pas. Penulis berhasil membangun suasana tegang dan haru dalam satu cerita. Recommended buat pencinta drama keluarga dan misteri romantis.

    BalasHapus
  9. Ceritanya menarik, baru kali ini ketemu cerita menikah dengan mayit, horornya dapet dan karakter terasa hidup, terasa dekat. Harus dibaca ini mah!

    BalasHapus
  10. pecinta horor wjib baca sih

    BalasHapus
  11. Bacanya seketika ingat film apa ya? Mirip gini, tapi seru sih, jadi ingat film itu. Langsung masuk adegan horornya.

    -Jen

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama