Malam di New York terasa suram, seolah senasib dengan nasib Marco Rossi. Di Port of New York and New Jersey, kawasan pelabuhan luas di muara Sungai Hudson yang dikelola PANYNJ, hujan deras mengguyur Dermaga 4. Aroma amis laut bercampur dengan bau besi berkarat dan anyir darah memenuhi udara. Mimpi Marco hancur berkeping-keping. Ia hanya ingin menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab, menikmati kebahagiaan sederhana bersama Maria dan Sofia, meski pekerjaannya hanyalah buruh kasar pelabuhan. Namun, insiden itu mengubah segalanya.
BRAAKKK!
Tubuh Marco terpental keras, menabrak tumpukan peti kemas di sudut pelabuhan. Darah segar mengucur dari pelipisnya akibat benturan tersebut.
"Maaf, Boss... saya belum punya uangnya," rintih Marco sambil menahan nyeri di kepalanya. "Gaji saya masih tertahan. Beri saya waktu lagi, Boss."
"Hei, bodoh! Jangan seenaknya!" bentak Rizyo. "Kau pikir hanya keluargamu yang butuh makan? Bos kami bukan dermawan, tapi rentenir, dasar tolol!"
"Jangan banyak omong. Dikasih hati malah minta jantung!" teriak Tony. "Sudah terlalu lama. Hajar saja pecundang ini, Zyo!"
DAGH! BRAKK! BAMMM!
"Arrrgh...!"
Marco terjungkal. Wajahnya menghantam aspal beton yang kasar. Tubuhnya basah kuyup oleh genangan air hujan yang bercampur dengan darahnya sendiri.
"Cukup!"
Perintah itu terdengar dominan dan berat. Rizyo dan Tony segera menoleh.
"Seret dia! Jangan biarkan dia mati dulu. Aku ingin dia sadar saat air garam masuk ke paru-parunya!" suara itu milik Vinnie "The Shark", bos rentenir yang menguasai wilayah pelabuhan. Suaranya serak, penuh ancaman, dan ketidakpuasan.
Punggung Marco terasa terbakar saat diseret di atas beton kasar. Kemeja putih murahnya sudah robek-robek, kotor oleh lumpur, air hujan, dan darah.
"Uugghh..." Marco mencoba mengerang, namun yang keluar hanyalah buih darah dari mulutnya. Rahangnya terasa longgar, kemungkinan retak. Satu matanya bengkak total, sementara mata kirinya hanya bisa melihat buram.
"Berhenti!" perintah Vinnie lagi.
Cengkeraman pada kerah baju Marco lepas. Tubuhnya dihempaskan ke genangan air kotor.
"Bangun, bajingan!" seru Tony, tangan kanan Vinnie yang gemar bermain pisau. "Bos bilang bangun!"
Sebuah tendangan keras mendarat di rusuk Marco.
KRAAKK!
"ARRGGHH!" Marco terbatuk, memuntahkan darah segar ke sepatu kulit mahal Tony.
"Sialan! Sepatuku kotor!" marah Tony, siap menendang lagi, namun Vinnie mengangkat tangannya untuk menghentikan.
Vinnie mendekat dan berjongkok di depan Marco. Wajahnya yang berminyak diterangi lampu sorot pelabuhan yang remang. Ia tersenyum, memperlihatkan gigi emasnya yang menjijikkan.
"Lihat kondisimu sekarang, Marco," kata Vinnie pelan, seolah berbicara pada teman lama. Ia menjambak rambut Marco, memaksanya mendongak. "Buruh pelabuhan rendahan. Suami gagal. Ayah yang menyedihkan. Kau tahu kenapa kau berakhir begini?"
Marco meludah. "Cuiiiih!" Ludah bercampur darah mendarat tepat di pipi Vinnie.
Hening sejenak. Hanya suara hujan yang menghantam kontainer besi. Anak buah Vinnie menahan napas.
Vinnie tidak marah. Ia justru tertawa kering dan mengerikan. Ia menyeka ludah itu dengan sapu tangan sutra, lalu...
BAMMM!!
Pukulan lurus menghantam hidung Marco. Terdengar bunyi tulang patah yang nyaring.
"Aarrgghh...!"
"Karena kau bodoh!" desis Vinnie di telinga Marco yang berdenging. "Kau meminjam uang dariku untuk membayar utang judi adikmu yang tolol. Lima puluh ribu dolar, Marco. Sekarang sudah seminggu lewat jatuh tempo, bodoh!"
"Saya... saya akan bayar..." paksa Marco mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang bengkak. "Kasih... waktu..."
"Waktu?! Satu minggu masih kurang?!" Vinnie berdiri dan merentangkan tangannya ke arah laut gelap. "Waktumu habis sejak matahari terbenam. Kau tahu aturannya, kan?" Ia memberi isyarat. "Tony, Rizyo, angkat sampah ini!"
Dua pasang tangan kekar mencengkeram lengan Marco. Ia diseret paksa menuju ujung dermaga, kakinya terseret tak berdaya.
"Jangan... Vinnie, tolong," mohon Marco. Bukan demi nyawanya, melainkan karena memikirkan Maria dan Sofia. Jika ia mati, siapa yang akan melindungi mereka? Utang itu akan menimpa istri dan anaknya. "Istriku... anakku..."
"Oh, jangan khawatir soal Maria," Vinnie menyeringai cabul. "Janda muda, cantik, dan tubuhnya masih kencang. Aku yakin banyak yang mau membantunya melunasi utangmu. Mungkin aku sendiri yang akan sering berkunjung. Ha... ha... ha..."
Gelak tawa para preman meledak di tengah hujan.
Darah Marco mendidih. Amarah membuncah di dadanya, namun tubuhnya hancur lebur. Ia mencoba memberontak, tetapi Tony memutar lengannya yang patah. Marco menjerit tertahan.
Mereka tiba di bibir dermaga. Di bawah sana, air laut hitam bergelombang, dingin membekukan. Musim dingin di New York bukan tempat untuk berenang. Hipotermia akan membunuhnya sebelum ia sempat tenggelam.
"Ada pesan terakhir?" tanya Vinnie sambil menyalakan rokok, melindungi apinya dari hujan. "Atau kau ingin langsung check-out?"
Marco menatap Vinnie dengan satu mata yang tersisa. Tatapan penuh kebencian murni, meski tubuhnya tak berdaya.
"Persetan... denganmu, dasar bangsat!" bisik Marco.
Vinnie mengedikkan bahu. "Oke! Cemplungkan!"
Tony dan Rizyo mengayunkan tubuh Marco.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga! Dah, Loser!"
WHUUUSSSSHHHH.
Tubuh Marco melayang ke udara. Ia melihat langit gelap dan merasakan gravitasi menariknya menuju kematian. Maafkan aku, Maria... Maafkan Ayah, Sofia... karena belum bisa menjadi suami dan ayah terbaik. Maaf juga karena belum sempat membahagiakan kalian.
Marco babak belur. Siapa sangka, masalah yang dibuat adiknya menyeretnya ke jurang ini. Ia hanya berniat membantu melunasi utang judi saudaranya. Meminjam dari orang yang salah adalah keputusan sia-sia. Nasib memang tak ada yang tahu.
Marco memejamkan mata, berharap ini hanya mimpi. Namun, inilah realita kejam dunia. Yang kuat menang, yang lemah kalah. Marco merasa dirinya pecundang, remuk redam tanpa harapan, meski telah berusaha.
Waktu seolah melambat. Hujan terasa berhenti di udara.
Dingin...
Bukan dinginnya air laut, melainkan rasa dingin yang aneh.
Tiba-tiba, di depan matanya yang rusak, cahaya biru menyala. Terang, tajam, dan digital. Layar transparan melayang di udara, mengikuti pandangannya yang jatuh.
[SISTEM TERDETEKSI]
[KONDISI INANG: KRITIS (HARAPAN HIDUP: 2%)]
[KERUSAKAN FISIK: MULTIPLE FRACTURES, INTERNAL BLEEDING]
Marco berpikir ia sudah gila. Apa ini? Halusinasi otak yang sekarat?
Tulisan di layar berubah cepat.
[ANDA AKAN MATI DALAM 0,5 DETIK SETELAH BENTURAN AIR.]
[APAKAH ANDA INGIN HIDUP?]
[Y / N]
Marco tidak peduli apakah ini sihir, teknologi, atau setan. Vinnie masih tertawa di atas sana. Pikiran tentang Maria yang dalam bahaya dan Sofia yang membutuhkan ayah terus berputar di kepalanya.
Marco tidak mau mati. Ia tidak boleh mati.
Dalam benaknya, Marco berteriak sekeras-kerasnya: YES!
Tangannya yang melayang secara refleks mencoba menggapai tombol "Y" yang bercahaya. Jari telunjuknya yang patah menyentuh cahaya biru itu. Klik.
[KONFIRMASI DITERIMA.]
[MENGAKTIFKAN PROTOKOL: MODE HIDUP.]
[PERINGATAN: PROSES PENYATUAN AKAN SANGAT MENYAKITKAN.]
BYUURRR!
Tubuh Marco menghantam permukaan air es.
Gelap.
Dingin menusuk tulang.
Air asin langsung masuk ke hidung dan mulutnya. Marco tenggelam...
Alurnya bagus, kerasa banget seperti berada di dalam naskahnya ceritanya. Kembangkan terus lebih baik.
BalasHapus-Jennie
Bagus kakk author, pertahankan ritme seperti yang direview bang edi kita. Good job terus semangat berkarya kawan. . .
BalasHapusCeritanya keren banget, serasa pengen liat gimana kelanjutan cara Marco bisa melindungi keluarganya dan membalas dendam
BalasHapus