Bab 1.
Kucing abu-abu itu berhenti di tengah lorong. Matanya membulat, menatap satu titik kosong di depan pintu kayu yang catnya mengelupas. Ekor gemoynya yang biasanya bergerak malas, kini kaku. Tidak ada suara apa pun, tapi bulu di tengkuknya berdiri, seolah ada sesuatu yang mendekat tanpa wujud.
Lorong itu seharusnya sudah lama ditutup.
Lampu sekolah berkedip sekali, lalu stabil. Bau lembap menyeruak, bau tanah basah bercampur kayu lapuk, sesuatu yang tidak seharusnya ada di lantai dua gedung SMA itu.
■■■■■
“Kenapa kucing itu berhenti?” bisik Rania, setengah menahan tawa.
“Rudy… pintu ini pernah dibuka nggak sih?” tanya Dara yang melangkah maju dengan suara yang sedikit pelan.
Rudy tidak langsung menjawab. Pandangannya tertuju pada papan nama yang ada di dinding, yang hurufnya sudah pudar. Tangannya mengepal pelan.
Aisawa merasa dadanya mengencang. Ada tekanan aneh, seperti udara di sekitarnya menipis. Dia yakin, dirinya belum pernah ke lorong ini. Namun di kepalanya, tempat ini terasa… familiar.
“Jangan ke situ,” ucap Aisawa lirih.
“Lorong ditutup itu ya biasa, karena kan lagi di renovasi.” ujar Diana bersungut pelan.
Namun saat kucing itu menggeram pelan, tapi bukan ke arah mereka, melainkan ke arah pintu kayu itu, semua suara mendadak senyap.
Ketukan terdengar dari balik pintu. Satu kali.
Pelan. Dan seperti di sengaja.
Tidak ada siapa-siapa di dalam. Setidaknya, begitu yang mereka yakini.
Namun nama seseorang tiba-tiba tertulis samar di permukaan pintu, seolah ditulis menggunakan kuku tajam yang tidak terlihat. Aisawa menelan ludah ketika dia membacanya.
"RAMADHAN? Siapa Ramadhan?" ucap Aisawa penuh tanya.
"Di kelas kita memang tidak ada siswa yang namanya Ramadhan, tapi mungkin bisa jadi dari kelas lain, kan?" sahut Dara.
"Tidak.. nama itu… seharusnya sudah lama hilang dari sekolah ini." gumam Rudy lirih.
"Maksudnya?" tanya Rania.
Rudy hendak menjawab, ketika tiba-tiba lampu mendadak mati. Dalam gelap, suara nafas terdengar, tapi itu bukan nafas mereka berlima.
"Cepat.. kita menjauh dari tempat ini!" ujar Rudy.
Tentu saja tanpa membuang waktu, mereka langsung berhambur dari lorong tua itu.
Dan di saat itulah, tanpa mereka sadari, petualangan itu benar-benar dimulai.
■■■■■
Pagi di SMA itu selalu dimulai dengan suara bel yang terlalu nyaring dan wajah-wajah setengah sadar, karena mungkin masih mengantuk. Dara melangkah melewati gerbang dengan langkah pasti, ransel tersampir rapi di bahu. Baginya, sekolah adalah rutinitas, dan rutinitas berarti kendali yang menjadi penyemangatnya.
Di depan kelas XI IPA 2, Rania sudah berdiri sambil mengelus-elus seekor kucing abu-abu gemoy yang duduk manis di atas bangku koridor.
“Kita telat nggak?” tanya Dara santai.
“Belum,” jawab Rania.
"Lagi-lagi kucing gemoy kamu bawa ke sekolah.” ujar Dara.
“Mana ada aku bawa dia, orang dia yang ngikutin aku, kok.” sahut Rania sambil tersenyum.
Kucing itu mendengkur pelan, matanya menyipit nyaman. Tidak ada yang tahu sejak kapan hewan itu mulai muncul di sekitar mereka. Awalnya hanya di taman belakang sekolah, lalu di kantin, dan sekarang di depan kelas.
Aisawa datang paling akhir. Wajahnya pucat, matanya seperti belum benar-benar terjaga dari mimpi yang terlalu panjang.
“Kamu kenapa?” Diana menoleh cepat.
“Sakit?” tanya Rania.
“Nggak sih. Cuma semalam aku… mimpi aneh banget.” jawab Aisawa lesu.
"Mimpi aneh? Aneh yang seperti apa?” tanya Rania dengan wajah serius.
Aisawa tidak menjawab. Dia ingat, di dalam mimpinya, dirinya berdiri di lorong yang sempit dengan pintu kayu di ujungnya. Pintu yan baru sekali dia lihat secara langsung kemarin dan hanya sebentar saja, namun di dalam mimpinya itu terasa sangat dekat dan bahkan seakan dia sangat tahu isi di balik pintu kayu itu.
Rudy muncul dari arah tangga darurat, berjalan pelan seperti biasa. Pandangannya sempat tertumbuk pada kucing abu-abu itu. Alisnya berkerut, tapi dia tidak berkata apa-apa.
“Eh, Rud.. menurut kamu lorong yang kemarin kita lihat itu, sekarang masih ditutup nggak ya?” tanya Dara spontan.
“Kenapa tanya itu?" sahut Rudy yang sejenak menghentikan langkahnya.
“Ya nggak pa pa juga sih. Cuma pingin tahu aja." sahut Dara sembari melangkah masuk ke dalam kelas, diikuti Rania, Diana dan Aisawa, tak. Ketinggalan pula di gemoy abu-abu yang kemudian menjadi panggilan kucing itu.
Sekilas Dara menangkap sesuatu di wajah Rudy Keraguan atau mungkin lebih tepatnya ketakutan yang cepat disembunyikan.
“Yuk buruan masuk dulu, bentar lagi bel pelajaran pertama." kata Dara.
Pelajaran berlangsung seperti biasa. Terlalu biasa, bahkan. Hingga saat absensi, wali kelas mereka, Bu Endang, berhenti membaca.
“Kok… ini aneh.”
“Kenapa, Bu?” tanya Diana yang duduk di bangku depan.
Bu Endang mengernyitkan dahi, menatap absensi murid itu.
“Ramadhan ini nama murid lama. Harusnya sudah tidak ada di sini.”
Nama itu diucapkan pelan, namun cukup jelas di dengar di seluruh ruang kelas. Rudy bahkan langsung terdiam mematung dengan wajah berubah pias. Sementara Rania yang duduk satu bangku dengan Dara, saling berpandangan dengan mulut menganga dan mata terbelalak lebar.
Diana yang satu bangku dengan Aisawa pun sama, dia bahkan mencengkeram rok bawahan seragamnya dengan kuat. Sementara Aisawa, dia langsung merasakan dingin merambat di punggungnya. Kucing abu-abu di luar kelas mendadak mengeong keras, panjang, melengking. Dan untuk pertama kalinya hari itu, Dara merasa yakin, bahwa ada sesuatu yang saat ini sedang memperhatikan mereka.
*****
Nama pena: Vhin Ananta
Genre: Horor, Misteri
Platform: Novea
Editorial:
Pembuka ini menunjukkan kecenderungan penulis untuk membangun suasana melalui detail kecil yang terasa dekat, namun perlahan bergeser menjadi asing. Kehadiran kucing, lorong sekolah, dan interaksi ringan antar tokoh diletakkan dengan nada yang santai, hampir seperti potongan keseharian. Justru dari kesan biasa itulah muncul daya tariknya. Penulis tidak terburu-buru menciptakan efek seram, melainkan memberi ruang bagi pembaca untuk merasakan perubahan suasana secara perlahan.
Ritme kalimatnya bergerak cukup stabil, dengan pola yang sederhana dan mudah diikuti. Dialog terasa ringan dan natural, mencerminkan usia serta dinamika pertemanan para tokohnya. Namun di sela percakapan itu, penulis menyisipkan gangguan kecil yang tidak dijelaskan sepenuhnya. Perubahan ini tidak dibuat mencolok, melainkan dibiarkan hadir sebagai lapisan tipis yang mengganggu kenyamanan. Di titik inilah atmosfer mulai bekerja, bukan melalui kejutan, tetapi melalui pergeseran rasa yang hampir tidak disadari.
Ketegangan dibangun dengan cara menahan, bukan mengumbar. Penulis tidak menjelaskan terlalu banyak tentang apa yang terjadi, dan justru membiarkan beberapa elemen berdiri tanpa kepastian. Hal-hal yang seharusnya jelas, suara, nama, ingatan dibuat sedikit kabur. Efeknya bukan sekadar rasa takut, tetapi semacam kegelisahan yang sulit dijelaskan. Ini menunjukkan upaya untuk membawa cerita ke wilayah yang lebih psikologis, meskipun masih disajikan dalam bingkai yang cukup ringan.
Secara keseluruhan, cerita ini berada di titik menarik antara bacaan remaja dan pendekatan yang lebih dewasa. Ada potensi untuk berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam jika konsistensi cerita terus dijaga dan beberapa pengulangan frasa bisa dipadatkan agar lebih tajam. Meski begitu, penulis sudah menunjukkan kontrol yang cukup baik terhadap nada dan suasana. Ini bukan pembuka yang berisik, melainkan pembuka yang perlahan mengajak pembaca untuk tinggal lebih lama dan mempercayai bahwa ada sesuatu yang disimpan dengan sengaja di balik kesederhanaannya.
by Nada Maya

duh ramadhan ini bikin penisilin siapa doi sebenernya, tiba-tiba aja namanya muncul di daftar absensi, kayanya juga doi udah ada di dalam kelas gak sih?
BalasHapusSiapa hayoooi 😁😁
Hapusmenarik nih rasanya vibesnya seperti 5 sekawan yang ungkap misteri... itu buku kesayangan dlu waktu masih remaja. Asyik aja hanya saja buku ini lebih dark krn ada undur horornya.
BalasHapus