TURUN RANJANG - Lysta

TURUN RANJANG - Lysta


0

Ikrar pernikahan baru saja terlontar, disahkan oleh penghulu di tengah gemuruh tepuk tangan tamu. Namun, di balik kerudung putih, hanya ada isak tangis yang tertahan. Air mata Valery mengalir deras meratapi takdir. Ia menikah dengan pria asing yang berdiri angkuh di sampingnya, bukan dengan Samuel, kekasih yang seharusnya menjadi suaminya.

​Kehebohan sempat terjadi saat pengantin pria muncul, namun tak satu pun tamu berani bertanya. Acara pun dipersingkat. Kabar duka tentang kematian Samuel segera dibubarkan tak lama setelah akad selesai. Valery mengganti gaun putihnya dengan pakaian serba hitam. Di kamar hotel, ia bersiap menuju rumah duka dengan kacamata hitam menutupi matanya yang sembap.

​"Jangan pernah berharap aku akan menjadi suami pada umumnya," ucap seorang pria yang menunggunya di luar ruang ganti.

​Valery menatap tajam Kenneth, pria yang kini resmi menjadi suaminya. Kenneth duduk dengan kaki menyilang, terlihat dingin dan menyebalkan. Ia sangat berbeda dengan Samuel yang hangat.

​"Aku juga tidak mengharapkanmu. Aku bersedia karena wasiat Samuel dan demi menjaga martabat orang tuaku," balas Valery ketus.

​Kenneth menyeringai sinis. "Baguslah. Bersabarlah, kita hanya perlu satu tahun sebelum bercerai."

​"Baru beberapa jam menikah sudah bicara cerai. Dasar pria menyebalkan!" gerutu Valery.

​Pernikahan ini memang sebuah transaksi bagi Kenneth. Ia adalah anak yang tidak diakui dari keluarga Liam, menetap di Amerika untuk menghindari tekanan Diana, istri sah ayahnya. Kenneth datang ke Indonesia karena perusahaannya terancam bangkrut oleh monopoli Diana. Samuel, yang menderita kanker lambung stadium akhir, melakukan negosiasi: Kenneth akan mendapatkan seluruh aset Samuel jika bersedia menikahi Valery dan melindunginya selama setahun.

​Kenneth sebenarnya memiliki trauma masa kecil yang membuatnya tidak bisa bersentuhan dengan orang lain. Namun, ia terpaksa menerima tawaran itu. Saat melihat wajah Valery tanpa penutup wajah, ia tak menampik kecantikannya, namun segera mengalihkan pandangan.

​"Orang tuamu sudah di rumah duka. Jangan biarkan saudaraku menunggu lama," ujar Kenneth dingin sambil membuka pintu.

​"Jangan mengejekku di situasi seperti ini!" bentak Valery. Ia hampir memukul dada Kenneth, namun pria itu refleks menghindar. Valery mendengus dan melangkah pergi dengan langkah angkuh.

​Di rumah duka, suasana sangat mencekam. Valery bersimpuh di depan peti Samuel, tangisnya pecah saat melihat wajah pucat kekasihnya.

​"Samuel, bangun! Aku di sini," isaknya sambil menggenggam tangan yang sudah dingin itu.

​Diana, ibu kandung Samuel, memeluk Valery dengan erat. "Maafkan putraku, Valery. Dia merahasiakan penyakitnya karena tidak ingin membuatmu sedih."

​Setelah pemakaman usai, gundukan tanah merah itu kini menjadi saksi perpisahan mereka. Saat hendak pulang, Diana menyadari kehadiran Kenneth di kejauhan.

​"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Diana dengan nada tinggi.

​Hendrik Liam, ayah Samuel, mencoba menenangkan istrinya. "Samuel yang memintanya datang, Sayang."

​"Kau sudah tahu anak haram ini ada di sini? Aku tidak mengizinkannya menginjakkan kaki di negara ini! Pergi!" teriak Diana penuh kebencian.

​"Kenneth tidak bisa pergi begitu saja. Samuel memintanya menjadi suami Valery dan mereka sudah sah," jelas Hendrik.

​Mata Diana membulat sempurna. Ia melangkah cepat menuju Kenneth dan mendaratkan tamparan keras di pipinya. Kenneth terhuyung, wajahnya memucat dan keringat dingin bercucuran. Bukan rasa sakit di pipinya yang menjadi masalah, melainkan trauma sentuhan fisik yang membuatnya mual dan gelisah. Ia menjauh ke bawah pohon beringin dan muntah.

​Valery yang melihat itu merasa iba. Ia hendak mengejar, namun ayahnya menahan lengannya.

​"Jangan pernah menampakkan diri di hadapanku! Kau pikir bisa memiliki segalanya hanya karena menikahi Valery? Sialan!" maki Diana tanpa henti. Ia kemudian memukul-mukul dada suaminya karena merasa dikhianati.

​Seluruh pelayat yang tersisa terkejut melihat drama keluarga tersebut. Diana kemudian menoleh pada menantu barunya.

​"Valery! Segera bercerai dengannya!" perintah Diana tegas.

​Valery tertegun. Dalam satu hari, ia mendengar dua orang menuntut perceraian di hari pertama pernikahannya yang tragis.

*****

Nama pena: Lysta

Genre: Romance, Rumah Tangga

Platform: Good Novel

Editorial:

Novel ini dibuka dengan kontras yang sangat menyayat hati, sebuah janji suci pernikahan yang diikrarkan di atas duka yang mendalam. Penulis berhasil menggambarkan kepedihan Valery yang harus berganti pakaian dari gaun pengantin putih ke busana hitam dalam hitungan jam. Alih-alih merayakan cinta bersama Samuel, ia justru harus terikat dengan Kenneth, pria asing yang dingin, demi memenuhi wasiat terakhir sang kekasih dan menjaga kehormatan keluarganya.

​Sosok Kenneth hadir sebagai karakter maskulin yang kompleks dan penuh luka. Di balik sikapnya yang angkuh dan menyebalkan, ia menyimpan trauma masa kecil yang membuatnya alergi terhadap sentuhan fisik. Kehadirannya bukan didasari cinta, melainkan sebuah transaksi bisnis untuk menyelamatkan perusahaannya dari kehancuran. Dinamika antara Kenneth yang skeptis dan Valery yang masih berduka menciptakan ketegangan emosional yang sangat terasa sejak  awal cerita. 

​Kehadiran konflik keluarga Liam menambah bumbu drama yang intens dalam cerita ini. Status Kenneth sebagai "anak yang tidak diakui" memicu ledakan amarah dari Diana, ibu kandung Samuel. Kebencian yang mendarah daging dan penolakan keras terhadap pernikahan ini membuat posisi Valery dan Kenneth semakin terjepit. Pembaca akan diajak merasakan betapa menyesakkannya berada di tengah perseteruan keluarga yang penuh dengan dendam masa lalu.

​Gaya bahasa yang digunakan Lysta tergolong sederhana namun mampu mengaduk emosi dengan efektif. Deskripsi saat Valery bersimpuh di depan peti mati Samuel terasa sangat hidup, membuat pembaca ikut merasakan kehilangan yang dialami sang tokoh utama. Transisi dari suasana duka ke ketegangan konflik rumah tangga yang "dipaksakan" ini tertata dengan rapi, sehingga alurnya terasa mengalir tanpa kehilangan momentum.

​Premis "pernikahan kontrak" selama satu tahun yang ditawarkan Kenneth menjadi magnet utama yang membuat pembaca penasaran. Ada rasa ingin tahu yang besar mengenai bagaimana dua orang yang saling tidak menginginkan ini akan tinggal bersama. Terlebih lagi, rahasia mengenai penyakit Samuel dan alasan di balik wasiat aneh tersebut menjadi misteri yang perlahan-lahan menuntut untuk segera terungkap.

​Secara keseluruhan, "Turun Ranjang" adalah kisah tentang pengorbanan, penyembuhan luka, dan bagaimana takdir terkadang bekerja dengan cara yang paling tidak terduga. Bagi pecinta genre romance dewasa yang menyukai bumbu drama keluarga dan karakter pria yang cool namun menyimpan trauma, novel di platform Good Novel ini sangat layak untuk diikuti hingga akhir perjalanannya.

by Nada Maya



Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama