TUAN, IBU DARI ANAKMU BUKAN PEREMPUAN BIASA - Renjana Senja

TUAN, IBU DARI ANAKMU BUKAN PEREMPUAN BIASA - Renjana Senja


0

TUAN, IBU DARI ANAKMU BUKAN PEREMPUAN BIASA

—Di Bawah Kekuatan Phoenix—

Pintu besar di belakang Livia sudah tertutup kuat, sehingga menghasilkan dentuman yang cukup keras. 

  "Halo. Tuan Laurent. Apakah anda baik-baik saja?" Livia sambil melambai-lambaikan tangannya di depan Adrian. 

  Sedangkan, Adrian masih tak bergerak di kursi kebanggaan nya. Pandangannya berfokus pada wanita yang baru saja berdiri tepat di depannya.

  Berbeda dengan Livia. Ia dengan segera menarik kursi yang terletak di ujung meja dan berhadapan langsung dengan orang yang berniat menyingkirkan nya beberapa tahun silam. Suara gesekan yang dihasilkan oleh kursi di lantai marmer seolah ancaman yang sudah datang.

  "Livia. Apa-apaan ini. Permainan apa yang ingin kau mainkan denganku?" Adrian berdehem. Ia berusaha menenangkan hati dan perasaannya, meski tenggorokan nya seolah-olah terjerat besi panas.

  Tanpa menjawab pertanyaan sampah Adrian, Livia melirik salah satu asisten nya. Kemudian, asistennya dengan segera membanting dokumen yang cukup tebal di atas meja marmer. Bunyi yang dihasilkan cukup membuat beberapa petinggi Skyline Inc terkejut.

  "Dokumen itu berisi tentang kerugian perusahaan Skyline Inc selama tiga tahun ini." Ucap Livia tenang, kaki jenjangnya disilangkan dan duduknya terasa tegas. "Perusahaan anda sedang butuh bantuan, tuan Laurent. Kedatangan saya kesini bukan untuk melakukan permainan bodoh yang anda maksudkan. Melainkan, saya yang akan menentukan apakah Phoenix Group akan berinvestasi di perusahaan anda atau tidak." Livia menegaskan maksud kedatangannya. 

  "Berani sekali kau mengancamku seperti itu, Livia!" Adrian menggunakan nada tinggi pada Livia. Kemudian, ia berdiri dari tempat duduknya dan menunjuk ke arah Livia.

  "Uangmu itu hasil hutang, kan? Nggak mungkin. Phoenix Group itu perusahaan raksasa. Diperintahkan siapa kau seperti ini hanya untuk mempermalukan ku?" Cibir Adrian yang masih berusaha denail.

  Mendengar pernyataan Adrian, Livia dengan tenang bangkit juga dari duduknya dan sedikit mencondongkan tubuhnya. Aura dominasi Livia begitu kuat, sehingga tanpa sadar Adrian memundurkan punggung nya.

  "Apa itu diperintah?" Livia tersenyum licik. "Tuan Laurent, semoga ingatan anda tidak lupa dengan kejadian beberapa tahun lalu. Anda mengusir saya dengan segala kesombongan anda. Sekarang, orang yang anda usir memegang sebagian surat utang beberapa vendor anda. Andaikata, aku menandatangani kertas putih berisi surat dari beberapa vendor. Yakinlah, kau akan bertekuk lutut di hadapanku dan memohon padaku untuk membantumu." Ucap Livia dengan sombong, berusaha mengimbangi kesombongan Adrian. 

  Beberapa orang di dalam ruangan itu menahan napas. Adrian yang sudah dikenal sebagai pewaris Skyline Inc, harga dirinya terasa direndahkan. Wajahnya memerah dan beberapa urat lehernya perlahan menegang.

  "Aku bersumpah demi apapun, aku tidak akan sudi menandatangani kontrak denganmu!" desis Adrian penuh amarah.

  "Baiklah. Itu tergantung keputusan anda. Tapi, saya sedikit menyarankan bahwa anda menyiapkan pidato pengunduran diri anda untuk pemegang saham keesokan harinya. Tanpa anda sadari, Skyline Inc tak akan berjaya sampai sekarang tanpa ada dukungan dari Phoenix." Livia mencibir balik Adrian dengan tak kalah tegasnya.

  Setelah puas mencibir Adrian, Livia melirik asistennya untuk menutup laptopnya. Setelah paham kode dari Livia, asistennya menurut dan Livia segera beranjak dari tempat duduknya. Akan tetapi, sebelum asistennya menyentuh gagang pintu, Livia menoleh ke semua orang yang tengah terkejut.

  "Satu lagi. Dulu, rambutku sangat indah dan panjang. Aku dengan terpaksa harus membuang rambut itu bersama dengan kenangan menyedihkan. Tapi sekarang, jauh lebih ringan. Karena tak ada dirimu." 

  Setelah puas mengutarakan isi hatinya, Livia melangkah keluar dan meninggalkan ruang rapat yang masih menyisakan tanda tanya besar dan amarah Adrian yang memuncak.

  ******

  Livia melangkah buru-buru mendekati lift private dan segera menyandarkan kepalanya di dinding lift yang selalu dingin. 

  Ponselnya tiba-tiba bergetar dan pesan masuk dari nomor tak dikenal. 

  Tak bisa dipungkiri, ayah dan anak memang memiliki ciri fisik yang sama. Ayahnya memang baru bertemu lagi dengan ibunya dan anehnya ayahnya belum menyadari bahwa ia telah memiliki versi dirinya yang kecil. Sekarang, anak kecil itu sedang berada di Hotel Grand Sentara.

  Ketika membaca pesan tersebut, lutut Livia seakan tak mampu untuk menopang tubuhnya sendiri. Ia langsung terduduk lemas. Seketika, semua orang yang ada di lift pun menghampirinya. 

  "Ibu Livia. Anda baik-baik saja?" Tanya salah satu asistennya.

  "Ethan.... Ethan berada di tempat yang aman dengan penjagaan yang ketat, kan? Cepat cari tau siapa mata-mata yang dikirim Adrian atau siapa pun itu. Aku tidak ingin, anakku dalam bahaya." Ujarnya.

  Seisi lift pun langsung mengangguk dan mereka telah sampai di lobi. Livia dengan tergesa-gesa berjalan ke mobilnya. Sesampainya di dalam mobil, Livia kembali terkejut dengan hadir nya pesan baru dari nomor tak dikenal lagi. 

  Tampan sekali anak manis ini. Mirip sekali dengan Adrian kecil. Sayang sekali, Adrian belum mengetahui darah dagingnya setampan dan semanis ini.

  Darah Livia semakin mendidih. Ia meminta supirnya untuk segera bergegas ke Hotel Grand Sentara. Jantungnya berdegup kencang ketika mengingat kembali adegan dimana ia berhasil membungkam mantan suaminya di depan petinggi kantor. 

  Kejutan. Livia, kau masih sama seperti lima tahun lalu. Masih terlihat bodoh dan tak berguna.

  ******

Nama pena: Renjana Senja

Genre: Romance

Platform: Good Novel

Editorial:

Saya menemukan kekuatan yang tak terlihat namun terasa nyata saat Renjana Senja membangun konfrontasi dalam naskah ini. 

Renjana Senja tidak hanya menyajikan drama pembalasan dendam biasa, melainkan sebuah peperangan aura yang sangat berkelas. Livia tidak dihadirkan sebagai sosok yang histeris, melainkan sebagai manifestasi dari dinginnya marmer dan ketegasan Phoenix Group. 

Suara penulis terasa mantap saat menggambarkan bagaimana sebuah posisi tawar dapat membalikkan harga diri seseorang yang tadinya berada di puncak kekuasaan.

Ritme kalimat yang digunakan sangat mendukung atmosfer ketegangan yang dibangun. Penulis dengan cerdik menggunakan detail kecil, seperti suara kursi yang bergesekan atau rambut yang dipotong pendek, sebagai simbol transformasi karakter yang sangat dalam. Ada ketegangan halus yang merayap di antara baris dialog, menunjukkan bahwa masa lalu mereka bukan sekadar kenangan buruk, melainkan sebuah utang yang kini ditagih dengan bunga yang sangat tinggi. 

Cara penyajiannya terasa dewasa karena fokus pada kehancuran finansial dan psikologis, bukan sekadar pertengkaran mulut yang dangkal.

Kesan intelektual yang ditinggalkan novel ini terletak pada bagaimana penulis menjalin isu korporat dengan kerentanan seorang ibu. 

Meskipun ada beberapa penggunaan kata tidak baku dalam narasi yang bisa lebih dihaluskan lagi untuk memperkuat kesan premium, esensi emosionalnya tetap tersampaikan dengan tajam. 

Transisi dari ruang rapat yang dominan menuju kepanikan di dalam lift menciptakan kontras yang sangat manusiawi. Penulis mengundang pembaca yang merindukan kisah tentang wanita kuat yang mampu menaklukkan dunia bisnis, namun tetap memiliki titik lemah yang sangat emosional pada buah hatinya.

by Rahmat Ry



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama