Di Bawah Kekuatan Phoenix
Pintu besar di belakang Livia tertutup rapat, menyisakan dentuman keras yang menggema di seluruh penjuru ruangan.
"Halo, Tuan Laurent. Apakah Anda baik-baik saja?" Livia bertanya sambil melambaikan tangan di depan wajah Adrian.
Pria itu masih bergeming di kursi kebesarannya. Sepasang matanya terpaku pada sosok wanita yang kini berdiri tepat di hadapannya. Livia tidak menunggu izin. Ia segera menarik kursi di ujung meja panjang itu, berhadapan langsung dengan lelaki yang beberapa tahun silam berniat menyingkirkannya. Bunyi gesekan kaki kursi pada lantai marmer terdengar seperti sebuah genderang perang yang nyata.
"Livia. Apa maksud semua ini? Permainan apa yang sedang kau mainkan?" Adrian berdehem keras. Ia berusaha sekuat tenaga menguasai gejolak di hatinya, meski tenggorokannya terasa tercekik oleh rasa sesak yang membakar.
Tanpa memedulikan pertanyaan Adrian, Livia memberikan isyarat kecil kepada asistennya. Detik berikutnya, sang asisten menghempaskan dokumen tebal ke atas meja marmer. Suara benturan itu cukup untuk membuat para petinggi Skyline Inc yang hadir terlonjak kaget.
"Dokumen itu berisi rincian kerugian Skyline Inc selama tiga tahun terakhir," ucap Livia dengan nada bicara yang sangat tenang. Ia menyilangkan kaki jenjangnya, duduk dengan sikap yang menunjukkan otoritas tinggi. "Perusahaan Anda sedang di ujung tanduk, Tuan Laurent. Kedatangan saya ke sini bukan untuk permainan bodoh, melainkan untuk menentukan apakah Phoenix Group akan menyelamatkan Anda atau membiarkan perusahaan ini hancur."
"Berani sekali kau mengancamku, Livia!" Adrian membentak. Ia berdiri dan menunjuk wajah Livia dengan penuh amarah. "Uangmu itu pasti hasil berutang, kan? Tidak mungkin kau memiliki Phoenix Group. Siapa yang memerintahkanmu melakukan sandiwara ini hanya untuk mempermalukanku?"
Mendengar tuduhan itu, Livia ikut bangkit dari duduknya. Ia mencondongkan tubuh ke arah Adrian dengan aura dominasi yang begitu pekat. Tanpa sadar, Adrian memundurkan punggungnya, terintimidasi oleh sorot mata wanita di depannya.
"Siapa yang memerintah saya?" Livia menyunggingkan senyum licik. "Tuan Laurent, saya harap ingatan Anda tidak sependek itu. Anda mengusir saya dengan segala kesombongan Anda dahulu. Sekarang, orang yang Anda rendahkan ini memegang sebagian besar surat utang vendor Anda. Jika saya menandatangani penagihan serentak sekarang, Anda akan berlutut di bawah kaki saya untuk memohon bantuan."
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Semua orang menahan napas menyaksikan harga diri pewaris Skyline Inc itu dikuliti habis-habisan. Wajah Adrian memerah padam, urat-urat di lehernya menegang menahan murka.
"Aku bersumpah, aku tidak akan pernah sudi menandatangani kontrak apa pun denganmu!" desis Adrian dengan suara bergetar.
"Baiklah. Itu pilihan Anda. Namun, saya sarankan Anda segera menyiapkan pidato pengunduran diri di depan pemegang saham besok pagi. Tanpa dukungan Phoenix, Skyline Inc hanyalah sejarah yang terlupakan," balas Livia dengan ketegasan yang tak tergoyahkan.
Puas melihat kehancuran di wajah mantan suaminya, Livia memberi kode agar asistennya menutup laptop. Sebelum melangkah pergi, ia sempat menoleh ke arah orang-orang di dalam ruangan yang masih terpaku.
"Satu hal lagi. Dulu, saya memiliki rambut yang panjang dan indah. Saya terpaksa memotongnya bersama semua kenangan menyedihkan yang Anda berikan. Tapi sekarang, hidup saya terasa jauh lebih ringan tanpa beban masa lalu itu."
Livia melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan ruang rapat yang penuh dengan ketegangan dan kemarahan Adrian yang meledak.
Begitu memasuki lift pribadi, pertahanan Livia sedikit goyah. Ia segera menyandarkan kepalanya pada dinding lift yang terasa dingin, berusaha mengatur napasnya yang memburu. Tiba-tiba, ponsel di genggamannya bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar.
Pesan itu berisi kalimat yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Ayah dan anak memang memiliki kemiripan fisik yang luar biasa. Sang ayah baru saja bertemu kembali dengan ibunya, namun anehnya, pria itu belum menyadari bahwa dia memiliki versi kecil dari dirinya sendiri. Sekarang, anak itu berada di Hotel Grand Sentara.
Lutut Livia mendadak lemas. Ia terduduk di lantai lift, membuat para asistennya panik.
"Ibu Livia! Anda baik-baik saja?" tanya salah satu asisten dengan cemas.
"Ethan. Apakah Ethan tetap dalam penjagaan ketat?" suara Livia terdengar parau. "Cepat cari tahu siapa mata-mata yang dikirim Adrian atau siapa pun itu. Aku tidak akan membiarkan anakku dalam bahaya!"
Semua asistennya mengangguk cepat tepat saat lift sampai di lobi. Livia berjalan terburu-buru menuju mobilnya. Namun, begitu ia duduk di dalam kabin mobil, sebuah pesan baru kembali masuk.
Isinya adalah foto seorang bocah laki-laki yang sangat tampan, sangat mirip dengan Adrian saat kecil. Pengirim pesan itu mengejek bahwa sangat disayangkan Adrian belum tahu tentang keberadaan darah dagingnya yang begitu manis ini.
Darah Livia mendidih. Amarah dan ketakutan bercampur menjadi satu. Ia memerintahkan sopirnya untuk segera memacu kendaraan menuju Hotel Grand Sentara secepat mungkin. Jantungnya berdegup kencang, teringat bagaimana ia baru saja membungkam Adrian di kantor tadi, namun kini situasi berbalik menyerangnya melalui buah hatinya.
Kejutan belum berakhir. Livia merasa seolah ada suara yang membisikkan bahwa dirinya masih selemah lima tahun lalu. Namun, ia bersumpah dalam hati bahwa kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh putranya.
******
Nama pena: Renjana Senja
Genre: Romance
Platform: Good Novel
Editorial:
Cerita ini menyuguhkan tema revange romance yang sangat memuaskan, di mana kita melihat transformasi drastis seorang wanita dari posisi tertindas menjadi penguasa. Tokoh Livia digambarkan dengan sangat kuat sebagai sosok "Phoenix" yang bangkit dari abu masa lalu.
Adegan konfrontasi di ruang rapat Skyline Inc menjadi pembuka yang brilian, memperlihatkan bagaimana harga diri dan kekuasaan bisa berbalik dalam sekejap mata.
Interaksi antara Livia dan Adrian dipenuhi dengan ketegangan yang intens. Penulis berhasil membangun suasana "dingin" namun membara, terutama saat Livia dengan tenang membeberkan kehancuran finansial perusahaan mantan suaminya. Perubahan dinamika ini memberikan kepuasan tersendiri bagi pembaca yang menyukai karakter wanita mandiri, cerdas, dan tidak lagi bisa diremehkan oleh laki-laki yang pernah menyakitinya.
Namun, di balik baju zirah kekuasaannya, Livia tetaplah seorang ibu yang memiliki titik lemah.
Plot twist mengenai keberadaan Ethan, putra mereka yang dirahasiakan, menambah bumbu drama yang emosional. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan Livia bukan sekadar tentang balas dendam pribadi, melainkan tentang melindungi masa depan darah dagingnya dari bayang-bayang masa lalu yang kelam.
Gaya bahasa yang digunakan oleh Renjana Senja terasa mengalir dan dramatis tanpa menjadi berlebihan. Penulis sangat piawai dalam menggambarkan detail kecil, seperti bunyi gesekan kursi atau sorot mata yang mengintimidasi, sehingga pembaca seolah-olah ikut berada di dalam ruangan tersebut.
Narasi yang dibangun membuat kita tidak sabar untuk melihat bagaimana Livia menyeimbangkan antara peran sebagai pemimpin Phoenix Group dan seorang ibu yang protektif.
Kehadiran sosok misterius yang mengirimkan pesan ancaman memberikan elemen suspense yang kuat. Konflik tidak hanya berpusat pada persaingan bisnis, tetapi juga pada keselamatan nyawa. Ketegangan saat Livia bergegas menuju Hotel Grand Sentara menjadi penutup bab yang sangat efektif untuk membuat pembaca terus membalik halaman demi halaman di platform Good Novel.
Bagi Anda pecinta genre romansa yang dibumbui dengan intrik bisnis dan rahasia keluarga, karya ini adalah pilihan yang tepat. Cerita ini tidak hanya menjual kemesraan, tetapi juga tentang keberanian seorang wanita untuk memutus rantai penderitaan dan berdiri di atas kakinya sendiri. Kekuatan karakter Livia menjadi daya tarik utama yang membuat cerita ini terasa berbeda dari drama romantis pada umumnya.
Secara keseluruhan, "Tuan, Ibu dari Anakmu Bukan Perempuan Biasa" adalah kisah tentang penebusan dan perlindungan. Renjana Senja berhasil meramu emosi amarah, ketakutan, dan cinta kasih menjadi satu paket cerita yang solid. Jika Anda mencari bacaan yang mampu memicu adrenalin sekaligus menyentuh hati, pastikan cerita ini masuk ke dalam daftar bacaan favorit Anda.
by Nada Maya

Bagus ceritanya. Semangat kak Renjana senja. Semoga menjadi inspirasi bagi perempuan yang awalnya tertindas juga
BalasHapus