SEMUA TAK SAMA - Matcha Motchi

SEMUA TAK SAMA - Matcha Motchi


0

Bab 2

Bingkai foto besar yang mendominasi kamar itu tampak begitu indah. Sebuah potret pengantin yang terlihat saling mencintai, berdiri berdampingan dalam balutan bahagia. Senyum mereka seakan sengaja dipamerkan untuk menebar kemesraan, membuat siapa pun yang memandangnya merasa iri.

Masa indah itu memang pernah Nara rasakan. Dia pernah merasa utuh saat bersanding dengan Ali, suaminya. Namun beberapa tahun belakangan, pertanyaan yang sama terus berputar di kepalanya. Ke mana perginya cinta yang dulu begitu menggebu? Mengapa rasa itu menghilang begitu saja di dalam rumah megah ini? Ataukah sejak awal, cinta yang Nara rasakan hanyalah miliknya sendiri?

Kediaman ini terlalu luas untuk diisi oleh dua orang yang saling diam. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan mahal dan perabot sempurna, namun tak satu pun mampu menghangatkan hati Nara. Setiap sudut menyimpan gema kenangan berupa tawa yang dulu pernah nyata. Ali dahulu selalu pulang dengan cerita tentang pekerjaannya dan mimpi-mimpi kecil mereka. Kini, yang tersisa hanyalah sapa singkat dan punggung yang sering membelakangi.

Cinta mereka memudar seperti senja yang perlahan menghilang tanpa suara, meninggalkan dingin yang panjang. Nara pernah mencoba bertanya dan memohon kejujuran, namun jawaban pria itu selalu sama: lelah, sibuk, atau tidak ada apa-apa. Akhirnya wanita itu memilih diam karena terkadang keheningan terasa lebih jujur daripada jawaban yang dipaksakan.

Dalam temaram kamar, Nara bersandar di dekat jendela sembari menatap nanar foto indah tersebut. Dadanya terasa sesak seolah ada tangan tak kasatmata yang meremasnya kuat. Suara derit pintu tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Sosok yang sejak tadi memenuhi kepalanya masuk perlahan ke dalam ruangan. Ali mengerutkan kening, menatap sang istri seolah bertanya tentang apa yang sedang terjadi.

"Kok gelap-gelapan begini?" tanyanya.

Ali melangkah ke arah sakelar dan menyalakan lampu utama. Seketika kamar itu terang benderang seakan berusaha mengusir sendu yang menyelimuti hati Nara.

"Tidak apa-apa," jawab Nara datar.

Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan senyum. Baginya, semua yang tersisa hanyalah kepura-puraan. Tanpa curiga, suaminya mengangguk lalu melangkah mendekat. Ali memeluk Nara dari belakang dengan lembut seakan tidak pernah ada retakan dalam rumah tangga mereka.

Pelukan itu dahulu adalah rumah bagi Nara. Kini, dekapan yang sama justru membuatnya ingin pergi. Tubuh Ali terasa asing dan aroma parfum di kulit pria itu pun berbeda. Wanginya terlalu tajam serta manis, bukan aroma yang biasa menemani pagi mereka. Dada Nara berdenyut nyeri. Dia tidak ingin menebak, tapi hatinya sudah lebih dulu tahu.

Nara mematung dan berusaha melepaskan diri, namun Ali lebih sigap. Dengan lembut namun kuat, lelaki itu mengunci tubuh mungil Nara dalam dekapan.

"Mau ke mana?" tanya Ali pelan.

Nara terdiam dengan mata terpejam erat. Jemarinya mencengkeram kuat guna menahan rasa jijik yang menyeruak. Sebuah kecupan mendarat singkat di kulitnya. Rasa cinta itu memang masih ada, namun rasa sakit kini jauh lebih dominan.

"Hari ini kamu ke mana?" bisik Ali sambil menyibakkan helaian rambut di bahu Nara.

"Tidak ke mana-mana," jawab Nara dingin.

Dengan sedikit kasar, Nara menyingkirkan lengan Ali dari perutnya. "Aku lelah. Mau mandi."

Perempuan itu berlalu tanpa menoleh sedikit pun. Nara masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Tanpa melepas pakaian, dia menyalakan shower. Air dingin mengguyur tubuhnya bersamaan dengan air mata yang akhirnya tumpah tanpa ampun.

Ini gila. Dia begitu merindukan Ali, namun amarah dan rasa muak muncul setiap kali pria itu menyentuhnya. Pikiran Nara berkelana liar membayangkan tangan yang tadi sore mungkin saja membelai wanita lain. Dia merasa rendah dan tidak lagi percaya pada dirinya sendiri. Isakannya pecah namun tersamarkan oleh derasnya air.

Di balik pintu, Nara merosot ke lantai dengan punggung bersandar pada dinding dingin. Dia membenci dirinya sendiri karena masih mencintai Ali dan masih berharap pada pria yang sudah berkali-kali melukainya. Cinta itu seperti candu yang menyakitkan namun sulit dilepaskan.

Sementara itu, Ali menatap tajam ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Dia berbalik menuju balkon dan menyalakan rokok. Asap itu dihisapnya dalam-dalam seolah mampu mengeluarkan segala beban yang menyesaki kepala. Ali kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi sebuah nomor.

"Kamu di mana?" tanya Ali lewat sambungan telepon.

"Aku sedang di kafe," jawab suara seorang wanita di ujung sana.

"Tunggu. Aku ke sana," ucap Ali singkat sebelum mengakhiri panggilan.

*****

Nama pena: Matcha Motchi

Genre: Romance

Platform: Novea 

Editorial:

Dalam naskah yang bertajuk "Semua Tak Sama" ini, Matcha Motchi melalui platform Novea berhasil memotret sebuah fragmen kehidupan yang sunyi di tengah kemegahan korporasi dan domestik. Penulis membangun suasana tidak melalui ledakan konflik yang riuh, melainkan lewat detail sensorik yang halus namun menusuk. Kita bisa merasakan bagaimana transisi cahaya dari temaram kamar menuju benderang lampu utama yang dinyalakan Ali justru semakin memperjelas jarak emosional di antara keduanya. Detail mengenai aroma parfum yang terlalu tajam dan manis di kulit sang suami menjadi sebuah metafora fisik tentang kehadiran orang ketiga yang belum terucap, namun aromanya sudah cukup untuk menyesakkan dada Nara.

Ritme narasi bergerak dengan ketenangan yang waspada, mencerminkan kejenuhan sebuah hubungan yang telah kehilangan tawa nyatanya. Penulis cukup jeli menjaga keseimbangan antara refleksi batin tokoh Nara yang mendalam dengan aksi minimalis yang dilakukan Ali. Dialog-dialog yang hadir pun terasa sangat organik dan menjalankan fungsi emosionalnya sebagai perisai. Kalimat pendek seperti jawaban tidak apa-apa dari Nara bukan sekadar kata-kata biasa, melainkan sebuah bentuk pertahanan diri dari seorang wanita yang sudah terlalu lelah untuk memohon kejujuran. Ada dinamika yang menarik saat pelukan yang dulunya merupakan sebuah rumah kini berubah menjadi ruang yang asing dan menekan.

Dinamika hubungan antar karakter dalam karya ini menunjukkan sisi gelap dari sebuah komitmen yang mulai memudar. Ketegangan yang dibangun bukan berasal dari pertengkaran hebat, melainkan dari hal-hal kecil seperti derit pintu atau jemari yang mencengkeram kuat saat menahan rasa muak. Penulis memahami bahwa bagi pembaca dewasa, rasa sakit yang paling nyata sering kali muncul dalam hening, saat satu pihak mencoba mempertahankan kepura-puraan sementara pihak lain sudah melangkah jauh secara emosional. Kedewasaan tema ini sangat terasa dalam cara Nara menyikapi pengkhianatan yang baru sebatas intuisi namun terasa begitu valid di hatinya.

Secara teknis, terdapat sedikit kritik ringan mengenai penggambaran monolog batin Nara di kamar mandi yang mungkin bisa dieksplorasi lebih dalam tanpa harus menyebutkan rasa jijik secara eksplisit berulang kali. Terkadang, kekuatan sebuah perasaan justru lebih terasa saat ia dibiarkan menggantung di antara uap air dingin shower daripada didefinisikan terlalu gamblang. Namun, hal ini tertutupi oleh kekuatan visual penulis dalam menggambarkan bagaimana Nara merosot di lantai kamar mandi, sebuah posisi kerentanan yang sangat manusiawi bagi siapa pun yang pernah berada di titik nadir kepercayaan.

Matcha Motchi menunjukkan kepiawaian dalam meramu genre Romance dengan sentuhan melankolia yang elegan. Penulis berhasil membuktikan bahwa keindahan sebuah cerita tidak selalu tentang awal yang manis, melainkan tentang bagaimana seseorang bergelut dengan puing-puing rasa yang tersisa. Pujian patut diberikan atas keberaniannya memotret sisi pahit dari sebuah pernikahan dengan nada yang tetap tenang dan intelektual. Melalui naskah ini, kita diingatkan bahwa cinta terkadang memang seperti candu, menyakitkan untuk dipertahankan namun memiliki daya ikat yang sulit untuk dilepaskan begitu saja.

By Caberawit



1 Komentar

Ulasan buku

  1. Aku benar² berharap karakter ini akhirnya menemukan kebahagiaannya

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama